<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642</id><updated>2012-03-05T01:40:36.438+07:00</updated><title type='text'>Belajar Bahasa Arab dari Al-Quran</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>108</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-590178511372418277</id><published>2011-08-30T16:56:00.017+07:00</published><updated>2011-09-09T13:41:14.081+07:00</updated><title type='text'>Idul Fitri 2011 : Bersatu Jauh Lebih Baik</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri 2011 ini umat Islam di Indonesia tidak sama merayakan. Muhammadiyyah dengan kriteria wujudul hilal nya (yang berpatokan 0 derajat diatas ufuk), sudah berlebaran tanggal 30 Agustus 2011. Sedangkan yang selain Muhammadiyyah dengan kriteria imkaanur rukyat (yang berpatokan 2 derajat atau lebih diatas ufuk) berlebaran tanggal 31 Agustus 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana sebab perpecahan ini datang? Ternyata dari ketidak samaan "KRITERIA" melihat bulan. Kalau masing-masing pihak tetap kekeuh dengan pendiriannya, maka dipastikan 3 tahun kedepan awal puasa (awal Ramadhan) antara Muhammadiyyah dan non Muhammadiyyah akan beda. Lalu tahun berikutnya, Idul Fitrinya yang kemungkinan akan beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-by-dT_j22y0/Tly56yYeXcI/AAAAAAAAAGQ/JT8lf3e0c1Q/s1600/ramadhan%2B2011.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-by-dT_j22y0/Tly56yYeXcI/AAAAAAAAAGQ/JT8lf3e0c1Q/s400/ramadhan%2B2011.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646592452423736770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat akhir Ramadhan adalah 29 Agustus 2011, bulan baru masuk 03:04 UTC (10:04 WIB). Ketinggian Hilal ketika maghrib tanggal 29 Agustus 2011 sebesar 1.7 derajat di Jakarta. Secara astronomi (harus diatas 2 derajat), ketinggian 1.7 derajat ini tidak dapat di rukyat. Sehingga puasa harus digenapkan jadi 30. Sehingga tanggal 30 Agustus kita masih berpuasa. Tapi Muhammadiyyah karena pakai Wujudul Hilal (ketinggian 0 derajat diatas ufuk) sudah berlebaran tanggal 30 Agustus 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Paham Pergerakan Bulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pergerakan bulan, sekarang tidaklah menjadi domain ahli falaq semata. Sudah bayak program untuk melihat pergerakan bulan yang dibuat oleh ahli-ahli astronomi. Salah satunya sudah dibahas di blog ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri 2007: &lt;a href="http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html"&gt;http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri 2008: &lt;a href="http://arabquran.blogspot.com/2008/08/romadho-dan-idul-fitri-tahun-ini.html"&gt;http://arabquran.blogspot.com/2008/08/romadho-dan-idul-fitri-tahun-ini.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan software freeware yang sama sewaktu memprediksi Idul Fitri 2007 dan 2008 diatas, kita bisa lihat prediksi awal Ramadhan 2012, sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2l7jvCjmpJs/Tly2AJl8VrI/AAAAAAAAAF4/_qENfUXn63U/s1600/ramadhan%2B2012.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-2l7jvCjmpJs/Tly2AJl8VrI/AAAAAAAAAF4/_qENfUXn63U/s400/ramadhan%2B2012.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646588146507077298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat awal Ramadhan masuk 19 July 2012 jam 4:24 UTC (11:24 WIB), dengan ketinggian hilal pada magrib tanggal 19 Juli 2012 itu di Jakarta 1.8 derajat diatas ufuk. Secara astronomi ketinggian ini tidak mungkin di lihat. Tapi oleh Muhammadiyyah karena sudah diatas ufuk, matahari sudah terbenam, maka Muhammadiyyah akan mulai puasa tanggal 20 Juli 2012. Sedangkan yang non Muhammadiyyah akan mulai puasa 21 Juli 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2013 juga sama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-DORugrrpSxc/Tly3Hlxl8WI/AAAAAAAAAGA/HzvJ1xyvmdg/s1600/ramadhan%2B2013.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 209px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-DORugrrpSxc/Tly3Hlxl8WI/AAAAAAAAAGA/HzvJ1xyvmdg/s400/ramadhan%2B2013.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646589373842846050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat awal Ramadhan masuk 8 July 2013 jam 7:16 UTC (14:16 WIB),  dengan ketinggian hilal pada magrib tanggal 8 Juli 2013 itu di Jakarta 0.2 derajat diatas ufuk. Secara astronomi ketinggian ini tidak mungkin  di lihat. Tapi oleh Muhammadiyyah karena sudah diatas ufuk, matahari  sudah terbenam, maka Muhammadiyyah akan mulai puasa tanggal 9 Juli  2013. Sedangkan yang non Muhammadiyyah akan mulai puasa 10 Juli 2013.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2014 juga sama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Fc0x5Np20bM/Tly4Ld11flI/AAAAAAAAAGI/tRM0sZizc38/s1600/ramadhan%2B2014.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 210px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Fc0x5Np20bM/Tly4Ld11flI/AAAAAAAAAGI/tRM0sZizc38/s400/ramadhan%2B2014.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646590539944263250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat awal Ramadhan masuk 27 Juni 2014 jam 8:10 UTC (15:10 WIB),  dengan ketinggian hilal pada magrib tanggal 27 Juni 2014 itu di Jakarta 0.3 derajat diatas ufuk. Secara astronomi ketinggian ini tidak mungkin  di lihat. Tapi oleh Muhammadiyyah karena sudah diatas ufuk, matahari  sudah terbenam, maka Muhammadiyyah akan mulai puasa tanggal 28 Juni  2014. Sedangkan yang non Muhammadiyyah akan mulai puasa 29 Juni 2014.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok Padepokan, 30 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Update 31 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa bahan referensi, saat ini ada 3 metode penentuan masuknya 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hisab (wujudul hilal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan:&lt;br /&gt;- Mudah membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan:&lt;br /&gt;- Bersifat dugaan, tidak dapat dibuktikan secara pasti bahwa bulan baru benar-benar sudah masuk&lt;br /&gt;- Tingkat kepercayaan: Sedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hisab (imkaanur ru'yah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihah:&lt;br /&gt;- Mudah membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan&lt;br /&gt;- Bersifat dugaan yang bersifat mendekati "pasti". Kepastiannya dapat dilakukan dengan melakukan rukyat mata/teropong&lt;br /&gt;- Tingkat kepercayaan: Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan:&lt;br /&gt;- Menentukan batas-batas atau kriteria visibilitas hilal, perlu melibatkan banyak ahli, dan perlu ditetapkan oleh semua komponen (ulama, umaro, scientist)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hisab (imkaanur ru'yah) + Ru'yah fisik (mata/teropong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan:&lt;br /&gt;- Bersifat "pasti", karena hitungan di verifikasi dengan penglihatan fisik (mata/teropong)&lt;br /&gt;- Tingkat kepercayaan: Sangat Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan:&lt;br /&gt;- Sukar membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan, karena tiap akhir bulan harus meru'yat mata/teropong&lt;br /&gt;- Menentukan batas-batas atau kriteria visibilitas hilal, perlu melibatkan banyak ahli, dan perlu ditetapkan oleh semua komponen (ulama, umaro, scientist)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pilihan-pilihan diatas, saya pribadi cenderung memilih opsi 2. Karena, bersifat praktis, dan dapat menentukan Kalender Qomariah beberapa tahun kedepan. Adapun kekurangan opsi 2 ini dapat ditutupi dengan peran aktif Pemerintah sebagai mediator untuk membuat "kriteria bersama" imkaanur ru'yah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-590178511372418277?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/590178511372418277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=590178511372418277' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/590178511372418277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/590178511372418277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2011/08/perpecahan-umat-islam-indonesia.html' title='Idul Fitri 2011 : Bersatu Jauh Lebih Baik'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-by-dT_j22y0/Tly56yYeXcI/AAAAAAAAAGQ/JT8lf3e0c1Q/s72-c/ramadhan%2B2011.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8638855695602056433</id><published>2011-06-01T13:47:00.004+07:00</published><updated>2011-06-01T15:37:44.784+07:00</updated><title type='text'>New Look</title><content type='html'>Assalamualaykum warahmatullahi wabarakaatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi all,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Welcome to the new face of my blog. I will restart to write Arabic Lesson, Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I hope this new re-facing will refresh our spirit to keep learning Arabic Language especially for Indonesian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjoy,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8638855695602056433?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8638855695602056433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8638855695602056433' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8638855695602056433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8638855695602056433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2011/06/new-look.html' title='New Look'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-7933791639398975704</id><published>2009-05-25T13:55:00.004+07:00</published><updated>2009-06-15T09:07:03.235+07:00</updated><title type='text'>Belajar Bahasa Arab Sederhana dari Google Translate</title><content type='html'>Banyak situs pendukung yang kita bisa pakai untuk belajar bahasa Arab sederhana. Salah satunya adalah situs untuk melakukan translasi dari bahasa Indonesia ke Arab, atau dari bahasa Inggris ke Arab, atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang bisa Anda gunakan adalah Google Translate.&lt;br /&gt;http://translate.google.com/translate_t# &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh: &lt;br /&gt;Kita bisa tulis di dalam text-box: "Selamat Pagi" lalu klik tombol translate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/ShpCh9Ht2II/AAAAAAAAAE4/NM81Juw340I/s1600-h/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 323px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/ShpCh9Ht2II/AAAAAAAAAE4/NM81Juw340I/s400/untitled.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339653459311188098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Pagi: صباح الخير - shobbahul khoir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk membuat kalimat yang sempurna (ada subjek dan prediket), maka kita ambil contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari ini, saya bahagia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ditranslate:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اليوم ، انا سعيد. - al-yaum ana sa-'iid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EFEK WAKTU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Inggris kita kenal ada efek waktu (present, future, dan past tense).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dalam bahasa arab kita bisa refleksikan efek waktu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Translate kalimat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. I learn arabic. &lt;br /&gt;2. I learned arabic. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa kita kedua kalimat tersebut ditranslate "sama" yaitu: Saya belajar bahasa arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi jika dari bahasa Inggris itu kita translate ke bahasa Arab, menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أتعلم العربية - ata-a'llamu al-'arabiyyata&lt;br /&gt;تعلمت العربية - ta-'allamtu al-'arabiyyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hal ini dapat kita lihat bahwa kalau kita mengerti konteks bahasa Inggris, maka sebaiknya kita translasikan dari bahasa Inggris, ke bahasa Arab, agar konsistenti tenses tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link:&lt;br /&gt;- Past Perfect Tense: http://arabquran.blogspot.com/2008/02/topik-76-past-perfect-tense.html &lt;br /&gt;- Past Tense, Mashdar: http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-38-latihan-surat-al-ikhlas-tema.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-7933791639398975704?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/7933791639398975704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=7933791639398975704' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7933791639398975704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7933791639398975704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2009/05/belajar-bahasa-arab-sederhana-dari.html' title='Belajar Bahasa Arab Sederhana dari Google Translate'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/ShpCh9Ht2II/AAAAAAAAAE4/NM81Juw340I/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1780920384293216126</id><published>2008-11-26T09:37:00.002+07:00</published><updated>2008-11-26T10:01:11.247+07:00</updated><title type='text'>Topik 86: Apa itu tashrif?</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Nahwu Shorof sering diidentikkan dengan tatabahasa arab. Dunia seputar bahasa arab, sekurangnya meliputi tiga hal: nahwu, shorof, dan balaghoh. Nahwu membicarakan mengenai hukum-hukum huruf, kata, dan kalimat, dan bagaimana bunyi akhir dari sebuah kata. Sedangkan shorof membicarakan bagaimana perubahan bentuk suatu kata kerja dari bentuk past, present, dan perintah, dan perubahan bentuk kata kerja ke kata benda turunan, dan juga perubahan bentuk kata kerja sesuai pelaku dari perbuatan tsb. Sedangkan balaghoh membicarakan tentang keindakan suatu bahasa, atau lebih memperhatikan aspek sastra dari bahasa tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti sari nahwu adalah i'rob. Sedangkan intisari shorof adalah tashrif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'rob إعرب berasal dari 'arab عرب, sering disebut dengan "arabization" atau "peng-arab-an". Mengapa disebut "peng-arab-an"? Karena bahasa arab sangat kaya dengan perubahan bunyi akhir dari sebuah kata. Ambil contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أذهب إلى المسجد - adzhabu ilal masjidi : saya sedang pergi ke masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "masjid" disini dibaca "masjidi". Kenapa bukan "masjidu", atau "masjida", atau "masjidun" atau bukan "masjidan", ataupun "masjidin"? Karena begitulah aturan nahwu-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata masjid itu digunakan dalam kedudukan lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المسجد كبير - al-masjidu kabiirun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini "masjid" dibaca, "masjidu". Tidak "masjidi", atau yang lainnya. Kenapa bisa begitu? Ya karena begitulah peraturan nahwu arabic fusha (tata bahasa Al-Quran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bahwa, yang jadi fokus adalah cara membaca dari akhir kata, apakah berakhiran, "u" -- seperti "masjidu", atau "i" -- seperti "masjidi". Ini lah yang kita sebut dengan i'rob (arabization).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shorof&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui i'rob belum cukup. Kita harus mengetahui shorof. Shorof ini menjelaskan perubahan bentuk kata kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أذهب إلى المسجد - adzhabu ilal masjidi : saya sedang pergi ke masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini digunakan kata أذهب - adzhabu untuk menekankan bahwa pekerjaan "pergi" itu belum selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah selesai, maka kata kerja adzhabu berubah jadi dzahabtu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذهبت إلى المسجد - dzhabtu ilal masjidi : saya sudah pergi ke masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi perubahan dari kata kerja ke kata benda. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذهب - dzahaba : pergi --&gt; kata kerja&lt;br /&gt;ذاهب - dzaahibun : orang yang pergi --&gt; kata benda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah perubahan dari bentuk adzhabu ke dzahabtu inilah yang dibahas oleh Shorof. Demikian juga perubahan dari kata kerja ke kata benda ini juga dibahas dalam Shorof. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal ini (perubahan kata kerja past ke present, dan, perubahan kata kerja ke kata benda) disebut dengan Tashrif Ishtilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shorof, juga membahas perubahan bentuk kata kerja jika pelakunya berubah. Seperti dalam contoh sebelumnya, untuk pelaku "kami".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذهبنا إلى المسجد - dzhabnaa ilal masjidi : Kami sudah pergi ke masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang seperti ini disebut Tashrif Lughowi (perubahan kata kerja karena berubahnya pelaku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sepintas tentang pembahasan, apa itu tashrif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1780920384293216126?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1780920384293216126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1780920384293216126' title='27 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1780920384293216126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1780920384293216126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/11/topik-86-apa-itu-tashrif.html' title='Topik 86: Apa itu tashrif?'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1971349920350466590</id><published>2008-11-25T11:08:00.005+07:00</published><updated>2008-11-25T14:10:57.798+07:00</updated><title type='text'>Topik 85: Haram, Hurum, Ihram</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban untuk pertanyaan Om Im.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Haram, Hurum, Ihram, Muhrim, Mahrum, Mahram, dst berasal dari akar kata yang sama, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حرم - haruma : menjadi terlarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bentuk perubahan, atau tashrifnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata حرم - haruma, bentuk mudhory' (present tense) adalah يحرم - yahrumu, dengan mashdar ada beberapa bentuk: حرم - hurmun , حرم - hurumun, حرمة - hirmatun, dan حرام - haraamun. Semua ini artinya: menjadi terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kata mashdar حرام (haraam) ini yang sering dipadankan dengan sebagai lawan kata dari حلال (halaal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh penggunaan kata kerja-nya:&lt;br /&gt;حرمت السحور على الصائم : harumat assahuuru 'alaa asshooimi (Sahur itu menjadi terlarang bagi yang berpuasa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حرمت المرأة على زوجها : harrumat al-mar-a-tu 'alaa zaujihaa (Wanita itu menjadi terlarang bagi suaminya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kata mashdar حرام - haraam, yang berarti "yang haram" adalah bentuk singular, dan bentuk pluralnya adalah حروم - huruum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الارضى الحرام - al-ardh al-haraam : tanah terlarang, tidak dikuasai, neutral zone&lt;br /&gt;البيت الحرام - al-bayt al-haraam : rumah terlarang (Ka'bah), terlarang bagi non-muslim&lt;br /&gt;الشحر الحرام - asy-syahr al-haraam : bulan haram, terlarang berperang&lt;br /&gt;الاشحر الحروم - al-asyhur al-huruum : bulan-bulan haram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita teruskan, maka kita dapatkan bentuk isim fa'ilnya (kata benda pelaku) adalah حارم - haarimun, dan isim maf'ulnya (kata benda objek) محروم - mahruum. Dan bentuk isim zaman (kata benda keterangan terjadinya perbuatan) atau isim makan (kata benda tempat terjadinya perbuatan) adalah محرم - mahram. Kata mahram ini artinya "terlarang", juga berarti "orang yang haram dinikahi". Jamaknya محارم - mahaarim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KKT-1&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuk KKT-1 (kata kerja turunan ke 1), adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحرم - ahrama : mengharamkan, dengan bentuk mudhory' يحرم - yuhrimu, dan mashdarnya adalah إحرام : ihraam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mashdar ihraam, ini arti asalnya adalah "hal pelarangan", atau "hal pengharaman". Kata ini, dipakai pada umumnya untuk menyebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تكبيرة الإحرام : takbiiratul ihraam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbir "pengharaman": artinya dari takbir ini sholat dimulai, dan diharamkan melakukan yang membatalkan sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata  الإحرامihraam juga berarti menyengaja untuk memulai ibadah haji atau umrah. Di Al-Quran dikatakan, jika berhaji diharamkan (di-ihraam-kan) perbuatan rafats (berkata kotor), fusuq (berbuat dosa), dan jidal (berbantah-bantahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita teruskan bentuk KKT-1 ini maka kita akan bertemu dengan bentuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;محرم - muhrim (orang yang berihram), atau bisa juga menjadi isim fa'il dari kata ahrama, yang bisa berarti "sesuatu yang mengharamkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KKT-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk KKT-2 (kata kerja turunan ke 2), adalah: &lt;br /&gt;حرّم - harrama : mengharamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fungsi mirip dengan KKT-1. Sedangkan perubahannya:&lt;br /&gt;mashdar: تحريم - tahriim : hal pengharaman&lt;br /&gt;isim fa'il: محرّم - muharrim : yang mengharamkan&lt;br /&gt;isim maf'ul: محرّم - muharram : yang diharamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata muharram ini kemudian diambil jadi nama bulan, yaitu bulan pertama kalender Islam, yang mengharamkan terjadinya perang dalam bulan tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak KKT berikutnya, tapi saya cukupkan 2 KKT saja, dan itupun kata bentukan dari dua macam KKT tsb juga banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Om Im tidak bingung. Kalau iya, silahkan bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1971349920350466590?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1971349920350466590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1971349920350466590' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1971349920350466590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1971349920350466590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/11/topik-85-haram-hurum-ihram.html' title='Topik 85: Haram, Hurum, Ihram'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1620539954487905009</id><published>2008-11-04T15:31:00.005+07:00</published><updated>2008-11-04T15:37:29.620+07:00</updated><title type='text'>Video Pelajaran Bahasa Arab</title><content type='html'>Saya baru saja menemukan video pelajaran bahasa Arab lengkap dengan buku text book (dari Madinah Islamic University). Hanya saja video pelajaran ini disampaikan dalam bahasa Inggris. Akan tetapi tutornya menjelaskan dengan sangat pelan sehingga, Insya Allah mudah dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan visit link berikut:&lt;br /&gt;http://kalamullah.com/learning-arabic.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat Video (DVD), pilih buku yang akan dipakai misal buku-1, lalu pilih seri Video yang akan ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam page ini juga dapat di download Kamus Arab - English dengan cukup lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1620539954487905009?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1620539954487905009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1620539954487905009' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1620539954487905009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1620539954487905009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/11/video-pelajaran-bahasa-arab.html' title='Video Pelajaran Bahasa Arab'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-2768158278555504043</id><published>2008-08-26T14:53:00.010+07:00</published><updated>2009-07-29T10:52:22.644+07:00</updated><title type='text'>Ramadhan dan Idul Fitri Tahun Ini</title><content type='html'>Insya Allah, tahun ini kita akan memulai Ramadhan pada saat yang bersamaan dan Idul Fitri pada saat yang bersamaan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling kasat mata bagi umat Islam di Indonesia, adalah ribut-ribut menjelang penetapan Idul Fitri. Tahun ini diprediksikan Idul Fitri kita akan serentak. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut artikel yang terkait dengan Idul Fitri tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2008 ini Kita Lebaran Bareng, Horee…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu, yaitu tahun 2007, saya membuat tulisan mengenai prediksi saya tentang kemungkinan hari Idul Fitri yang berbeda, antara yang menggunakan hisab (perhitungan) dengan yang menggunakan ru’yat (melihat bulan). Tulisan itu saya buat satu bulan sebelum masuknya bulan Ramadhan tahun 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan tersebut banyak mendapat pujian dan kecaman. Yang memuji, rata-rata dari kalangan orang yang suka dengan komputer, dan mereka mengatakan, tulisan saya memberi wawasan baru bagi mereka tentang bagaimana mudahnya mengamati peredaran bulan dengan software yang gratis. Sedangkan yang mengecam saya, rata-rata dari kalangan yang sangat percaya dengan metode ru’yat, dan menyatakan tulisan saya tidak berdasar, dan menyarankan sebaiknya tunggu saja para ahli ru’yat meneropong bulan pada waktunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu semua, ternyata pada kenyataannya lebaran umat Islam memang ditetapkan pada hari yang berbeda, sesuai yang saya prediksikan.&lt;br /&gt;Bagi Anda yang belum membaca tulisan tentang prediksi lebaran tahun 2007 tersebut, dapat membacanya pada link berikut:&lt;br /&gt;&lt;A href="http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html"&gt; http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html&lt;/A&gt;) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana dengan Lebaran 2008?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya membahas analisa sederhana berikut, saya perlu menyatakan beberapa hal:&lt;br /&gt;1. Saya hanyalah seorang praktisi IT, yang gemar dengan software (khususnya freeware). Saya bukanlah seorang ahli astronomi, ataupun seorang Ustadz yang memahami ilmu falaq. Disclaimer ini sengaja saya sampaikan agar para pembaca tulisan ini mengerti akan kemana arah tulisan yang akan saya bawa. Ya, saya hanya sekedar memperkenalkan software astronomi gratis alias freeware. &lt;br /&gt;2. Tulisan ini tidak hendak mendahului keputusan yang akan dibuat oleh lembaga-lembaga yang terkait yang berkompeten dalam hal penetapan 1 Syawwal (Idul Fitri). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Kita akan bahas prediksi kapan Idul Fitri tahun 2008 ini.&lt;br /&gt;Pada waktu tulisan ini dibuat, Muhammadiyah sudah menetapkan Idul Fitri tahun ini jatuh pada tanggal 1 Oktober 2008. (http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1246&amp;Itemid=2 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan NU dan ormas lain yang menggunakan metode ru’yat? Kemungkinan besar juga akan menetapkan Idul Fitri tahun ini jatuh pada tanggal 1 Oktober 2008. Jadi, jika prediksi ini benar, maka kita mengucap Alhamdulillah… tahun ini kita bisa berlebaran bareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Penglihatan Software HomePlanet?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun lalu, andalan kita adalah software gratis HomePlanet (baca artikelnya&lt;A   href="http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html"&gt; disini&lt;/A&gt;). Saya sudah jelaskan bagaimana langkah-langkah mendownload, menginstall, dan menggunakan software ini, pada artikel yang dibuat tahun lalu. Silahkan baca kembali, agar Anda mengerti apa yang akan saya jelaskan dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kalau kita perhatikan data dari HomePlanet tentang masuknya bulan Syawwal, bahwa bulan baru (Syawwal), masuk pada tanggal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;29 September 2008 jam 8:13 UTC (atau 15:13 WIB)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berdasarkan informasi ini, saya awalnya menduga, Muhammadiyah akan menetapkan Idul Fitri besoknya, yaitu tanggal 30 September 2008. Ternyata tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya periksa (hasil searching di Internet), Muhammadiyah menetapkan satu kriteria yaitu:&lt;br /&gt;Jika secara perhitungan, bulan baru, sudah masuk pada hari itu, maka jika pada waktu matahari tenggelam pada hari itu, di salah satu wilayah Indonesia (dimanapun), matahari lebih dulu tenggelam daripada bulan, maka besoknya ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Catatan: kalimat diatas adalah kalimat versi saya. Saya ringkas dari beberapa penjelasan tentang metode hisab Muhammadiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda agak bingung dengan kalimat diatas. Oke, sederhananya begini.&lt;br /&gt;Anda sudah biasa melihat matahari terbit di timur tenggelam di barat bukan? Anda dari kecil sudah memperhatikan bahwa matahari bergerak melintasi kepala kita dari timur ke barat. Jika kita berdiri kearah utara, maka matahari melintasi kepala kita dari kanan ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bulan juga demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berdiri ke arah utara, maka bulan akan bergerak “melintasi -- walau tidak tepat diatas kepala" kita dari kanan (timur) ke kiri (barat), sama seperti arah pergerakan matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO5pcBAP8I/AAAAAAAAADE/IFxY-cuHHg4/s1600-h/barattimur.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO5pcBAP8I/AAAAAAAAADE/IFxY-cuHHg4/s400/barattimur.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238734913108197314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau begitu, bulan seolah berlomba dengan matahari. Speed matahari lebih cepat, sehingga dalam tiap bulan ada satu waktu dimana matahari berhasil melewati bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa mensimulasikan hal ini dengan software HomePlanet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke permasalahan kita, kalau bulan baru sudah masuk pada tanggal 29 September 2008, jam 15:13 WIB (jam 3 siang), dengan logika sederhana, kita bisa berkata, berarti selepas adzan maghrib tanggal 29 September 2008 tersebut, kita sudah memasuki 1 Syawwal, artinya besoknya yaitu tanggal 30 September 2008, kita sudah sholat Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dengan tambahan syarat diatas maka kita akan mengetahui bahwa, pada tanggal 29 September 2008 itu selepas adzan maghrib, di Sabang, di Jakarta, di Jogya, di Aceh, maupun di Papua, bulan (yang baru saja berganti / masuk bulan baru pada siangnya) lebih dulu tenggelam dari pada matahari. Artinya, pada saat matahari tenggelam tanggal 29 September 2008, maka kita tidak dapat melihat bulan, karena bulan sudah lebih dulu tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So what? Artinya, bahwa syarat tambahan ini tidak terpenuhi:&lt;br /&gt;Jika secara perhitungan bulan baru, sudah masuk pada hari itu, maka jika pada waktu matahari tenggelam pada hari itu, di salah satu wilayah Indonesia (dimanapun), matahari lebih dulu tenggelam daripada bulan, maka besoknya ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa, matahari terlambat tenggelam dari pada bulan (bulan lebih dulu tenggelam). Karena tidak memenuhi kriteria, maka bulan baru akan ditetapkan 1 hari setelah esoknya. Artinya satu hari setelah tanggal 30 September 2008, yaitu tanggal 1 Oktober 2008. Dengan alasan ini maka Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri tanggal 1 Oktober 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooh… Artinya walau bulan baru telah masuk sebelum maghrib, belum tentu lho besoknya kita Idul Fitri. Harus dilihat dulu siapa yang lebih dulu tenggelam, matahari kah, atau bulan kah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menentukan, siapa yang lebih dulu tenggelam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kali ini kita akan coba satu software baru, yang gratis juga. Inilah software yang akan kita pakai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO6UIeSIzI/AAAAAAAAADM/4_L9ErC7a8s/s1600-h/plvs.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO6UIeSIzI/AAAAAAAAADM/4_L9ErC7a8s/s400/plvs.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238735646596670258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anda bisa download software PLSV tersebut pada website seperti gambar diatas.&lt;br /&gt;Nah software ini sederhana saja, dia akan menghasilkan gambar seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO65goRLQI/AAAAAAAAADU/Z6WlNkEr7Ag/s1600-h/plvs2.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO65goRLQI/AAAAAAAAADU/Z6WlNkEr7Ag/s400/plvs2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238736288736161026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemeriksaan kota pengamatan. Pastikan bahwa Anda seolah-olah sekarang berada di Jakarta dengan kordinat 6 derjat 9 menit LS, dan 106 derjat 51 menit BT. Anda bisa ubah data-data ini dengan menklik tombol Places (lihat no. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemeriksaan waktu. Pastikan waktu untuk Jakarta sudah GMT + 7 (atau GMT + 420 menit). Anda bisa ubah data ini dengan mengklik tombol Places (lihat no. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika kota Jakarta belum tersedia, maka tambahkan database kota Jakarta dengan menklik tombol Places.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pemeriksaan tahun pengamatan. Anda harus ketik manual tahunnya yaitu 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemeriksaan objek yang diamati. Anda harus pilih Moon (bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pemilihan tanggal dan jam pengamatan. Sorot kursor sampai Anda menemukan tanggal 29 September 2008 (lihat no. 7 di gambar). Pastikan Anda tepat menyorot digaris merah (lihat tanda bulat kuning, no. 6 di gambar). Perlu diperhatikan bahwa gambar diatas terdiri dari dua garis merah. Garis merah yang kanan adalah garis merah yang menandakan terbitnya matahari, sedangkan garis merah yang kiri adalah garis merah yang menandakan terbenamnya matahari (adzan maghrib). Perhatikan karena ru’yat dilakukan pada saat matahari tenggelam, maka kursor harus tepat berada diatas garis merah sebelah kanan (lihat no. 6 di gambar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Setelah kursor diletakkan diatas garis merah, dan Anda periksa apakah tanggal menunjukkan 29 September 2008 (di gambar no.7, tertulis 2008-09-29), dan Anda sudah yakin bahwa kursor (titik kuning) sudah tepat berada di atas garis merah sebelah kanan (ada 3 syarat ya hehe…), maka Anda akan ketahui, bahwa tanggal 29 September 2008, matahari di Jakarta tenggelam pada jam 17:48 WIB. Lalau pada jam tsb, dimana posisi bulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pemeriksaan posisi bulan. Pada jam 17:48 WIB tersebut, kita ingin tahu dimana posisi bulan. Perhatikan di gambar no. 8, terlihat bahwa posisi bulan jika di ru’yat di Jakarta akan berada pada posisi -1,7 derjat, artinya 1,7 derjat dibawah ufuk. Artinya apa? Artinya bulan sudah duluan tenggelam!!! (ingat bahwa bulan dan matahari sama-sama bergerak dan tenggelam kearah ufuk barat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke sampai langkah 8, tersebut kita sudah bisa bayangkan bagaimana kondisi dan posisi bulan di Jakarta, jika diamati tanggal 29 September 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita perlu mencari tahu di kota-kota lainnya. Karena bulan (dan matahari) bergerak dari timur ke barat, maka kita tinggal periksa pada 2 kota tambahan yaitu kota paling timur (Merauke), dan kota paling barat (Sabang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pengamatan untuk kota Sabang, seperti gambar berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO79tMDdhI/AAAAAAAAADc/f-DAWzAuyas/s1600-h/plvs3.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO79tMDdhI/AAAAAAAAADc/f-DAWzAuyas/s400/plvs3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238737460338587154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ternyata di Sabang, saat matahari terbenam pukul 18:32 WIB, bulan pun sudah duluan tenggelam, karena posisi bulan saat itu sudah 1,5 derjat dibawah ufuk.  Bagaimana dengan Merauke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO8fEi9SlI/AAAAAAAAADk/WpBOsmpW0KM/s1600-h/plvs4.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO8fEi9SlI/AAAAAAAAADk/WpBOsmpW0KM/s400/plvs4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238738033544350290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ternyata di Merauke bulan juga lebih duluan tenggelam. Saat matahari tenggelam di Merauke yaitu jam 15:32 WIB, maka bulan berada pada kordinat -2,7 derjat (artinya sudah 2,7 derjat dibawah ufuk barat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil dari 3 tempat pengamatan tersebut menyatakan bahwa bulan baru walau sudah masuk tanggal 29 September 2008, akan tetapi syarat bahwa matahari lebih dulu tenggelam daripada bulan tidak terpenuhi. Sehingga 30 September 2008, tetap berpuasa, dan Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Oktober 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kira-kira analisa saya mengenai metode yang digunakan Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana dengan Ru’yat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah jika ru’yat dilakukan tanggal 29 September 2008, oleh Depag, MUI, dan ormas-ormas Islam spt. NU, dll, maka hampir dapat diduga bahwa ru’yat akan gagal. Why? Penyebabnya karena hilal ada dibawah ufuk, sehingga sangat tidak mungkin untuk terlihat. Dengan demikian diprediksikan sidang Itsbat akan menetapkan Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Oktober 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, baik Hisab maupun Ru’yat, diprediksikan akan menghasilkan keputusan yang sama, yaitu Idul Fitri jatuh pada 1 Oktober 2008. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cibubur, 6 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-2768158278555504043?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/2768158278555504043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=2768158278555504043' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2768158278555504043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2768158278555504043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/08/romadho-dan-idul-fitri-tahun-ini.html' title='Ramadhan dan Idul Fitri Tahun Ini'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/SLO5pcBAP8I/AAAAAAAAADE/IFxY-cuHHg4/s72-c/barattimur.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-211644146828322305</id><published>2008-08-26T09:00:00.011+07:00</published><updated>2008-08-26T14:48:26.695+07:00</updated><title type='text'>Topik 84: Lam Yakun Alladzi</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dari Pak Amril tanggal 25/8/2008:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tolong di bahas ayat berikut ini dong,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lam yakunil .... dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (QS. 98:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kesulitan mengartikan "Lam Yakun" Kalau harfianya kan "Tidak akan menjadi(dia sedang/akan membuat menjadi jadi)" tapi kok susah banget nyambungin dengan terjemahan diatas?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah saya akan jawab semampunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang urusan menarjamakan KAANA ini agak sedikit merepotkan di awalnya. Tapi kalau sudah terbiasa, akan dapat "feeling"nya, dalam menarjamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LAM YAKUN لم يكن &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harafiah, LAM sering diterjemahkan dengan "tidak" atau "belum". Sedangkan KAANA sering ditarjamahkan "adalah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya menduga penanya menganggap YAKUN sama dengan KUN, yang artinya "menjadi". Seperti dalam kalimat KUN, FA YAKUUN (Jadilah! Maka menjadilah dia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak demikian. Kalau secara harafiah: kata KUN FAYAKUUN itu tarjamahnya: Menjadilah! Maka dia adalah. Hehehe... bingung kan? Oleh karena itu kadang, lebih "aman" kata KAANA itu dibayangkan saja dalam pikiran dengan sbb: seseorang/sesuatu menjadi pada kondisi tertentu diwaktu lampau (KAANA) atau di waktu sekarang (YAKUUNU). Sehingga, KUN FAYAKUUN, dapat dibayangkan: Jadilah! Maka benda itu menjadi dalam kondisi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat tashrif كان adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان - يكون : kaana - yakuunu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaana, yakuunu sendiri bisa ditarjamah dengan banyak cara:&lt;br /&gt;1. Tidak ditarjamahkan&lt;br /&gt;2. Ditarjamah dengan kata "dulu dia ...", atau "senantiasa dia"&lt;br /&gt;3. Ditarjamah dengan kata "adalah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti: وكان الله عليما حكيما - wa kaana Allahu 'aliiman hakiiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa diterjemahkan:&lt;br /&gt;1. Dan Allah Maha Tahu lagi Maha Adil&lt;br /&gt;2. Senantiasa Allah Maha Tahu lagi Maha Adil&lt;br /&gt;3. Adalah Allah Maha Tahu lagi Maha Adil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilanjutkan, ke bentuk fi'il amr (perintah): berubah menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كن - kun : Jadilah (engkau)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau patokan utama kita KAANA ditarjamah "adalah", maka bentuk perintah dari KAANA menjadi "Adalah!" atau "Senantiasalah!", yang bisa diartikan sebagai perintah untuk menjadi ke dalam sesuatu kondisi. Oleh karena itu fi'il amr-nya (yaitu كن ): selalu diterjamahkan "Jadilah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ala kulli haal, kata KAANA itu selalu menceritakan tentang kondisi atau situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau yang ditanyakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya kesulitan mengartikan "Lam Yakun" Kalau harfianya kan "Tidak akan menjadi(dia sedang/akan membuat menjadi jadi)" tapi kok susah banget nyambungin dengan terjemahan diatas?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kalau mau diperhalus, dapat ditarjamah: tidak akan menjadi dalam kondisi sesuatu (dia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kata (dia) ini perlu di curigai, apakah betul (dia) atau (mereka). Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kata kerja dalam bahasa arab jika diawal kalimat tidak menggambarkan jumlah pelaku (selalu orang ke 3 tunggal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المسلمون يذهبون : al-muslimuuna yadzhabuuna - Orang-orang muslim telah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata kerjanya kita kedepankan, maka kata kerjanya berubah menjadi orang ke 3 tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يذهب المسلمون : yadzhabu al-muslimuuna - Orang-orang muslim telah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dugaan dari Pak Amril:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Tidak akan menjadi(dia sedang/akan membuat menjadi jadi)"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih kurang pas, karena kata yang dalam kurung (dia), semestinya dilihat dulu kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata didepannya ada kata الذين : alladziina - mereka yang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya kata YAKUN disini, walau secara individual merujuk kepada (dia - satu orang [he]), akan tetapi karena letaknya diawal kalimat, maka kita lihat dulu, kata kerja YAKUN ini menjelaskan kondisi siapa? Ternyata yang dijelaskan kondisi orang-banyak (mereka [they]). Maka lebih tepat YAKUN ini kita tarjamah: tidak akan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mereka&lt;/span&gt; menjadi dalam kondisi tertentu. Lihat bahwa subjeknya adalah "mereka", bukan "dia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk memperhalus tarjamah kita, ingat lagi teori KAANA: Setiap ada KAANA, pasti (atau biasanya selalu) ada MUBTADA (subjek) dan KHOBAR (prediket) setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat ayatnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Mubtada berawal dari alladziina kafaruu min ahlil kitaabi wal musyrikiina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mubtada (subjek)nya. Lalu mana Khobar (prediket)nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediketnya adlaah kata منفكين - munfakkiina : tercerai, terbuka, terlepas, terurai (Kamus Muh. Yunus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar kata dari منفكين adalah فكّ - fakka, yang artinya menanggalkan, melucuti, menceraikan (Kamus Muh. Yunus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mendapat imbukah alif nun, menjadi انفكّ - in fakka (LIHAT PEMBAHASAN KKT-6). Kata infakka ini artinya: tercerai, terbuka, terlepas, terurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan informasi untuk KKT-6, biasanya tarjamah KKT-6 ke bahasa kita mudahnya dengan menambah awalan ter-KataKerja. Contoh: كسر - kasara: pecah, maka انكسر - inkasara: terpecahkan (tidak sengaja pecah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kata انفكّ - infakka ini jika diteruskan tashrifnya pada bentuk isim fa'il (pelaku) menjadi منفك - munfakki (orang yang terlepas, orang yang tercerai [dari suatu tempat / keadaan]). Dan karena bentuknya jamak maka menjadi munfakkina (orang-orang yang terlepas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, jika di terjamahkan secara lengkap, dengan pemaknaan khobar dan mubtada yang sudah disusun ulang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tidak akan menjadi dalam keadaan terlepas (dari keyakinannya) mereka - orang-orang kafir itu yaitu dari gologan ahli kitab dan orang-orang musyrik, sampai datang kepada mereka al-bayyinah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kira-kira penjelasannya. Semoga dapat dimengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-211644146828322305?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/211644146828322305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=211644146828322305' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/211644146828322305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/211644146828322305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/08/topik-84-lam-yakun-alladzi.html' title='Topik 84: Lam Yakun Alladzi'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8482778222157429775</id><published>2008-08-25T10:20:00.004+07:00</published><updated>2008-08-25T10:49:07.435+07:00</updated><title type='text'>Topik 84: Kuntum Khaira Ummatin</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bertanya megenani QS 3:110, khususnya pada bagian "ukhrijat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita coba bahas, semampu saya ya... hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayatnya sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita fokuskan pada 3 kata awal dulu, kemudian baru masuk ke kata "ukhrijat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuntum khaira ummatin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara letterleij, kata كنتم - berarti You were - atau "Kalian dulu adalah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti kalau saya berkata كنتُ طفلا - kuntu thiflan - I was a child (dulu saya anak-anak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat kembali mengenai topik kaana, dimana kaana me-rofa'kan mubtada, dan menasabkan khobar. Mubtada (subjek) adalah Ana, jika digandeng dengan kaana, menjadi kuntu. Dan khobarnya adalah thiflun, jika digandeng dengan kuntu menjadi thiflan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke ayat, maka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كنتم خير أمة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;khobarnya adalah : idhofah (kata majemuk) khairu ummatin. Karena harus manshub, maka menjadi khaira ummatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke sekarang kata selanjutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أخرجت للناس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harafiah, artinya : dikeluarkan untuk manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ukhrijat, adalah bentuk pasif dari KKT-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKA (Kata Kerja Asal) yaitu 3 huruf, خرج - kharija - yang artinya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan KKT-1, dibuat dengan menambahkan alif أخرج - akhraja - yang artinya mengeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ingat lagi rumus UA-UI, yaitu kalau ingin membentuk suatu Kata Kerja Lampau menjadi pasif, maka gunakan rumus UA, yaitu huruf pertama harokat U dan huruf sebelum terakhir harokat A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf pertama alif harokat U, dan huruf sebelum terakhir (yaitu huruf ro) harokat A. Sehingga:&lt;br /&gt;AKHRAJA - mengerluarkan, berubah menjadi&lt;br /&gt;UKHRIJA - dikeluarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi ukhrijat (ada ta sukun) karena dinisbatkan kepada khaira ummatin (kata yang muannats)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAFSIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin bertanya, secara letterleij AQ mengakakan bahwa: Hai Umat Islam, dulu itu kamu umat terbaik yang dikeluarkan (dilahirkan) untuk manusia, dimana kamu senantiasa mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kepada kemungkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, pertanyaannya: kalau secara tatabasa kata kuntum, artinya "dulu kalian" atau past-tense, apakah artinya sekarang tidak berlaku lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 jawabannya:&lt;br /&gt;1. Secara bahasa, kata kaana (dulu dia adalah) tidak selalu artinya dulu, tapi bisa juga berarti senantiasa. Contohnya, di AQ banyak ayat yang menyebutkan sifat Allah dengan kata kaana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa kaanalaahu 'aliiman ghafuuran : dan senantiasa Allah bersifat maha tahu dan maha pengampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga jika dipakai kaidah ini pada ayat tsb, bisa juga di tarjamahkan: Senantiasa kalian umat muslim menjadi umat terbaik... dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ada juga yang menafsirkan bahwa, ayat tsb memang berlaku untuk masa datang, tetapi bisa dibawa ke masa depan asal, syarat dilakukan. Syaratnya yaitu dijelaskan diayat tsb, bahwa : Kalian akan jadi umat terbaik selama kalian melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kira-kira penjelasannya. Allahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8482778222157429775?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8482778222157429775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8482778222157429775' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8482778222157429775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8482778222157429775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/08/topik-84-kuntum-khaira-ummatin.html' title='Topik 84: Kuntum Khaira Ummatin'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-6490313805290462950</id><published>2008-08-19T10:28:00.003+07:00</published><updated>2008-08-19T11:46:40.014+07:00</updated><title type='text'>Topik 83: Sampai ke Aspal</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatal juga tangan, di-tanyain di bagian komentar: "edisi Agustus ditunggu" :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang agak bingung juga, mau nyampaian apa ya? Karena tidak ada yang nanya topik sebelumnya, jadi saya anggap kali sudah ngerti bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu saya isi dengan selingan ringan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai ke aspal"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dengar surat ini kan? Pastinya sudah hafal ya, Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laqod kholaknal insaana fii ahsani takwiim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya surat At-Tin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ laqod - sungguh sungguh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La disini adalah lam taukid (penegasan), yang artinya sesunggunhya, benar-benar, atau sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qod disini berarti: sungguh telah. Biasanya kata Qod, sering diartikan sebagai bentuk penanda dari perfect tense. Artinya pekerjaan (kata-kerja/fi'il) sesudah qod itu telah sempurna di kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, laqod, artinya sungguh-sungguh sekali, atawa sungguh-sungguh kuadrat, menandakan berita berikutnya adalah pekerjaan yang sangat serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَلَقْنَا kholaknaa - kami telah ciptakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa sesudah qod biasanya (pasti) fi'il madhy. kholaknaa (we had created)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الإنْسَانَ - insaana - insan / manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa, karena posisinya adalah object, maka harokat akhir adalah fathah, insaana, bukan insaani atau insaani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فِي fii - dalam (huruf jer / kata depan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ - sebaik-baik bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ahsani, awalnya adalah ahsanu, karena setelah huruf jer, maka berubah jadi ahsani, yang artinya paling baik. Wazannya mirip dengan akbaru (paling besar), ajmalu (paling ganteng), dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata taqwiim, sepinta wazannya mirip dengan tasliim, berarti wazannya adalah af-'ala. Kita cari dikamus pada kata ALIF QOF ALIF MIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikamus kata ini artinya: berdiri, tegak, panjang (tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di AQ terjemahan banyak disebutkan kata takwiim ini artinya: bentuk. Muhsin M Khan, menarjamahkan kata takwiim ini dengan "stature" (panjang/tinggi/postur badan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ayat selanjutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bagi orang Sunda (maaf ya) yang biasa melafalkan f dengan p, ayat diatas dibaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tsumma radadnaahu aspala ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata asfal terbaca aspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian Kami kembalikan dia sampai-sampai ke aspal-aspal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, awalnya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk, lalu setelah banyak bergelimang dosa maka mereka jatuh ke tempat yang paling rendah (asfal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe... kata asfal diatas, bukan berarti aspal (cara baca orang Sunda), akan tetapi maknanya dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASFALA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ini berasal dari kata SIN FA LAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin sering mendengar hadist berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اليد العليا خير من اليد السفلى - al yadul 'ulyaa khairun minal yadis sufla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kata "diatas" disini adalah "'ulya", dan "dibawah" disini adalah "sufla".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sufla, asfala menunjukkan ke tempat yang rendah, atau dibawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau aspal letaknya dibawah, maka yaa... mirip-mirip lah... Aspal itu tempatnya dibawah (rendah), warnanya hitam (melambangkan dosa), permukaannya kasar (hilangnya kelembutan), dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali nanti, entah ada aspal yang letaknnya diatas, warnanya putih, dan permukaannya halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-6490313805290462950?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/6490313805290462950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=6490313805290462950' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6490313805290462950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6490313805290462950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/08/topik-83-sampai-ke-aspal.html' title='Topik 83: Sampai ke Aspal'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-6098353404360898017</id><published>2008-07-14T13:21:00.001+07:00</published><updated>2008-07-14T13:23:43.342+07:00</updated><title type='text'>IKLAN</title><content type='html'>أَوَلاَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui segala apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka) dan apa yang mereka iklankan (dengan ucapan mereka) (QS 2:77).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata yu’linuun, terambil dari kata علن – ‘alana, lalu mendapat tambahan alif menjadi أعلن – a’lana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika wazan ini kita teruskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَعْلَنَ – يُعْلِنُ – إِعْلَانَ : a’lana – yu’linu – i’laan, artinya mengumumkan/memberitahukan/menyatakan (to declare) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk إعلان – i’laan, diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi IKLAN. Jadi (mungkin) hakekatnya sebuah IKLAN adalah sebuah pemberituan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian one word, kali ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-6098353404360898017?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/6098353404360898017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=6098353404360898017' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6098353404360898017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6098353404360898017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/07/iklan.html' title='IKLAN'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3209868540795451730</id><published>2008-06-17T09:17:00.002+07:00</published><updated>2008-06-17T14:01:54.625+07:00</updated><title type='text'>Topik 82: Muhrim</title><content type='html'>Bisimillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata muhrim sering kita pakai. "Eh awas... nanti whudhu'mu batal... jangan dekat-dekat... bukan muhrim". Muhrim yang dimaksud disini, adalah orang yang haram dinikahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata yang dekat dengan kata muhrim banyak. Antara lain: kata haram, muharram, mahrum, mahram, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Haram dan Halal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haram, حرام adalah lawan dari Halal حلال. Sudah tidak kita perlukan penafsiran apa-apa lagi kan. Haram artinya sesuatu yang dilarang. Halal artinya sesuatu yang dibolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana asalnya kata Haram? Perhatikan kata haram dalam bahasa Indonesia itu dalam bahasa Arabnya حرام . Ada 4 huruf kan. HA RO ALIF dan MIM. Nah sebuah kata bahasa Arab umumnya terdiri dari 3 huruf asli (yaitu huruf hijaiyah selain YA, WAW, dan ALIF).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu kata حرام - yang 4 huruf itu, karena ada ALIF, maka huruf aslinya hanya 3, yaitu HA RO dan MIM. Jadilah dia: حرم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah yang jadi soal gimana mbacanya? Dia bisa kita baca harama, haruma, harima. Ada 3 kemungkinan. Lho... kan bisa juga kita baca hurima, hurimi, dsb? Ya Anda benar. Akan tetapi yang umum jadi entri pertama di kamus adalah AWAL dan AKHIR fathah. Dengan demikian tengahnya bisa fathah, kasroh, atau dhommah. So hanya 3 kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeh... sekarang kita lihat lagi. Kata حرم , jika mendapat alif sebelum huruf terakhir, maka biasanya kata itu menunjukkan sifat, dan cara bacanya tertentu. Jadi kata حرام , walau tidak ada harokatnya, dibaca haraam. Yaitu sesuatu yg sifatnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan رحمان walau tidak ada harokatnya kita baca rahmaan. Tidak bisa dibaca ruhmaan, atau rihmaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang balik lagi ke kata حرم. Bagaimana cara membacanya, diantara 3 kemungkinan? Hanya ada 1 cara, yaitu lihat kamus... (hik.. only that??? lah iya laaa...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamus ditulis:&lt;br /&gt;حرم  يحرم  حرما - haruma yahrumu hurman : haram, terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti kita bacanya haruma (kata kerja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simple kan? Insya Allah ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, dari KKL haruma itu, banyak kata yang terbentuk setelahnya, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حرّم - harrama : mengharamkan (KKT-2)&lt;br /&gt;أحرم - ahrama : berihram (KKT-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAHRIIM dan MUHRIM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ahrama - berihram. Orang yang melakukan ihram disebut محرم - muhrim (isim fa'il). Sama halnya dengan أسلم - aslama : berIslam, maka orang yang Islam disebut مسلم - muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau begitu kata MUHRIM lebih tepat diartikan orang yang berihram (sedang melaksanakan ibadah haji).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kata محرم - mahram, adalah orang yang haram dinikahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam AQ sesuatu yang dilarang disebut dengan mahruum محروم . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata tahrim artinya pengharaman. Kata ini adalah kata masdhar dari harrama. Tashrifnya adalah: harrama yuharrimu tahriim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Muharram&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muharram محرم adalah nama bulan. Secara letterleijk, muharram adalah isim maf'ul (objek) dari kata harrama. Jadi kalau harrama mengharamkan, muharrim adalah sesuatu yang mengharamkan, sedangkan muharram artinya sesuatu yang diharamkan. Dari kacamata sejarah bulan muharram adalah bulan dimana berperang dibulan tsb diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi ke konteks muhrim dan mahram. Kalau yang dimaksud orang yang tidak boleh dinikahi maka disebut mahram, bukan muhrim. Karena muhrim adalah orang yang berihram. Di Indonesia dan Malaysia (kalo tidak salah), sering dijumpai perkataan muhrim, tapi maksudnya mahram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3209868540795451730?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3209868540795451730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3209868540795451730' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3209868540795451730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3209868540795451730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/06/topik-82-muhrim.html' title='Topik 82: Muhrim'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-7055888982593704480</id><published>2008-06-13T13:28:00.004+07:00</published><updated>2008-06-13T17:02:26.743+07:00</updated><title type='text'>Topik 81: Sallim</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama sekali saya tidak menulis. Selain sedang ada tugas-tugas kantor dan kuliah, juga tugas sebagai ayah dari anak-anak yang mulai abg, juga tidak mudah :-) Disamping itu, saya juga ragu apakah pembaca blog ini sudah pada belajar ke gurunya masing-masing, sehingga belajar bahasa arabnya pun semakin bisa lebih kencang. Jika ya alhamdulillah. Mari kita giatkan dan tularkan ke muslim lainnya agar mau belajar bahasa Al-Quran ini. Saya dibilangin oleh seorang saudara saya, bahwa dia mendengar sebuah hadist: ta'allamuu al-lughata al-arabiyata wa 'allimuuha an-naasa (belajarlah bahasa Arab, dan ajarkanlah dia kepada manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sallim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ingat hal yang sederhana. Dulu waktu saya SMA, kadang bertemu orang / saudara, dia berkata ke anaknya: "ayo sallim, ayo nak sallim..." Waktu itu saya hanya sedikit bingung, karena terdengar asing ditelinga. Yang sering diucapkan orang: "ayo nak, salam", atau "ayo salaman nak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang paling tepat memang: "ayo nak, sallim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sallim, adalah bentuk kata kerja perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سلّمْ - sallim : beri salam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ini dibentuk dari kata sallama - yusallimu - tasliiman, yang artinya menyelamatkan atau memberi salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan pula sampai "double L" nya tak terucap. Nanti artinya lain. Kadang kita sering mendengar: "ayo salim". Nah salim atau saliim, ini artinya selamat atau sentosa, bukan memberi salam. Jadi "ayo nak, salim", beda dengan "ayo nak sallim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Poster di pintu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang untuk membiasakan seorang anak (saya sih belum mempraktekkan, hanya dengar dari teman), maka di rumah bisa dipasang poster yang ada tulisan arabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اطرق الباب أولا - uthruq al-baaba awwalan : ketok pintu ini terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini bisa dipasang di pintu kamar orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa juga dibiasakan, waktu kita mau masuk rumah orang kita suruh anak kita: "uthtruq awwalan" - ketok dulu... dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menyuruh anak memperkenalkan diri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya waktu kita menyuruh si anak memperkenalkan diri, bisa kita pakai ekspresi kalimat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عرّف نفسك - 'arrif nafsaka : perkenalkan dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata 'arrif, berasal dari kata 'arrafa yu-'arrifu ta'riifan, yang artinya mengenalkan, atau memberitahukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata 'arrafa ini kita temukan di Al-Quran surat 47 ayat 6:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ - wayudkhilhum aljannata 'arrafahaa lahum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga (yang) Dia telah memberitahukan (tentang)surga itu kepada mereka (sebelumnya).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola kata 'arrafa adalah KKT-2, yang biasanya dalam pola bahasa Indonesia me+KataKerja+kan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang membedakan 'arrafa (KKT-2) dengan 'arafa (KKT-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'arafa (KKT-1) artinya mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti عرفت محمدا - 'araftu muhammadan : saya kenal muhammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan 'arrafa (KKT-2) artinya mengenalkan (sesuatu) kepada (seseorang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عرفت هذا الكتاب لك - 'arraftu hadzal kitaaba laka : saya mengenalkan kitab ini kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Orang yang 'arif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar orang berkata: Ih dia orangnya 'arif banget ya? Nah kata 'arif sudah diserap kedalam bahasa Indonesia, yang sering diasosiasikan dengan arti: orang yang bijaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak sekali kata bentukan dari 'arafa ini, yand diserap ke bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat tashrifnya:&lt;br /&gt;'arrafa yu'rifu 'irfah 'irfan ma'rifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 kata terakhir adalah mashdar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar, "oh dia itu ahli irfan", maksudnya dia itu orang yang punya pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain (atau dipersepsikan orang yang bijak, orang yang bisa meramal masa depan, mengerti maksud yang tersembunyi, dsb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga sering mendengar, kata ma'rifah, yang artinya pengetahuan. Seperti: "yang pertama kali mesti dipelajari adalah ma'rifatullah", maksud ma'rifatullah adalah pengetahuan tentang Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ta'arruf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kata ini lagi trend. Ta'arruf, adalah kata 'arafa (KKT-1) yang kemudian berubah bentuk jadi KKT-5 dari wazan fa'-'ala, sehingga menjadi ta-'arrafa, yang artinya berkenalan dengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum proses menikah, didahului dengan proses ta'arruf, artinya proses mengenal calon istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ma'ruf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma'ruf artinya sesuatu yang diketahui. Wazannya sama seperti manshur منصور (orang yang ditolong). Kalau orang yang menolong: naashir ناصر . Dengan wazan yang sama, orang yang mengetahui disebut 'aarif عارف.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah kan? Ya, kalau sudah kenal dengan wazan2x tsb maka lebih mudah membentuk kata-kata dalam bahasa Arab. Insya Allah.&lt;br /&gt;(se)Gitu dulu yah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-7055888982593704480?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/7055888982593704480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=7055888982593704480' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7055888982593704480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7055888982593704480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/06/topik-81-sallim.html' title='Topik 81: Sallim'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-621391018209474008</id><published>2008-05-15T11:09:00.006+07:00</published><updated>2008-06-10T11:59:41.429+07:00</updated><title type='text'>Topik 80: Jawaban Pertanyaan</title><content type='html'>Bismillahirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, tumben pagi ini saya terima Email di mailbox saya. Ada yang nulis di bagian Comments (dibawah) bertanya, pada posting terakhir 1 bulan yang lalu. Memang sudah agak lama saya tidak menulis di Blog ini. Tetapi karena ada pertanyaan, saya sempatkan menuliskan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ditanyakan:&lt;br /&gt;Apa fungsi wazan تفاعل - tafaa 'ala&lt;br /&gt;Apa fungsi wazan استفعل - istaf 'ala&lt;br /&gt;Dan apa beda keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh. Rasanya sudah pernah saya bahas, di topik-topik yang lalu ya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apa fungsi wazan تفاعل - tafaa 'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis nahwu, fungsi wazan tafaa 'ala: menunjukkan pekerjaan itu terjadi antara 2 belah pihak (makna saling).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: &lt;br /&gt;تحاصم الكفار - tahaa-shoma al-kuffaaru : orang-orang kafir itu saling bermusuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau contoh di AQ: Surat An-naba'&lt;br /&gt;عم يتساءلون - 'amma ya-tasaa-aluun : tentang apakah mereka saling bertanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dalam beberapa hal, wazan ini juga berfungsi untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menunjukkan pengertian pura-pura. Contoh:&lt;br /&gt;تمارض الكسلان - tamaaradha al-kaslaanu : orang malas itu pura-pura sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menunjukkan pekerjaan yang terjadi berangsur-angsur. Contoh:&lt;br /&gt;توارد الزائرون - tawaarada adz-dzaa-i-ruuna : para pengunjung itu berangsur-angsur datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menunjukkan pengertian aslinya. Contoh:&lt;br /&gt;تعالى الله - ta-'aa-lallahu : Allah ta-'aalaa. Kata ta-'aala disini sama maksudnya dengan 'alaa (Maha Tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Menunjukkan akibat dari suatu perbuatan. Contoh:&lt;br /&gt;باعدت خالدا فتباعد - baa-'ad-tu Khoolidan fa tabaa-'a-da : aku menjauh dari Kholid, maka dia(pun) menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke sekarang pertanyaan ke 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apa fungsi wazan استفعل - istaf 'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis nahwu, fungsi wazan istaf 'ala: menunjukkan pekerjaan yang meminta sesuatu ke pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: &lt;br /&gt;استغفرت لله - istaghfartu lillahi : Aku minta-ampun kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dalam beberapa hal, wazan ini juga berfungsi untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki sifat atau menganggap. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هو استحل الحرام - huwa istahalla alharaama : dia mengganggap halal (sesuatu yang) haram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa fungsi lainnya. Sementara kita cukupkan sampai disini dulu, pembahasannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-621391018209474008?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/621391018209474008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=621391018209474008' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/621391018209474008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/621391018209474008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/05/topik-80-jawaban-pertanyaan.html' title='Topik 80: Jawaban Pertanyaan'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8663853272710464843</id><published>2008-04-07T11:23:00.002+07:00</published><updated>2008-04-07T11:26:05.236+07:00</updated><title type='text'>Pagi dan Air</title><content type='html'>Kehebohan nyaris terjadi. Padahal waktu itu masih pagi. Ya sekitar jam 4:00 dinihari. Waktu adzan shubuh masih berapa menit lagi. Biasanya aku sudah mandi, dan siap mengenakan pakaian kantor. Kalau masih sempat sholat tahajjud aku sholat dulu sebelum mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air di kran tidak ‘ngucur’. Bagaimana mau wudhu? Sementara, tidur semalaman membuat keinginan untuk buang air kecil, besar sekali. Tidak kuat untuk ditahan. Air kencing pagi hari yang beraroma khas ”amoniak” tsb pun terpaksa dibuang ke closet. Untunglah air untuk ”flush” masih tersisa. Cress... Bau ”amoniak”pun sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama istri dan anak bangun. Mau minum, air aqua di dispenser ternyata habis. Yang mau buang hajat? Wah repot sekali... tidak ada air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu satu cluster perumahanku, mati air. Informasi dari Satpam, air PAM mati, karena semalam ada kebocoran di pipa utama yang mensuplai air ke cluster. Walhasil, petugas PAM semalamam menutup saluran pipa sebelum masuk ke clusterku. Menurut petugasnya kerusakan baru bisa diperbaiki dalam 1 sampai 2 hari. Aduh! Pembantu di lantai 1, nanya: ”Bu... pagi ini ngak nyuci ya…?”  ”Ya… mau gimana lagi ?” jawab istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena adzan sudah dekat, aku buru-buru nyetir mobil ke Masjid, bawa rombongan. Biar wudhu’ di masjid saja. Di jalan menuju keluar cluster perumahan, ada rumah yang dikunjungi banyak orang. Rupanya disana rumah yang pakai ”double gardan”, selain pakai PAM, juga pakai air tanah yang disedot pompa. Beruntung yang punya rumah sangat dermawan. Berjejer para ibu dan pembantu tetangga-tetangga sekitar mengisi air di ember-ember. Pembantuku pun kusuruh kesana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu benar-benar repot. Air tidak ada buat kebutuhan mandi, nyuci, masak, MCK. Mana toilet jadi bau, karena sebahis ”dipakai” anak-anak. Air minum di dispenser pun habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pagi dan Air di Al-Quran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kejadian ini, aku jadi teringat sebuah surat di Al-Quran yaitu surat Al-Mulk (67) ayat 30:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, aku sudah &amp; sedang kursus bahasa Arab, jadi dikit-dikit bisalah nerjemahin, kalimat tsb. Tarjamah letterleijk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Katakanlah (hai Muhammad): ”Jelaskan kepadaku jika pada pagi hari air kalian menjadi kering”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini dikatakan: &lt;em&gt;in ashbaha&lt;/em&gt;, jika pada pagi hari menjadilah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;em&gt;ashbaha &lt;/em&gt;satu akar kata dengan kata &lt;em&gt;as-subh &lt;/em&gt;(waktu subuh). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan sekali, bagaimana repotnya kehilangan semua air pada pagi hari... Jezz... terasa baget ayat ini... &lt;em&gt;in ashbaha maaukum ghauran&lt;/em&gt;... jika pada pagi hari menjadilah airmu kering...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, ayat ini bisa ditulis dalam redaksi lain: &lt;em&gt;in kaana maaukum ghauran&lt;/em&gt;... jika menjadilah airmu kering...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini hikmahnya, mengapa Allah tidak menggunakan kata &lt;em&gt;kaana&lt;/em&gt;, yang secara fungsi dan arti sama dengan &lt;em&gt;ashbaha&lt;/em&gt;, yaitu menjadi (&lt;em&gt;to become&lt;/em&gt;) akan tetapi &lt;em&gt;ashbaha &lt;/em&gt;spesifik untuk kejadian-kejadian yang terjadi pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga ingat lantunan merdu Syaikh Al-Matrud... &lt;em&gt;fa ashbahat ka assariim&lt;/em&gt;... Ini tentang kisah orang yang menemukan kebunnya rusak terbakar, kering dan menghitam pada pagi hari. Hanya karena mereka tidak menyebut: Insya Allah. Dan mereka bakhil terhadap si miskin. Dikatakan: &lt;em&gt;fa ashbahat ka assariim &lt;/em&gt;- menjadilah diwaktu pagi (kebun mereka itu kering) seperti malam yang sangat gelap. Ya, kebun mereka pagi hari menjadi (&lt;em&gt;asbhahat&lt;/em&gt;) kering seperti gelapnya malam, itu sepenggal kisah di surat Al-Qalam (68) ayat 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah... kenapa musti pagi ini, air dirumahku kering? Kenapa gak ditunda siang hari saja? Biar pembantuku selesai dulu nyuci. Biar anak-anak mandi dulu dan kesekolah. Biar aku bebersih dulu sebelum ke kantor. Biar istriku bisa masak makanan dulu buat makan siang dan malam. Biar toiletku jadi gak bau... Biar... duh... Banyak sekali protes di hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku sampai pada lanjutan ayat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;faman &lt;em&gt;ya’tiikum bi maa-in ma’iin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, siapakah yang akan mendatangkan kepadamu air yang mengalir? &lt;em&gt;bi maa-in ma’iin&lt;/em&gt;. (air yang mengalir, memancar). Kata ma’iin, satu akar dengan kata &lt;em&gt;mu’iin&lt;/em&gt; (yang menolong). Duh... aku memang butuh pertolonganMu ya Allah.. Beri aku air yang &lt;em&gt;ma’iin&lt;/em&gt;, dan yang &lt;em&gt;mu’iin&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, benar-benar aku resapi satu ayat di surat Al-Mulk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Qul araytum in ashbaha maaukum ghauraan &lt;br /&gt;faman ya’tiikum bi maa-in ma’iin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaskanlah, jika pada suatu pagi air (ditempatmu) kering? Maka siapakah yang mampu mendatangkan air yang mengalir?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8663853272710464843?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8663853272710464843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8663853272710464843' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8663853272710464843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8663853272710464843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/04/pagi-dan-air.html' title='Pagi dan Air'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8739541287407388063</id><published>2008-03-28T07:04:00.004+07:00</published><updated>2008-03-31T06:24:03.242+07:00</updated><title type='text'>Topik 79: Format Baru</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah. Untuk menambah variasi dalam tulisan ini, saya akan coba “permak” format penulisan, Insya Allah mulai tulisan topik ini. Saya akan bagi tiga bagian: (i) Ungkapan, (ii) Kosa Kata Baru, (iii) Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan format ini akan bertahan? Allahu a’lamu. Yang jelas saya mencoba mengubah format penulisan agar tetap segar. Baiklah kita mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Ungkapan&lt;br /&gt;&lt;font face="Traditional Arabic"&gt;&lt;br /&gt;السلام عليكم – assalamu ‘alaykum &lt;br /&gt;وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته – wa ‘alaykumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَبَاحُ الْخَيْرِ – shobbaahul khair : selamat pagi&lt;br /&gt;صَبَاحُ النُّوْرِ – shobbaahun nuur : selamat pagi juga (jawaban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مُنْذُ زَمَانٍ لَمْ أَرَاكَ – mundzu zamaan lam arooka : lama saya tidak berjumpa Anda&lt;br /&gt;كَيْفَ حَالُكَ – kaifa haaluk ? : bagaimana kabar Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله أَنَا بِخَيْرٍ – Alhamdulillah ana bi khoir: Alhamdulillah saya baik-baik saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَا سَعِيْدٌ بِلِقَائِكَ – ana sa’iid biliqooik : saya gembira berjumpa denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَا فُجُوْرٌ بِلِقَائِكَ – ana fuujuur biliqooik: saya senang berjumpa denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَبْدُوْ سَعِيْدًا هَذَا الْيَوْمَ – tabdu sa’iid hadzal yaum : Anda tampak gembira hari ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شُكْرًا – syukran : terima kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَفَضَّلْ بِلْجُلُوْسِ – tafaddhol bil juluus : silahkan duduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البَيْتُ بَيْتَكَ – al-baytu baitak : (rumah ini rumahmu) = anggaplah rumah sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هَيَّا نَشْرَبْ الشَيْ – hayya nasyrobis syaay : mari kita minum teh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;II. Kosa Kata Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سعيد – sa-‘iid : gembira&lt;br /&gt;تفضل – tafaddhol : silahkan&lt;br /&gt;نشرب – nasyrab : minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita coba lihat tiga kata baru yang kita pelajari tsb di Al-Quran. Kata سعيد – sa’iid, dapat kita tebak, sebagai kata shifat. Loh… kok bisa? Ya tampak dari adanya ya, yang menyebabkan bunyi iii panjang. Contohnya kariim كريم (mulia), kabiir كبير (besar), jamiil جميل (cantik), dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau tahu kata kerjanya, maka buang ya nya, sehingga menjadi sa-’i-da سعد.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sa-‘i-da : bahagia (happy, blessed) dalam Al-Quran ada di satu surat 11:108&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما الذين سعدوا – wa ammal ladziina su-‘iduu : dan adapun orang-orang yang dibahagiakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat disini Al-Quran menggunakan bentuk pasif: su-‘i-da (dibahagiakan), atau su-‘i-duu (mereka dibahagiakan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kata sa’iid (bahagia, kata sifat) ada dalam satu surat di Al-Quran, 11:105&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فمنهم شقي وسعيد – faminhum syaqiyyun wa sa-‘ii-dun : dan diantara mereka ada yang syaqiyyun (celaka), ada yang sa-‘ii-dun (bahagia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kata تفضّل - tafadhdhol, adalah kata kerja perintah, yang artinya: Silahkan. Ini adalah bentuk kata kerja turunan ke 5. Akar katanya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فضل - يفضل : fadhola - yafdhulu : lebih&lt;br /&gt;تفضل - يتفضل : tafadhdhola - yatafadhdholu : memberikan karunia, atau melebihkan&lt;br /&gt;تفضل : tafadhdhol: silahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Al-Quran akar kata tafadhdhol ini kita jumpai dalam 2 ayat: yaitu surat 13 : 4, dan surat 23  : 24. Akan tetapi bentuk yang dipakai adalah kata kerja asal bukan KKT 2. Contohnya di surat 13: 4:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ونفضل بعضها - wa nufadhdhilu ba'dhohaa : dan kami melebihkan sebagian dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini yang di gunakan adalah KKT-2. Ingat-ingat lagi fungsi KKT-2 adalah untuk mengjadikan fi'il yang tidak punya objek menjadi punya objek. Dalam rumus praktis, KKT-2 itu adalah kata kerja yang mendapat tambahan me....kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh KK asal: fadhola = lebih, maka&lt;br /&gt;KKT-2: fahddhola - yufadhdhilu = me-lebih-kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata terakhir yang hendak kita bahas adalah: nasyrob = kita minum. Akar katanya adalah syariba - yasyrabu : minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam AQ, kata syariba - yashrabu ini kita jumpai dalam banyak tempat.&lt;br /&gt;Contohnya di surat 83:28.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عينا يشرب بها المكربون - 'ainan yasyrabu bihaa al-mukarrabuun: mata air yang a-lmukarrabuun meminum nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat disini yang digukakan adalah KK asal dalam bentuk present (fi'il mudhori').&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi kata yasrabu (minum) ini terdapat dalam AQ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, ayat ini cukup sering digunakan untuk menasehati teman/orang lain agar tidak berlebih lebihan dalam makan/minum, surat 7:31.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كلوا واشربوا ولا تسرفوا - kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu : makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian... Insya Allah kita akan lanjutkan pada topik berikutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8739541287407388063?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8739541287407388063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8739541287407388063' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8739541287407388063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8739541287407388063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/03/topik-79-format-baru.html' title='Topik 79: Format Baru'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-732663582896974651</id><published>2008-03-20T07:35:00.002+07:00</published><updated>2008-03-20T14:45:44.196+07:00</updated><title type='text'>Topik 78: Kalimat Pasif KKT 5</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Mohon maaf karena satu dan lain hal frekuensi penulisan agak “slow” hehe… Kata salah seorang teman saya, Pak Herry Sudjono: “wah… lagi nyari inspirasi ya…” hehe… Sebenarnya bukan cari inspirasi, karena masih banyak materi di buku-buku bahasa Arab yang bisa diangkat disini untuk dibicarakan, termasuk membahas ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, saat ini saya merasa agak ”jenuh” untuk menulis. Tapi karena satu dan beberapa email minta saya nulis lagi, menambah semangat saya juga untuk terus menulis. Mungkin ini salah satu maksud mengapa di ayat-ayat AQ, menggunakan KKT 4, wa tawaashaw bil haqqi (tawaashaw, KKT 4 mendapat tambahan TA dan ALIF, yang artinya saling mengerjakan sesuatu). Wa tawaashaw (saling ”washi” – berwasiat), ya kita harus saling berwasiat, saling mengingatkan, saling memberi semangat, untuk tetap istiqomah dijalan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah. Karena hari ini adalah hari libur nasional memperingati Maulid Nabi besar Muhammad SAW, mari kita saling mengigatkan untuk senantiasa mengikuti uswatun hasanatun kita Rasulullah SAW. Ulama-ulama sholih mengingatkan kita untuk giat belajar bahasa Arab, sebagai pilar untuk mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Dinasehatkan:&lt;br /&gt;تعلموا اللغة العربية واعلموها الناس – ta’allamuu al-lughota al-arabiyyata wa ’allimuuhaa an-naasa&lt;br /&gt;Pelajarilah bahasa Arab dan ajarkanlah kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar RA juga mengingatkan kita untuk belajar bahasa Al-Quran ini. Dia berkata:&lt;br /&gt;تعلموا الغة العربية فإنها من دينكم – ta’allamuu al-lughata al-‘arabiyyata fainnahaa min diinikum&lt;br /&gt;Pelajarilah bahasa Arab karena bahasa Arab itu bagian dari agamamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, baiklah kita segera mulai lanjutan pelajaran kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aina washolnaa? (sudah sampai dimana kita kemaren?) Oh ya sudah bahas mengenai Kalimat Pasif. Tapi yang sudah kita bahas itu hanya kalimat pasif dari kata kerja 3 huruf asli. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خلق الله الناس – kholaqo Allahu an-naasa (Allah menciptakan manusia)&lt;br /&gt;خلق الناس – khuliqa an-naasu (Manusia diciptakan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada waktu insya Allah kita bisa bahas, ragam kalimat dari satu kalimat aktif menjadi 3 bagian:&lt;br /&gt;1. Kalimat pasif&lt;br /&gt;2. Kalimat berita tentang subject&lt;br /&gt;3. Kalimat berita tentang object&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah apa lagi nih… Gini Mas… Biar jelas, kita kasih contoh saja ya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يفتح الموظف باب المكتبة صباحا – yaftahu al-muwazhzhofu baaba al-maktabati shobbaahan&lt;br /&gt;Petugas itu membuka pintu perpustakaan pada pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kalimat diatas kalimat aktif kan? Oke... sekarang kita bisa membuat 3 macam kalimat dari kalimat diatas, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يفتح باب المكتبة صباحا – yuftahu baabu al-maktabati shobbaahan.&lt;br /&gt;Pintu perpustakaan dibuka pada pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kalimat pertama yang bisa kita buat. Sekarang kalimat ke dua, yang menjelaskan tentang subject. Siapa subjectnya : petugas. Ngapain dia? Membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الموظف فاتح – al-muwazzafu faathihun : petugas itu (adalah) orang yang membuka (pintu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ketiga yang kita bisa buat, adalah kalimat tentang object, yaitu pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;باب المكتبة مفتوح – baabu al-maktabati maftuuhun: pintu perpustakaan itu terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat kan bahwa dari satu kalimat aktif yang sempurna, kita bisa membuat 3 macam kalimat baru. Insya Allah kita akan latihan hal ini lagi di bagian-bagian lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita lihat hal yang sedikit lebih sukar. Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... Bagaimana membentuk kalimat pasif dari KKT 5. Oh ya KKT 5 itu adalah KKT dengan wazan تفعل – tafa’-‘ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تفكر في – tafakkara fii : memikirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تفكر محمد في درسه – tafakkara muhammadun fii darsihi : Muhammad memikirkan pelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pasifnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;درسه تفكر في  -darsuhu tufukkira fii : Pelajarannya dipikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, apa yang bisa dipelajari? Insya Allah mudah. Yaitu, jika kita bertemu wazan KKT-5, maka urutan aktif pasif sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تفعل – tafa’-‘ala (aktif)&lt;br /&gt;تفعل – tufu’-‘ila (pasif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تقدم الوالد أمام ولده – taqoddama al-waalidu amaama waladihi : Bapak itu berjalan mendahului anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat KKT 5 nya: تقدم – taqoddama : berjalan mendahului&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dipasifkan, ingat ingat lagi wazannya: tufu’-‘ila, berarti taqoddama menjadi tuquddima. Sehingga kalimatnya menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تقدم الولد – tuquddima al-waladu : anak itu didahului.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke… Insya Allah mengerti ya… Kita akan lanjutkan lagi dengan topik lain, dengan masih membahas seputar kalimat pasif. Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-732663582896974651?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/732663582896974651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=732663582896974651' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/732663582896974651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/732663582896974651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/03/topik-78-kalimat-pasif-kkt-5.html' title='Topik 78: Kalimat Pasif KKT 5'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1775163735553412819</id><published>2008-03-03T08:08:00.004+07:00</published><updated>2008-03-03T09:07:28.364+07:00</updated><title type='text'>Topik 77: Kalimat Pasif (lanjutan I)</title><content type='html'>Bisimillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Setelah off, beberapa lama, kita coba lanjutkan pembahasan mengenai kalimat pasif. Mengapa topik ini yang dipilih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan. Tetapi yang paling menarik untuk disampaikan adalah, seringkali bagi pemula (saya Insya Allah juga termasuk pemula --don't worry), ada beberapa kesalahan pengertian dari orang yang berbahasa non-arab (Indonesia, Melayu, maupun Inggris) dalam memahami kalimat pasif dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh: Saya membaca buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah paham, bahwa Subject, adalah saya, dan object adalah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam bahasa Inggris juga begitu: I read a book.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dijadikan kalimat pasif, kita juga mengerti, kalimat itu menjadi:&lt;br /&gt;Buku dibaca oleh saya.&lt;br /&gt;A book was read by me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam bahasa Arab, Subject dalam kalimat pasif tidak boleh muncul. (pakai bahasa gaul sekarang) Dilarang muncul boo'!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kalimat diatas, hanya bisa di-Arab-kan sbb:&lt;br /&gt;Buku dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah. Gitu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya begitu peraturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, sebuah kalimat, jika hendak memunculkan Subject, hendaklah dibuat dalam kalimat aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subject dalam kalimat pasif, mesti dihilangkan. Kata orang arab, subjectnya: Majhul. Majhul artinya: tidak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau kita buat contoh diatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibuat pasif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;1. Saya sebagai subject hilang (tidak ada dalam bahasa Arab: buku dibaca oleh saya).&lt;br /&gt;2. Kata kerja yang dalam kalimat aktif: qora'tu (ada tu = saya), maka dalam kalimat pasif akhiran tu tersebut hilang.&lt;br /&gt;3. Kata kerja dalam kalimat pasif, mengikuti dhomir dari naibul fa'il. Karena naibul fa'il adalah al-kitaab (huwa), maka kata kerjanya kembali ke KKA (Kata Kerja Asal), yaitu qora-a. &lt;br /&gt;4. Cara membuat pasif qo-ra-a, adalah dengan men-dhommah kan kata pertama, dan meng-kasrah-kan kata sebelum akhir. Sehingga aktif: qo-ra-a, pasif: qu-ri-a.&lt;br /&gt;5. I'rob (harokat akhir) dari al-kitaab, adalah dhommah, sehingga dibaca: quri-a alkitaabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weleh-weleh... banyak yang musti diperhatikan ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang kadang sering terlewatkan. Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan, bahwa dalam pelajaran tata bahasa Arab, biasanya pertama yang dikenalkan adalah maf'ul (object) harus fathah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan, al-kitaab dalam posisi kalimat diatas adalah object. Maka dia fathah, sehingga dibaca al-kitaa-ba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kadang dalam kalimat pasif seorang pemula akan membuat kalimat sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaaba : mereka membaca al-kitaaba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya ke pemula tsb: kok dibaca al-kitaaba? Mereka akan jawab, lha kan posisi al-kitaab dalam kalimat tersebut tetap Object (maf'ul). Nah kalau maf'ul kan dibaca fathah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah disini kita harus hati-hati. Walaupun suatu kata benda, berfungsi sebagai Object, tapi lihat dulu, apakah dia ada dalam kalimat pasif. Kalau dalam kalimat pasif, maka Object tsb, berubah menjadi Naibul Fa'il, yang ber-'irob Dhommah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga yang benar itu, membacanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita hendak lihat, salah satu contoh dalam Al-Quran surat 84 ayat 21:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإذا قرئ عليهم القراّنُ لا يسجدون - dan jika dibacakan Al-Quran kepada mereka, mereka tidak sujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat disitu, bahwa yang menjadi naibul fa'il adalah Al-Quran, dan i'rob nya adalah dhommah. Sehingga dibaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa idza quri-a alayhim al-quraanu (bukan al-quraana) laa yasjuduun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik selanjutnya akan kita bahas Rumus mudah mengubah kata kerja dari aktif ke pasif. Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1775163735553412819?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1775163735553412819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1775163735553412819' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1775163735553412819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1775163735553412819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/03/topik-77-kalimat-pasif-lanjutan-i.html' title='Topik 77: Kalimat Pasif (lanjutan I)'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4467013833530399145</id><published>2008-02-05T09:16:00.001+07:00</published><updated>2009-07-29T09:42:39.556+07:00</updated><title type='text'>Topik 76 : Past Perfect Tense</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Waktu pertama belajar kaana كان di hampir semua buku bahasa Arab menjelaskan dengan contoh kalimat sempurna (ada mubtada dan khobar), dan efeknya setelah dimasuki kaana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata diberi contoh seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;زيدٌ جميلٌ – Zaidun jamilun : Zaid ganteng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan jika kemasukan kaana menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان زيدٌ جميلاً – kaana Zaidun jamiilan: (dulu) Zaid ganteng : Zaid was handsome&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, contoh diatas tidaklah sukar untuk dilihat dan dipelajari polanya bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit soal yang muncul. Waktu saya membaca Al-Qur’an terkadang yang muncul adalah kasus yang beda lagi. Ambil contoh, waktu kita mencoba membaca surat 2 ayat 10:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambahkan penyakit (tsb) dan bagi mereka adzab yang pedih disebabkan apa-apa (yang selama ini) mereka dustakan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatihakan kalimat terakhirnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بما كانوا يكذبون – bimaa kaanuu yakdzibuuna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan karena kalimat diatas adalah untuk orang-3 laki-laki jamak, maka dipakai كانوا – kaanuu. Coba kita ganti menjadi orang-3 laki-laki tunggal, maka kalimatnya menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بما كان يكذبُ – bimaa kaana yakdzibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah disini saya bingung. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku-buku selalu diberi contoh setelah kaana selalu kata benda (isim), kok di Al-Quran, banyak kalimat setelah kaana itu kata kerja (fi’il).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah berikut penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya berkata begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He studies Al-Quran – Dia belajar Al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هو يتعلم القراّن  - huwa yata-‘allamu al-qur-aana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He used to study Al-Quran : Dia (dulu) biasa belajar Al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان يتعلم القواّن – kaana yata-‘allamu al-qur-aana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bagaimana analisis mubtada khobarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini mas dan mbak… Masih ingat kan bahwa tugas kaana adalah merafa’kan mubtada menashobkan khobar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sekarang kita lihat kalimat diatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هو يتعلم القراّن  - huwa yata-‘allamu al-qur-aana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada’ nya : huwa&lt;br /&gt;Khobarnya: yata-’allamu al-qur-aana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan khobarnya disini adalah sebuah kalimat sempurna yang diawali dengan kata kerja sehingga sering disebut jumlah fi’liyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau khobarnya jumlah, maka pemasukan kaana kedalam susunan mubtada dan khobar dalam kalimat diatas, mengakibatkan khobarnya tidak kena efek apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke coba kita masukkan kaaana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان هو يتعلم القراّن  - kaana huwa yata-‘allamu al-qur-aana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setelah kata kerja tidak boleh ada dhomir (kata ganti) pelaku, maka huwa dibuang, sehingga menjadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان يتعلم القراّن  - kaana yata-‘allamu al-qur-aana : He used to study Al-Qura’an&lt;br /&gt;&lt;&lt;catatan bisa juga berarti: He was studying Al-Quran, atau He had been studying Al-Quran&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh ini jelaslah bagi kita bahwa, kalau setelah kaana itu ada kata kerja, maka sebenarnya kata kerja itu adalah khobar dalam bentuk fi’il, atau jumlah fi’liyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa fungsi Kaana terhadap fi’il tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke menariknya disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah tahu bahwa dalam bahasa Arab, tenses hanya dibagi 2 saja, yaitu:&lt;br /&gt;- Imperfect Tense (pekerjaan yang masih berlangsung / belum selesai)&lt;br /&gt;- Perfect Tense (pekerjaan yang sudah selesai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هو كتب كتابه – huwa kataba kitaabahu : dia (telah selesai) menulis bukunya.&lt;br /&gt;هو يكتب كتابه – huwa yaktubu kitaabahu : dia (sedang) menulis bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dalam bahasa Inggris kita tahu, jumlah tenses banyak kan? Ada present perfect, ada past perfect dsb. Nah sebenarnya kaana dan yakuunu dapat berfungsi untuk memberi efek waktu terhadap suatu perkerjaan yang mirip-mirip dengan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya jika saya masukkan kaana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان كتب كتابه – kaana kataba kitaabahu : He had written his book&lt;br /&gt;كان يكتب كتابه – kaana yaktubu kitaabahu: He had been writing his book&lt;br /&gt;سيكون كتب كتابه – sayakuunu kataba kitaabahu: He will have written his book&lt;br /&gt;سيكون يكتب كتابه – sayakuunu yaktubu kitaabahu: He will be writing his book&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dalam beberapa konteks tidak bisa disamakan persis, tetapi kira-kira kaana bisa difungsikan untuk memberi efek waktu ”had” atau ”will” kepada sebuah kata kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kita bahas fungsi lain dari kaana. Semoga Anda yang biasa belajar tenses bahasa Inggris, juga mengerti bahwa dalam bahasa Arab, bisa juga dibentuk hal yang mirip dengan tenses bahasa Inggris (walau tidak ”pas” 100%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a’lam bishshowwaab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4467013833530399145?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4467013833530399145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4467013833530399145' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4467013833530399145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4467013833530399145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/02/topik-76-past-perfect-tense.html' title='Topik 76 : Past Perfect Tense'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1707605610149468423</id><published>2008-02-04T07:53:00.000+07:00</published><updated>2008-02-04T08:28:41.210+07:00</updated><title type='text'>Topik 75: Istaghfir!</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan selesaikan latihan surat An-Nashr. Terakhir kita sudah membahas penggalan pertama ayat 3. Kali ini kita akan tuntaskan pembahasan ayat 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا&lt;br /&gt;1. fa sabbih bi hamdi rabbika: maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. wa istagfir hu : dan minta ampunlah kepada Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Innahu : sesungguhnya Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kaana : Dia adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tawwaabaa: Maha penerima tobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah membahas fasabbih. Topik kali ini kita akan membahas mengenai point 2 sampai 4. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;واستغفره - wa istaghfir hu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istaghfir, adalah KKT-8, dalam bentuk fi'il amr (kata kerja perintah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asalnya adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;غفر - ghafara - mengampuni (KK Asal)&lt;br /&gt;أغفر - aghfara - mengampunkan (KKT-1)&lt;br /&gt;غفر - ghaffara - mengampunkan (KKT-2)&lt;br /&gt;استغفر - istaghfara - minta ampun (KKT-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perubahan mendatar (tashrif ishtilahi) dari kata KKT-8 tsb adalah:&lt;br /&gt;1. KKL : استغفر - istaghfara (telah minta ampun)&lt;br /&gt;2. KKS : يستغفر - yastaghfiru (sedang minta ampun)&lt;br /&gt;3. Mashdar: استغفار - istighfaar (pengampunan)&lt;br /&gt;4. Isim Fa'il: مستغفر - mustaghfir (orang yang minta ampun)&lt;br /&gt;5. Isim Maf'ul: مستغفر - mustaghfar (orang yang diampuni)&lt;br /&gt;6. Fi'il amar: استغفر - istaghfir (minta ampunlah!)&lt;br /&gt;7. Fi'il nahy: لا تستغفر - laa tastaghfir (jangan minta ampun!)&lt;br /&gt;8. Isim Zaman/Makan: مستغفر - mustaghfar (tempat / waktu memberi ampun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi terlihat dalam susunan mendatar tersebut perubahan dari kata istighfar menjadi istaghfir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... gimana sih cara tahunya bagaimana tashrif (perubahan) suatu Kata Kerja menjadi 8 macam tsb?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gini, kalau KKT-1 sampai KKT-8, semua kata kerjanya, kalau mau dicari perubahan bentuknya dari KKLnya sampai Isim Zaman/Makan nya, maka perubahan tersebut mengikuti pola. Artinya, kalau kita tahu polanya maka semua kata kerja tsb bisa kita buatkan perubahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang repot adalah bagaimana perubahan dari KK Asal. Nah ini perlu melihat di kamus perubahan (tashrif)nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kita sampai pada bagian terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah pernah membahas bentuk dan tugas Inna, yaitu menashobkan mubtada' dan merafa'kan khobar. Tapi dalam kalimat diatas, kok tidak terlihat ya dimana mubtada, dimana khobarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga sudah pernah membahas bentuk dan tugas Kaana, yaitu kebalikan dari tugas Inna. Kaana berfungsi merafa'kan mubtada' dan menashobkan khobar. Tapi, ntar dulu... Dalam kalimat diatas dimana mubtada' dan khobarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah kita akan bahas mengenai hal ini, dalam topik ini dan satu topik setelah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, baiklah. Kita sudah tahu fungsi Inna. Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الله ُعليمٌ - Allahu 'aliimun : Allah Maha Mengetahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada: Allahu&lt;br /&gt;Khobar: 'aliimun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kalau kita tambahkan Inna:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الله َعليمٌ - inna Allaha 'aliimun : (sesungguhnya) Allah Maha Mengetahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat disini tugas inna, yaitu merubah Allahu menjadi Allaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dalam kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada: hu (Dia / Allah) &lt;-- isim dhomir&lt;br /&gt;Khobar: kaana tawwaban &lt;-- jumlah fi'liyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ingat lagi, Inna itu menashobkan mubtada. Mubtada'nya mana? Yaitu HU (kata ganti / isim dhomir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaidah bahasa Arab, isim dhomir shifatnya mabni (tetap). Oleh karena itu dia tidak terpengaruh, walau dia kemasukan Inna. Alias fungsi inna, yang menashobkan mubtada tidak "mempan" kena kepada kata ganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal kalimat tsb adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هو كان توابا - huwa kaana tawwaba : Dia senantiasa Maha Penerima taubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemasukan inna menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنه كان توابا - inna hu kaana tawwaban : Sesungguhnya Dia senantiasa Maha Penerima Taubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke demikian dulu penjelasan mengenai mubtada dan khobar. Insya Allah kita akan bahas bagaimana kasusnya kalau mubtada dan khobar kemasukan kaana, tetapi khobarnya itu fi'il, atau jumlah fi'liyyah (kalimat yang didahului kata kerja).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1707605610149468423?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1707605610149468423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1707605610149468423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1707605610149468423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1707605610149468423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/02/topik-75-istaghfir.html' title='Topik 75: Istaghfir!'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-76720894557816305</id><published>2008-01-21T08:31:00.000+07:00</published><updated>2008-01-22T05:48:55.567+07:00</updated><title type='text'>Topik 74: Pertanyaan dari Malaysia</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ini sebuah tas guru. Bagaimana kesepakatan antara tas yang muannats, dengan guru yang mudzakkar?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu interpretasi saya terhadap pertanyaan Mbak Zarifah dari Malaysia. Mbak ini, walau baru bergabung jadi pembaca setia blog ini, kadang aktif berkirim pertanyaan. Saya yang juga baru alias pemula ini, kadang merasa ragu untuk menjawab, apa betul apa tidak ya jawaban saya. Tapi anggaplah media blog ini kita jadikan sarana belajar, artinya saya juga belajar dengan pertanyaan tersebut, dan saya berharap ada orang yang ahli berbahasa Arab, dapat memberikan koreksi dari pembelajaran kita disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah pertanyaan Mbak Zarifah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;salam, ada satu soalan ttg feminine and masculine..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hazihi haqibatu al-mudarrisah. wa haqibatuha ..........&gt;soalan nya di sinih! perlu maksuur @ maksuurah? apa perlu di setiap akhiran kata adjective perlu ditambah ta marbutha sekiranya subjek ayat feminine?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;maaf, saya tanya saja di sinih, kerna tidak tahu mahu diletak bawah topik berapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;syukran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuih, ada satu masalah disini: beda gaya bahasa, antara Indonesia dan Malaysia. Tapi tak mengape lah.... Saya duga pertanyaan-nya sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalan (catatan, orang Indonesia jarang menyebut soalan, tapi soal) sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذه حقيتة - hadzihi haqiibatun : Ini koper/tas&lt;br /&gt;Atau jika dibaca cara lain: hadzihi haqiibah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذه حقيبة المدرس - hadzihi haqiibatu al-mudarrisi : Ini koper guru laki-laki&lt;br /&gt;Atau jika dibaca langsung: hadzhihi haqiibatul mudarris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika guru tsb guru perempuan المدرسة - al-mudarrisatu / al-mudarrisah, maka kalimatnya:&lt;br /&gt;هذه حقيبة المدرسة - hadzihi haqiibatu al-mudarrisati /hadzihi haqiibatul mudarrisah : Ini koper guru wanita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, pertanyaan Mbak Zarifah ini, menanyakan masalah adjective. Sebenarya kasus diatas bukan kasus adjective. Tapi ada 2 kasus:&lt;br /&gt;1. Kasus kata tunjuk muannats هذه - hadzihi atau pakai mudzakkar هذا - hadza&lt;br /&gt;2. Kasus idhofah yaitu: حقيبة المدرس &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabawan saya spt ini. Kalimat ismiyyah harus dipandang sebagai suatu satuan mubtada dan khobar. Dalam kasus Mbak Zarifah, awal pembicaraan ingin menyatakan: Ini koper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذه الحقيبة - hadzihi al-haqiibatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada' adalah hadzihi : ini&lt;br /&gt;Khobar adalah al-haqiibatu : sebuah koper&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa koper yang dibicarakan sudah koper yang spesifik (ada tambahan al).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau kita lihat, bahwa jenis mubtada' harus cocok dengan khobar. Kalau khobarnya muannats (lihat koper- ada ta marbutah-nya), maka mubtada juga harus muannats. Sehingga kita pakai kata tunjuk (isim isyarah) yang muannats juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kalau kita ingin menspesifikkan lagi, bahwa: ini adalah tas milik ustadz, maka kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحقيبة al-haqiibatu, kita ubah menjadi&lt;br /&gt;حقيبة الأستاذ - haqiibatu al-ustaadzi (haqiibatul ustaadz)&lt;br /&gt;حقيبة المدرس - haqiibatu al-mudarrisi (haqiibatul mudarris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena suatu benda yang jenis-katanya perempuan bisa saja dimiliki oleh orang laki-laki, jadi pasangan antara mudhof dengan mudhof ilaih bisa saja beda jenis kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh diatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حقيبة المدرس - haqiibatu al-mudarrisi (haqiibatul mudarris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata koper - haqiibah adalah muannats, sedangkan mudhof ilaihnya adalah mudzakkar (al-mudarris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kesimpulannya kata mudhof dan mudhof ilaih tidak mesti harus sama-sama muannats atau mudzakkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penentuan jenis kata idhofah:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kata idhofah ditentukan oleh jenis kata Mudhofnya. Tidak peduli mudhof ilaih-nya berjenis apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سيارة - sayyaratun : sebuah mobil --&gt; muannats&lt;br /&gt;سيارة الولد - sayyaratul waladi : the boy's car --&gt; sayyaratul waladi = idhofah muannats, karena mudhofnya (sayyarah) adalah muannats.&lt;br /&gt;سيارة البنت - sayyaratul bint : the girl's car --&gt; idhofah muannats&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tambahkan kata adjective: jamiil (bagus/keren)&lt;br /&gt;سيارة البنت جميلة - sayyaratul bint jamiilatun --&gt; idhofah muannats&lt;br /&gt;سيارة الولد جميلة - sayyaratul walad jamiilatun  --&gt; idhofah muannats&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bahwa adjective nya mengambil patokan (referensi) ke mudhof-nya yitu mobil yang muannats.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المسجد - al-masjid --&gt; mudzakkar&lt;br /&gt;مسجد ريد - masjidu zaidin --&gt; Masjid (milik)Pak Zaid&lt;br /&gt;مسجد ليلي - masjidu layli --&gt; Masjid (milik) Bu Lili&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan karena idhofaf kata-kata diatas adalah mudzakkar, maka kata tunjuknya harus mudzakkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا مسجد ريد - hadza masjidu zaidin --&gt; ini masjid (milik)Pak Zaid&lt;br /&gt;هذا مسجد ليلي - hadza masjidu layli --&gt; ini masjid (milik) Bu Lili&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bahwa kata tunjuknya mengambil patokan (referensi) ke mudhof-nya yitu masjid yang mudzakkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kira-kira penjelasannya. Allahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-76720894557816305?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/76720894557816305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=76720894557816305' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/76720894557816305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/76720894557816305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/01/topik-73-pertanyaan-dari-malaysia.html' title='Topik 74: Pertanyaan dari Malaysia'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4087909076564119323</id><published>2008-01-18T08:45:00.000+07:00</published><updated>2008-01-18T11:24:01.117+07:00</updated><title type='text'>Topik 73: The ustadz's book: Lanjutan topik Mudhof</title><content type='html'>Bismimillahirrahmaniraahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan bahas bagian setelah FA SABBIH, yaitu masih di ayat 3 surat Al-Nashr. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu&lt;br /&gt;&lt;i&gt;maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bi hamdi rabbika : dengan pujian kepada Tuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau lebih pas lagi secara harfiah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bi hamdi rabbika : dengan pujian milik Tuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsir kita baca terjemahannya sbb:&lt;br /&gt;dengan memuji Tuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, secara harfiah, terjemahannya itu:&lt;br /&gt;dengan pujian (milik) Tuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kata حمد - hamdi (atau hamdin) disitu adalah mashdar, artinya dia kata benda, sehingga terjemahnya adalah pujian, bukan memuji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di translate ke bahasa Inggris:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بحمد ربك - bi hamdi rabika : with the praise of your lord &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;the praise (pujian) disini adalah Noun (Kata Benda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke mari kita bahas struktur بحمد ربك - bi hamdi rabika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi kita bertemu kasus Idhofah (Mudhof + Mudhof Ilaih). Mudhofnya adalah حمد - hamdi (pujian/praise), dan mudhof ilaihnya adalah ربك - rabbika : Tuhanmu (your Lord).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Inggris, polanya Mudhof (of) Mudhof Ilaih, sehingga menjadi:&lt;br /&gt;the Praise of your Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah Definiteness dari Mudhof&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu definitness? Insya Allah Anda masih ingat bukan? Ya, contoh gampangnya kalau saya buat kalimat:&lt;br /&gt;1. I read the book&lt;br /&gt;2. I read a book&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat 1, jika saya berkata "I read the book", maka dalam kepala saya, para pendengar sudah tahu buku mana yang saya maksud. Misalkan, saya ditengah percakapan dengan seorang sahabat:&lt;br /&gt;"Kemaren saya beli buku La Tahzan, lalu saya baca buku itu".&lt;br /&gt;"Yesterday I bought "La Tahzan". And, I read the book".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kata "buku" itu teman saya tahu apa yang dimaksud, maka saya pakai "the book". Artinya, kata "buku" itu sudah spesifik, atau sudah definitive (sudah terdefinisi). Dengan kata lain: definitness-nya sudah terdefinisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat 2: I read a book. Buku disini belum terdefinisi. Bisa buku apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A cup of coffee&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فنجان قهوة - finjaanu qahwatin&lt;br /&gt;finjaanu : secangkir / a cup&lt;br /&gt;qahwatin (qahwah): kopi /coffee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata diatas adalah idhofah. Bagaimana status "definitness" nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaidah bahasa Arab, kata diatas belum definitive, sering disebut Nakiroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih bingung ya? Oke saya kasih contoh lain:&lt;br /&gt;بابُ المسجد - baabul masjid : pintu masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hukum definitness-nya? Lihat bahwa karena mudhof-ilaih-nya definitiv (Ma'rifah), maka kata diatas dianggap Ma'rifah. Artinya: sudah jelas pintu yang mana, yaitu pintu masjid, bukan pintu rumah. Kalau di translate ke bahasa Inggris, menjadi "the masjid's door", atau "the door of the masjid", bukan "the door of a masjid". Karena dalam hal ini masjid nya pun sudah definitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah akan timbul, kalau kita mau bilang spt ini:&lt;br /&gt;A door of the Masjid (sebuah pintu dari masjid itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita pakai:&lt;br /&gt;باب مسجدٍ - baabu masjidin : a masjid's door (a door of a masjid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kita tahu bahwa masjidnya sudah definitif (the masjid). Saya melihat dalam hal ini grammar dari bahasa Inggris, tidak apple-to-apple dengan bahasa Arab. Artinya tidak bisa dipadankan langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang mau ditekankan "a door", bahwa pintu dari masjid itu belum pasti (apakah pintu depan, pintu samping atau pintu belakang), maka dalam bahasa Arab, bisa kita berkata spt ini:&lt;br /&gt;بابٌ من ابواب المسجد - baabun min abwaabil masjid (a door from the masjid's doors)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah pintu dari pintu-pintu masjid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini masjidnya sudah jelas, tetapi pintu yang dibicarakan belum jelas (belum terdefinisi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ringkasan:&lt;br /&gt;1. Idhofah disebut definitif (ma'rifah), jika mudhof ilaihnya definitif&lt;br /&gt;2. Idhofah disebut belum definitif (nakiroh), jika mudhof ilaihnya belum definitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan contoh:&lt;br /&gt;كتاب أستاذ - kitaabu ustaadz : sebuah kitab milik seorang ustadz&lt;br /&gt;idhofah diatas adalah nakiroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كتاب الأستاذ - katabbul ustaadz: kitab (tertentu) milik seorang ustadz&lt;br /&gt;idhofah diatas adalah ma'rifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سيارة خالد - sayyaratu khaalid : Mobil Khalid (Car of Khalid). Karena semua nama orang dihukumi sebagai definitif, maka idhofah dalam contoh ini adalah ma'rifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قلم إستاذي - qolamu ustaadzii: pena ustadzku (the pen of my ustadz). Karena semua kata benda yang diimbuhi pemilik spt: ustadzku (my ustad), adalah defititive, maka idhofah dalam kasus ini adalah definitif (ma'rifah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke ayat 3 surat An-Nashr ini:&lt;br /&gt;بحمد ربك - bi hamdi rabbika: the praise of your Lord: Pujian (milik) Tuhanmu, maka ini juga dihukumi sebagai ma'rifah. Hal ini disebabkan kata rob (Tuhan) ditempeli oleh kata-ganti milik (ka)--&gt; rabbika (Tuhanmu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penjelasan tambahan mengenai kasus Ma'rifah / Nakirohnya suatu Idhofah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4087909076564119323?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4087909076564119323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4087909076564119323' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4087909076564119323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4087909076564119323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/01/topik-73-lanjutan-topik-mudhof-struktur.html' title='Topik 73: The ustadz&apos;s book: Lanjutan topik Mudhof'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-5848769909323623621</id><published>2008-01-15T08:41:00.000+07:00</published><updated>2008-01-18T08:25:34.921+07:00</updated><title type='text'>Topik 72: Latihan Surat An Nashr ayat 3</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita lanjutkan pembahasan kita pada surat An Nashr ayat 3. Baiklah kita tuliskan ayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu&lt;br /&gt;&lt;i&gt;maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu penggalan pertama ayat 3 surat An Nashr. Mari kita ulang-ulang pelajaran-pelajaran yang sudah lalu-lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ف - fa : maka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سبح - sabbih : bertasbihlah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini kita jumpai bentuk fi'il amr (Kata Kerja Perintah). Dari mana tahunya Mas? Masih ingat 6 langkah mudah membuat fi'il amr kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sabbih سبّح, ini mengikuti wazan (pola) fa'-'a-la فعّلَ . Kok bisa sih? Ya lihat saja ada tasyid (ّ ) di huruf kedua kan. Berarti ini KKT-2. Masih ingat kan, karakteristik KKT-2? Oke, sekedar refreshing, KKT-2 ini:&lt;br /&gt;- membuat fi'il yang tidak memerlukan objek menjadi memerlukan objek. Contoh dalam bahasa kita: Saya lari. Nah "lari" tidak memerlukan objek. Tetapi kalimat: Saya melarikan istri saya. Nah kata "melarikan" disini adalah KKT-2, karena dia butuh objek.&lt;br /&gt;- membuat fi'il yang memerlukan satu objek menjadi memerlukan 2 objek. Contoh dalam bajasa kita: Saya baca buku. Nah "baca" disini memerlukan satu objek. Tetapi kalimat: Saya membacakan buku buat anak saya. Nah kata "membacakan" disini perlu dua objek, yaitu "buku" dan "anak saya". Kata "baca", adalah KK Asal, sedangkan "membacakan" adalah KKT-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tashrif Ishthilahi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita munculkan istilah baru disini: Tashrif Ishthilahi. Apa itu? Tashrif Istilahi yaitu suatu urutan perubahan kata dari KKL, ke KKS, ke Masdhar, dst. Urutan yang umum begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(baca dari kanan)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Zaman &lt; Makan &lt; Fi'il Nahy &lt; Fi'il Amr &lt; Maf'ul &lt; Fa'il &lt; Mashdar &lt; KKS &lt; KKL&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kita belum bahas mengenai Isim Makan (tempat), dan Isim Zaman (Waktu). Mungkin yang belum juga, bagaimana membetuk fi'il nahy (kata kerja Larangan). Yang lain sudah kita bahas sebenarnya secara terpisah-pisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke Isim Makan (tempat) dibentuk dengan menambah mim.&lt;br /&gt;Contoh : &lt;br /&gt;طعم - tho-'a-ma : makan&lt;br /&gt;مطعم - math-'am : tempat makan (restoran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لعب - la-'i-ba: bermain&lt;br /&gt;ملعب - mal-ab : tempat bermain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah kita akan bahas lagi jika bertemu ayat tentang isim makan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali fokus ke tasrif isthilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar kata: Ayo ber-tasbih. Nah kata TASBIIH itu adalah mashdar dari sabbaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tashrif ishthilahinya begini:&lt;br /&gt;سبّح - sabbaha : telah melakukan tasbih (KKL)&lt;br /&gt;يسبح - yusabbaha: sedang melakukan tasbih (KKS)&lt;br /&gt;تسبيح - tasbiih : pentasbihan (hal yang berhubungan dengan aktifitas tasbih) (Mashdar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama dapat kita lihat:&lt;br /&gt;سلّم - sallama : menyelamatkan&lt;br /&gt;تسليم - tasliim : penyelamatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كفر - kaffara : mengkafirkan&lt;br /&gt;تكفير - takfiir: pengkafiran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رغب - raghghaba : mencintai&lt;br /&gt;ترغيب - targhib : pe-cinta-an (cinta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قدر - qoddara : men-takdir-kan&lt;br /&gt;تقدير - taqdiir: pentakdiran (takdir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya, bentuk mashdar dari KKT-2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke ayat 3, kata sabbih, adalah perubahan ke bentuk fi'il amr. Kalau kita ambil contoh diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tashrif ishthilahinya begini:&lt;br /&gt;سبّح - sabbaha : telah melakukan tasbih (KKL)&lt;br /&gt;سبح - sabbih: bertasbihlah ! (fi'il amr)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama dapat kita lihat:&lt;br /&gt;سلّم - sallama : menyelamatkan&lt;br /&gt;سلّم - sallim : selamatkanlah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كفر - kaffara : mengkafirkan&lt;br /&gt;كفر - kaffir : kafirkanlah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رغب - raghghaba : mencintai&lt;br /&gt;رغب - raghghib : mencintailah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قدر - qoddara : men-takdir-kan&lt;br /&gt;قدر - qoddir : takdir-kanlah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sallim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kita sering mendengar ustadz mengatakan kepada Anaknya:&lt;br /&gt;Ayo Sallim nak... Sallim sama kakek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kata Sallim disini, maknanya adalah berikan salam. Lho bukannya diatas dikatakan Sallim : Selamatkanlah ! Kok menjadi "bersalamanlah !".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ashal-ushulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kata kerja dalam bahasa Arab, bisa punya banyak makna. Tergantung rangkaian huruf jar yang nempel ke dia. Memang betul asal kata sallama - yusallimu (KKT-2) dari kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سلم - salima (KKL) yang artinya: selamat, atau sentosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah KKT-2 dari KKL tsb adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سلّم - sallama (KKT-2) yang artinya: menyelamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kata tersebut akan berubah artinya kalau ada huruf jer yang nempel ke dia, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;زيد سلّم على الأستاذ - Zaid sallama 'alaal ustaadz : Zaid menyalami ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat kalau kata Sallama diikuti 'alaa, maka artinya menjadi : memberi salam. Dari sinilah asalnya, mengapa perintah untuk memberi salam itu : Ayo Sallim!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang mungkin dari sallama, adalah:&lt;br /&gt;سلّم على - sallama alaa : memberi salam kepada&lt;br /&gt;سلّم من - sallama min : menyelamatkan (sesuatu) dari&lt;br /&gt;سلّم إلى - sallama ilaa: memberikan (sesuatu) ke&lt;br /&gt;سلّم بـ - sallama bi: rela akan (sesuatu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang artinya bertolak belakang:&lt;br /&gt;رعب عن - raghiba 'an : benci kepada&lt;br /&gt;رغب في - raghiba fii: cinta kepada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna-makna tersebut adalah sima'i (apa yang didengar), atau ditentukan dalam kamus. Tidak terlalu banyak kata kerja yang seperti tersebut (walau tidak bisa dikatakan juga terlalu sedikit). Kebiasaan menggunakan akan melatih kita mengerti makna yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata raghiba 'an, terdapat dalam satu hadist yang poluper:&lt;br /&gt;فمن رغب عن سنتي فليس مني - fa man raghiba 'an sunnatii falaysa minnii : siapa yang benci kepada Sunnahku (cara hidup Rasulullah SAW), maka dia bukan bagian dariku (bukan bagian dari umat Rasulullah SAW).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata raghiba sendiri secara sendiri artinya: mencintai. Tapi kalau bertemu dengan 'an, dia berubah menjadi: membenci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan bahasa Inggriss kan&lt;br /&gt;look = melihat, look after = mengawasi, look for = mencari, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup untuk topik ini, kita kembali ke ayat 3 surat An-Nashr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فسبح بحمد ربك واستغفره - fasabbih bi hamdi rabbika wa istaghfir hu&lt;br /&gt;&lt;i&gt;maka bertasbihlah dengan pujian kepada Tuhanmu, dan minta ampunlah kepada Dia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah membahas kata FA SABBIH (SABBIH Fi'il Amr : Kata Kerja Perintah). Insya Allah kita akan lanjutkan ke kata "bihamdi" dst.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-5848769909323623621?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/5848769909323623621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=5848769909323623621' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/5848769909323623621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/5848769909323623621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/01/topik-72-latihan-surat-nashr-ayat-3.html' title='Topik 72: Latihan Surat An Nashr ayat 3'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3435733800198050168</id><published>2008-01-09T20:25:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T21:16:32.392+07:00</updated><title type='text'>Topik 71: Haniifan Musliman</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita seharusnya masuk ke Latihan ayat 3 surat An-Nashr. Tapi sebelum kita masuk kesitu kita tambahkan sedikit contoh-contoh mengenai isim haal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita: Kira-kira beberapa tahun yang lalu, anak saya bertutur kepada saya tentang sekolah dan teman-temannya. Salah satu yang dia sebutkan adalah bahwa dia punya teman namanya Hanifan (yang kadang kalau di-absen dilafadzkan oleh gurunya: Haniifan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu nama: Haniifan, agak asing ditelinga saya. Kita biasa mendengar nama: Hanif (lurus). Ada teman saya namanya Muhammad Hanif (Muhammad yang punya sifat Lurus). Tapi, Haniifan? Nah ini baru kali ini saya dengar. Waktu itu saya belum begitu mengerti dengan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya hanya ingat: Hmmm... kata Haniifan, itu mungkin diambil dari doa Iftitah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفاً مسلماً - wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal-ardha haniifan musliman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya belum bisa meng-artikan teks bahasa Arab (sekarang masih belum juga sih, tapi alhamdulillah sudah bisa dikit-dikit ngeraba-raba ding...) hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu saya hanya hafal ejaan (latin)nya. Kalau disuruh nulis Arabnya, weleh saat itu pasti gak bisa deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, beberapa waktu yang lalu setelah membaca tentang isim haal, dan ciri-cirinya maka saya sekarang jadi faham, bahwa Haniifan dan Musliman itu adalah isim haal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika diartikan secara letterlijk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وجهت - wajjahtu : aku menghadapkan&lt;br /&gt;وجهي - wajhiya: wajahku&lt;br /&gt;للذي - lil ladzi: kepada Zat yang&lt;br /&gt;فطر - fathara: telah menciptakan&lt;br /&gt;السماوات - as-samaawaati: banyak langit&lt;br /&gt;و - wa: dan&lt;br /&gt;الأرض- al-ardha: bumi&lt;br /&gt;حنيفاً - haniifan: dalam keadaan lurus&lt;br /&gt;مسلما - musliman: dalam keadaan berserah diri (muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghadapkan wajahku kepada Zat yang telah menciptakan banyak lagit dan bumi dalam keadaan lurus (lagi) berserah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, terlihat dari Doa Iftitah diatas, bahwa kata Haniifan, adalah isim haal (kata keterangan). Kata Haniifan (dalam keadaan lurus) itu dinisbatkan kepada "Aku". Demikian juga kata Musliman (dalam keadaan berserah diri), juga dinisbatkan kepada "Aku". Artinya kedua kata tersebut menjelaskan kondisi "Aku" sewaktu menghadapkan "wajahku" kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa ciri-ciri isim haal terpenuhi dimana, yang tampak jelas: dua kata tersebut harokat akhir fathatain (plus ada tambahan alif diakhir), dan juga jika kata itu dibuang maka kalimatnya tetap menjadi kalimat sempurna (ada fi'il+fa'il, atau ada mubtada+khobar). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo... Nama anak itu bukan Hanif, tapi Haniifan, itu mungkin maksud orang tuanya, agar anaknya itu senantiasa dalam kondisi yang lurus", begitu gumam saya dalam hati. Penekanannya adalah "dalam kondisi", karena itu isim haal. "Hmm... pasti bapaknya jago bahasa Arab", kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup kita ambil contoh dalam Al-Quran yaitu kata WAHN (Lemah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهن - wahnun atau wahn adalah kata sifat (isim shifat) yang artinya lemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Al-Quran diperintahkan agar manusia menghormati dan berbuat baik kepada Ibu &amp; Bapak. Ibu kita telah mengandung dalam keadaan "wahnan 'alaa wahnin" - lemah diatas lemah (lemah yang super).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حملته أمه وهنا على وهنِ - hamalat hu ummuhu wahnan 'alaa wahnin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hamalat: Dia (ibu) telah mengandung (manusia)&lt;br /&gt;wahnan : dalam keadaan lemah&lt;br /&gt;'alaa wahnin: diatas lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi terlihat bahwa kata wahnan diatas, ada tambahan alif dan harokat akhir fathhatain, maka dapat "dipastikan" ini adalah isim haal (kata keterangan terhadap kondisi si Ibu pada saat hamil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kita tuntaskan pembahasan mengenai isim haal ini. Insya Allah kita lanjutkan dengan Latihan surat An-Nashr kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3435733800198050168?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3435733800198050168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3435733800198050168' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3435733800198050168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3435733800198050168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/01/topik-71-haniifan-musliman.html' title='Topik 71: Haniifan Musliman'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-815271154491361680</id><published>2008-01-08T08:03:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T21:27:17.977+07:00</updated><title type='text'>Topik 70: Latihan Surat An-Nashr ayat 2, Adverb</title><content type='html'>Bisimillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah, kita akan masuk ke ayat 2 surat An-Nashr. Pada ayat ini kita akan fokuskan pembahasannya mengenai Kata Keterangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita mulai. Ayat 2 berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ورأيتَ الناس يدخلون في دين الله أفواجا- wa ra-ai-ta an-naasa yad-khuluuna fii diini Allahi afwaajan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa= dan&lt;br /&gt;ra-aita= engkau lihat&lt;br /&gt;an-naasa= manusia&lt;br /&gt;yadkhuluuna= mereka memasuki&lt;br /&gt;fii= kedalam&lt;br /&gt;diini Allahi= agama Allah&lt;br /&gt;afwaajan= secara berbondong-bondong (dalam keadaan berbondong-bondong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah ada dua point yang bisa kita lihat disini yaitu:&lt;br /&gt;diini Allahi (dibaca sambung diinillahi), yaitu mengulang mudhof, dan&lt;br /&gt;afwaajan= secara berbondong-bondong, yaitu Kata Keterangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;دين الله - Diinillahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ini adalah mudhof. Dimana mudhofnya دين - diini dan mudhof ilaih nya الله - Allahi. Ingat lagi ciri-ciri mudhof yaitu:&lt;br /&gt;- Jika ada 2 kata benda yang berdekatan,&lt;br /&gt;- Kata benda pertama nakiroh (umum, dengan ciri tidak ada tanwin)&lt;br /&gt;- Kata benda kedua harokat akhir kasrah, atau kasratain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata diatas memenuhi 3 syarat tsb, yaitu:&lt;br /&gt;- ada 2 kata benda yang berdekatan (betul)&lt;br /&gt;- Kata benda pertama nakiroh (betul), jadi bukan ma'rifah (الدين-ad-diini)&lt;br /&gt;- Kata benda kedua harokat akhir kasroh (betul), jadi Allahi, bukan Allahu, atau Allaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita akan tinggalkan dulu mengenai mudhof. Ada topik lain dari mudhof ini yaitu mengenai ke ma'rifatan atau ke-nakirohan mudhof (bingung kan?) Hehe... Insya Allah kita bahas pada topik berikut. Sekarang kita masuk ke kata keterangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Isim Haal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu isim haal? Lihat contoh diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ورأيتَ الناس يدخلون في دين الله أفواجا- wa ra-ai-ta an-naasa yad-khuluuna fii diini Allahi afwaajan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;afwaajan: secara berbondong-bondong, atau dalam bahasa Inggris-nya in-crowd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kata afwajaan ini adalah isim haal, yaitu isim yang menjelaskan suatu keadaan (al-haal) dari Subjek, maupun Objek. Hmm... entar... cerna dulu nih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak sedikit beda dengan bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, kata keterangan itu yang biasa disebut adverb, biasanya melekat kepada kata kerja. Artinya menjelaskan bagaimana pekerjaan itu dilakukan, atau kualitas dari pekerjaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti:&lt;br /&gt;Talk to me softly please : Tolong dong, bicara sama saya dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah softly itu menjelaskan talk (bicara). Dalam bahasa Inggris kata keterangan "dengan lembut" itu dinisbatkan (di-referensi-kan) kepada kata kerja (verb/fi'il) talk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, kata keterangan itu umumnya dinisbatkan kepada pelaku/subjek (fa'il) atau kepada objek/korban (maf'ul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يسافرون إلى جاكرتا أفواجا - yusaafiruuna ilaa Jakarta afwaajan&lt;br /&gt;Mereka berpergian ke Jakarta secara berbondong-bondong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dalam Al-Quran, sewaktu Allah memerintahkan Adam &amp; Siti Hawa &amp; Para Iblis turun:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;احبطوا منها جميعا - ihbithuu minha jamii'an&lt;br /&gt;Turunlah (kalian) dari syurga ini secara bersama-sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat disitu kata جميعا - jamii'an adalah isim haal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kita tahu bahwa itu isim haal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini beberapa ciri isim haal:&lt;br /&gt;1. Kalau isim haal itu dibuang, maka kalimatnya masih kalimat sempurna (ada fi'il+fa'il, atau ada mubtada'+khobar)&lt;br /&gt;2. Isim haal itu nakiroh (tidak ada al), dan nashob (fathhatain)&lt;br /&gt;3. Isim haal itu biasanya dibentuk dari kata sifat (yang berasal dari isim fa'il, isim maf'ul, maupun kata benda yang dianggap sifat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذهب إلى البيت راكبا - dzahaba ila al-bayti raakiban&lt;br /&gt;Dia pergi ke rumah itu dengan menaiki kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa kata راكبا - raakiban, adalah isim fa'il dari KKL ركب - rakaba (menaiki, menunggangi). Perhatikan bahwa kalau kata raakiban itu dibuang, maka kalimatnya tetap menjadi kalimat sempurna:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذهب إلى البيت - dzahaba ila al-bayti&lt;br /&gt;Dia pergi ke rumah itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kalimat sempurna, karena telah ada fi'il (pergi) + fa'il (dia), walau fa'il disini adalah fa'il tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, isim haal itu dinisbatkan kepada Objek, contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جلق الله الإنسان ضعيفا - khalaqa Allahu an-insaana dho'iifan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menciptakan manusia dalam keadaan lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dho'iifan disini adalah isim haal (kata keterangan) bagi Objek (yaitu manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dho'iif disini adalah kata shifat yang menyerupai isim fa'il. Nah, karena dia nashob, tidak ada al, dan layak diberi makna: dalam keadaan ...., maka dia adalah isim haal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhanya sih sebenarnya mengetahui apakah dia isim haal atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke ya, demikian dulu sudah kita selesaikan penjelasan dari ayat 2 surat An-Nashr ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah kita akan lanjutkan dulu dengan kembali membahas masalah mudhof, tapi kali ini lebih seru lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-815271154491361680?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/815271154491361680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=815271154491361680' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/815271154491361680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/815271154491361680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2008/01/topik-70-latihan-surat-nashr-ayat-2.html' title='Topik 70: Latihan Surat An-Nashr ayat 2, Adverb'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-5253040031920812960</id><published>2007-12-28T20:09:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T07:49:58.557+07:00</updated><title type='text'>Topik 69: Mudhof Ilaih (Lanjutan) - Pembesar Penjahat</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Seharusnya kita masuk ke surat An-Nashr ayat 2, untuk kita membahas masalah isim haal atau adverb (Kata Keterangan). Akan tetapi kita tambahkan sedikit mengenai Mudhof di topik 69 ini. Biar tuntas gituh... (karena rasanya masih ada yang perlu saya sampaikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah. Sekarang quiz dikit:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bahasa Arabnya: The house of the big man is nice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Bahasa Arabnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بيتُ الرجلِ الكبيرِ جميلٌ - baytu ar-rajuli al-kabiiri jamiilun (dibaca sambung: baytul rajulil kabiir jamiil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia-nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah laki-laki yang besar itu bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang menarik bagi saya (atawa kita-kita yang masih pemula ini adalah), bahwa bahasa Inggris maupun bahasa Arab, tidak mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi:&lt;br /&gt;1. Objek&lt;br /&gt;2. Pemilik dari Objek&lt;br /&gt;3. Sifat dari Pemilik Objek&lt;br /&gt;4. Sifat dari Objek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh eh... kok rumit seh??? Ehm... maksudnya begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba baca kalimat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah laki-laki yang besar itu bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang besar dan apa yang bagus? Apakah yang besar laki-lakinya atau rumahnya? Yang hampir pasti tidak menimbulkan keraguan bahwa kata "bagus" dalam kalimat diatas, tentulah sifat untuk Rumah. Bener kan? Tapi bagaimana dengan kata "besar". Mensifati siapakah/apakah kata "besar" disini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditelisik dari struktur bahasa Inggris-nya, kita tidak menemui kesulitan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The house of the big man is nice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat yang "big" (besar) itu sifat dari "man" (laki-laki), sedangkan "nice" (bagus) itu sifat dari "house" (rumah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bahwa:&lt;br /&gt;1. Objek: The house&lt;br /&gt;2. Pemilik dari Objek: the man&lt;br /&gt;3. Sifat dari Pemilik : big&lt;br /&gt;4. Sifat dari Objek: is nice&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kita mudah sekali menentukan 4 hal itu bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dalam bahasa Arab, juga mudah. &lt;br /&gt;بيتُ الرجلِ الكبيرِ جميلٌ - baytu ar-rajuli al-kabiiri jamiilun (dibaca sambung: baytul rajulil kabiir jamiil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Objek: بستُ baytu&lt;br /&gt;2. Pemilik dari Objek: الرجلِ ar-rajuli&lt;br /&gt;3. Sifat dari Pemilik : الكبير al-kabiiri&lt;br /&gt;4. Sifat dari Objek: جميلٌ - jamiilun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan diatas kita bisa pelajari bahwa, susunan (Objek+Pemilik Objek)rangkaian ini menjadi kata majemuk (mudhof), dimana bisa diterjemahkan sebagai Objek "OF" Pemilik Objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam contoh diatas:&lt;br /&gt;بيتُ الرجلِ - baytul rajuli -- house of the man -- rumah milik laki-laki itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya tambahan al-kabiiri الكبير - disini menjadi sifat dari the man Al-Rajul. Tahunya dari mana? Entar dulu, kok bisa tahu sih? Jawabnya: Karena sama-sama ada AL (lihat AL-Rajuli &amp; AL-Kabiiri) alias sama-sama definitif/ma'rifah, dan sama-sama ber-i'rob (harokat akhir) kasroh [yaitu rajulI dan kabiirI). Sehingga menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الرجلِ الكبيرِ - al-rajuli al-kabiiri (laki-laki yang besar itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena 2 faktor itu (sama i'rob, dan sama ma'rifah) --&gt; dipastikan kabiir itu sifat dari rajul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kalau i'rob beda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الرجلِ الكبيرُ - Al-Rajuli Al-Kabiiru --&gt; karena i'rob kabiir adalah dhommah (kabiiru), berbeda dengan rajul yang kasroh (rajuli) --&gt; maka kabiir disini bukan sifat dari rajul lagi. Jika ini kasusnya maka kabiir menjadi sifat dari baitu (rumah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kalau ditulis:&lt;br /&gt;بيتُ الرجلِ الكبيرُ - baytu al-rajuli al-kabiiru&lt;br /&gt;The house of the man is big. Rumah milik laki-laki itu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini kabiir berfungsi sebagai sifat dari rumah, bukan laki-laki lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bahwa pengetahuan mengenai i'rob menjadi penting dalam menentukan fungsi dan kedudukan suatu kata. Kita sudah lihat dengan merubah i'rob kabiir, dari kabiiri menjadi kabiiru, maka dia berubah fungsi, yang awalnya sebagai sifat dari Pemilik Objek (the man), menjadi sifat objeknya (the house). Itulah inti pelajaran nahwu. Makanya isinya pelajaran nahwu, itu adalah mengetahui i'rob. Karena beda i'rob, maka beda arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah dikasih kuiz oleh teman saya namanya Habib Fahmi. Coba menurut antum kata-kata dalam surat 6 ayat 123, yaitu أكابر مجرميها - akaabira mujrimiiha:&lt;br /&gt;a. Penjahat-penjahat yang terbesar&lt;br /&gt;b. Pembesar-pembesar Penjahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab: b. Alasan saya, karena kata akaabira mujrimiiha itu adalah kata majemuk, dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mudhof (Objek): akaabira = pembesar-pembesar&lt;br /&gt;mudhof ilaih (Pemilik Objek): mujrimiiha = (pen)jahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang ke teman saya, fokus nya adalah Objeknya dong: yaitu pembesar-pembesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu teman saya itu mengatakan: Antum kayaknya salah. Coba check Quran terjemahan. Disitu diterjemahkan: Penjahat-penjahat terbesar. Saya check di Al-Quran digital di komputer saya, eh bener begitu diterjemahin, sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;6:123. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhmm saya sungguh penasaran. Lalu setelah memeriksa beberapa kitab tafsir (seperti Ibnu Katsir, dll), memang jelas bahwa yang dimaksud atau dituju oleh ayat itu adalah pembesar-pembesar (penguasa negeri atau raja-raja -red). Artinya terjemahan bebasnya: Pembesar-Pembesar Penjahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipakai kaidah "OF/milik dari", maka bisa jadi artinya, pembesar2x milik penjahat, raja-raja milik penjahat. Ini bisa bermakna 2 hal(maaf ini ta'wil saya saja, tidak ada landasan ilmiahnya), 1) raja-raja milik penjahat, artinya raja suatu negeri yang sudah dikuasai oleh penjahat, atau raja suatu negri yang sudah bersekongkol dengan penjahat, atau 2) kelompok penjahat yang memiliki ketua. Jika arti kedua ini yang dipakai, maka sesungguhnya, terjemahan dari versi Quran yang banyak beredar tidak masalah. Karena antara penguasa suatu negri, tidak ada kaitan dengan ketua penjahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, kalau artinya yang pertama? Jika arti yang pertama, maka bisa berabe juga. Karena dengan pengertian ini terkandung makna, pembesar-pembesar (raja suatu negri), punya potensi berbuat yang tidak baik, sehingga menjadi penjahat. Sehingga dia dinobatkan sebagai raja (negeri itu) plus sekalian raja penjahat. Dalam kasus ini, raja itu sekaligus penjahat (beda dengan yang tadi, antara raja dan penjahat, dua orang yang berbeda). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan model terjamah letterleijk (pakai kaidah Mudhof+Mudhof Ilaih), ayat itu menjadi sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;6:123. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri Pembesar-pembesar (raja2x) Penjahat, agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam. Saya tidak ingin menta'wil terlalu jauh. Lagi pula, kita hanya membahas masalah kaidah penerjemahan mudhof, kan... Yang ingin saya sampaikan, pengetahuan mengenai mudhof ini membantu "menajamkan" terjemahan yang pas. Lihat bahwa dalam kasus 6:123 diatas, dengan menggunakan kaidah mudhof ini, lebih mendekati kepada apa yang tertulis dalam kitab-kitab tafsir tentang ayat ini. Allahu a'lam (bisa jadi saya salah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sampai disini dulu ya... Insya Allah kita akan lanjutkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-5253040031920812960?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/5253040031920812960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=5253040031920812960' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/5253040031920812960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/5253040031920812960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/12/topik-69-mudhof-ilaih-lanjutan.html' title='Topik 69: Mudhof Ilaih (Lanjutan) - Pembesar Penjahat'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3765672531144443470</id><published>2007-12-26T14:14:00.000+07:00</published><updated>2007-12-28T13:51:15.852+07:00</updated><title type='text'>Topik 68: Mengulang Mudhof Ilaih</title><content type='html'>Bismillahirrahmaanirrahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan membahas mengenai surat An-Nashr. Baiklah kita mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا جاء نصر الله والفتح - idza jaa-a nasru allahi wa al-fathu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;idza: jika&lt;br /&gt;jaa-a: telah datang&lt;br /&gt;nasrullahi: pertolongan Allah (Help of Allah)&lt;br /&gt;wa: dan &lt;br /&gt;al-fathu: kemenangan (victory)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah, ada yang perlu kita ulang-ulang disini yaitu bentuk dari Mudhof Ilaih. Sudah kita singgung di beberapa topik yang lalu, akan tetapi kita ulang lagi disini, biar lebih mantafff getoh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Perhatikan kalimat diatas. Pertama, kita analisis dulu struktur kalimatnya. Oke, kalimat diatas terdiri dari kata penghubung idza (إذا). Sekarang kalau kita buang kata idza kalimat tersebut akan menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; جاء نصر الله والفتح - jaa-a nasrullahi wa al-fathu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini kita bertemu dengan kalimat fi'iliyyah (jumlah fi'liyyah). Eh ngomong2x kita pernah bahas gak ya pembagian kalimat (aqsam al-jumlah) dalam bahasa Arab? Belum atau sudah ya (maaf saya lupa, maklum udah umuran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm anggaplah belum ya. Oke. Dalam bahasa Arab, kalimat dibagi 2, yaitu:&lt;br /&gt;1. Jumlah Fi'liyyah (kalimat yang dimulai kata kerja)&lt;br /&gt;2. Jumlah Ismiyyah (kalimat yang dimulai dengan kata benda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalimat جاء نصر الله والفتح - jaa-a nasrullahi wa al-fathu , ini adalah kalimat fi'liyyah, karena dimulai dengan Kata Kerja, yaitu KKL jaa-a (datang). Siapa yang datang? Ingat setiap fi'il (Kata Kerja) membutuhkan fa'il (pelaku alias subjek). Subjeknya biasanya setelah fi'ilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat diatas subjeknya adalah نصر الله والفتح - nasrullahi wal fathu. Itulah subjeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum banyak pola kalimat dalam bahasa Arab, dimana dia dibentuk dari jumlah fi'liyyah. Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ضرب زيدٌ - dhoroba zaidun : Zaid telah memukul (jumlah fi'liyyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak sedikit beda dengan bahasa kita. Kalau kita letterleijk menerjemahkan kalimat diatas, maka mestinya, di terjemahkan "Telah memukul (sesuatu) si Zaid". Bedanya adalah dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat itu diawali dengan Pelaku diikuti kata kerja. Sehingga kalau mengikuti ini kalimat diatas menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;زيدٌ ضرب - Zaidun dhoraba : Zaid telah memukul (jumlah ismiyyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa Kalimat diatas telah berubah menjadi jumlah ismiyyah. Dalam bahasa Indonesia kita tidak memiliki "kebebasan" seperti dalam bahasa Arab diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaid menulis --&gt; (betul secara bahasa Indonesia). Dalam bahasa Arab: زيدٌ كتب - Zaidun kataba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Zaid --&gt; (salah secara bahasa Indonesia). Sedangkan dalam bahasa Arabnya tetap benar, yaitu كتب زيدٌ - kataba zaidun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disitu letak bedanya. Di bahasa Arab, posisi subjek boleh sebelum kata kerja, atau setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Kembali ke topik utama... Kita mau bahas mengenai Mudhof Ilaih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata نصرُ اللهِ - nashru Allahi (dibaca cepat nashrullohi). Inilah dia mudhof (kata majemuk). Pas belajar ini saya sendiri juga rada bingung dengan definisi kata majemuk. Oke, tinggalkan yang susah, ambil yang mudah, pakai cara saya saja. Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling gampang belajar mudhof ini kalau kita mengerti struktur bahasa Inggris, tentang kepunyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal kita katakan begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar's book (buku milik si Umar). Bisa kita jadikan dalam bentuk "OF", yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;book of Umar (buku milik si Umar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bentuk: book of Umar ini lah yang disebut Mudhof, dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah's messenger (Rasul milik Allah / Rasul Allah). Bisa kita jadikan dalam bentuk "OF", yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Messenger of Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bahasa Arab nya : Messenger of Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Messenger : رسولٌ - rasuulun&lt;br /&gt;Allah: اللهُ - Allahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga messenger of Allah =   رسولُ اللهِ - Rasuulullahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... bentar-bentar kok bukan: رسولٌ اللهُ - Rasuulun Allahu (atau Rasuulullahu)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah disini aturannya muncul (weleh aturan lagi... aturan lagi). Tenang, banyak latihan saja. Aturan gak usah dihafalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata rasuulun disebut mudhof, sedangkan kata Allahu disebut mudhof ilaih. Aturannya, Mudhof itu tidak boleh bertanwin, sehingga rasuulun harus dhommah saja menjadi rasuulu. Trus, mudhof ilaihi itu harus kasroh. Sehingga Allahu menjadi Allahi. Udah deh, cuman 2 itu aturannyanya... gampang kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain:&lt;br /&gt;baytun : rumah = house بيتٌ&lt;br /&gt;Allahu : Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;house of Allah (rumah Allah)? --&gt; baitu Allahi (baitullahi) بيتُ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain:&lt;br /&gt;qolamun : pen = pena قلمٌ&lt;br /&gt;al-ustaadzu : ustadz الأستاذُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;the pen of ustadz (pena ustadz)? --&gt; qolamu al-ustaadzi (qolamul ustaadzi) قلمُ الأستاذِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dalam surat An-Nashr ini ada contoh lain:&lt;br /&gt;Help of Allah.&lt;br /&gt;Help = nashrun نصرٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga Help of Allah نصرُ اللهِ - nashru Allahi (atau nashrullahi) : pertolongan Allah.&lt;br /&gt;Demikian seterusnya. Kita telah ulang-ulangi topik mengenai mudhof ilah ini, semoga dengan diulang-ulang tambah jelas ya. Insya Allah, kita akan bahas mengenai adverb pada topik setelah ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3765672531144443470?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3765672531144443470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3765672531144443470' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3765672531144443470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3765672531144443470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/12/topik-68-mengulang-mudhof-ilaih-adverb.html' title='Topik 68: Mengulang Mudhof Ilaih'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8089553623587688425</id><published>2007-12-26T13:06:00.000+07:00</published><updated>2007-12-26T14:12:33.453+07:00</updated><title type='text'>Topik 67: Latihan Surat An Nashr</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan memasuki latihan surat Pendek yang baru yaitu surat An-Nashr (pertolongan). Surat ini sengaja saya pilih, karena ada beberapa kaidah bahasa Arab yang menarik untuk dipelajari atau diulang-ulang. Diantaranya topik mengenai mudhof ilaih (kata majemuk), mashdar, isim haal (adverb), dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat An-Nashr ini dalam dalam pembahasan ilmu Tafsir, sering diangkat sebagai contoh, bahwa Tafsir Al-Quranul Karim itu sudah ada di zaman Shahabat RA. Tafsir Al-Quran yang paling awal ada pada zaman Rasulullah SAW masih hidup. Shahabat RA, jika tidak tahu pengertian suatu ayat, maka para shahabat RA bertanya ke Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menjelaskan maksud ayat yang ditanya. Penjelasan Rasulullah SAW itu terekam dalam kitab-kitab Hadist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Tafsir selanjutnya adalah, Tafsir Shahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan dalam Shahih Bukhori:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas RA, berkata: Umar biasa membawa saya dalam perkumpulan jamaah mantan tentara-tentara perang Badar. Akan tetapi, ada seseorang yang seakan-akan tidak senang dengan kehadiran saya dalam perkumpulan itu. Orang itu kemudian berkata: "Umar, mengapa engkau membawa anak kecil ini yang seumuran anak-anak kita(waktu itu Ibnu Abbas masih kecil -pen), berkumpul bersama kita?". Lalu Umar berkata: "Sungguh, anak ini salah seorang yang kalian telah kenal". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Umar mengundang mereka, dan saya, untuk duduk bersama-sama dalam satu majelis. Dan saya tidak mengira, dia tidak mengundang saya, kecuali hanya bermaksud untuk memperlihatkan saya kepada mereka. Lalu Dia berkata: "Apa pendapatmu mengenai firman Allah berikut:&lt;br /&gt;إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bila datang pertolongan Allah dan kemenangan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu beberapa orang dari mereka berkata: "(Ayat itu maksudnya) Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan mencari pengampunannya, pada saat kita diberikan pertolongan dan kemenangan". Beberapa orang yang lain diam saja, tidak berkata apa-apa. Lalu Umar berkata ke saya: "Betul begitu yang engkau katakan, ya Ibnu Abbas?". Lalu aku jawab: "Tidak". Dia kemudian bertanya: "(kalau begitu) Apa yang kamu katakan?". Lalu saya jawab: "Itu adalah masa akhir kehidupan Rasulullah SAW yang Allah SWT menginformasikan ke Beliau SAW. Allah berfirman: Jika datang pertolongan Allah dan kemenganan, itu berarti tanda-tanda dari akhir hayatmu (akhir hayat Rasulullah SAW-pen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu, dan minta ampunlah, sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Umar bin Khattab berkata: "Aku tidak tahu (penafsiran lain-pen) selain yang engkau sebutkan itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama tafsir, menjelaskan pengertian yang dibawa oleh Shahabat Ibnu Abbas RA diatas adalah ta'wil ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelas bagi kita bahwa Tafsir Al-Qur'an (maupun ta'wil) itu telah ada sejak zaman permulaan Islam sejak diturunkannya Al-Quran itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun asbabun nuzul (sebab turun surat An-Nashr ini), dari riwayat Abburrazaq diceritakan bahwa ketika Rasulullah saw. masuk kota Makkah pada waktu Fathu Makkah, Khalid bin Walid diperintahkan memasuki Makkah dari jurusan dataran rendah untuk meggempur pasukan Quraisy (yang menyerangnya) serta merampas senjatanya. Setelah memperoleh kemenangan maka berbondong-bondonglah kaum Quraisy masuk Islam. Ayat ini (S.110:1-3) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk memuji syukur dengan me-Maha Sucikan Allah atas kemenangannya dan meminta ampunan atas segala kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah secara singkat penjelasan mengenai surat An-Nashr ini. Kita insya Allah akan masuk dengan latihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8089553623587688425?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8089553623587688425/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8089553623587688425' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8089553623587688425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8089553623587688425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/12/topik-67-latihan-surat-nashr.html' title='Topik 67: Latihan Surat An Nashr'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4937834977478858605</id><published>2007-12-19T08:22:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T10:21:17.193+07:00</updated><title type='text'>Topik 66: KKS Nashob</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita dalam topik ini akan masuk membahas bentuk KKS Nashob. Loh apa lagi nih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Kemaren kita sudah kasih contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحب أن تلبس هذا اللباس - uhibbu an talbasa hadza al-libaas : saya senang Anda memakai baju ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bentuk تلبسَ - talbasa itu adalah bentuk KKS Nashob dari تلبسُ - talbasu. Secara arti tetap sama. Talbasa dan Talbasu artinya: memakai (mengenakan - pakaian). Kenapa ada bedanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ceritanya begini. Asal dari KKS itu adalah KKS Rofa'. Nah bentuk dari KKS Rofa' diatas dapat berubah menjadi 2 bentuk:&lt;br /&gt;- KKS Nashob&lt;br /&gt;- KKS Jazm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... agak membingungkan... It's ok. Intinya ingat saja bahwa, satu KKS itu, dia berubah bentuk menjadi KKS Nashob atau KKS Jazm, jika ada kata pengubahnya (yang disebut Amil, yaitu Amil Nashob dan Amil Jazm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat diatas, kata talbasu, berubah menjadi talbasa karena ada Amil Nashob, yaitu AN أن.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah Amil Nasho lain, yaitu لن - lan : tidak akan (never)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata diatas kita bisa coba ganti AN dengan LAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحب لن تلبس هذا اللباس - uhibbu lan talbasa hadza al-libaas : saya senang Anda tidak pernah memakai baju ini (I love that you never wear this dress).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa LAN juga membuat KKS yang awalnya Rofa' (talbasu), menjadi Nashob (talbasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Quran contohnya sbb (Al-Baqaroh:55):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإذ قلتم يا موسى لن نؤمن لك حتى نرى الله جهرة - wa idz qultum yaa Musa lan nu'mina laka hattaa nara Allaha jahrah : dan ingatlah (ketika) kalian berkata "yaa Musa, kami tidak akan beriman kepada mu, sampai kami melihat Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa kata nu'minu berubah jadi nu'mina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نؤمنُ لك - nu'minu laka : kami beriman kepada mu&lt;br /&gt;لن نؤمنَ لك - lan nu'mina laka: kami tidak akan pernah (never) beriman kepada mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKS Rofa' (nu'minu) berubah menjadi KKS Nashob (nu'mina).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amil lain adalah hatta (sampai). Contohnya ada di surat Al-Baqarah:120.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حتى تتبعَ ملتهم - hatta tattabi'a millatahum : sampai kamu mengikuti millah mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa karena ada hatta, kata tatabi'u (KKS Rofa') berubah menjadi tattabi'a. Asalnya sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تتبعُ ملتهم - tattabi'u millatahum : kamu mengikuti millah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian contoh-contoh dapat kita berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya: sebuah kata KKS dapat berubah dari Rofa' (kondisi asal) menjadi KKS Nashob, karena adanya huruf 'amil antara lain : AN (أنْ), LAN (لنْ), atau HATTA (حتى).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah, kita akan kembali latihan surat-surat pendek, pada topik-topik berikut ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4937834977478858605?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4937834977478858605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4937834977478858605' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4937834977478858605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4937834977478858605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/12/topik-66-kks-nashob.html' title='Topik 66: KKS Nashob'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1685680370909409292</id><published>2007-12-17T08:59:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T08:22:06.811+07:00</updated><title type='text'>Topik 65: An si Jembatan</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Karena ada sedikit waktu luang, saya coba sisipkan satu materi mengenai أنْ - an. Saya kasih judul An si Jembatan. Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa disebut Jembatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah gini... Itu istilah saya saja ya... gak akan ditemukan di buku-buku bahasa Arab lho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi AN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An itu berfungsi layaknya jembatan pada 2 kata kerja. Jadi ceritanya, biasanya kalau kata kerja sesudahnya membutuhkan kata benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka sama pakaian Anda - I love your dress&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحب لباسك - uhibbu libaasaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah perhatikan polanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uhibbu: adalah kata kerja (fi'il mudhori' - KKS). Setelahnya adalah Libaasaka (isim - kata benda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah gimana kalau saya berkata begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka kamu pakai baju ini - I love (that) you wear this dress&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحب أن تلبس هذا اللباس - uhibbu an talbasa hadza al-libaas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan. Mestinya talbasu (You Wear), tapi berobah menjadi talbasa, karena kemasukan An (kita akan perdalam mengenai masalah ini di topik 66, Insya Allah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 kata kerja. Padahal setelah kata Uhibbu (I Love), maka kata ini mengharapkan Isim (Kata Benda). Jadi mestinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحب تلبس هذا اللباس - uhibbu talbasu hadza al-libaas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa, dua kata kerja yang berdekatan, ini janggal (bisa dikatakan menyalahi aturan). Ada 2 kata kerja yaitu uhibbu (I love), dan talbasu (You wear), yang berdekatan. Ini gak boleh fren... So, solusinya gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia solusinya: Kasih saja AN أنْ diantara ke dua kata kerja tersebut. Sehingga kalimatnya menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحب أن تلبس هذا اللباس - uhibbu an talbasa hadza al-libaas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gitu mak cik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di Qur'an cukup banyak. Ambil saja akhir surat Yasin (yang Insya Allah, Bapak2x kita banyak yang hafal surat Yasin ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنما أمره إذا أراد شيئا أنْ يقولَ له كن فيكون - innamaa amruhu idzaa araada syai-an an yaquula lahu kun fayakun - Sesungguhnya kedaannya jika Dia menghendaki sesuatu, hanyalah Dia berkata kepadanya : "jadilah", maka jadilah ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa sesudah kata araada (menghendaki) memang ada kata benda syai-an, maka setelah syai-an itupun harus kata benda, sebagai keterangan pelengkap bagi syai-an. Masalahnya adalah setelah syai-an itu ada yaquulu (Dia berkata). Ini adalah fi'il. Masalah kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya adalah, diberikan AN didepan fi'il tersebut. Sehingga menjadi An yaquula (ingat yaquulu, kemasukan An, berubah menjadi yaquula).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukumnya gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kalau kata kerja kemasukan An didepannya maka An+Kata Kerja tersebut, dihukumi sebagai Kata Benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, semoga menjadi jelas ya, kalau ketemu AN di dalam Al-Quran, atau text bahasa Arab, maka itu untuk "membendakan" kata kerja setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa bikin contoh lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to (go to) terminal: Saya ingin ke terminal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أريد إلي المحطة - uriidu ila al-mahaththah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan setelah uriidu (saya ingin), ada kata JER+MAJRUR. JER=ilaa (ke) MAJRUR=Mahaththah (terminal). Ingat lagi hukum JER+MAJRUR = Isim. Sehingga kalimat diatas gak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kalimat diatas saya ubah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أريد أذهب إلي المحطة - uriidu adzhabuu ila al-mahaththah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan ada 2 kata kerja yang berdekatan (uriidu = saya ingin) dan (adzhabu = saya pergi). Ini masalah. Maka perlu disisipkan AN, sehingga menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أريد أن أذهبَ إلي المحطة - uriidu an adzhaba ila al-mahaththah : saya ingin (bahwa) saya pergi ke terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalimat ini sudah ok, karena sudah di jembatani oleh An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, penjelasan mengenai AN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu A'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1685680370909409292?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1685680370909409292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1685680370909409292' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1685680370909409292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1685680370909409292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/12/topik-65-si-jembatan.html' title='Topik 65: An si Jembatan'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3260356422772808198</id><published>2007-12-09T09:18:00.000+07:00</published><updated>2007-12-11T10:39:19.123+07:00</updated><title type='text'>Topik 64: KKT-4</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan segera mengakhiri latihan surat Al-‘Ashr ini. Sengaja surat ini saya pilih, karena banyak pelajaran bahasa Arab yang kita bisa dapatkan. Oke sebelum masuk ke penggalan terakhir ayat 3 surat Al-‘Ashr, kita ingat-ingat lagi apa saja yang kita sudah pelajari dalam surat Al-‘Ashr ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kita sudah bahas, ciri-ciri waw dalam kedudukan sumpah (waw qosam). Wal ‘ashri. Demi masa. Demi disitu adalah waw dalam kedudukan sumpah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita membahas panjang lebar penggunaan Inna, dan saudara-saudara Inna. Dimana kita bahas bahwa Inna itu menashobkan mubtada, dan merofa’kan khobar. Innal insaana (insan, dalam harokat nashob / fathah). Karena Inna ini belawanan secara tugas/fungsi dengan Kaana, maka kita bahas juga mengenai fungsi dan peranan Kaana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita bahas juga mengenai Illa, dan macam-macam kemungkinan pemakaian kata Illa. Terakhir kita bahas mengenai ciri kata kerja lampau (KKL) untuk jamak yaitu dengan adanya huruf waw alif. Dan kita bahas juga mengenai kata shoolihaat, yaitu mengenai aturan Jamak Muannats Salim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah kita pada penggalan terakhir surat Al-‘Ashr ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر – wa tawaashau bi al-haqqi wa tawaashau bi ash-shobri : dan mereka saling bernasehat dengan kebenaran (haq) dan mereka saling bernasehat dengan kesabaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita akan pelajari? Disini kita akan membahas mengenai KKT-4. Hmmm... sound interesting... Ya, kita akan bahas KKT-4. Ingat kita sudah bahas KKT-1 dan KKT-2, serta KKT-8 (lihat lagi topik-topik terdahulu). Oke... kita singgung sedikiiiiit saja mengenai KKT-1 dan 2. KKT-1 contohnya أنزل – anzala : menurunkan, atau أكتب – aktaba: menuliskan, dll. Ciri KKT-1 yaitu ada tambahan alif dari KK Asli (3 huruf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan KKT-2, adalah KK Asli yang huruf ke duanya di tasydid. Contohnya: نزّل – nazzala : menurunkan, atau كتّب – kattaba : menuliskan. Atau علّم – ‘allama : mengajarkan, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan contoh KKT-8 adalah استغفر – istaghfara : minta ampun. Ciri-cirinya, ada tambahan alif sin ta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan KKT-4? Eh, ntar dulu, kok KKT-3 nya gak kita pelajari? Hmm... Pada saatnya nanti kita akan singgung ya (revisi: KKT-3 sudah kita singgung pada contoh qotala: membunuh, dan qootala (ada tambahan alif): berperang). Sekarang kita bahas saja KKT-4... Oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA KERJA TURUNAN ke 4 (KKT-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan begini. Saya buat kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bertanya: سئل عمر – sa-a-la Umar&lt;br /&gt;Zaid bertanya: سئل زيد – sa-a-la Zaid&lt;br /&gt;Laili bertanya: سئلت ليلي – sa-a-lat Laili&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau kita bayangkan mereka bertanya ke ustadnya, kita bisa mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هم سئلوا – hum sa-a-luu : mereka bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau mereka itu saling bertanya kepada satu sama lain, maka kita mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هم تسائلوا – hum tasaa-a-luu : mereka saling bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata تسائلوا – tasaa-a-luu, adalah KKL KKT-4, sedangkan bentuk KKS KKT-4 nya adalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هم يتسائلون – hum yatasaa-a-luun: mereka saling bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kira-kira kebayangkan apa itu KKT-4. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kasih contoh lain ya, KKT-4 itu dalam surat An-Naba’ ayat 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عمّ يتسائلون – ‘amma yatasaa-a-luun : tentang apa mereka saling bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata عمَ – ‘amma, asalnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن = tentang&lt;br /&gt;ما = apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika digabung, alif pada maa hilang sehingga menjadi عمّ – ‘amma. Nah يتسائلون – yatasaa-a-luun :mereka saling bertanya, adalah KKT-4 dari سئل sa-a-la. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa esensinya? Perhatikan bahwa KKT-4 ini dipakai untuk menjelaskan suatu kata kerja yang dilakukan oleh beberapa orang dalam makna saling (saling berinteraksi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di surat Al-‘Ashr ini juga begitu. Lihat kembali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata تواصوا – tawaashaw, diatas adalah KKL KKT-4 dari kata وصى  – washaa : dia menasehati, atau وصوا – washaw : mereka menasehati. Nah kalau “mereka saling menasehati”, kita tambahkan awalan ت dan sisipan ا , sehingga menjadi تواصوا – tawaashaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain dari KKT-4 ini ada di surat Al-Muthaffifin (83) ayat 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإذا مرَوا بهم يتغامزون – wa idzaa marruu bihim yataghaamazuun : Dan apabila (orang-orang yang beriman) lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat disitu kata يتغامزون – yataghaamazuun, adalah KKS KKT-4, sedangkan KKL KKT-4 nya تغامزوا – taghaamazuu. Ada tambahan ta diawal dan sisipan alif setelah gho. Yang artinya saling mengedipkan mata. Sedangkan kalau tambahan ta dan alif itu dibuang, maka artinya “mengedipkan mata” (tidak “saling mengedipkan mata”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah telah kita tuntaskan pembahasan surat Al-‘Ashr ini. Insya Allah kita akan lanjutkan dengan topik-topik lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3260356422772808198?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3260356422772808198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3260356422772808198' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3260356422772808198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3260356422772808198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/12/topik-64-kkt-4.html' title='Topik 64: KKT-4'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-2276756694518862464</id><published>2007-12-08T13:17:00.000+07:00</published><updated>2007-12-09T09:21:05.952+07:00</updated><title type='text'>Topik 63: Jamak Muannats Salim</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Pada topik ini kita akan bahas mengenai Jamak Muannats Salim. Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui jenis kata benda dalam bahasa Arab ada 2, yaitu:&lt;br /&gt;1. Mudzakkar (pria)&lt;br /&gt;2. Muannats (wanita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian tersebut berdasarkan sima’i (apa yang didengar) dari perkataan orang Arab. Contoh kata benda yang berjenis Mudzakkar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البيت – al-baytu : rumah&lt;br /&gt;الولد – al-waladu : anak laki-laki&lt;br /&gt;الرجال – ar-rijaalu : laki-laki dewasa&lt;br /&gt;الباب – al-baabu : pintu&lt;br /&gt;الكتاب – al-kitaabu : buku&lt;br /&gt;القلم – al-qolamu : pena&lt;br /&gt;الفتى – al-fataa : pemuda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kata benda diatas adalah kata benda berjenis mudzakkar. Dan semuanya adalah kata benda tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bentuk dual (dua buah/dua orang)? Oh ya, bentuk dual ini, saya baru tahu loh, ada. Karena selama ini hanya kenal bahasa Inggris dan Indonesia saja, saya kaget juga begitu tahu, ooo... ternyata di bahasa Arab ada bentuk dual. Dan bentuk dual ini, alhamdulillah, bukan sima’i (alias ada rumusnya). Rumusnya sederhana, tambahkan alif dan nun ( ان ). Sehingga kalau diterapkan di contoh-contoh diatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البيت – al-baytu : satu rumah, menjadi البيتان – al-baytaan : dua rumah&lt;br /&gt;الولد – al-waladu: satu anak laki-laki, menjadi الولدان – al-waladaan : dua anak laki-laki&lt;br /&gt;البنت – al-bintu : satu anak perempuan, menjadi البنتان – al-bintaan : dua anak perempuan (eh ngomong2x pulau bintan itu, apa ngambil dari bahasa Arab ya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya. Nah bagaimana, bentuk 3 buah atau 3 orang atau lebih. Ini disebut jamak. Nah kata-kata diatas, bentuk jamaknya, susaaaaaah…. Harus diahafalin… wekk… Orang udah umuran kayak saya ini paling sukar ngafal hik hik… So, singkat kata, jamak mudzakkar itu ada 2 macam. Ada yang teratur (ada rumusnya), ada yang tidak teratur (tidak ada rumusnya, alias harus dihafal jek!!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah yang beraturan itu disebut: Jamak Salim. Sedangkan yang tidak beraturan disebut Jamak Taksir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kata-kata diatas:&lt;br /&gt;البيت – al-baytu : satu rumah. Banyak rumah? البيوت – al-buyuut : banyak rumah. (Ngomong-ngomong dibahasa kita bapaknya kakek disebut buyut, kan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana aturannya dari baytu menjadi buyuut? Gak ada. Alias harus dihafal. Jadi singkat cerita, kalau bicara Jamak Mudzakkar, itu lebih kompleks fren... Kudu musti minum gingobiloba (obat vitamin otak -red)... hehehe... Sangking rada kompleks biasanya buku bahasa Arab, misahin dalam satu atau dua bab sendiri, untuk mbahas jamak mudzakkar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leh leh leh... BTW, kita kan harusnya ngomogin Jamak Muannats Salim (Jamak Perempuan Beraturan) ya...? Eh iya...ya... Kan kita lagi bahas surat Al-Ashr ayat 3...Oke oke... Kembali ke jalan yang benar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat lagi ayat 3 Surat Al-‘Ashr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعملوا الصالحات – wa ‘amiluu ash-shoolihaati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kita sudah bahas kan, masalah waw alif pada kata ‘aamiluu. Sekarang kita bahas kata الصالحات – ash-shoolihaat: yang sholeh-sholeh. Ini adalah kata jadian dari kata kerja صلح – sholiha : sholeh (kata kerja). Lalu isim fai’il (kata kerja pelaku) dari kata sholih tersebut adalah: صالح -shoolihun: yang artinya yang sholih. Kata ini sebenarnya adalah kata shifat, yang setara dengan isim fa’il. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kita kembali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصالح - ash-shoolih: yang sholeh (tunggal)&lt;br /&gt;الصالحان - ash-shoolihaan: dua yang sholeh&lt;br /&gt;الصالحون – ash-shoolihuun : yang sholeh-sholeh – Jamak Mudzakkar Salim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kalau kata الصالح – ash-shoolih jika berbentuk Muannats, maka perubahannya sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصالحة - ash-shoolihah: yang sholeh (tunggal)&lt;br /&gt;الصالحتان - ash-shoolihataan: dua yang sholeh&lt;br /&gt;الصالحات – ash-shoolihaat : yang sholeh-sholeh – Jamak Muannats Salim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa membentuk Jamak Muannats Salim, sangat sederhana rumusnya. Apa itu? Huruf ta marbuthoh nya ( ـة)  diganti menjadi ات . Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مسلمة – muslimatun (bisa juga dibaca muslimah): 1 orang wanita muslim&lt;br /&gt;مسلمات – muslimaatun (bisa juga dibaca muslimaat): banyak wanita muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الكرة – al-kurah : 1 buah bola&lt;br /&gt;الكرات – al-kuraat : banyak bola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مسرورة – masruuratun : 1 wanita bahagia&lt;br /&gt;مسرورات – masruuraatun : banyak wanita bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شيارة – sayyarah : 1 buah mobil&lt;br /&gt;شيارات – sayyaraat : banyak mobil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi kata-kata jamak muannats salim yang bisa dibuat. Intinya kalau bertemu dengan satu kata yang diakhiri dengan ta-marbuthah    ةatau  ـة maka dapat diduga itu adalah kata benda untuk muannats (wanita) tunggal. Jika ingin membentuk kata jamaknya maka tinggal diubah menjadi ات .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat kita bisa buat sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is a car: هذه شيارة – hadzihi syayyaarah : ini sebuah mobil&lt;br /&gt;These are two cars: هاتان شيارتان – haataani syayyaarataan : ini dua buah mobil&lt;br /&gt;These are cars : هآألآء شيارات – haaulaa-i syayyaaraat : ini banyak mobil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa kata benda penunjuk (isim isyaroh) mengikuti bentuk kata bendanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalimatnya kita buat panjang, artinya kata benda tersebut kita tambahkan lagi shifat, maka contohnya sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is the new ball: هذه الكرة الجديدة – hadzihi al-kuratu al-jadiidatu : ini sebuah bola baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga bahwa shifat (الجديد – al-jadiid) juga mengikuti kata yang dia shifati. Karena kata al-kuratu (bisa dibaca al-kurah) adalah muannats, maka kata shifat nya juga harus muannats. Muannatst nya الجديد – al-jadiid, adalah الجديدة – al-jadiidah (atau al-jadiidatu). Lebih lanjut untuk dual dan jamaknya, sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These are the two new balls: هاتان اكرتان الجديدتان – haataani al-kurataan al-jadiidataan: ini dua buah bola baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These are the new balls: هآألآء الكرات الجديدات – haaulaa-i al-kuraat al-jadiidaat : ini bola-bola baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik kita tentang surat Al-Ashr ayat 3: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعملوا الصالحات – wa ‘amiluu ash-shoolihaati : dan mereka mengerjakan (amalan) yang sholeh-sholeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebutkan ciri-ciri jamak muannats salim yaitu adanya huruf ات pada akhir kata benda tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah telah kita bahas ayat 3 ini, dan kita segera masuk ke penggalan ke dua ayat ini yaitu وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر – wa tawaashaw bil-haqqi wa tawaashaw bish-shobri. Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-2276756694518862464?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/2276756694518862464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=2276756694518862464' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2276756694518862464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2276756694518862464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/12/topik-63-jamak-muannats-salim.html' title='Topik 63: Jamak Muannats Salim'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4719320197573024845</id><published>2007-12-05T12:40:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T10:56:46.476+07:00</updated><title type='text'>Topik 62: Lanjutan Latihan Surat Al-‘Ashr ayat 3</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita telah membahas separoh dari ayat 3 surat Al-Ashr. Kita ulangi lagi ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات – illa alladziina aamanu wa ‘amilu ash-shoolihaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illa = kecuali&lt;br /&gt;Alladziina = orang-orang yang&lt;br /&gt;Aamanuu = (orang-orang yang) beriman&lt;br /&gt;Wa = dan &lt;br /&gt;‘aamilu = orang-orang yang beramal&lt;br /&gt;Ash-shoolihaat = yang sholeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa kita pelajari adalah secara ringkas sbb:&lt;br /&gt;1. Bila ada kata Inna .... Illa ..., maka pemberian Inna itu mendukung adanya pengecualian (dengan Illa). &lt;br /&gt;2. Kita pelajari isim mashul, yaitu alladziina. Apa kedudukan dan fungsinya.&lt;br /&gt;3. Kita akan sebutkan lagi ciri-ciri fiil madhy (KKL) untuk pelaku orang ketiga jamak, yaitu adanya waw alif&lt;br /&gt;4. Kita akan pelajari bentuk jamak muannats salim (jamak perempuan beraturan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan 1 dan 2 sudah kita selesaikan pada topik 61. Pada topik ini kita akan bahas mengenai pembahasan 3 dan 4. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah, kita mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil kata آمنوا وعملوا = (mereka) (telah) beriman dan (mereka) (telah) beramal. Kenapa saya tambahkan (mereka) dan (telah)? Karena kata tersebut menunjukkan pelakunya orang ke 3 jamak (mereka) dan kata kerjanya kata kerja lampau KKL. Sehingga paling pas ditambahkan "telah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ulang-ulang lagi mengenai jenis-jenis fi’il (verb) atau kata kerja. Dalam bahasa Arab fi’il hanya dibagi dua:&lt;br /&gt;1. KKL (Kata Kerja Lampau) Fi’il Madhy&lt;br /&gt;2. KKS (Kata Kerja Sedang) Fi’il Mudhori’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil contoh yang sering kita pakai: to write (menulis) : كتب – يكتب  : kataba – yaktubu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata KATABA-YAKTUBU itulah entri pertama yang kita lihat dalam kamus. Oh ya, bagi yang belum pernah melihat kamus bahasa Arab, dijamin akan bingung pada awalnya untuk mencari kata dalam kamus tsb. Perlu pembiasaan, dan keterampilan untuk mencari akar kata. Oh ya, akar kata dalam tulisan disini sering disebut juga KKL. Seperti to write (menulis) KKL nya adakah kataba كتب , maka kita cari di KAF ك . Hampir semua (atau sebagian besar) kata dalam bahasa arab, khususnya kata kerja dan kata benda terdiri dari akar kata (KKL) tiga huruf. Seperti to write (menulis), KKL nya كتب – kataba, dan KKS nya يكتب – yaktubu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya ingat-ingat kembali bahwa kata kerja itu dalam bahasa Arab, aslinya kebanyakan berbentuk 3 huruf. Sedangkan dari kata kerja asli itu bisa kita bentuk KKT – Kata Kerja Turunan. Ada 8 jenis bentuk kata kerja turunan. Sehingga secara pola kata كتب   - kataba itu bisa kita bentuk menjadi 8 bentuk kata kerja baru, yang kita sebut KKT-1, KKT-2, dst, sampai KKT-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi ke fungsi kamus, dan cara membaca kamus bahasa Arab. Di kamus bahasa Arab, kata-kata disusun berdasarkan entri KKL dari Kata Kerja Asli. Contoh: kalau kita menemukan kata قاتل – qoo ta la, maka bagaimana cara mencari di Kamus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kalau kita menemukan kata ينزل – yunzilu, nah bagaimana cara mencari arti kata itu di Kamus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perlu latihan. Sekali lagi latihan. Apa? Latihan. Hehe... Ya, practice makes perfect, kan. Oke kalau kita lihat lagi contoh soal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata قاتل –qootala, maka kita tahu bahwa ini adalah bentuk dari KKT-2 (artinya bukan Kata Kerja Asli, tapi KK Turunan). Lho-lho ntar dulu, kok Mas tahu ini KKT-2. Hmm ini sudah dijelaskan dulu rasanya. Tapi baiklah, mengulang-ulang pelajaran itu membuat lebih ingat. KKT-2 itu ada tambahan alif setelah huruf pertama dari KKL nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau قاتل – qootala, adalah KKT-2, dan katanya KKT-2 itu ada tambahan alif, berarti alif dalam qootala itu adalah tambahan. Kalau saya buang maka dia berubah jadi KK Asli. Benar gak? Benar! Anda tepat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain kata قاتل – harus dicari di entri قتل – qotala. Kalau ketemu, telusuri kata-kata dibawahnya, niscaya dikamus Anda akan bertemu entri قاتل – qootala, nah lihat deh tuh artinya apa. Kurang lebih di kamus urutannya spt ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قتل – qotala : membunuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibawah entri qotala itu akan ditemukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قاتل – qootala: berperang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke untuk anzala, lihat lagi topik2x yang lalu, sudah panjang lebar dibahas.Tapi saya ringkas saja, kalau mencari anzala أنزل jangan cari di ALIF أ, tapi carilah di huruf ن. Kenapa, karena alif itu huruf tambahan bagi KKT-1. Sama juga dengan mencari yunzilu ينزل - jangan cari di ي , karena ya itu tambahan bagi fi'il mudhori' (ingat tambahan YA ANITA di fi'il mudhori'). Ah... belum ngerti... oke... baca lagi dari topik 1 ya... pelan-pelan... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop… Kita kembali ke ayat : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;آمنوا وعملوا  - aamanuu ‘amiluu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah ciri-ciri KKL yang akan sering kita temukan di dalam Al-Quran. Apa itu yaitu adanya waw alif. وا .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit bentar dulu. Huruf Waw Alif itu, tidak hanya mengindikasikan KKL lho... Setidaknya jika ketemu Waw Alif, maka itu hampir pasti Kata Kerja, dan bisa menjadi salah satu dari hal-hal berikut ini, yaitu dia:&lt;br /&gt;1. KKL untuk orang ke 3 atau 2 jamak, atau&lt;br /&gt;2. KKS untuk orang ke 3 atau 2 jamak yang kena huruf amil jazm&lt;br /&gt;3. KK Perintah (fi’il amr) untuk orang ke 2 jamak&lt;br /&gt;4. KKS untuk orang ke 3 atau 2 jamak dalam kalimat syarat jawab &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke banyak buaaanget sih... puzinggg... Tenang-tenang... yang paling banyak itu adalah no.1. Jadi kalau ketemu kata yang akhirnya adalah waw alif, maka kita bisa duga dia adalah KKL untuk orang ketiga jamak. Contoh surat Al-'Ashr ayat 3 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Kasus no. 2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فليعبدوا رب هذا البيت - falya'buduu rabba hadzaa al-bayti (QS. 106:3)&lt;br /&gt;Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka'bah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata falya'budu itu asalnya sbb:&lt;br /&gt;يعبدون - ya'buduuna = mereka menyembah (KKS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kemasukan amil jazm (huruf yang menjazmkan) yaitu لِ - li : hendaklah, maka kata itu berubah menjadi&lt;br /&gt;ل + يعبدوا  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau menjadi ليعبدوا - liya'buduu = hendaklah mereka menyembah. Oh ya huruf LI (=hendaklah) ini dalam bahasa Arab disebut Harf LI AMR (huruf Li perintah, untuk orang 3 tunggal atau jamak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So,lihat lagi contoh 1, 2 diatas, perhatikan lagi kata yang ada waw alif (وا ) di-akhir kata, maka dapat dipastikan itu adalah kata kerja kata kerja yang jika diterjemahkan mereka .... Tinggal dilihat jika depannya ada YA ANITA maka dia KKS. Tapi jika tidak ada YA ANITA seperti آمنوا وعملوا (aamanuu atau 'amiluu), maka kata itu adalah KKL (Kata Kerja Lampau), sehingga kalau mau nerjemahin letterlej: mereka (telah) beriman, mereka (telah) beramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Kasus no. 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اعيدلوا هو أكرب للتقوى - i'diluu huwa aqrabu littaqwaa (QS 5:8)&lt;br /&gt;Berbuat adillah kalian, karena dia lebih dekat kepada taqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan pada kata i'diluu, ada waw alif disitu, menandakan dia kata kerja untuk orang ke 2 / ke 3 jamak. Dan lihat ada tambahan Alif Amr sebelum ain, menandakan ini Kata Kerja Perintah, untuk orang ke 2 (Ingat Alif Amr itu merujuk kepada perintah bagi orang ke 2, sedangkan LI AMR merujuk kepada orang ke 3 - lihat kasus no. 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Kasus no. 4:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأينما تولوا فثم وجه الله - fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhu allahi (QS 1:115)&lt;br /&gt;Maka kemanapun kamu memalingkan mukamu, maka disana (ada) wajah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan disini, ada kalimat syarat: kemanapun kamu memalingkan mukamu, dan ada kalimat jawab: maka disana (ada) wajah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa asal katanya sbb:&lt;br /&gt;تولون - tuwalluuna : kalian memalingkan, karena dalam posisi kalimat syarat, maka dia berubah menjadi: تولوا - tuwalluu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau contoh lain:&lt;br /&gt;إن يجلسوا أجلسْ - in yajlisuu ajlis : jika mereka duduk, (maka) aku(pun) duduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal kalimatnya begini:&lt;br /&gt;يجلسون أجلسُ - yajlisuuna ajlisuu : mereka duduk, saya duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita hendak mengatakan: jika mereka duduk, saya(pun) duduk, maka kedua Kata Kerja tersebut harus di Jazm-kan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan asalnya adalah يجلسون - yajlisuuna = mereka duduk, karena menjadi bagian dari kalimat syarat (jika mereka duduk), maka yajlisuuna, berubah menjadi يجلسوا - yajlisuu (ada waw alif nya). Dan kalimat jawabnya adalah أجلسْ - ajlis (maka sayapun duduk). Lihat kata ini JAZM, maka huruf terakhir harokatnya mati, sehingga dibaca ajlis (tidak boleh ajlisu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sudah kita bahas dengan panjang lebar, apa faedah melihat adanya وا dalam di sebuah akhir kata. Dimana adanya waw nun ini, kita jadi tahu, itu adalah Kata Kerja untuk pelaku jamak (orang ke 3 atau orang ke 2). Sedangkan apakah dia KKL atau tidak tinggal dilihat, apakah ada tambahan-tambahan YA ANITA didepannya. Nah, yang terjadi disurat Al-'Ashr ayat 3 ini, ayat yang sedang kita latih, adalah kasus waw alif sebagai ciri dari Kata Kerja Lampau (KKL) / fi'il madhy, untuk orang ke 3 jamak (mereka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dari waw nun ون ke waw alif وا pada KKS, secara ringkas disebabkan 2 hal:&lt;br /&gt;1. Kemasukan amil (huruf yang bertugas) menashobkan fi'il mudhory, seperti أن - an, حتى - hatta , dll&lt;br /&gt;2. Kemasukan amil (huruf yang bertugas) menjazmkan fi'il mudhory, seperti لم - lam, ل - li (amr), لا - laa (laa nahi), dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari hal itu, maka وا itu ada karena memang bagian dari KKL (bukan karena KKS yang kemasukan amil nashob atau amil jazm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung gak ya? Semoga gak ya... Next time saya akan usahakan deh mbahas yang mudah-mudah dulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah topik selanjutnya kita akan bahas Jamak Muannats Salim (Jamak Perempuan Beraturan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4719320197573024845?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4719320197573024845/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4719320197573024845' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4719320197573024845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4719320197573024845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/12/topik-61-lanjutan-latihan-surat-al-ashr.html' title='Topik 62: Lanjutan Latihan Surat Al-‘Ashr ayat 3'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3886900290696181392</id><published>2007-11-26T22:15:00.001+07:00</published><updated>2007-12-07T11:00:17.027+07:00</updated><title type='text'>Topik 61: Latihan Surat Al-‘Ashr ayat 2 dan 3</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Setelah beberapa hari ini off, maka Insya Allah kita lanjutkan lagi pelajaran kita, dengan melanjutkan latihan surat Al-Ashr. Kita sudah pajang lebar membicarakan kaana, inna, anna, dan terakhir masalah mubtada dan khobar. Apa lagi yang kita akan pelajari? Sebenarnya masalah mubtada dan khobar masih ada kelanjutannya, tetapi kita pending dulu ya… Bosen juga kan, mending kita masuk ke latihan dulu… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah. Kita tuliskan ayat 2 surat Al-‘Ashr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنّ الإنسان لفي خسر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah membahas Inna yang artinya : sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Insaana = insan (manusia)&lt;br /&gt;La = sungguh&lt;br /&gt;Fii = dalam&lt;br /&gt;Khusrin = kerugian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat diatas bisa kita ringkas kan, dengan membuang Inna, dan lam taukid (lam penguat), menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الإنسانُ في خسر  - al-insaanu fii khusrin : manusia itu dalam kerugian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtadanya al-insaanu dan khobarnya fii khusrin. Hanya kalimat diatas kurang ada penekanannya, maka dimasukkanlah Inna dan La. Ingat bahwa dengan memasukkan Inna, maka mubtada al-insaanu berubah menjadi al-insaana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, itu tadi mengenai ayat 2. Sekarang kita masuk ke ayat 3 penggalan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات – illa alladziina aamanu wa ‘amilu ash-shoolihaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illa = kecuali&lt;br /&gt;Alladziina = orang-orang yang&lt;br /&gt;Aamanuu = (orang-orang yang) beriman&lt;br /&gt;Wa = dan &lt;br /&gt;‘aamilu = orang-orang yang beramal&lt;br /&gt;Ash-shoolihaat = yang sholeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini banyak sekali pelajaran yang akan kita petik. Insya Allah. Apa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa kita pelajari adalah secara ringkas sbb:&lt;br /&gt;1. Bila ada kata Inna .... Illa ..., maka pemberian Inna itu mendukung adanya pengecualian (dengan Illa). &lt;br /&gt;2. Kita pelajari isim mashul, yaitu alladziina. Apa kedudukan dan fungsinya.&lt;br /&gt;3. Kita akan sebutkan lagi ciri-ciri fiil madhy (KKL) untuk pelaku orang ketiga jamak, yaitu adanya waw alif&lt;br /&gt;4. Kita akan pelajari bentuk jamak muannats salim (jamak perempuan beraturan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuih banyak juga ya. Padahal ini hanya penggalan pertama ayat 3 lho... Insya Allah kita akan tuntaskan pembahasannya dalam topik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kita lihat yang pertama. Jika kita membaca ayat Al-Quran ada kata Inna .... Illa ... maka ayat tersebut menekankan bahwa sesuatu itu sungguh (inna) akan terjadi demikian, kecuali (illa) suatu kondisi. ”Sesungguhnya manusia itu sungguh dalam kerugian”, kecuali (kondisi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya ayat ayat Al-Quran menggunakan illa dalam kondisi seperti ini:&lt;br /&gt;Inna (kata benda + keterangan) Illa (kondisi)&lt;br /&gt;Laa (kata benda + maujuudun) Illa (kondisi)&lt;br /&gt;Laa (KKS) Illa (kondisi)&lt;br /&gt;Maa (KKL) Illa (kondisi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Inna &lt;kata benda + keterangan&gt; Illa &lt;kondisi&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam (Asy-syuara : 77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa &lt;KKS&gt; Illa &lt;kondisi&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا أستاذ إلا عمر – laa ustaadza  illa Umaar (tidak ada Ustadz (yang hadir) kecuali Umar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa &lt;KKS&gt; Illa &lt;kondisi&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang menyentuhnya, kecuali orang yang disucikan (Al-Waqiah:79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maa &lt;KKL&gt; Illa &lt;kondisi&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَضَلَّنَا إِلَّا الْمُجْرِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa (Asy-syu’ara:99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke saya rasa kita sudah cukup melihat contoh-contoh pemakaian Illa. Sekarang kita masuk ke topik berikutnya yaitu tentang isim maushul (kata penghubung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ISIM MAUSHUL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Indonesia kata penghubung ini disebut kata sambung, dalam bahasa Arab contohnya الذي  -alladzi dan الذين – alladziina. Terjemahan yang pas untuk kedua ini adalah: "yang" untuk alladzi dan "orang-orang yang" untuk alladziina. Bentuk lainnya banyak ada alladzaani (untuk 2 orang, atau 2 hal), allati (untuk yang – perempuan) dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang banyak adalah alladzii dan alladziina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;أنت مجتهد – anta mujtahidun : Anda orang yang ulet&lt;br /&gt;أنت تدرسُ دائما – anta tadrusu daaiman: Anda senantiasa belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika digabung:&lt;br /&gt;Anda yang senantiasa belajar adalah orang yang ulet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنت الذي يدرسُ دائما مجتهدٌ – anta alladzii yadrusu daaiman mujtahidun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa kalimat pertama dan kalimat kedua jika digabung maka perlu isim maushul. Dalam bahasa Inggris, isim maushul ini sering kali adalah: that, which, who, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are diligent.&lt;br /&gt;You always study.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digabung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You who always study are diligent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Shilah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu shilah? Shilah yaitu kata atau kalimat setelah isim maushul, yang jenisnya harus sama dengan jenis isim maushulnya. Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita pakai alladzii, maka ini merujuk kepada orang ke-3 tunggal, maka shilahnya juga orang ke-3 tunggal. Lihat bedanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تدرسُ – tadrusu: belajar (orang kedua tunggal)&lt;br /&gt;يدرسُ – yadrusu: belajar (orang ketiga tunggal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kalimat awal: kita pakai tadrusu. Tetapi tadrusu berubah menjadi yadrusu, karena dia terletak setelah alladzii. Yadrusu adalah shilah bagi alladzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan lagi kalimat setelah digabung: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنت الذي يدرسُ دائما مجتهدٌ – anta alladzii yadrusu daaiman mujtahidun : Anda yang senantiasa belajar adalah orang yang ulet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan dalam kalimat (yang panjang) diatas, mubtada nya anta, dan khobarnya adalah mujtahidun. Sedangkan alladzii yadrusu daaiman adalah pelengkap. Jadi terkadang kalimat yang panjang dalam bahasa Arab itu bisa kita "peras" menjadi hanya mubtada + khobar, sisanya adalah pelengkap kalimat saja. Mengetahui mubtada dan khobar ini akan membantu kita dalam menerjemahkan bahasa Arab al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akan kita lanjutkan dengan pembahasan mengulagi fiil madhy dan bentuk jamak muannats salim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3886900290696181392?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3886900290696181392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3886900290696181392' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3886900290696181392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3886900290696181392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/topik-latihan-surat-al-ashr-ayat-2-dan.html' title='Topik 61: Latihan Surat Al-‘Ashr ayat 2 dan 3'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3261309205690087986</id><published>2007-11-17T21:41:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T11:01:03.958+07:00</updated><title type='text'>Topik 60: Khobar Muqoddam</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita menyisakan pertanyaan pada topik 59, yaitu apa bahasa Arabnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A boy is in the house?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas… Kalau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The boy is in the house, bahasa Arabnya: الولدُ في البيتِ – al-waladu fii al-bayti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kan Mas pernah bilang, kalau kata benda yang belum diketahui, maka tinggal buang AL nya, sehingga al-waladu, buang al, menjadi waladun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولدٌ في البيتِ – waladun fii al-bayti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum sih iya. Anda betul sekali. Hanya saja, dalam bahasa Arab, adalah janggal (jarang dipakai, atau agak aneh), jika mubtada itu bukan kata benda yang tidak definitive (sudah diketahui).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab ada dua istilah: ma’rifah dan nakiroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولدٌ – waladun : A Boy (seorang anak laki-laki) ini disebut nakiroh (umum, belum spesifik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الولدُ – al-waladu: The Boy (anak laki-laki itu), ini disebut ma’rifah (jelas anak laki-laki mana yang dimaksud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kembali ke kalimat diatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولدٌ في البيتِ – waladun fii al-bayti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada: waladun (nakiroh)&lt;br /&gt;Khobar: fii al-bayti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat diatas jarang ditemukan, atau janggal. Lalu biar gak janggal gimana dong Mas? Nah orang Arab ada solusinya. Gimana tuh? Solusinya, Khobarnya dikedepankan (muqoddam). Sehingga kalimatnya menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;في البيتِ ولدٌ – fii al-bayti waladun : A boy is in the house, atau bisa juga In the house, (there) is a boy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah terlihat bahwa kadang khobar mengawali kalimat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran kita sering menemukan khobar muqoddam ini. Contohnya sudah pernah dibahas dulu dalam Surat Al-Baqoroh ayat 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;في قلوبهم مرضٌ – fii quluubihim maradhun : dalam hati mereka ada penyakit. Atau lebih tepat sebenarnya: Penyakit (ada) dalam hati mereka. Tapi masalahnya karena penyakit itu bersifat general (umum) artinya bisa penyakit apa saja, maka tidak dipakai al-maradhu, tetapi maradhun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau penyakitnya itu jelas apa jenisnya, maka dipakai al-maradhu. Jika al-maradhu, maka kalimatnya (umumnya) mengikuti pola yang umum yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المرضُ في قلوبهم – al-maradhu fii quluubihim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan mubtada adalah maradhu (penyakit) sedangkan khobar adalah fii quluubihim (dalam hati mereka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perhatikan, karena mubtada’nya nakiroh (maradhu), sehingga tidak bisa diawal kalimat, yang akibatnya mubtada “mengalah” menjadi di-akhir kalimat. Jadilah dia menjadi: في قلوبهم مرضٌ – fii quluubihim maradhun : dalam hati mereka ada penyakit, atau Penyakit (ada) dalam hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a’lam bish-showwab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3261309205690087986?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3261309205690087986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3261309205690087986' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3261309205690087986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3261309205690087986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/topik-60-khobar-muqoddam.html' title='Topik 60: Khobar Muqoddam'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-9041127367510873059</id><published>2007-11-17T21:06:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T11:00:56.219+07:00</updated><title type='text'>Topik 59: Jenis-Jenis Khobar</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kali ini kita akan menggali jenis-jenis khobar. Apa saja itu? Oke, kita mulai dengan contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الطالبُ مجتهدٌ – at-thaalibu mujtahidun : Siswa itu rajin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana mubtada dan khobar nya? Gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada: الطالبُ  - ath-thaalibu : siswa itu&lt;br /&gt;Khobar: مجتهدٌ – mujtahidun : rajin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, topik kali ini kita akan singgung, apa saja jenis khobar, dan jenis mubtada. Oke perhatikan kalimat diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada ath-thaalibu, adalah kata benda alam (isim alam)&lt;br /&gt;Khobar mujtahidun, adalah kata benda sifat (isim shifat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja jenis Mubtada lain? Jenis mubtada yang lain adalah kata-ganti (isim dhomir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat diatas, bisa saya ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The student is diligent: الطالبُ مجتهدٌ – at-thaalibu mujtahidun : Siswa itu rajin&lt;br /&gt;He is diligent: هو مجتهدٌ – huwa mujtahidun : Dia rajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dalam kalimat diatas, mana mubtada dan khobar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada: huwa – dia&lt;br /&gt;Khobar: mujtahidun – rajin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah 2 bentuk / jenis mubtada’ yang umum dijumpai. Apa itu? Kita ulangi. Mubtada bisa berupa isim alam (nama orang, nama benda, profesi orang, dsb), atau kata ganti (saya, kamu, dia, mereka, dsb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi jenis yang umum juga untuk mubtada, yaitu kata benda penunjuk (isim isyarah). Contohnya: ini, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذلك البيتُ – dzalika al-baytu: itu rumah. That is the house.&lt;br /&gt;هذا ولدٌ – hadza waladun : ini seorang anak laki-laki. This is a boy.&lt;br /&gt;هذا الولدُ – hadza al-waladu : ini seorang anak laki-laki itu. This is the boy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah mubtada dalam tiga kalimat diatas adalah: dzalika (itu) dan hadza (ini). Sedangkan khobarnya adalah al-baytu (rumah [yang sudah diketahui oleh lawan bicara]), waladun (anak laki-laki [siapapun dia]), atau al-waladu (anak laki-laki [yang sudah diketahui oleh lawan bicara]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kita tutup dengan kesimpulan. Mubtada, bisa terdiri dari (salah satu)&lt;br /&gt;1. Isim alam (nama orang, nama benda, profesi, dsb)&lt;br /&gt;2. Kata ganti (saya, dia, mereka, kamu, dsb)&lt;br /&gt;3. Isim isyarah (ini, itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita beralih ke jenis-jenis Khobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan lagi kalimat-kalimat diatas. Rata-rata khobar itu terdiri dari, isim shifat (seperti rajin, malas, besar, ganteng, dll), atau kata benda isim alam (seperti dalam kalimat “itu rumah”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya kasih contoh, yang mungkin membuat kita bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bedanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا البيتُ كبيرٌ جديدٌ – hadza al-baytu kabiirun jadiidun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا البيتُ الكبيرُ جديدٌ – hadza al-baytu al-kabiiru jadiidun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya kalau dalam bahasa Inggris lebih terlihat, sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا البيتُ كبيرٌ جديدٌ – This house is big (and) new : rumah ini besar (lagi) baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا البيتُ الكبيرُ جديدٌ – This big house is new : rumah besar ini baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kalimat pertama, mubtada: this house, khobarnya big (and) new&lt;br /&gt;Pada kalimat kedua, mubtada: this big house, khobarnya new&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sampai disini, kita resume-kan, tentang khobar. Khobar dapat terdiri dari isim shifat, isim alam. Sekarang bentuk ke 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bentuk ke-3 Khobar: JER MAJRUR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke apa lagi nih Mas? JER MAJRUR. Hehe… istilah ini sering dipakai dalam pelajaran bahasa Arab. Apa itu? Gampangnya saya kasih contoh begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam rumah: في البيتِ – fii al-bayti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat-ingat lagi pelajaran kita dulu-dulu banget, tentang huruf jer (kata depan). Contohnya في – fii (didalam), على – ‘alaa (diatas), من – min (dari), إلى – ilaa (ke), dst. Nah kata-kata ini disebut JER. Lalu MAJRUR apa? Majrur adalah kata benda setelah JER. Dalam contoh diatas Majrur nya adalah البيتِ – al-bayti. Lalu gabungan keduanya disebut kalimat JER MAJRUR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bentuk ke 3 dari khobar ini, dapat berupa jer majrur ini. Contohnya begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الولدُ في البيتِ – al-waladu fii al-bayti : The boy in the house – anak laki-laki itu dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana mubtada dan khobarnya? Mubtada, pastilah al-waladu. Dan khobarnya adalah JER MAJRUR yaitu fii al-bayti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke ya, semoga yang diatas itu bisa dimengerti. Sekarang ada masalah nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau, di dalam rumah itu, anak laki-lakinya belum diketahui. Oh ya, sebelumnya, Anda pasti tahu kan apa bedanya dua kalimat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The boy is in the house&lt;br /&gt;A boy is in the house&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat kedua, anak laki-lakinya belum diketahui. Bisa anak siapa saja. Sehingga dipakai A Boy (waladun, bukan al-waladu). Sedangkan dalam kalimat pertama, anak laki-lakinya adalah sudah diketahui, misal Anaknya Bang Faisal, misalkan. Dalam kalimat pertama, karena Boy nya sudah diketahui maka dipakai The (atau al, sehingga menjadi al-waladu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, kedua kalimat itu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The boy is in the house : الولدُ في البيتِ&lt;br /&gt;A boy is in the house : ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kira-kira yang akan Anda isi untuk ??? diatas. Jawabannya Insya Allah di topik selanjutnya. Ini masuk dalam Bab Khobar Muqoddam (khobar yang didahulukan). Baca topik selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-9041127367510873059?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/9041127367510873059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=9041127367510873059' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/9041127367510873059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/9041127367510873059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/topik-59-jenis-jenis-khobar.html' title='Topik 59: Jenis-Jenis Khobar'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3110687255481681890</id><published>2007-11-17T21:04:00.001+07:00</published><updated>2007-12-10T08:20:53.423+07:00</updated><title type='text'>Topik 58: Inna dan saudara-saudaranya</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita sebenarnya akan melanjutkan pembahasan surat Al-‘Ashr ayat 2. Sebagaimana telah disampaikan kita menghadapi Inna di awal ayat kedua ini. Pembahasan إنَّ sangat dekat dengan pembahasan mubtada dan khobar. Telah kita lihat bahwa pengetahuan mengenai mubtada dan khobar ini sangat penting. Karena yang mempengaruhi mubtada dan khobar itu ada dua kelompok:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان dan saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;إنَّ dan saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saudara-saudara kaana itu banyak. Saudara-saudara inna juga banyak, suatu saat kita akan ketemu. Tapi untuk sekedar contoh, saudara-saudara إنَّ itu ada 5, diantaranya لعل – la’alla, dan ليت – layta. Dua-duanya artinya semoga, dengan beda maksud. La’alla adalah harapan yang mungkin terjadi, sedangkan layta adalah harapan yang mustahil terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;زيدٌ عالمٌ – Zaidun ‘aalimun : Zaid adalah orang yang berpengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tambahkan inna, menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ زيدً عالمٌ – Inna Zaidan ‘aalimun : Sesungguhnya Zaid adalah orang yang berpengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kita bisa mengganti inna dengan la’alla atau layta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   لعل زيدً عالمٌ – la’alla Zaidan ‘aalimun: Semoga Zaid (jadi) orang yang berpengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ليت زيدً عالمٌ – layta Zaidan ‘aalimun: Semoga Zaid (jadi) orang yang berpengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan fungsi la’alla dan layta, sama dengan fungsi inna, yaitu menashobkan mubtada dan merafa’kan khobar. Lihat bahwa Zaidun (rofa’) setelah kemasukan inna, atau saudara-saudara inna (spt. La’alla dan layta), maka mubtada itu jadi nashob (dari Zaidun berubah menjadi Zaidan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan beda la’alla dengan layta diatas. Kalimat pertama, kemungkinan besar terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لعل زيدً عالمٌ – la’alla Zaidan ‘aalimun: Semoga Zaid (jadi) orang yang berpengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan tampak Zaid itu memang anaknya rajin, sehingga kemungkinan dia jadi orang alim, sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah beda halnya dengan kalimat kedua. Misalkan telah diketahui umum bahwa Zaid itu anaknya idiot. Maka mengharapkan Zaid menjadi orang yang berilmu, tentu sia-sia, alias mustahil. Maka la’alla tidak tepat digunakan. Tetapi yang digunakan adalah layta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ليت زيدً عالمٌ – layta Zaidan ‘aalimun: Semoga Zaid (jadi) orang yang berpengetahuan --&gt; yang tidak mungkin terjadi, karena Zaid idiot, misalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seperti saya katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ليت النارَ باردةٌ – layta an-naara baaridatun : semoga api itu dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharap sifat api jadi dingin tentu mustahil. Makanya kita pakai layta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke apa pelajaran yang kita dapatkan di topik ini? Ya, kita sudah lihat bahwa teman-teman inna itu cukup banyak, ada 5 (saya baru sebut 2 kan, yaitu la’alla dan layta). Teman-teman kaana juga banyak. Nah akan sangat untung kita, kalau kita tahu apa tugas kaana (dan saudara-saudaranya) dan apa tugas inna (dan saudara-saudaranya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, satu lagi, saudara Inna adalah Anna (hehe berarti saya sudah kasih tahu 3 ya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke Anna sama dengan Inna, secara fungsi dan arti. Bedanya apa? Bedanya, kalau Inna ada diawal kalimat, kalau Anna ada ditengah kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya paham, sesungguhnya Zaid itu orang yang berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهمتُ أنَّ زيدً عالمٌ – fahimtu anna Zaidun ‘aalimun : saya paham, sesungguhnya Zaid itu orang berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa awal kalimatnya adalah fahimtu (saya paham). Karena Inna tidak diawal kalimat, maka dia berubah menjadi Anna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya terkadang dalam terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, karena anna terletak di tengah kalimat, maka dia sering diterjemahkan dengan “bahwasannya”, sehingga contoh diatas menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهمتُ أنَّ زيدً عالمٌ – fahimtu anna Zaidun ‘aalimun : saya paham, bahwasannya Zaid itu orang berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, topik mengenai mubtada dan khobar ini masih belum selesai. Insya Allah kita akan lanjutkan dengan jenis-jenis khobar (prediket).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3110687255481681890?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3110687255481681890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3110687255481681890' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3110687255481681890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3110687255481681890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/topik-58-inna-dan-saudara-saudaranya.html' title='Topik 58: Inna dan saudara-saudaranya'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-6769434493822577945</id><published>2007-11-16T09:27:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:04:19.756+07:00</updated><title type='text'>DARI QATAR SAMPAI TURKI</title><content type='html'>Alhamdulillah, perasaan senang saya haturkan kepada para pembaca sekalian. Adalah suatu kesenangan tersendiri bagi seorang penulis, jika tulisannya dibaca. Latar belakang saya menulis, adalah sharing. Saya percaya semakin banyak yang kita beri (apapun itu, termasuk Ilmu), maka Allah akan menggantikan apa yang kita berikan itu dengan sesuatu yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat blog ini dan rutin menulis tiap minggu (paling tidak) satu tulisan, saya mulai dihinggapi rasa jenuh. Apa ada ya orang yang membaca? Apa saya capek-capek nulis, sharing pengalaman saya belajar bahasa Arab, apa worth it gitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, banyak orang seperti saya. Ingin belajar bahasa Arab, agar mengerti apa yang dibaca ketika sholat, atau ketika baca Al-Quran. Semangat untuk bisa itu membuat saya terus ingin belajar. Tapi, dasar gak punya landasan waktu kecil (hehe ketahuan waktu kecil gak ikut madrasah), maka belajar dikala sudah dewasa terasa sangat sukar. Hanya semangat yang besar, dan keyakinan bahwa Allah SWT akan memudahkan, dan akan mengganti jerih payah ini dengan pahala, yang membuat saya tetap ingin menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir 1 tahun berlalu dan sudah memasuki topik 50 an lebih, timbul keinginan saya untuk tahu, siapakah yang membaca, dari negara mana saja, berapa lama waktu yang dilewati membaca tulisan di blog ini. Alhamdulillah saya bertemu sensor untuk mengetahui itu. Sensor tersebut saya pasang kemaren. Dalam 1 hari lebih ini, telah ada pengunjung sebanyak 147 orang, dengan jumlah hit 361. Rata-rata satu orang menghabiskan 4 menit dalam sekali kunjungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung tersebar dari beberapa negara. Pengunjung dari Indonesia paling banyak sebesar 46%, diikuti pengunjung dari Malaysia 16%, Amerika 14%, Norwegia 10%, dan Jepang 4%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang dari Malaysia, beberapanya mengirimkan email pribadi ke saya. Sedangkan kalau dari pengunjung dari Negara Lain, spt Jepang, Norwegia, Amerika, saya menduga ini adalah pelajar Indonesia, atau orang Indonesia yang bekerja di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rz0Ff82lhdI/AAAAAAAAACc/8n0kI_cYjSY/s1600-h/blog.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rz0Ff82lhdI/AAAAAAAAACc/8n0kI_cYjSY/s400/blog.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133265196741395922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sensor tersebug menghasilkan report yang lebih banyak lagi. Seperti tulisan mana yang paling sering dibaca. Bagaimana orang sampai ke blog ini (apakah di-refer oleh Yahoo, Google, atau Website lain) dsb. Alhamdulillah, saya bersyukur menemukan sensor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sekilas profile dari pembaca blog ini, dari pengamatan selama satu dua hari ini, dan kita akan lanjutkan minggu depan Insya Allah, dengan pembahasan Ayat 2 surat Al-'Ashr.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-6769434493822577945?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/6769434493822577945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=6769434493822577945' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6769434493822577945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6769434493822577945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/dari-qatar-sampai-turki-alhamdulillah.html' title='DARI QATAR SAMPAI TURKI'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rz0Ff82lhdI/AAAAAAAAACc/8n0kI_cYjSY/s72-c/blog.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-7437950139172078366</id><published>2007-11-13T13:24:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:22:15.089+07:00</updated><title type='text'>Topik 57: Pendalaman masalah Mubtada’ dan Khobar</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Sebelum kita lanjutkan pembahasan ayat 2 surat Al-‘Ashr, kita berhenti sejenak disini. Oke kita sudah lihat dan bahas peranan dan fungsi kaana dan inna dalam kalimat. Ingat-ingat lagi ya, karena dua kata ini sering dipakai dalam Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Kalau dilihat bahwa peranan atau fungsi kaana dan inna ini, sangat berkaitan dengan apa yang disebut mubtada’ dan khobar. Maka pengetahuan mengenai mubtada’ dan khobar ini perlu lebih di perdalam. Sebagai perbandingan kitab Al-Arabiyah Bin Namajiz (Bahasa Arab dengan Pola-pola) membahas masalah mubtada dan khobar ini ke dalam 4 bab terpisah. Dari sini tercermin betapa pentingnya pengetahuan mengenai mubtada’ dan khobar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah. Walau secara ringkas kita sudah bahas, bahwa mubtada’ itu subjek dan khobar itu prediket, sebenarnya pembagian ini kurang begitu operasional. Saya akan jelaskan mengapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita berandai-andai membuat perumpamaan kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal saya katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The house is big.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke dalam bahasa Arab kita katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البيتُ كبيرٌ – al-baytu kabiirun --&gt; Kalimat A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dalam bahasa Arab diatas terlihat bahwa mubtada’ adalah البيتُ – al-baytu, dan yang menjadi khobar adalah كبيرٌ – kabiirun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat straightforward dan mudah kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bayangkan skenario begini. Tanpa sengaja saya “tertambahkan” alif lam di depan kabiirun. Sehingga kalimatnya menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البيتُ الكبيرُ  - al-baytu al-kabiiru --&gt; Kalimat B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa padanan bahasa Inggris nya? Padanan untuk kalimat diatas berubah, menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The big house (rumah besar itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bedanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The house is big: Rumah itu besar (kalimat A)&lt;br /&gt;The big house: Rumah besar itu (kalimat B)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat A adalah kalimat yang sempurna, yang terdiri dari Mubtada’ (Rumah itu) dan Khobar (besar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kalimat B, bukan kalimat sempurna. Kenapa? Karena kalimat B, hanya terdiri dari mubtada’ saja. Khobarnya tidak ada. Jadi kalimat “Rumah besar itu …” adalah mubtada’, belum jelas “ada apa dengan rumah besar itu”, alias belum ada khobarnya (khobar dalam bahasa Arab artinya berita). Kalimat B, khobarnya belum ada, atau berita-nya belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Sekarang kembali ke kalimat B. Saya katakan tadi bahwa Kalimat B belum sempurna. Bagaimana membuat kalimat B jadi sempurna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang. Tinggal kasih khobar, kan? Ya, anda benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan saya katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The big house is new.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya sudah pilih new: baru (جديد - jadiidun) sebagai khobar. Maka kalimat B, dalam bahasa Arab jika ditambahkan jadiidun, menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البيتُ الكبيرُ جديدٌ – al-baytu al-kabiiru jadiidun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim salabim. Kalimat diatas berubah jadi kalimat sempurna, karena sudah ada khobar (prediket) nya. Mana khobarnya? Yaitu jadiidun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kita sudah lihat kan ciri-ciri mana yang khobar, mana yang mubtada. Ciri-cirinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika ada kata benda ma’rifat (spesifik: biasanya ditandai dengan alif lam -al), maka dia mubtada. Dalam contoh diatas بيتٌ – baitun (sebuah rumah), kemasukan alif lam menjadi البيتُ – al-baytu (rumah itu), adalah mubtada (karena ada al-nya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika setelah mubtada itu kata benda lagi yang juga spesifik (ada alif lam), maka kata benda itu bukan khobar, tapi shifat dari mubtada’. Dalam contoh diatas, kata كبيرُ - kabiirun (besar) karena mendapat alif lam menjadi al-kabiiru ( الكبيرُ ) maka dia bukanlah khobar, tetapi sifat dari mubtada. Sehingga kita tidak bisa terjemahkan: the house is big, tapi the big house.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Setelah shifat, jika masih ada kata benda yang ada alif-lam, maka dia bukan lah khobar, tetapi shifat yang kedua. Saya bisa membuat begini:  البيتُ الكبيرُ الواسعُ جديدٌُ – al-baytu al-kabiiru al-waasi’u jadiidun (The big large house is new ), atau Rumah yang besar (lagi) luas itu baru. Terlihat disini besar (big) dan luas (large) adalah sifat dari rumah itu, dan keduanya adalah masih bagian dari mubtada’. Sedangkan khobarnya adalah jadiidun (baru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika setelah mubtada (yang ada al-nya) ada kata benda yang tidak ada al-nya, maka itulah khobarnya. Dalam contoh diatas, kata jadiidun (baru) tidak ada al-nya, maka dapat diindikasikan kata jadiidun adalah khobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, jika sebuah kalimat sudah ada mubtada’ dan khobarnya maka, itu disebut kalimat sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, mudah-mudahan jelas ya. Sebagai penutup, saya sampaikan bahwa khobar-pun dapat terdiri dari lebih dari satu kata. Contoh sebelumnya khobar hanya satu kata, yaitu jadiidun. Dalam Al-Quran kadang-kadang khobar itu terdiri dari 2 kata benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh dalam surat Al-Baqarah ayat 115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الله واسعٌ عليمٌ – inna Allaha waasi’un ‘aliimun : sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatNya) lagi Maha Mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat kalimat diatas, jika inna saya buang maka menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهُ واسعٌ عليمٌ – Allahu waasi’un ‘aliimun : Allah Maha Luas (rahmatNya) lagi Maha Mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan, bahwa struktur kalimatnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubtada: Allahu&lt;br /&gt;Khobar: waasi’un ‘aliimun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khobarnya terdiri dari dua kata benda. Kita bisa lanjutkan menambahkan kata benda (yang merupakan sifat dari Mubtada) dengan tambahan lain misalkan: Allahu waasi’un ‘aliimun rahiimun rahmaanun dst (dimana mubtada'-nya Allahu, dan sisanya adalah khobar). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah sekarang, bahwa kepandaian menentukan mana khobar, mana mubtada’ akan membantu kita dalam menerjemahkan text Al-Quran, khususnya yang berkaitan dengan inna dan kaana. Insya Allah akan kita jelaskan mengenai khobar muqoddam, pada topik-topik selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-7437950139172078366?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/7437950139172078366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=7437950139172078366' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7437950139172078366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7437950139172078366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/topik-57-pendalaman-masalah-mubtada-dan.html' title='Topik 57: Pendalaman masalah Mubtada’ dan Khobar'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-9150693558941406143</id><published>2007-11-08T09:03:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:22:53.772+07:00</updated><title type='text'>Topik 56: Fungsi Inna</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan segera masuk ke ayat 2 surat Al-‘Ashr. Dalam topik ini kita akan pelajari fungsi dari inna ( إنّ ) dan anna ( أنَّ ), dan apa bedanya dengan kaana ( كان ). Dan jika ada waktu kita bahas juga bedanya dengan an ( أنْ ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hal itu sangat sering ketukar-tukar (at least bagi saya sendiri). Oke sebelum masuk ke ayat 2 nya, saya sampaikan summary dari 4 hal tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata inna ( إنّ ) artinya: sesungguhnya (indeed) dan anna ( أنَّ ) artinya : bahwasannya. Terlihat berbeda antara inna dan anna, secara bahasa Indonesia. Tetapi secara bahasa Arab fungsi dan kedudukannya sama. Anna adalah inna yang terdapat ditengah kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaana fungsinya kebalikan dari Inna. Kaana secara arti sudah dibahas panjang lebar di topik sebelum ini (lihat dan baca lagi jika belum paham).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kata an ( أنْ ), secara bahasa Indonesia tidak ada artinya (tidak bisa diartikan), tapi karena dekat (apalagi kalau nanti baca arab gundul) kita sukar membedakan:&lt;br /&gt;أن apakah أنَّ – anna (bahwasannya) atau أنْ – an (tidak ada padanan bahasa Indonesianya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah kita sekarang masuk ke ayat 2 surat Al-‘Ashr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ الإنسان لفي خسر  - inna al-insaana la fii khusrin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna = sesungguhnya&lt;br /&gt;Al-insaana = manusia (insan)&lt;br /&gt;La = sungguh&lt;br /&gt;Fii = dalam&lt;br /&gt;Khusrin = kerugian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah... Kita lihat Inna dalam kalimat diatas, artinya sesungguhnya. Ya, kata inna ini fungsinya penekanan. Sering dalam bahasa Inggris diterjemahkan Indeed. Oke, kalau begitu apa kedudukan dan fungsi inna dalam kalimat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi (tugas) inna adalah sbb:&lt;br /&gt;- me-nashob-kan mubtada'&lt;br /&gt;- me-rafa'-kan khobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, kalau begitu fungsinya kebalikan dari kaana كان ya Mas? Ya, Anda betul. Kalau Kaana fungsinya:&lt;br /&gt;- me-rafa'kan mubtada'&lt;br /&gt;- me-nashobkan khobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh bingung nih... bisa kasih contoh gak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke pada saat membahas kaana kita kasih contoh sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان البيتُ جميلا - kaana al-baitu jamiilan : (dulu) rumah itu bagus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau kita pakai Inna maka menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن البيتَ جميلٌ - inna al-baita jamiilun : sesungguhnya rumah itu bagus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bedanya kan. Mubtada al-baitu, khobar jamiilun. Jika kemasukan kaana, maka kbobar menjadi nashab (fathah). Sedangkan jika kemasukan inna maka mubtada' jadi nashab (fathah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke sekarang kita sudah tahu bedanya: kaana dan inna secara fungsi. Kita kembali ke surat Al-'Ashr ayat 2 ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ الإنسان لفي خسر  - inna al-insaana la fii khusrin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terlihat dari kalimat diatas yang menjadi Mubtada adalah al-insaana. Lalu khobarnya mana. Nah khobarnya disini adalah khobar jumlah (khobar yang tidak terdiri dari 1 kata, tapi dari kalimat). Jika khobarnya khobar jumlah, maka efek perubahan dhommah ke fathah tidak kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat diatas bisa diganti dengan khobar satu kata saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الإنسان خسرا - inna al-insaana khusran : sesungguhnya manusia itu rugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa khobarnya menjadi fathah (dibaca khusran, bukan khusrun atau khusrin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau kita pakai kaana, kalimat diatas menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان الإنسان خسْرٌ - kaana al-insana khusrun : (dulu) manusia itu rugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jika khasirun tidak ingin dalam bentuk mashdar, kita ubah ke isim fail menjadi khaasirun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الإنسان خاسِرٌ  - inna al-insaana khaasirun : sesungguhnya manusia itu (adalah) orang yang merugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita ulangi, bahwa kanaa secara fungsi (tugas) dalam kalimat, berkebalikan dengan inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah di topik selanjutnya kita akan bahas mengenai lam taukid (lam penguat). Lihat di ayat 2 ini ada kata-kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;la fii khusrin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah pada kalimat diatas adalah lam taukid. Insya Allah kita akan bahas juga pendalaman masalah khobar yang panjang (ditambahi dengan shifat / maushuf).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-9150693558941406143?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/9150693558941406143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=9150693558941406143' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/9150693558941406143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/9150693558941406143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/topik-56-fungsi-inna.html' title='Topik 56: Fungsi Inna'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-726710584742379051</id><published>2007-11-06T09:23:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:23:28.056+07:00</updated><title type='text'>Topik 55: Fungsi dan Kedudukan WAW</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan masuk ke ayat pertama surat Al-‘Ashr. Kita akan pelajari peranan dan fungsi huruf waw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke sebelum kita masuk ke ayat 1, saya tanya dulu nih, rasanya semua tahu arti wa = dan, bukan? Feeling saya mungkin semua yang bisa baca al-Quran ya katakanlah 80% pasti tahu kan bahwa kata وَ  wa itu artinya “dan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذهب إلى المسجد عمر و علي  - dzahaba ila al-masjidi Umar wa ‘Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi ke masjid (si) Umar dan Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah semua pasti tahu kan kata عمر و علي – Umar wa ‘Ali, bahwa kata wa disitu artinya dan? Ya saya rasa semua sudah pada tahu ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke apa lagi makna wa itu? Nah ini saya kasih daftarnya. Wa itu maknanya ada 3 kemungkinan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Artinya: dan (and)&lt;br /&gt;2. Artinya: demi (untuk sumpah)&lt;br /&gt;3. Artinya: padahal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooo… gitu… Yang saya tahu selama ini, wa itu artinya hanya dan, ternyata ada arti lain ya… Oke kapan masing-masing itu kita gunakan? Insya Allah saya akan jelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita masuk ke ayat 1 dulu ya, surat Al-‘Ashr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و العصر  - wa al-‘ashri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan: Demi Masa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kata al-‘ashr bisa artinya masa (waktu), bisa artinya senja. Kalau begitu wal-ashr itu artinya: Dan masa dong mas… Kok malah diterjemahin Demi Masa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini lah fungsi pertama waw. “WA” jika diikuti isim yang harokatnya kashroh, maka kata “WA” disitu artinya “DEMI” yang diucapkan dalam rangka sumpah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan begini. Pernah lihat kan kalau pejabat disumpah dibawah Al-Qu’ran. “Demi Allah. Saya bersumpah. Bahwa saya … bla bla bla”.  Nah kata-kata : Demi Allah disitu dalam bahasa Arabnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و اللهِ – wa Allahi, atau wallahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat harokat kata Allah adalah kasroh, sehingga dibaca wallahi. Nah kalau waw bertemu isim (kata benda) dengan harokat kasroh, maka ini adalah kalimat sumpah, dimana wa diterjemahkan DEMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran banyak ditemukan Allah bersumpah dengan nama Makhluknya. Seperti wal-layli : Demi Malam, wan-nahaari : Demi Siang, wal-fajri : Demi (waktu) Fajar, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi singkat cerita, untuk mengartikan WA tinggal dilihat harokat isimnya, apakah kasroh atau tidak. Jika kasroh, maka diterjemahkan “DEMI”, jika tidak (dhommah, atau fathah) maka diterjemahkan DAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak boleh bersumpah dengan nama makhluk. Misalkan: walardhi (demi bumi) saya berjanji tidak berbohong. Nah ini tidak boleh. Manusia hanya boleh bersumpah atas nama Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini kita sudah mempelajari 2 fungsi dan macam waw yaitu:&lt;br /&gt;WAW QOSAM (WAW janji) yang diterjemahkan Demi&lt;br /&gt;WAW ATHOF (WAW penyambung) yang diterjemahkan Dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada jenis WAW yang ke tiga yaitu WAW HAL, yaitu waw yang menjelaskan suatu keadaan (yang biasanya bertentangan dengan asumsi). Misalkan dalam surat Al-Maarij ayat 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ayat 6: Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh.&lt;br /&gt;ayat 7: و نراه قريبا - wa naraa hu qoriiban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa = padahal&lt;br /&gt;naraa = kami melihat&lt;br /&gt;hu = nya &lt;br /&gt;qoriiban = dekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kafir memandang siksaan akhirat itu jauh (Ibnu Katsir menafsirkan maksud jauh itu mustahil terjadi). Jadi orang kafir merasa siksaan akhirat itu mustahil terjadi. Padahal Allah SWT memandang siksaan itu sangatlah dekat dengan mereka. Lihat wa disini diterjemahkan padahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah telah kita bahas 3 macam jenis WAW. Insya Allah jelas ya. Alhamdulillah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-726710584742379051?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/726710584742379051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=726710584742379051' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/726710584742379051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/726710584742379051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/topik-55-fungsi-dan-kedudukan-waw.html' title='Topik 55: Fungsi dan Kedudukan WAW'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-2039284145964830454</id><published>2007-11-01T09:05:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:24:01.938+07:00</updated><title type='text'>Topik 54: Latihan Surat Al-'Ashr (Pendahuluan)</title><content type='html'>Bimillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan mulai masuk ke surat pendek lainnya. Oh ya, saya janji untuk mengulas bacaan-bacaan sholat ya? Kalau boleh nawar, habis seluruh surat-surat pendek saja bagaimana? Atau bagi yang sudah gak sabar, sekarang kan banyak buku-buku mengenai sholat, disitu ada terjemahannya juga kan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lain adalah sampai saat ini belum semua materi tatabahasa Arab kita sudah selesaikan. Masih banyak lho, materi yang belum. Contoh, masalah inna atau anna. Kemudian KKT 3 s/d 7, juga belum kita bahas. Berikut hal-hal yang kecil-kecil, seperti Jamak Taksir, belum kita perdalam. Sebagai perbandingan, dalam buku-buku standar pelajaran babasa Arab, Jamak Taksir (kata benda jamak tidak beraturan) saja dibahas dalam satu sampai dua bab sendiri. Dari seluruh peta perjalanan, kita sudah sampai mana? Saya katakan sampai topik 53 ini kita baru menyentuh 10 – 15% materi… wuihhh…. Still long way to go man!!! Gpp… tetap semangaaattt!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita masuk ke latihan surat Al-‘Ashr, surat ke 103 di Al-Quran. Surat ini pendek sekali hanya 3 ayat. Tapi banyak sekali pelajaran bahasa Arab yang akan (Insya Allah) kita pelajari. Apa saja? Seperti biasa, fokus latihan kita adalah:&lt;br /&gt;1. Mendapatkan mufrodad (vocabulary) baru&lt;br /&gt;2. Mempelajari tata-bahasa (nahwu – shorof)&lt;br /&gt;3. Menyinggung sedikit mengenai ahamiatuhu (nilai penting)nya, berupa tafsir dari beberapa ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di topik 54 ini kita akan bahas point no. 3 yaitu ahamiyyah - nilai pentingnya (أهمية) surat Al-‘Ashr ini. Seperti biasa kita pakai beberapa kitab tafsir seperti Ibnu Katsir atau Tafsir Al-Azhar. Oke... sebelum menyinggung ahamiyyah surat ini, maka saya akan “janjikan” dulu dari aspek tatabahasa (point 2) kira-kira kita akan belajar apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... Dalam surat ini, banyak pelajaran tatabahasa yang kita bisa pelajari. Inilah peta perjalanannya:&lt;br /&gt;1. Mengetahui makna dan fungsi waw- و&lt;br /&gt;2. Makna dan fungsi Inna -  إنّ atau Anna  أنّ&lt;br /&gt;3. Pemakaian LAM taukid (penguat) &lt;br /&gt;4. Pemakaian kata pengecualian illa إلاّ&lt;br /&gt;5. Bentuk Jamak Salim Muannats&lt;br /&gt;6. KKT 4 (Kata Kerja Turunan ke 4) dengan wazan تفاعل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuih... banyak juga ya... Hehe... no worries, laa tahzan... sabar ya... Insya Allah kita akan pelajari satu-satu... Kalau bisa sih dalam topik yang terpisah biar lebih fokus ya... Insya Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ahammiyah Surat Al-Ashr&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat ini merupakan surat yang termasuk golongan surat Makiyyah, atau surat yang turun dalam periode sebelum Hijrah. Sebagian kecil salaf, seperti Mujahid, Qatadah, dan Muqotil memasukkan kedalam golongan Madaniyah, tetapi mayoritas memasukkan ke dalam kategori Makkiyyah. Ciri-ciri surat Makkiyyah sangat kental di surat ini. Surat Makkiyyah datang pada masa-masa awal Islam. Ayat-ayatnya biasanya pendek-pendek, tapi jelas, dan lantang terdengar ditelinga. Siapa yang melintas mendengar, akan tersentak, dan terdiam untuk mendengarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan yang singkat, padat, dan pendek lebih memancing perhatian orang. Lihatlah poster-poster iklan sekarang. Tidakkah mereka pakai strategi itu juga. Contoh, salah satu operator seluler baru iklannya spt ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gratis SMS ke sesama X, Mau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau iklan pembasmi nyamuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang lebih bagus? Yang lebih mahal banyak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau iklan waktu Pilpres kemaren:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersama kita bisa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ilmu komunikasi massa sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri. Dalam dunia marketing kita kenal istilah yang sangat masyhur: Marketing Mix 4 P. Yaitu Product, Place, Price, Promotion. Nah promosi (iklan) itu sudah menjadi pilar marketing sendiri. Dan lihatlah, strategi yang disampaikan Al-Quran 15 abad yang lalu, dimasa-masa awal Islam, pada masa introduction (pengenalan produk ke masyarakat), bahasa-bahasa iklan yang sesuai dengan psikologi massa sudah digunakan. Bahasanya singkat, padat, dan lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DEMI MASA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba banyangkan kalau ada orang yang berbicara keras, ditengah kerumunan orang, dengan kalimat singkat diatas “Demi Masa!”. Tentulah akan menarik perhatian orang disekitarnya. Apa maksudnya nih... “Demi Masa”? Kenapa? Ada apa dengan waktu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu mu’jizat Al-Quran. Bahasanya sangat manusiawi. Menyentuh semua level kepandaian. Dari orang rata-rata sampai genius. Dari buruh &amp; petani sampai saudagar. Dari tamatan SD sampai Profesor. Semua bisa memahami Al-Quran dengan bahasanya yang menyentuh tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh, di Al-Quran dikatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كل نفس ذائقة الموت  - kullu nafsin dzaa-iqatu al-maut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diterjemahkan: tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Orang yang awam akan merasakan: oohh… tiap yang hidup akan mati. Orang yang ahli biologi atau dokter, langsung terbayang bagaimana syarat suatu kehidupan (seperti pembakaran makanan perlu oksigen, aliran darah dst), yang jika itu berhenti, maka akan matilah dia. Orang yang mengerti rasa bahasa Arab, akan melihat ayat itu dengan takjub juga. Perhatikan kata dzaa-iqa ذائق diterjemahkan merasakan (catatan: sebenarnya yang pas itu, "yang merasakan" karena ini isim fa'il, sama dengan kasus faa-i-zin &amp; 'aa-i-din). Kata dzaa-iqa ini akarnya adalah ذاق – dzaaqa, yang artinya mencicipi (to taste), sehingga kata dzaa-iqa itu = yang mencicipi. Bayangkan indahnya bahasa Al-Quran. Tiap yang berjiwa akan mencicipi kematian. Seperti hidangan, ayo masing-masing orang cicipi deh itu kematian… Jangan takut, kalau banyak amal sholeh, rasa cicipan kematian itu akan sedap, dst. Beragam interpretasi dan khayalan muncul dari text suatu kalimat, tergantung background masing-masing pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat dalam surat Al-‘Ashr ini secara umum mengatakan, bahwa sebenarnya kita-kita ini selalu dalam keadaan rugi. Lawan rugi tentu untung. Siapa yang tidak rugi, atau dalam bahasa lain, siapa manusia yang beruntung? Dalam ayat ini dikatakan yang tidak rugi itu adalah orang-orang yang: (1) Aamanuu: beriman, (2) Aamilush-sholihat: mengerjakan amal sholeh, (3) tawaa shaubil-haq: saling bernasehat kepada kebenaran, (4) tawaa shaubish-shob : saling bernasehat kepada kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip tafsir Al-Azhar: Ibnul Qayyim di dalam kitabnya "Miftahu Daris-Sa'adah" menerangkan; "Kalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, berhasillah tujuannya menuju kesempurnaan hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mengetahui Kebenaran. &lt;br /&gt;Kedua: Mengamalkan Kebenaran itu. &lt;br /&gt;Ketiga: Mengajarkannya kepada orang yang belum pandai memakaikannya. &lt;br /&gt;Keempat: Sabar di dalam menyesuaikan diri dengan Kebenaran dan mengamalkan dan mengajarkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah susunan yang empat itu di dalam Surat ini. Demikian, Hamka mengutip. Insya Allah kita akan lanjutkan ke Latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Nasyid Raihan ini sangat saya sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Demi masa sesungguhnya manusia kerugian&lt;br /&gt;Melainkan yang beriman dan yang beramal soleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan kesempatan yang masih diberi&lt;br /&gt;Moga kita takkan menyesal&lt;br /&gt;Masa usia kita jangan disiakan&lt;br /&gt;Kerna ia takkan kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat lima perkara sebelum lima perkara&lt;br /&gt;Sihat sebelum sakit&lt;br /&gt;Muda sebelum tua&lt;br /&gt;Kaya sebelum miskin&lt;br /&gt;Lapang sebelum sempit&lt;br /&gt;Hidup sebelum mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-2039284145964830454?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/2039284145964830454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=2039284145964830454' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2039284145964830454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2039284145964830454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/11/topik-54-latihan-surat-al-ashr.html' title='Topik 54: Latihan Surat Al-&apos;Ashr (Pendahuluan)'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1994608108368728319</id><published>2007-10-30T21:51:00.001+07:00</published><updated>2007-12-10T08:24:26.916+07:00</updated><title type='text'>Topik 53: Efek Waktu &amp; Kehebatan Bahasa Arab</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Sebelum lanjut ke topik Latihan surat-surat pendek yang lain, kita istirahat sejenak dengan melihat apa bedanya antara bahasa kita dengan bahasa Arab. Saya hanya sekedar sharing pengalaman belajar bahasa Arab dalam beberapa bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata semakin dipelajari, semakin kita yakin mengapa bahasa Arab itu dipilih sebagai bahasa Al-Quran. Oh… ya, frekuensi penulisan mungkin agak berkurang, karena kesibukan saya saat ini didalam beberapa project.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke… baiklah. Apa sih hebatnya bahasa Arab? Tanpa banyak teori, mari kita lihat saja contoh berikut. Saya akan buat dua kalimat dalam bahasa Arab, yang jika kita terjemahkan kedalam bahasa kita, terjemahannya persis sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا أيها المؤمنون  - yaa ayyuha almu’minuun : hai orang-orang beriman&lt;br /&gt;يا أيها الذين آمن – yaa ayyuha alladzina aamanu : hai orang-orang beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya diterjemahkan sama dalam bahasa kita. Ya, bahasa kita tidak bisa menangkap beda keduanya. Padahal dalam bahasa Arabnya, kedua kalimat diatas ada bedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat pertama, kata al-mu’minuun, artinya orang-orang yang beriman. Kapan berimannya? Ya tidak dijelaskan, bisa kemaren, bisa sekarang, dll. Sedangkan dalam kalimat kedua, kata-kata alladzina aamanu, artinya juga “orang-orang beriman” tetapi ini sifatnya orang tersebut saat ini sudah beriman, dan dia mulai berimannya di masa lalu. Dalam bahasa Arab, kata aamanu disebut fi’il madhy (KKL).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli bahasa Arab, menggolongkan kalimat yang mengandung KKL itu hampir identik dengan kalimat sempurna dalam bahasa Inggris (Past Perfect Tense, atau Present Perfect Tense). Artinya kata kerja tsb telah sempurna selesai dikerjakan. Biar gak bingung saya kasih padanan bahasa Inggrissnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا أيها المؤمنون  - yaa ayyuha almu’minuun : O, believers&lt;br /&gt;يا أيها الذين آمن – yaa ayyuha alladzina aamanu : O, people who have believed (atau O, people who had believe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah terlihat bedanya kan. Pada kalimat pertama, kata-katanya netral saja, tidak ada keterangan waktu. Sedangkan pada kalimat kedua, kata kerja “percaya” itu telah selesai dengan sempurna (perfect tense).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa pointnya Mas? Oke… yang ingin saya sampaikan adalah bahwa, penerjemahan bahasa Arab ke bahasa Indonesia, terkadang menyebabkan beberapa keterangan tambahan dalam bahasa Aslinya menjadi hilang dalam bahasa kita. Lihat dua kalimat diatas. Dua-duanya diterjemahkan menjadi kalimat yang persis sama dalam bahasa Indonesia. Ya, memang begitu. Tidak ada satu bahasapun didunia ini yang bisa diterjemahkan yang kompatibel 100%, pasti ada makna yang hilang atau berubah. Ini salah satu yang menjadi alasan, kenapa ada ulama yang tidak membolehkan Quran ditafsirkan. Dimana dikuatirkan, jika orang sudah tidak lagi membaca text asli (arabnya), dan hanya mengandalkan bahasa terjemahan, maka jelas maksud asli ayat bisa-bisa salah atau kurang lengkap bisa ditangkap oleh pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu satu hal, kelemahan bahasa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mungkin Anda akan berkata, hmm dalam bahasa Inggris ada padanan yang lebih kompatibel. Kalau begitu apa kelebihan bahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke saya akan kasih contoh mengenai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kelebihan bahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris, antara lain, bahwa bahasa Arab tersusun dengan aturan yang sangat rigid (kokoh) sekali. Ibarat batu-bata yang tersusun rapi, ikatannya kuat sekali. Kalau satu bata hilang, kita masih bisa mereka bata yang hilang itu seperti apa. Satu kata dalam kalimat, saling terkait aturannya dengan kata yang sesudahnya dan kata yang sebelumnya. Saya pakai istilah forward correlation dan backward correlation. Ingat topik sebelumnya mengenai kaana, yang merafa’kan mubtada dan men-nashabkan khobar. Dengan pola misalkan spt ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AAA XXX YYY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AAA adalah Kaana كان, maka dia mempengaruhi kata XXX dan YYY (mempengaruhi dua kata sekaligus). Dalam bahasa Inggris, sebetulnya kita temukan juga. Misalkan kata have/has.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have spoken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata have mempengaruhi kata speak, yang berubah menjadi spoken. Tapi kata have hanya mempengaruhi satu kata saja. Sedangkan dalam bahasa Arab bisa 2 kata sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Indonesia,,, hehe… boro-boro… Kata spt ini (kata yang mempengaruhi kata lain) tidak ada ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain. Dalam bahasa Arab, kata depan (preposisi) atau disebut Huruf Jar, mempengaruhi kata setelahnya. Dalam bahasa Inggris tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah: بيت – baitun = a house&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rumah: في بيتٍ : fii baitin&lt;br /&gt;Dalam rumah : in a house&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat dalam bahasa Arab, kata asli baitun, begitu mendapat kata depan (didalam, fii) berubah jadi baitin. Dalam bahasa Inggris, tidak demikian, house tetap saja house (bukan menjadi housi atau housen), sehingga dibaca “in a house”, bukan “in a housen” layaknya bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa manfaatnya ini? Kalau kita bayangkan, kata في - fi cetakannya agak buram, yang jelas hanya بيتٍ – baitin, maka kita tahu, pastilah kata yang hilang, atau cetakannya kurang jelas itu jenisnya kata depan, karena rumah disitu tertulis baitin (bukan baitun). Artinya korelasi dan sifat saling terkait antara satu kata dengan kata lainnya dalam bahasa Arab sangatlah massif (kokoh). Ini yang menyebabkan, tidak sembarangan bisa mengubah-ubah kalimat-kalimat dalam Al-Quran. Diganti satu kata (misalkan niatnya memalsukan), maka bagi yang mengerti kaidah tata bahasa Arab akan segera tahu, bahwa ada keanehan. Dibuang satu kata saja, akan terlihat jelas, sangking kokohnya keterkaitan antara satu kata dengan kata lainnya dalam bahasa Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi contoh-contoh tentang ini. Seperti huruf LAM nahi-jenis  لا , yaitu LAM yang diikuti kata benda (isim) yang bersifat umum dengan harokat akhir fathah (bukan fathatain), maka pasti ada prediket (khobar) yang kadang dibuang. Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No doubt (tidak ada keraguan), dalam bahasa Arabnya: لا ريب  - Laa raiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Laa dan Raiba saling massif (kokoh) keterkaitannya, dimana dalam hukum LAM Nahi Jenis ini mengatakan bahwa ada prediket yang dibuang, yaitu maujuudun, sehingga makna dari Laa Raiba itu adalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa Raiba Maujudun = Tidak ada keraguan (yang wujud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No doubt (that exists). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata “that exist” itu sudah otomatis saja ada dalam pengertian bahasa Arab. Sehingga kata yang singkat Laa Raiba, tapi pengertiannya utuh. Beda dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, kata “tidak ada keraguan”, keraguan apa? Atau, keraguan seperti apa? Ini belumlah jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kehebatan ke tiga.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya kehebatan ke tiga bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa Inggris dan (apalagi) dengan bahasa kita adalah: bahwa bahasa Arab, ringkas tapi maknanya komplit. Mengapa? Ambil contoh kasus kata kerja dalam bahasa Arab. Ajaib, kata kerja dalam bahasa Arab sudah tercakup pelaku di dalammnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: قرأت  - qora’tu (satu kata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Indonesia = Saya telah membaca (tiga kata)&lt;br /&gt;Dalam bahasa Inggris = I have read (tiga kata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain: سأقرأ – sa-aqra-u (satu kata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Indonesia = Saya akan membaca (tiga kata)&lt;br /&gt;Dalam bahasa Inggris = I will read (tiga kata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hebatnya? Lihat contoh-contoh diatas. Dalam bahasa Arab, satu kata kerja sudah melekat dua keterangan tambahan langsung:&lt;br /&gt;- siapa yang melakukan&lt;br /&gt;- kapan dilakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan alangkah ringkas dan kompaknya bahasa Arab. Cukup dengan satu kata mengandung makna yang lengkap. Jelaslah buku terjemahan bahasa Arab ke bahasa Inggris atau bahasa Indonesia biasanya akan jauh lebih tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi bedanya, dimana dengan mengkaji perbedaan-perbedaan tersebut, kita bisa tambah yakin, bahwa dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh bahasa Arab, tepat sekali bahasa ini dipilihkan sebagai bahasa kitab Firman Allah yang terakhir (Al-Quran). Last but not least, bahasa Arab itu lebih mudah untuk dihafal. Karena susunannya bisa dibuat berima atau bersajak, maka kalimat-kalimatnya mudah untuk dihafal. Ingat kembali topik lalu, kata-kata bahasa Arab, kadang disusun dengan akar kata yang sama, tapi mendapat tambahan huruf sehingga artinya berbeda, tapi masih ada kaitan. Seperti janna (tertutup), majnun = orang gila (tertutup akalnya), jannah = syurga (tertutup dari orang kafir) , junnah = benteng (tertutup dari musuh), dsb. Keterkaitan itu membuat kosa-katanya lebih mudah untuk dihafal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan juga di topik lalu, contoh kata ra'a : melihat, maka mar'ah = wanita (tempat jatuhnya (tertujunya) penglihatan), dsb. Juga bahasa Arab ada wazan-wazan (timbangan, pola, atau pattern) yang jika hafal akan lebih lebih memudahkan lagi untuk menghafalnya. Seperti, kataba = menulis, maktab = meja (tempat menulis), kaatib = penulis/pengarang (orang yang menulis), dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT, berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? Al-Qomar 17,22,32,40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata-kata li-dzikri, diterjemahkan sebagai untuk pelajaran. Dzikri dari akar kata dzakara, arti asalnya mengingat. Sehingga bisa dikatakan, telah dimudahkan Al-Quran itu untuk diingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT akan menjaga keaslian Al-Quran itu, dengan cara dia mudah untuk dihafal. Tidak ada satupun buku didunia ini yang mampu dihafal oleh orang ribuan, bahkan jutaan orang, yang panjang pendeknya, titik komanya, bisa dihafal, tanpa salah sedikitpun. Subhanallah, wal-hamdulillah, waLLAHu Akbar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1994608108368728319?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1994608108368728319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1994608108368728319' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1994608108368728319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1994608108368728319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-53-efek-waktu-kehebatan-bahasa.html' title='Topik 53: Efek Waktu &amp; Kehebatan Bahasa Arab'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4900164431864450363</id><published>2007-10-26T14:26:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:24:56.506+07:00</updated><title type='text'>Topik 52: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4, Fungsi Kaana</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah. Kita akan menyelesaikan, latihan ayat 4 ini. Tapi sebelumnya saya kasih pertanyaan sedikit. Di topik 50, kita sudah terjemahkan ayat 4, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa= dan&lt;br /&gt;lam= tidak&lt;br /&gt;yakun= adalah (Dia)&lt;br /&gt;la hu = bagi Dia&lt;br /&gt;kufuwan = yang setara&lt;br /&gt;ahad = seseorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah lalu saya nerjemahin begini: &lt;br /&gt;Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jika hendak diperhalus, kata adalah bisa dibuang (baca penjelasannya di topik 51), sehingga bisa menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loh mas bukannya kalau mau urut mestinya terjemahannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak adalah bagi Dia yang setara seorang(pun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak terjemahkan demikian. Kenapa? Karena kita akan melihat tugas kaana. Bagaimana tugas kaana itu? Nih saya kasih istilah yang mungkin agak teknis dikit ya... Ok... Siap...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tugas Kaana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kaana bertugas:&lt;br /&gt;- Me-rafa'kan mubtada&lt;br /&gt;- Me-nashab-kan khobar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weh... weh... kalau mubtada dan khobar rasanya kite-kite sudah pernah dengar deh di topik-topik yang lalu. Oke... saya lagi baik hati. Saya ulangi sedikit ya. Kalau ambil contoh: Zaid ganteng زيدٌ جميلٌ - zaiduun jamiilun. Perhatikan Zaidun adalah mubtada (subjek), dan Jamiilun adalah khobar (prediket). Perhatikan dalam kondisi normal maka Zaid adalah rofa' (yaitu harokat akhir dhommah), sehingga dibaca Zaidun, bukan Zaidan, atau Zaidin. Dan dalam kondisi normal khobar juga rofa', maka dibaca Jamiilun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingat saja, rofa' atau marfu' itu = dhommah atau dhommatain. ُ atau ٌ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sekarang kalau kita lihat tugas nya kaana itu menashabkan khobar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, nahsab = fathah atau fathatain. َ atau ً .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kalau kita terapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;زيدٌ جميلٌ - zaiduun jamiilun : Zaid ganteng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tambahkan kaana didepannya menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان زيدٌ جميلاً - kaana zaidun jamiilan : (adalah) Zaid ganteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, kalau suatu kata benda (isim), jika bersifat nakiroh (tidak ada al), maka ada tambahan alif, sehingga ditulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جميلاً bukan جميلً .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kira-kira kita sekarang bisa membayangkan, bahwa kalaupun setelah kaana ada kata beda (isim) yang terbalik, maka metode penerjemahannya sama. Artinya dari kondisi apakah dia nashab atau rafa' kita bisa tahu mana subjek dan prediketnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaplah saya (agak) salah, tertukar menuliskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان جميلاً زيدٌ - kaana jamiilan zaidun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita tahu bahwa yang jadi mubtada (subject) adalah zaidun, maka kita menerjemahkannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(adalah) Zaid ganteng,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(adalah) Ganteng zaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam ayat 4 surat Al-Ikhlas ini, kita bisa lihat bahwa yang menjadi mubtada adalah احدٌ - ahadun : seorang(pun). Dan yang menjadi khobarnya adalah كفوًا - kufuwan (karena harokatnya fathatain setelah kaana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ayat ini kita terjemahkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak (adalah) [mubtada=ahadun] [khobar=kufuwan] [pelengkap=lahu]. &lt;br /&gt;Dan tidak (adalah) [seseorang(pun)] [yang serupa] [bagi Dia].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi jelas ya. Insya Allah.... Alhamdulillah, akhirnya selesai kita bahas latihan surat Al-Ikhlas ini. Kita akan ketemau lagi minggu depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4900164431864450363?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4900164431864450363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4900164431864450363' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4900164431864450363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4900164431864450363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-52-latihan-surat-al-ikhlas-ayat-4.html' title='Topik 52: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4, Fungsi Kaana'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1838808779273824151</id><published>2007-10-26T11:21:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:25:27.228+07:00</updated><title type='text'>Topik 51: Makna Kaana</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT, kita masih membahas tentang Kaana. Kaana ini karena agak unik, maka kita perlu membahasnya, agak sedikit panjang ya... Gpp kan? Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... Ingat kaana, tentu Anda ingat dengan "Kun Fayakun". Ya saya ingat sekali waktu kecil sering dikasih tahu orang-orang tua: "Apa yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Dia ingin berbuat sesuatu, Dia tinggal berkata: Kun كن - jadilah, Fayakun فيكن - maka jadilah ia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kun كن itu adalah bentuk kata kerja perintah (fi'il amr) dari كان sedangkan fayakun itu asalnya adalah fa yakuunu ف + يكون . Kenapa waw nya hilang, menjadi fayakun فيكن saja? Ini nanti akan dibahas pada Topik : Kalimat Syarat dan Jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita tinggalkan dulu kun fayakun... Kalau ada waktu kita akan singgung lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita masuk membahas, apa saja makna kaana كان. Oke kita akan lihat, dan bahas di topik ini. Sedangkan tugas kaana, akan kita bahas di topik 52.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makna Kaana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kana itu ada 3 macam maknanya, tergantung konteks. Apa saja itu?&lt;br /&gt;1. Kaana berarti adalah/atau tidak terjemahkan (is atau was dalam bahasa Inggriss)&lt;br /&gt;2. Kanaa bisa berarti menjadi (to become)&lt;br /&gt;3. Kanaa bisa berarti selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita bahas satu-satu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kaana bermakna adalah. Contohnya begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaid was handsome (Zaid --adalah-- ganteng). Ada 2 alternatif:&lt;br /&gt;زيد جميل - Zaidun Jamiilun &lt;br /&gt;كان زيد جميلاً - kaana Zaidun Jamiilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua-duanya bisa dipakai. Kalimat pertama menjelaskan bahwa Zaid itu ganteng. Sedangkan kalimat kedua menjelaskan bahwa (dulu) Zaid itu ganteng (sekarang mungkin ganteng mungkin kurang ganteng).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, kadang adalah itu tidak enak secara bahasa Indonesia, makanya kalau kaana dalam arti adalah ini, biasanya tidak diterjemahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kaana bermakna menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;محمدٌ  معلمٌ  - muhammadun mu'allimun : Muhammad seorang guru&lt;br /&gt;كان محمدٌ معلماً - kaana muhammadun mu'alliman : Muhammad telah menjadi seorang guru&lt;br /&gt;يكون محمد معلماً - yakuunu muhammadun mu'alliman: Muhammad (sedang) menjadi seorang guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kaana bermakna senantiasa/selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;كان الله عليماً حكيماً - kaana Allahu 'aliiman hakiiman : Adalah (senantiasa) Allah (bersifat) Maha Mengetahui Maha Adil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum kaana itu berarti adalah. Tinggal dilihat apakah konteksnya KKL kaana, atau KKS yakuunu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah kita akan lanjutkan dengan sifat atau tugas Kaana ini, pada topik selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1838808779273824151?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1838808779273824151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1838808779273824151' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1838808779273824151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1838808779273824151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-51-makna-kaana-dan-tugasnya.html' title='Topik 51: Makna Kaana'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-728480627061550320</id><published>2007-10-25T13:09:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:27:05.807+07:00</updated><title type='text'>Topik 50: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan segera masuk ke ayat 4 surat Al-Ikhlas. Di ayat ini kita bertemu dengan sebuah kata kerja khusus yang disebut كان - kaana. Kita akan pelajari kenapa dia disebut khusus, dan apa fungsi kaana ini. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita tuliskan ayat 4:&lt;br /&gt;و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa= dan&lt;br /&gt;lam= tidak&lt;br /&gt;yakun= adalah (Dia)&lt;br /&gt;la hu = bagi Dia&lt;br /&gt;kufuwan = yang setara&lt;br /&gt;ahad = seseorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita belum bahas secara tuntas dulu. Nanti kita akan wrap-up dibagian akhir. Anda tentu sudah tahu tentang wa, lam, la hu dan ahad. Ahad artinya satu (orang), atau satu (sesuatu). Maka disini ahad saya terjemahkan satu (orang) = seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus kita adalah kata يكن - yakun. Akar katanya adalah kaana كان. Kata kaana dan perubahan bentuknya (misal menjadi yakun) ini adalah spesial. Bahkan dalam buku-buku pelajaran tata-bahasa arab, pembahasan tentang kaana ini dibahas dalam satu sub-bab, atau bab tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dia spesial? Oke, mari saya bawakan sebuah perbandingan antara bahasa Inggriss dengan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan saya mengatakan: Umar seorang siswa. Dalam bahasa Arab saya mengatakan:&lt;br /&gt; عمر طالب - umar thoolibun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat diatas adalah kalimat sempurna (artinya memberi faidah). Umar adalah seorang siswa. Masalahnya kita bisa bertanya lagi. "Jadi siswanya, dulu, atau sekarang". Nah disini mulai ada masalah. Informasi dari عمر طالب tidak memberikan indikasi waktu. Kenapa? Karena dalam bahasa Arab, sebuah kata benda tidak membawa indikasi waktu didalamnya. Perhatikan bahwa kata "Umar" adalah kata benda (isim), dan kata "thoolibun" juga kata benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dalam bahasa Inggris? Kita punya dua pilihan:&lt;br /&gt;Umar was a student (Umar -dulu adalah seorang pelajar)&lt;br /&gt;Umar is a student (Umar -sekarang adalah seorang pelajar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah disini fungsi kaana muncul. Saya bisa mengatakan begini:&lt;br /&gt;كان عمر طالباً - kaana Umar thooliban = Umar was a student&lt;br /&gt;يكون عمر طالب - yakuunu Umar thooliban = Umar is a student&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dalam bahasa Arab salah satu cara memberikan indikasi waktu kepada sebuah kalimat berita adalah dengan menambahkan kaana atau yakuunu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh dalam Al-Quran: doa Nabi Yunus sewaktu didalam perut ikan:&lt;br /&gt;Laa ilaaha illa Anta: tidak ada Tuhan selain Engkau&lt;br /&gt;Inni kuntu mina al-zholimiin: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنى كنتُ من الظالمين - Indeed I was part of the wrongdoers = sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat bahwa kuntu adalah kaana tapi untuk orang ke 1 laki-laki tunggal (Aku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah di topik 51 kita akan bahas salah satu fungsi kaana ini, yaitu me-rafa'kan mubtada menashab-kan khobar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-728480627061550320?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/728480627061550320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=728480627061550320' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/728480627061550320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/728480627061550320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-50-latihan-surat-al-ikhlas-ayat-4.html' title='Topik 50: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-2884210508806170141</id><published>2007-10-23T15:20:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:04:20.048+07:00</updated><title type='text'>Topik 49 : YA ANITA &amp; RUMUS U-A, U-I</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, kita telah melihat KKL Pasif. Dalam surat Al-Ikhlas ayat 3 ini ada 2 fi'il (KKS) yang kita temukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yalid: melahirkan (atau beranak) - KKS Aktif&lt;br /&gt;yuulad: dilahirkan (atau diperanakkan) - KKS Pasif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke.... Saya dapat email dari seorang ikhwan, yang intinya memberitahukan bahwa, dia tidak mengerti maksud tanda-tanda sebuah KKS. Oh ya, bagi yang baru &lt;em&gt;tune in&lt;/em&gt;, di pelajaran awal dulu saya pernah kasih tips, tanda-tanda KKS, yaitu YA ANITA. Nah si pembaca ini mengatakan belum begitu mengerti maksud YA ANITA itu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh... Sebelum kita bahas mengenai KKS Pasif, ada baiknya saya ulangi menjelaskan ciri-ciri KKS. Ciri-cirinya adanya YA ANITA didepan. Saya kutipkan tabel berikut (sumber: arabindo.co.nr)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rx6dgBxIgSI/AAAAAAAAACU/9sQDpuCBKMk/s1600-h/yaanita.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rx6dgBxIgSI/AAAAAAAAACU/9sQDpuCBKMk/s400/yaanita.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124706599550091554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat tabel diatas, ini adalah tabel TASHRIF (perubahan bentuk) kata kerja, dari Fi'il Madhy (KKL) ke Fi'il Mudhori' (KKS) berdasarkan pelaku (fa'il/dhomir) nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ciri-ciri KKS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan font yang berwarna merah pada tabel diatas. Terlihat bahwa kalau dia KKS, selalu diawali dengan salah satu huruf YA ANITA (ي = YA , أ = A , ن = Nun, ت = TA) ... eh ternyata lebih pas huruf YANT ding (Ya, Alif, Nun, Ta)... oke deh apapun... pokoknya kalau ada salah satu huruf YANT didepan sebuah kata (kerja), maka kemungkinan besar kata itu KKS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat lagi tabel TASHRIF diatas. Bedakan KKL dengan KKS. Dalam KKL, tidak ditemukan huruf YANT didepan katanya (catatan sebenarnya KKL dari Kata Kerja Turunan I -- lihat di topik NAZALA ANZALA, juga mendapat tambahan Alif didepan sehingga sepintas KKT-I terlihat KKS juga, tapi aaaahhh.... nanti Anda bingung... nanti saja kita bahas ya mengenai KKT-I ini sampai KKT-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, tabel TASHRIF diatas sangat sangat berguna... Kita akan sering merefer ke tabel ini... Pengalaman saya (taelah, spt yang sudah pakar saja), kalau bisa menghafalkan tabel diatas, akan mudah dalam memahami bahasa Arab Al-Quran. Lah Mas, dari kemaren suruh ngapal mulu... (ya... ya... gak dihapal juga gpp, Insya Allah kapan kita perlukan kita akan merujuk ke tabel ini kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KKS Pasif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita kembali ke jalur (yang benar). Sekarang bagaimana membentuk KKS Pasif? Caranya mudah... Ingat saja rumus U-A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;KKL&lt;br /&gt;خلق - khalaqa : dia telah menciptakan &lt;br /&gt;خلق - khuliqa : dia telah diciptakan --&gt; U-I &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;U=dhommah, I=kashroh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKS&lt;br /&gt;يخلق - yakhluqu : dia sedang menciptakan&lt;br /&gt;يخلق - yukhlaqu : dia sedang diciptakan --&gt; U-A &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;U=dhommah, A=Fathah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, makin puyeng gak? Mangkin banyak rumus yak... hehe... sabar ya Mas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar gak puyeng, saya kembalikan saja ke fokus kita surat Al-Ikhlas ayat 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لم يلد - lam yalid --&gt; sudah dibahas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و لم يولد --&gt; dan (Dia) tidak diperanakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana datangnya "diperanakkan"? Oke... singkat cerita begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL nya ولد - walada, artinya (Dia) telah beranak&lt;br /&gt;KKS nya يلد - yalidu, artinya (Dia) sedang/senantiasa/akan beranak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kata yalidu, diatas adalah KKS aktif. Bagaimana kalau jadi pasif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RUMUS U-A&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat lagi rumus KKS Pasif yaitu U-A. Maksud U-A itu: Huruf pertama U (dhommah), huruf sebelum huruf terakhir A (fathah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke jika kita pakai rumus Granada itu untuk KKS يلد - yalidu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf pertama: YA di dhommah, berarti dibaca YU&lt;br /&gt;Huruf sebelum huruf terakhir (huruf terakhir DAL, sebelumnya LAM) : LAM di fathah, menjadi LA&lt;br /&gt;Sisanya tetap harokatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga menjadi YULADU يلد , artinya : (Dia) diperanakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooo gitu penggunaan rumus U-A (dan U-I)... Nanti kita akan bahas lagi penggunaan 2 rumus ini untuk KKT-1 s/d KKT-8 (rumus ini cukup powerfull lho... terima kasih untuk penemu Rumus ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke tuntas dong pembahasan kita ayat 3 surat Al-Ikhlas ini... Eiittttt bentar dulu Mas... Anda salah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bilang يلد - YuLaDu itu (Dia) diperanakkan. Nah, mengapa di Al-Quran ditulisnya:&lt;br /&gt;يولد ? Mengapa ada waw nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah inilah repotnya kalau kita berhadapan dengan huruf illat (penyakit). Lihat KKL nya ولد - walada. Ada huruf illat diawal yaitu waw. Nah kalau ada huruf illat ini, maka kudu pakai penanganan khusus (atawa penganangan tambahan), bahasa sononya, kudu perlu special treatment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya... Anda betul. Seharusnya yang benar itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يولد - YUU LADU : (Dia) diperanakkan. Inilah yang betul. Kenapa? Karena aslinya sebenarnya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL: ولد - walada &lt;br /&gt;KKS: يولد - yawlidu --&gt; tapi karena berat dalam ucapan lidah orang Arab, maka waw mati menjadi hilang sehingga jadinya --&gt; يلد - yalidu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RUMUS U-A JIKA DENGAN HURUF ILLAT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita pakai rumus U-A, jika huruf illat tidak dibuang pada KKS.&lt;br /&gt;KKS: يولد - yawlidu --&gt; terapkan rumus U-A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf pertama YA --&gt; dhommah (U) --&gt; dibaca YU&lt;br /&gt;Huruf sebelum huruf terakhir --&gt; LAM --&gt; di fathah (A) --&gt; dibaca LA&lt;br /&gt;Sisa huruf-huruf lain harokatnya tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga menjadi:&lt;br /&gt;يولد - yuuladu : (Dia) diperanakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kemasukan huruf LAM --&gt; menjadi JAZM (artinya dal disukun), sehingga menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لم يولد - lam yuulad (tidak boleh dibaca lam yuuladu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penggunaan rumus U-A ini secara tuntas... tas... tas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau contoh yang tidak ada huruf illat, kita bisa cepat pakai rumusnya. Lihat contoh tabel diatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يفعل - yaf 'alu : dia sedang mengerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau "dia dikerjakan", bagaimana? Gampang... Rumus U-A. Huruf pertama : ya jadi yu, huruf sebelum huruf terakhir : 'ain fathah menjadi 'a), sehingga menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يقعل - yuf 'alu : dia sedang dikerjakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang sekali kan menggunakan rumus U-A ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita sudahi dulu topik ini. Sebagai penutup, kita ringkaskan ayat 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لم يلد - lam yalid --&gt; (Dia / Allah) tidak beranak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و لم يولد --&gt; (Dia / Allah) tidak diperanakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah kita masuk ke ayat 4 surat Al-Ikhlas, pada topik selanjutnya. Oh ya... btw, kalau pelajaran ini terasa susah dan rada membosankan, kasih tahu ya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-2884210508806170141?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/2884210508806170141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=2884210508806170141' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2884210508806170141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2884210508806170141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-49-ya-anita-rumus-u-u-i.html' title='Topik 49 : YA ANITA &amp; RUMUS U-A, U-I'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rx6dgBxIgSI/AAAAAAAAACU/9sQDpuCBKMk/s72-c/yaanita.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3950293728203168663</id><published>2007-10-23T08:12:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:28:01.432+07:00</updated><title type='text'>Topik 48: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, KKS Pasif</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita telah sampai pada ayat 3 surat Al-Ikhlas, dimana dalam ayat ini kita bertemu dengan 3 pelajaran berbahasa Arab, yaitu: pengertian LAM, bentuk MAJZUM, dan terakhir bentuk kata kerja sedang (KKS) pasif. Pada kesempatan kali ini kita akan tuntaskan pembahasan ayat 3 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita masih ada sisa topik di ayat 3 ini yaitu mengenai Kalimat Pasif. Insya Allah kita akan bahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalimat Pasif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda semua pasti sudah tahu apa itu kalimat pasif. Ya, tanpa perlu definisi, kita sering menggunakan pola ini. "Saya disuruh membuat PR". Atau "Mobil dibeli pedagang", dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, demikian juga. Ada kalimat aktif, ada pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana ciri-ciri kalimat Pasif? Berikut saya kasih TIPS mudahnya (mengutip dari metode Granada), anda sekalian hafalkan rumus ini (kalau bisa... kalau gak mau juga gak apa2x... hehe):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL Pasif: U-I (1:dhommah 2:kasroh 3:x)&lt;br /&gt;KKS Pasif: U-A (1:dhommah 2:fathah 3:x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KKL Pasif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat An-Nur (24) ayat 45:&lt;br /&gt;الله خلق كل دابت من ماء : allahu khalaqa kulla daabbatin min maa-in&lt;br /&gt;Allah menciptakan setiap daabbatin dari air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat kata menciptakan: خلق -  kha la qa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau diciptakan. Kata خلق - khalaqa (menciptakan) berubah harokat menjadi (ingat rumus... U-I), sehingga menjadi khuliqo خلق (diciptakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya dalam surat At-Thooriq (86) ayat 6&lt;br /&gt;خلق من ماء دافق - khuliqa min maain daafiq&lt;br /&gt;Dia (manusia)diciptakan dari air yang terpancar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat perubahannya:&lt;br /&gt;خَلَقَ - khalaqa (menciptakan)&lt;br /&gt;خُلِقَ - khuliqa (diciptakan) --&gt; Pola U-I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KKS Pasif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita lihat bagaimana pola KKS Pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah... karena sudah kepanjangan... kita tunda dulu ya pembahasan rumus U-A ini. Hehe... Sampai ketemu di topik lanjutan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3950293728203168663?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3950293728203168663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3950293728203168663' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3950293728203168663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3950293728203168663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-48-latihan-surat-al-ikhlas-ayat-3.html' title='Topik 48: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, KKS Pasif'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-243360814437328289</id><published>2007-10-20T20:28:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:28:29.041+07:00</updated><title type='text'>Topik 47: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, JAZM</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Baiklah, sekarang kita masuk kembali ke pelajaran rutin kita. Kita tinggalkan topik-topik seputar lebaran. Mudah-mudahan puasa Syawal kita diterima di sisi Allah SWT. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Kita tuliskan ayat 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لم يلد و لم يولد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lam : tidak&lt;br /&gt;yalid : (Dia) beranak [punya anak]&lt;br /&gt;wa: dan&lt;br /&gt;lam : tidak&lt;br /&gt;yuulad : (Dia) diperanakkan [punya Bapak dan Ibu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bertemu dengan 3 pelajaran disini:&lt;br /&gt;1. Bentuk penegatifan (menegasikan kalimat) dengan LAM لم&lt;br /&gt;2. Bentuk JAZM (MAJZUM) dari kata kerja sedang (KKS)&lt;br /&gt;3. Bentuk pasif dari sebuah kata kerja sedang (KKS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kita akan bahas satu-satu Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sekarang kita bahas apa maksud LAM لم (tidak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, jika kita hendak mengatakan "tidak" terhadap sebuah kata kerja kita bisa pakai لم - lam atau لا - laa atau ما - maa. Tiga-tiganya artinya Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana aturannya dan apa efeknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, aturannya begini. LAM dan LAA لم لا hanya dipakai untuk KKS, sedangkan ما - maa biasanya selalu dipakai untuk KKL. Contohnya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya faham (mengerti) : انا أفهم - ana afhamu&lt;br /&gt;Saya tidak faham : انا لا أفهم- ana laa afhamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau jika saya pakai LAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya faham (mengerti) : انا افهم - ana afhamu&lt;br /&gt;Saya tidak faham: انا لم أفهم - ana lam afham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara arti LAA dam LAM sama saja, artinya "Tidak". Walau menurut sebagian orang ada bedanya. Kalau LAM, itu Tidak nya bersifat MUTLAK. Atau bisa dikatakan ANA LAM AFHAM artinya : saya "benar-benar" tidak faham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kaidah grammar, KKS sesudah LAM, huruf terakhir di sukun. Sehingga penulisannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لم أفهمْ - laam afham. Tidak seperti LA, yang KKS nya huruf terakhirnya di dhommah.&lt;br /&gt;لا أفهمُ - laa afhamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan ما - maa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan tadi, maa dipakai untuk KKL. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah paham : فهمتُ - fahimtu&lt;br /&gt;Saya tidak sudah paham : ما فهمتُ - maa fahimtu (catatan bahasa Indonesia "Saya tidak sudah paham" agak membingungkan mungkin, padanan bahasa Inggrisnya: I had not understood).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeh... jelas ya Jack... Sekarang kembali ke topik utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لم يلدْ - lam yalid : (DIA-ALLAH) tidak melahirkan. Lihat ciri-ciri JAZM nya bahwa huruf dal pada yalid berharokat sukun. Sehingga ditulis lam yalid, bukan lam yalidu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kita bisa juga menulis spt ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يلدُ - laa yalidu : (dia) tidak melahirkan. Secara bahasa mirip dengan LAM YALID. Akan tetapi penggunaan LAM lebih bersifat peniadaan (pe-tidak-an) secara mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kita telah bahas 2 hal: makna LAM dan apa bedanya dengan LA. Dan bentuk mazjum (jazm) dari sebuah KKS. Insya Allah topik selanjutnya kita akan bahas mengenai bentuk pasif dari KKS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-243360814437328289?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/243360814437328289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=243360814437328289' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/243360814437328289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/243360814437328289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-47-latihan-surat-al-ikhlas-ayat-3.html' title='Topik 47: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, JAZM'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-2284399349193417394</id><published>2007-10-20T20:12:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:28:57.705+07:00</updated><title type='text'>Topik 46: Maaf Zhaahir Baathin</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Seharusnya topik seputar Idul Fitri kita sudah akhiri di topik 45, dan topik kali ini kita akan masuk kembali ke pelajaran rutin yaitu latihan surat-surat pendek. Akan tetapi mohon ijin, satu kali ini ada materi yang tertinggal, yang perlu saya sampaikan. Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dalam setiap kesempatan Idul Fitri, telah jadi tradisi bagi kita disini untuk bermaafan dengan mengucapkan : Mohon maaf lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apa maksud lahir dan batin itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya begini. Asal muasal kata tersebut sebenarnya bukan dari lahir (melahirkan anak), tapi dari Zhaahir ظاهر yang akar katanya ظهر - zhoharo : jelas, terang, kelihatan. Sedangkan ظاهر - zhaahir adalah isim fa'il (kata benda pelaku) nya, yang artinya sesuatu yang terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan asal muasal batin, itu adalah baathin باطن , yang merupakan isim fa'il dari KKL بطن - bathana yang artinya tersembunyi, atau tertutup sehingga bhaathin artinya sesuatu yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi minta maaf lahir batin, atau maaf zhaahir baathin, artinya:&lt;br /&gt;Saya minta maaf (atas segala kesalahan saya baik) yang terang-terangan (atau) yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kata zhaahir dan baathin ini ada dalam surat 57 ayat 3:&lt;br /&gt;هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;&lt; Dia (Allah) Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhaahir (tampak), Yang Baathin (tersembunyi)&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gitu mak cik... semoga jelas yah... Jadi ane mohon maaf zhaahir baathin nih... mumpung masih zuazana lhebha-rhan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-2284399349193417394?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/2284399349193417394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=2284399349193417394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2284399349193417394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2284399349193417394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-46-maaf-zhaahir-baathin.html' title='Topik 46: Maaf Zhaahir Baathin'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3539954869259189633</id><published>2007-10-19T21:43:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:30:29.700+07:00</updated><title type='text'>Topik 45: Penyakit pada 'Aa-i-din dan Faa-i-zin</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah topik lanjutan mengenai huruf penyakit. Saya akan stop topik ini, karena bisa jadi ada yang sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke lanjutan Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... sebenarnya topik huruf illat ini, walau sedikit sukar, tapi kalau sudah menguasai, maka akan lebih mudah dalam menerjemahkan bahasa Arab Al-Quran? Kenapa, banyak kata kerja dan kata benda dalam Al-Quran yang dibentuk dari huruf penyakit ini... hik...hik (berita buruk nih, karena huruf penyakit kabarnya tidak ada polanya). Sebenarnya ada polanya, tetapi untuk saat ini terlau pagi bagi kita masuk menyelami pola-pola huruf penyakit tsb. Cukuplah sampai topik 45 ini targetnya, kita sadar dalam bahasa Arab ada kata yang terdiri dari satu atau lebih huruf penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isim Fa'il&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah singgung isim fail di banyak tempat sebelum ini. Singkat cerita, isim fail dibentuk dengan menambahkan alif setelah huruf pertama KKL (jika KKL terdiri dari 3 huruf sehat). Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL: كتب - kataba : menulis&lt;br /&gt;Isim Fa'il: كاتب - kaatibun : orang yang menulis (penulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL: ضرب - dhooraba : memukul&lt;br /&gt;Isim Fa'il: ضارب - dhooribun : orang yang memukul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL : كفر - kafara : menutupi, atau kafir&lt;br /&gt;Isim Fa'il: كافر - kaafirun: orang yang kafir (1 orang)&lt;br /&gt;Isim Fa'il: كافران - kaafiraani : 2 orang kafir&lt;br /&gt;Isim Fa'il: كافرون - kaafiruuna: orang-orang kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah untuk KKL yang terdiri dari 3 huruf sehat, maka membentuk kata benda pelaku sangat mudah, yaitu dengan menambahkan alif setelah huruf 1, dan huruf kedua berharokat kasroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kasusnya kalau huruf penyakit. Lagi-lagi, dia punya pakem yang lain lagi. Contohnya kata 'aa-i-din, dan faa'i-zin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aa-i-din &amp;amp; Faa-i-zin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah bahas asal kata 'aa-idin, yang artinya orang yang kembali (suci). Saya ulangi:&lt;br /&gt;KKL: عاد - 'aa-da : dia telah kembali (lihat huruf kedua adalah huruf penyakit)&lt;br /&gt;KKS: يعيد - ya'ii-du: dia sedang kembali (lihat huruf 2 pada KKT yaitu alif berubah jadi ya)&lt;br /&gt;Isim Fail: عائد - 'aa-i-dun : orang yang kembali (1 orang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bahwa jika ada huruf penyakit berupa alif (huruf ke 2 di KKT), maka isim fa'ilnya mendapat tambahan hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan Faa-i-ziin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL: فاز - faaza : menang&lt;br /&gt;Isim Fa'il: فائز - faa-i-zun : orang yang menang (1 orang)&lt;br /&gt;Isim Fa'il: فائوزن - faa-i-zuun : orang-orang yang menang (banyak orang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kita tuntaskan pembahasan secara umum mengenai apa itu huruf penyakit. Sebagai ringkasan, ingat ya.... inga... inga... huruf penyakit ada 3 yaitu: alif, waw, dan ya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3539954869259189633?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3539954869259189633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3539954869259189633' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3539954869259189633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3539954869259189633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-45-penyakit-pada-aa-i-din-dan-faa.html' title='Topik 45: Penyakit pada &apos;Aa-i-din dan Faa-i-zin'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-6534249399868746386</id><published>2007-10-19T20:37:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:30:56.789+07:00</updated><title type='text'>Topik 44: Huruf Penyakit</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, sebelum kita melanjutkan ke topik Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, ada hal yang perlu kita bahas melanjutkan topik sebelum ini yaitu mengenai huruf illat (atau huruf penyakit). Masih ingat dengan topik sebelum ini? Yaitu mengenai 'Aaidiin dan Faaiziin? Ya, topik 44 ini akan membahas sedikit mengenai huruf illat ini. Kenapa? Karena kedua kata itu mengandung huruf illat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf Illat ini menurut saya (sebagai pemula dalam belajar bahasa Arab) merupakan topik yang agak sukar... Yah... namanya juga penyakit (illat), wajar kalau sukar. Akan tetapi saya akan coba kupas secara sederhana agar mudah dipahami. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... apa itu huruf penyakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho huruf kok ada penyakit, berarti ada huruf yang sehat dong ya? Ya... Anda tepat sekali. Dalam bahasa arab huruf yang sehat (atau disebut shahih) adalah semua huruf kecuali alif, ya, dan waw (اوي). Jadi huruf ilat itu ada 3 saja, yaitu alif, waw, dan ya. Semua huruf lain, adalah huruf shahih (sehat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa alif, waw, dan ya itu disebut huruf penyakit? Nah ini yang saya terus terang lama mencari-cari dasarnya kenapa? Sementara ini saya berpendapat kenapa disebut huruf penyakit, karena suatu kata yang ada huruf illat di dalamnya, maka dia biasanya tidak ikut pakem. Nah loh, pakem apa lagi tuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakem maksudnya pola-pola bahasa Arab yang standar. Ambil contoh kata yang terdiri dari huruf yang sehat, yaitu menulis -ka-ta-ba كتب. Maka karena terdiri dari huruf yang sehat polanya agak mudah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL: كتب - kataba : dia telah menulis&lt;br /&gt;KKS: يكتب - yaktubu : dia sedang menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola dari KKL ke KKS nya standar:&lt;br /&gt;KKS: ya tambahan kasrah, huruf 1 (kaf) sukun, huruf 3 (ba) dhommah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain: memukul ضرب - dhoraba&lt;br /&gt;KKL: ضرب - dhoraba : dia telah memukul&lt;br /&gt;KKS: يضرب - yadhribu : dia sedang memukul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola dari KKL ke KKS nya standar:&lt;br /&gt;KKS: ya tambahan kasrah, huruf 1 (dho') sukun, huruf 3 (ba) dhommah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau semua huruf nya sehat, pola standardnya merubah KKL ke KKS adalah seperti diatas. Memang untuk huruf ke 2 tidak ada pola standard, bisa fathah, kasrah, atau dhommah (tergantung kamus). Tetapi untuk huruf 1 dan 3 standard polanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita bahas kata yang ada huruf penyakitnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya: membaca تلا - talaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat kata talaa terdiri dari 3 huruf yaitu: ta, lam, dan alif. Nah yang bikin penyakit huruf ke 3 yaitu alif. So, akibatnya apa? Ya, pola diatas tidak bisa dipakai. Coba kita lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL: تلا - talaa : dia telah membaca&lt;br /&gt;KKS: يتلو - yatluu: dia sedang membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah terlihat, huruf ketiga (alif) di KKT, berubah menjadi waw pada KKS nya. Pada pola huruf sehat, tidak terjadi perubahan huruf ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang huruf penyakitnya jadi hilang. Contoh wajada وجد - mendapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL: وجد - wajada : dia telah mendapati (atau menemui, atau memperoleh)&lt;br /&gt;KKS: يجد - yajidu : dia sedang mendapati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah terlihat polanya aneh lagi. Huruf pertama di KKT yaitu waw, menjadi hilang pada KKS nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah gitu deh... namanya saja huruf penyakit. Kadang berubah ke huruf penyakit lain, kadang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya terakhir... Kalau bertemu hamzah diatas alif, waw, atau ya, nah ini bukan huruf penyakit loh ya. Jadi pola standard tetap bisa dipakai. Contoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKL: قرأ - qora-a : dia telah membaca&lt;br /&gt;KKS: يقرأ - yaqro-u : dia sedang membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bahwa hamzah tetap ada. Karena hamzah by default bukan huruf penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... untuk kasus huruf penyakit pada isim fa'il (kata benda pelaku) seperti pada 'aaidin dan faaizin, akan dibahas pada topik setelah ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-6534249399868746386?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/6534249399868746386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=6534249399868746386' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6534249399868746386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6534249399868746386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/topik-44-huruf-penyakit.html' title='Topik 44: Huruf Penyakit'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-6945543159567771643</id><published>2007-10-18T07:54:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:45:37.607+07:00</updated><title type='text'>Minal 'Aa-i-diin Wal Faa-i-ziin</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permirsa sekalian yang dirahmati Allah. Masih dalam rangka Idul Fitri, saya hendak mengucapkan: Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah banyak di poster-poster, iklan-iklan di koran, di TV dlsb, mengenai pengucapan Idul Fitri ini, yang di rangkai dalam kalimat yang baik (walau bukan hadist):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minal 'Aa-idin Wal Faa-i-zin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti kalimat diatas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من العائدين minal 'aa-idiin, terdiri dari 2 kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;min من artinya: dari (from) atau bagian (part of)&lt;br /&gt;al 'aa-idiin العائدين artinya: orang-orang yang kembali &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Min secara bahasa adalah Huruf Jar (kata depan), sedangkan al 'aa-idiin adalah isim fa'il (kata benda pelaku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu artinya minal 'aa-idiin, artinya: bagian dari orang-orang yang kembali (kepada kesucian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... kita kupas sedikit lagi mengenai isim fa'il. Isim fa'il adalah kata benda pelaku, dari sebuah kata kerja. Misalkan, kata kerjanya menulis, maka isim fa'il-nya adalah penulis (atau orang yang menulis). Kata kerjanya: membunuh, maka isim fa'ilnya pembunuh (atau orang yang membunuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kata عاد - 'aa da = adalah kata kerja yang artinya kembali (return). Nah, isim fa'ilnya adalah عائد - 'aa idun = (1 orang yang kembali). Sedangkan jika jamak (banyak) menjadi عائدون - 'aa iduun = orang-orang yang kembali, atau عائدين - 'aa idiin (jika diawali oleh huruf jar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gitu... ngerti kagak nih, man teman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang suka salah tulis di poster poster sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minal aidin (ini salahnya gak gawat, walaupun sebenarnya yang lebih pas ada kutip satu, menandakan itu 'ain ع , sehingga lebih mantap mestinya ditulis Minal 'Aidin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minal aidzin (nah ini salahnya agak lumayan. Kalau dz itu representasi ذ - dzal bukan ز -za. Artinya jadi lain. عاذ artinya berlindung. Sehingga عائذ - 'aa idzin = orang yang berlindung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minal 'aidin (nah ini yang sedikit oke, walau artinya 1 orang yang kembali karena din bukan diin, dan 'ain nya pendek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kalau minal 'aa-idiin artinya bagian dari orang-orang yang kembali (suci). Sekarang apa artinya wal faa-i-ziin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bentar dulu kadang, faa-i-ziin ini ditulis faidzin, nah ini juga salah nih... Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faa-i-zin فائزين adalah isim fa'il dari فاز - faaza yang artinya menang. Sehingga فائز faa-i-zun (1 orang yang menang), dan فائزون - faa i zuun atau فائزين - faa i ziin artinya orang-orang yang menang. Sedangkan فائذين - faa i dziin, nah ini artinya jadi lain, bukan orang-orang yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang muantaff itu nulisnya mestinya faaiziin, atau kalau kelihatan aneh faizin. Jangan faaidziin, atau faidzin. Getoh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;Minal 'aa-idin wal faa-izin artinya: (semoga engkau) bagian dari orang-orang yang kembali (suci) dan bagian dari orang-orang yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup ada hadist (kalau tidak salah), mengenai ucapan menyambut idul fitri ini yaitu: taqabbalallahu minnaa wa min kum (semoga Allah menerima [amalan puasa] dari kami dan [amalan puasa] dari kalian). Allahu a'lam bish-showwab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-6945543159567771643?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/6945543159567771643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=6945543159567771643' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6945543159567771643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6945543159567771643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/minal-aa-i-diin-wal-faa-i-ziin.html' title='Minal &apos;Aa-i-diin Wal Faa-i-ziin'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4646772217384557944</id><published>2007-10-01T09:41:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T09:42:03.963+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>BLOG INI ISTIRAHAT SAMPAI 1 MINGGU SETELAH IDUL FITRI 1428 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4646772217384557944?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4646772217384557944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4646772217384557944' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4646772217384557944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4646772217384557944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/10/blog-ini-istirahat-sampai-1-minggu.html' title=''/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1193970895920120331</id><published>2007-09-27T08:14:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:51:24.500+07:00</updated><title type='text'>Topik 43: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 2</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan pagi ini saya masih menunggu tamu di salah satu Hotel di Kualalumpur (tugas luar kota). Sembari menunggu saya sempatkan untuk membahas Topik 42 dan 43 ini, Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat 2, akan digambarkan tentang bagaimana kekuasaan Allah itu Maha Lengkap (tafsir kata Al-Shomad menurut Abu Wa'il). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; اللَّهُ الصَّمَدُ - Allahu Al-Shomadu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa struktur kalimat diatas adalah, kalimat sempurna, dimana:&lt;br /&gt;Mubtada: Allahu (lihat ciri-nya yaitu dhommah, sehingga Allahu, bukan Allaha, atau Allahi), dan&lt;br /&gt;Khobar: Al-shomadu (tempat bergantung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-Shomad memiliki dua pengertian yaitu: tempat bergantung, yaitu suatu yang cukup dengan sendirinya, dan semua bergantung ke dia. Allah Al-Shomad, artinya: Allah tempat bergantung semua makhluk. Pengertian kedua, yaitu dari akar katanya shomada, artinya: abadi atau kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Abbas: As-Shomad artinya: Yaitu suatu Dzat yang semua makhluk bergantung kepadaNya untuk mencukupi semua kebutuhan dan permintaannya. Dia adalah Raja yang memiliki kesempurnaan kekuasaannya, Sangat Mulia dengan KemuliaanNya, Sangat Perkasa dengan segala keperkasaanNya, Maha Tahu dengan segala IlmuNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-Shomad tidak boleh diatributkan kepada makhluk, karena sifat ini hanyalah Milik Allah (Tafsir Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dapat kita pelajari dalam ayat 2 ini kembali kita bertemu dengan kalimat al-jumlah al-mufidah. Insya Allah topik berikutnya kita akan belajar, bentuk perubahan kata kerja sekarang (Present Tense) menjadi bentuk JAZM.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1193970895920120331?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1193970895920120331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1193970895920120331' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1193970895920120331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1193970895920120331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-43-latihan-surat-al-ikhlas-ayat-2.html' title='Topik 43: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 2'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-243537099912162940</id><published>2007-09-27T07:48:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:51:55.496+07:00</updated><title type='text'>Topik 42: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita sudah bahas dalam ayat 1, tentang bentuk al-jumlah al-mufidah, yaitu satu bentuk kalimat sempurna dalam bahasa Arab. Maksud sempurna disini adalah kalimat yang memberikan manfaat/faedah (mufidah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dijelaskan contoh-contohnya. Disini diberikan contoh lain:&lt;br /&gt;انا مسلم - ana muslim (saya muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kalimat sempurna, karena sudah terdiri dari Mubtada (Subject) dan Khobar (Prediket).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita perhatikan contoh diatas, maka Mubtada dan Khobar itu sama sama kata benda. Ada lagi satu bentuk kalimat sempurna yaitu jika terdiri dari Kata Kerja + Pelaku, atau sering disebut Fi'il + Fa'il.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah Fa'il dalam bahasa Arab selalu kata benda. Dengan demikian, jika kalimat itu terdiri dari Kata Kerja dan Pelaku, maka telah dikatakan merupakan kalimat sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هو يكتب - huwa yaktubu : dia sedang menulis&lt;br /&gt;الطالب يكتب - al-tholibu yaktubu : seorang pelajar sedang menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola kalimat diatas juga disebut pola kalimat sempurna, karena terdiri dari Pelaku + Pekerjaan (Fa'il + Fi'il). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, dalam bahasa Arab sangat sering polanya kata-kerjanya yang didahulukan, baru pelakunya. Jadi kalimat kedua itu seringnya ditulis sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يكتب الطالب - yaktubu al-tholibu : seorang pelajar sedang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pola yang lebih sering dijumpai, walaupun pola pertama tidak salah secara gramatikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak boleh adalah kalau Pelakunya Kata Ganti (dia, kamu, dst) diletakkan setelah kata kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pola seperti ini salah:&lt;br /&gt;يكتب هو - yaktubu huwa : dia sedang menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola ini salah, karena kata ganti pelaku didalam bahasa Arab tidak boleh terletak setelah kata kerja. Kenapa? Disinilah uniknya bahasa Arab. Karena kata kerja bahasa Arab secara langsung telah menyimpan pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau kita tulis:&lt;br /&gt;يكتب - yaktubu saja, ini adalah kata kerja yang pelakunya dia (laki-laki), sehingga kalau kita tulis:&lt;br /&gt;يكتب - yaktubu saja, ini sudah cukup yang artinya: dia sedang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau misalkan:&lt;br /&gt;أكتب - aktubu : saya sedang menulis&lt;br /&gt;تكتب - taktubu : kamu (laki-laki) sedang menulis&lt;br /&gt;نكتب - naktubu : kita/kami sedang menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai resume kita telah menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, kalimat sempurna itu dikatakan memberi manfaat jika telah terdiri dari Mubtada (Subject) dan Khobar (Prediket), atau Fi'il (Kata Kerja) dan Fa'il (Kata Benda Pelaku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: Allah itu Esa. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, maksud ayat ini adalah, bahwa Allah itu lah Tuhan yang Satu, tidak ada tandingan, tidak ada yang setara dengan Nya. Kata Al-Ahad tidak dapat digunakan untuk diatributkan ke seseorang, karena kata Al-Ahad ini hanya untuk Allah SWT (demikian Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akan kita lanjutkan ke ayat-ayat selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-243537099912162940?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/243537099912162940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=243537099912162940' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/243537099912162940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/243537099912162940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-42-latihan-surat-al-ikhlas-ayat-1.html' title='Topik 42: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3168393410343539672</id><published>2007-09-25T11:43:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:52:24.155+07:00</updated><title type='text'>Topik 41: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik kali ini kita Insya Allah akan masuk ke Latihan ayat 1 Surat Al-Ikhlas. Oke baiklah. Ayat 1 berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qul: Katakanlah &lt;br /&gt;Huwa: Dia&lt;br /&gt;Allahu: Allah&lt;br /&gt;Ahadun: Ahad (Maha Esa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... Ada 2 pola bahasa yang bisa kita pelajari disini:&lt;br /&gt;1. Fi'il Amar (Kata Kerja Perintah)&lt;br /&gt;2. Al-Jumlah Al-Mufidah (bentuk Kalimat Sempurna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata QUL: katakanlah! ini merupakan fi'il amr. Fi'il amr sudah banyak saya berikan contohnya. Saya juga sudah memberikan 6 langkah mudah membentuk fi'il amr. Apa perlu saya ulangi? Jika ya, Insya Allah saya akan ulangi. Jika tidak maka kita lanjut ke topik 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya asumsi tidak perlu, karena Anda sudah mengerti. Maka kita masuk topik 2, yaitu bentuk Kalimat Sempurna (jumlah mufidah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jumlah Al-Mufidah الجملة المفيدة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Mufidah atau kalimat sempurna, dalam bahasa Arab mirip dengan definisi kalimat sempurna dalam bahasa Indonesia. Apa itu? Yaitu minimal terdiri dari subject dan prediket. Dalam bahasa Arab, subject itu biasa disebut al-mubtada, dan prediket itu biasa disebut al-khobar. Kalimat sempurna yaitu bila kalimat tersebut sudah memberikan faedah (mufidah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi definisi kalimat sempurna dalam bahasa Arab adalah suatu kalimat yang terdiri dari mubtada dan khobar, dan memberikan manfaat (artinya bisa dimengerti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi ini maka: kalimat Huwa Allahu Ahadun dapat dipecah menjadi kalimat sempurna:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huwa Allahu هو الله - Dia (adalah) Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kalimat sempurna, dimana mubtada nya adalah Huwa هو - Dia, dan khobarnya adalah Allahu الله - Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الله احد - Allahu Ahadun : Allah (itu) Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah juga kalimat sempurna, dimana mubtada nya adalah Allahu الله dan khobarnya adalah Ahadun احد - Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri Mubtada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri-ciri mubtada, adalah bahwa i'rob (harokat akhir) adalah dhommah, atau dhommatain, untuk kata-kata yang sifatnya tidak mabni. Wah wah apa lagi nih... Mabni itu apaan lagi tuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, gini gini... Pertama saya jelaskan dulu, bahwa ciri-cirinya dhommah. Coba lihat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu ahadun. Harokat Allah disini adalah dhommah, sehingga dibaca Allahu (bukan Allaha atau Allahi). Sehingga kata Allahu (dalam Allahu Ahadun), dapat menjadi Mubtada'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ada kata benda yang sifatnya tetap (mabni). Contoh kata Musa مسى ini adalah mabni. Tidak pernah dia dibaca Musi, atau Musu. Berbeda dengan kata kitaab كتاب ini bukan mabni, tapi berobah-ubah, bisa kitaabu, kitaabi, kitaaba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OKE... kembali ke lap top... Jadi dalam ayat 1 surat Al-Ikhlas ini kita bertemu dengan jumlah mufidah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huwa Allahu Ahadun&lt;br /&gt;Mubtada: Huwa&lt;br /&gt;Allahu Ahadun: Khobar Jumlah (khobar dalam bentuk kalimat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Khobar Jumlah, juga sebuah kalimat sempurna dimana:&lt;br /&gt;Allahu: Mubtada&lt;br /&gt;Ahadun: Khobar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gitu ma' cik... Kira-kira ngerti kan????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akan dilanjutkan ke topik berikutnya, mengenai definisi kedua Jumlah Mufidah. Sebagai penutup, jumlah mufidah dalam topik ini maksudnya yaitu kalimat sempurna yang terdiri dari mubtada dan khobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam topik berikutnya, ada defisini ke 2 jumlah mufidah itu, yaitu suatu kalimat yang terdiri dari Kata Kerja + Pelaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3168393410343539672?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3168393410343539672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3168393410343539672' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3168393410343539672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3168393410343539672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-41-latihan-surat-al-ikhlas-ayat-1.html' title='Topik 41: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-46378195316250101</id><published>2007-09-22T09:36:00.001+07:00</published><updated>2007-12-10T08:52:46.802+07:00</updated><title type='text'>Topik 40: Latihan Surat Al-Ikhlas, Tema: Mashdar Lanjutan</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada topik 39, kita telah mempelajari tentang Mashdar yaitu kata dasar, atau kata sumber. Diberikan contoh dari kata dasar ini, dalam pelajaran bahasa Arab yang umum di buku pelajaran bahasa Arab, dapat diturunkan setidaknya 7 jenis kata. Sebelum melanjutkan ke Ayat 1 surat Al-Ikhlas, kita tuntaskan dulu pembahasan Mashdar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disinggung, bahwa kata Al-Ikhlaas الإخلاص adalah Mashdar dari kata أخلص akhlasa. Akar kata dari akhlasa أخلص  adalah خلص - khalasa, yang artinya murni, tidak bercampur, atau bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita ulang-ulangi pelajaran yang telah lalu-lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini kita bertemu beberapa hal. Pertama Kata Kerja 3 huruf (atau kata kerja akar), sebagaimana diketahui, kata apapun dalam bahasa Arab, umumnya terbentuk dari 3 huruf. Ini yang sering disebut AKAR KATA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa itu akar kata: yaitu pembentuk kata yang terdiri dari 3 huruf. Hmm mungkin kita agak bingung ya... Ya... saya juga. Hehe... Tapi untuk mudahnya saya buatkan skema sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kata Kerja Dasar(Akar Kata) - kita sebut KKD: خلص - khalasho, artinya murni&lt;br /&gt;2. Turunan pertama dari KKD ini disebut KKT-1 (Kata kerja Turunan 1), yaitu ada penambahan alif didepannya, sehingga menjadi أخلص akhlasho. Sebagaimana telah dijelaskan tugas KKT-1 adalah menjadikan kata kerja yang tidak butuh objek menjadi butuh objek, sehingga kholaso (KKD) yang artinya murni (tidak perlu objek), maka akhlaso (KKT-1) artinya memurnikan (butuh objek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah skema-skema kata kerja. Jika di ringkas, maka bentuknya sbb (ambil contoh فعل - fa 'ala (mengerjakan):&lt;br /&gt;1. KKD: فعل - fa'ala&lt;br /&gt;2. KKT-1: أفعل - af 'ala&lt;br /&gt;3. KKT-2: فعل - fa' 'ala&lt;br /&gt;4. KKT-3: فاعل - faa 'ala&lt;br /&gt;5. KKT-4: تفعل - tafa' 'ala&lt;br /&gt;6. KKT-5: تفاعل - tafaa 'ala&lt;br /&gt;7. KKT-6: إفتعل - if ta 'ala&lt;br /&gt;8. KKT-7: إنفعل - in fa 'ala&lt;br /&gt;9. KKT-8: إستفعل - is taf 'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuih ribet ya... Kata Kerja dalam bahasa Arab bisa mengambil bentuk banyak, ya!!! Hhmmm sebenarnya kalau hafal bentuk-bentuk ini (yang sering disebut wazan) akan membantu sekali, akan tetapi tidak hafal-pun lama-lama kalau sering dipakai Insya Allah akan hafal dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kata khalasa خلص artinya murni. Maka bentuk KKT-1 nya apa? Sesuai dengan wazan diatas, KKT-1 menjadi أخلص - akhlasha (memurnikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, trus darimana datangnya Mashdar إخلاص - ikhlash? Nah begini lagi ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tadi kata kerja itu bise mengambil bentuk 9 macam, maka masing-masing dari 9 macam itu ada Mashdar nya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;1. KKD: فعل - fa'ala (mengerjakan), mashdarnya: فعلا - fa'lan (pengerjaan)&lt;br /&gt;2. KKT-1: أفعل - af 'ala (mengerjakan), mashdarnya: إفعال - if 'aal (pengerjaan)&lt;br /&gt;3. KKT-2: فعل - fa' 'ala (mengerjakan), mashdarnya: تفعيل - taf 'iil (pengerjaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat contoh diatas, maka dapat disimpulkan mashdar untuk KKT-1 أخلص - akhlasho (lihat contoh 2 diatas), adalah إخلاص - ikhlaash&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kita tuntaskan pembahasa Mashdar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-46378195316250101?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/46378195316250101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=46378195316250101' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/46378195316250101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/46378195316250101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-39.html' title='Topik 40: Latihan Surat Al-Ikhlas, Tema: Mashdar Lanjutan'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-6079757934263102901</id><published>2007-09-21T06:16:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:53:07.740+07:00</updated><title type='text'>Topik 39: Idul Fitri tahun 2030</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan kita berlebaran tahun 2030? Hehe... Apa tidak kejauhan? Ya, ini hanya sekedar "pancingan" saja, agar kita mau sedikit experiment dengan software gratisan yang ada di Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi software astronomi gratisan andalan saya - HomePlanet, memprediksikan bahwa lebaran tahun ini dengan metode hisab jatuh pada 12 Oktober 2007. Dari berita di detik.com, Muhammadiyah secara resmi mengumumkan Idul Fitri tahun ini jatuh pada 12 Oktober 2007. (http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/&lt;br /&gt;tahun/2007/bulan/09/tgl/20/time/075105/idnews/832131/idkanal/10) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal sekarang masalahnya metode ru'yat menghasilkan keputusan apa? Prediksi saya, berdasarkan software HomePlanet, maka bulan kemungkinan besar tidak bisa diru'yat. Sama halnya seperti pada tahun kemaren, maka kemungkinan tahun ini, lebaran akan pecah lagi. Ada yang merayakan pada tanggal 12 Oktober 2007, ada yang 13 Oktober 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terbukti nantinya bulan memang tidak bisa di ru'yat, maka bagi para netter, ini info yang semakin meyakinkan untuk bisa menjadikan software gratisan ini sebagai acuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lebaran tahun 2030&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan software HomePlanet, bulan baru masuk 2 Februari 2030 jam 23:09 WIB, artinya pada waktu Maghrib (sekitar pukul 18.00 WIB) hilal belum wujud. Dengan demikian Ramadhan diistikmal dan kemungkinan Ormas yang menggunakan Hisab akan berlebaran tanggal 4 Februari 2030.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan ru'yat? Jika ru'yat dilakukan tanggal 3 Februari 2030 (tergantung penetapan 1 Ramadhan berdasar ru'yat) maka pada saat Maghrib posisi bulan ada di atas Afrika Timur, yang kemungkinan besar bisa di ru'yat dari tempat-tempat di Pulau Sumatra (paling tidak di Aceh). Dengan demikian Lebaran jatuh kemungkinan pada 4 Februari 2030 (sama dengan yang menggunakan hisab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horee kita berlebaran pada hari yang sama.....!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: untuk analisa Idul Fitri tahun 2007 ini silahkan lihat:&lt;br /&gt;http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-6079757934263102901?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/6079757934263102901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=6079757934263102901' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6079757934263102901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6079757934263102901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-39-idul-fitri-tahun-2030.html' title='Topik 39: Idul Fitri tahun 2030'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3692382881005680894</id><published>2007-09-20T08:27:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:54:01.694+07:00</updated><title type='text'>Topik 38: Latihan Surat Al-Ikhlas, Tema: Mashdar</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah dijelaskan dalam topik 37, dan topik-topik sebelumnya, dalam Al-Quran sering kita bertemu dengan Mashdar (kata dasar). Secara tatabahasa apa itu Mashdar? Inya Allah topik ini kan menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mashdar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mashdar arti letterleg (benar gak nulis nya ya...?), adalah sumber. Sumber apa? Ya sumber dari sesuatu. Dalam konteks kata, maka masdhar itu dapat dilihat sebagai sumber dari kata, atau ide kata atau kata dasar. Hmm bingung ya? Oke... kita ambil perumpamaan dalam bahasa kita agar mudah memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya berkata sebuah kata yaitu "penulisan", apa yang terbayang dalam benak Anda? Satu kata "penulisan" itu mengandung banyak ide didalamnya. Contoh: "Saya telah menulis buku dengan pulpen diatas meja". Atau "Saya sedang menulis buku dengan pulpen diatas meja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara "penulisan" dalam konteks contoh diatas ada makna (ide) lain yang bisa timbul:&lt;br /&gt;1. Pekerjaan waktu lampau: telah menulis&lt;br /&gt;2. Pekerjaan saat ini / akan datang: sedang menulis&lt;br /&gt;3. Istilah atau nama pekerjaan: penulisan&lt;br /&gt;4. Pelaku: Saya&lt;br /&gt;5. Sesuatu yang ditulis: buku&lt;br /&gt;6. Tempat menulis: meja&lt;br /&gt;7. Alat menulis: pena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dari satu kata "penulisan" muncul di benak kita setidaknya 7 makna seputar kata "penulisan". Itulah mengapa kita katakan kata "penulisan" itu adalah sumber dari 7 makna tsb. Dengan demikian dapat kita katakan kata "penulisan" itu adalah Mashdar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa, satu kata dalam bahasa Arab dapat melahirkan 7 kata diatas (inilah salah satu "kehebatan" bahasa arab, setidaknya menurut saya). Hanya dengan menghafal satu kata, kita sudah dapat membentuk 7 kata. Contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kerja (akar kata): كتب - kataba (menulis)&lt;br /&gt;1. Pekerjaan waktu lampau: كتب - kataba : telah menulis &lt;br /&gt;2. Pekerjaan saat ini / akan datang:  يكتب - yaktubu : sedang menulis&lt;br /&gt;3. Istilah atau nama pekerjaan: كتبا - katban : penulisan&lt;br /&gt;4. Pelaku: كاتب - kaatibun : penulis&lt;br /&gt;5. Sesuatu yang ditulis: مكتوب - maktuub: sesuatu yang ditulis&lt;br /&gt;6. Tempat menulis: مكتب - maktab : meja&lt;br /&gt;7. Alat menulis: مكتب - miktab : alat menulis (pena)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kaitannya antara Masdhar (kata dasar) dengan akar kata. Nah kadang bagi orang yang baru mulai belajar bahasa arab (seperti saya ini hehe), bisa bingung. Jawaban mudahnya begini. Kalau "penulisan (writing)" adalah kata dasar (Mashdar), maka akar katanya adalah "tulis (to write)". Ya, akar kata adalah kata kerja asli (belum mendapat imbuhan spt awalan, sisipan, atau akhiran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak sedikit ekivalen dengan mashdar dalam bahasa Inggris, yaitu Gerund. Gerund dalam bahasa Inggris, adalah kata kerja yang dibendakan. Contoh: menghantam (to hit), Gerundnya: hitting (penghantaman). Contoh lain: membersihkan (to clean), Gerundnya: cleaning (pembersihan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat maka Masdhar itu secara praktis dapat dikatakan sbb:&lt;br /&gt;pe + kata-kerja-dasar + an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dalam bahasa Inggris, Mashdar itu secara praktis sbb:&lt;br /&gt;verb I (simple present) + ing (contoh, cleaning, hitting, dancing, dsb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya dalam bahasa Arab, Masdhar itu cara membentuknya ada 2:&lt;br /&gt;1. Yang ada polanya&lt;br /&gt;2. Yang tidak ada polanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang 1. kalau kita tahu kata-kerjanya maka dengan mengikuti pola kita bisa membuat masdharnya. Sedangkan untuk yang 2, karena tidak ada pola, maka satu-satunya cara adalah melihat di Kamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh untuk 1, sudah banyak kita jelaskan pada topik sebelumnya. Saya ulangi sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Tauhid, Tarhib adalah Mashdar dengan pola yang sama. Kata Islam dan Ikhlas adalah Masdhar dengan pola yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POLA KKT-2&lt;br /&gt;Kata Tauhid توحيد&lt;br /&gt;Kata Kerjanya (KKT-2): وحد - wahhada (meng-Esa-kan)&lt;br /&gt;Kata Mashdarnya: توحيد - tauhiid (Peng-Esa-an)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Tarhib ترحيب&lt;br /&gt;Kata Kerjanya (KKT-2): رحب - rahhaba (menyambut)&lt;br /&gt;Kata Mashdarnya: ترحيب - tarhiib (penyambutan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola membentuk masdharKKT-1: Tambahkan TA, dan sisipkan YA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POLA KKT-1&lt;br /&gt;Kata Islam إسلام &lt;br /&gt;Kata Kerjanya (KKT-1): أسلم- aslama (menyerahkan diri)&lt;br /&gt;Kata Mashdarnya: إسلام  - Islaamun(penyerahan diri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ikhlas إخلاص&lt;br /&gt;Kata Kerjanya (KKT-1): أخلص- akhlasho(memurnikan)&lt;br /&gt;Kata Mashdarnya: إخلاص  - Ikhlashun(pemurnian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola membentuk masdhar KKT-1: Harokat Alif awal kasroh, dan sisipkan ALIF di sebelum akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kita jelaskan pengertian Mashdar. Insya Allah akan kita lanjutkan dengan Latihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3692382881005680894?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3692382881005680894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3692382881005680894' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3692382881005680894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3692382881005680894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-38-latihan-surat-al-ikhlas-tema.html' title='Topik 38: Latihan Surat Al-Ikhlas, Tema: Mashdar'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8394943457648360594</id><published>2007-09-19T07:34:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:54:31.193+07:00</updated><title type='text'>Topik 37: Latihan Surat Al-Ikhlas</title><content type='html'>Bismillahirrahmaanirrahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Allah SWT, Insya Allah kita akan lanjutkan pelajaran berbahasa Arab. Kita telah menyelesaikan latihan surat Al-Fatihah, kini waktunya kita masuk ke surat Al-Ikhlas. Ada banyak pelajaran pola bahasa Arab yang bisa kita pelajari di surat ini, antara lain al-jumlah al-mufidah (cara membentuk kalimat sempurna), demikian juga mengenai jazm, dan pengertiaan Kaana. Disamping itu kita juga akan mendapatkan &lt;em&gt;vocabulary&lt;/em&gt; (mufrodad) baru, Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, sebelum memulai Latihan, boleh dong saya sedikit menjelaskan keutamaan dari surat Al-Ikhlas ini. Tujuannya agar kita (saya yakin semua orang muslim sudah hafal surat ini) lebih menghayati akan besarnya keutamaan surat Al-Ikhlas ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu pada topik 37 ini rencana saya, hanya akan menyajikan semacam muqaddimah (pengantar) dari Surat Al-Ikhlas ini. Formatnya pertama, saya jelaskan arti kata Al-Ikhlas, bagaimana esensi dari isi surat ini, dan apa keutamaan membaca surat ini. Setelah itu pada topik 38 baru kita mulai dengan Latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Al-Ikhlas الإخلاص&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata Ikhlas dalam bahasa arab adalah mashdar (kata dasar) dari akhlasa أخلص yang artinya memurnikan, sehingga kata ikhlas artinya murni atau kemurnian atau bisa juga pemurnian (mengenai masdhar silahkan baca topik selanjutnya --topik 38). Salah satu arti ikhlas adalah bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. Dr. Hamka dalam tafsirnya, dia mengatakan (dalam redaksi lain), bahwa surat Al-Ikhlas ini menyuruh kita untuk memurnikan ke-tauhid-an kita kepada Allah SWT, sehingga keyakinan itu bersih, tidak bercampur dengan syirik. Disamping itu pemurnian itu juga berarti menyingkirkan semua kotoran-kotoran yang merusak tauhid kita kepada Allah SWT. Demikian menurut Buya Hamka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid توحيد adalah masdhar (kata dasar) dari wahhada وحد   yang artinya meng-Esa-kan, sehingga Tauhid ini maknanya Peng-Esa-an Allah SWT. Artinya Allah itulah Tuhan yang Esa (satu). Dia tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak mempunyai anak. Dia juga tidak dilahirkan, dan tidak ada satupun yang menyerupai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali mengutip Prof. Dr. Hamka dalam tafsirnya, dia mengatakan bahwa, maksud surat Al-Ikhlas mengatakan bahwa: Allah tidak beranak (tidak mempunyai anak), artinya bahwa itulah sifat mutlak Tuhan, yang kekuasaannya abadi. Tidak seperti Raja yang kalau sudah tua, dia perlu mewariskan kekuasaannya kepada anaknya. Sedangkan Allah SWT bukanlah makhluk yang ada batas usianya, sehingga perlu punya anak untuk melanjutkan tugas-tugasnya. Demikian menurut Buya Hamka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keutamaan Surat Al-Ikhlas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan dalam sebuah hadist, bahwa Rasulullah SAW senantiasa membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Kafirun dalam sholat Sunnat Fajar dan Sholat Witir. Hal ini disebabkan kedua surat itu mengumpulkan Tauhid Iman (percaya bahwa Allah itu Esa), dan Tauhid Amal (tidak mengikuti cara beribadah orang kafir). Dalam hadist yang lain dikatakan bahwa surat Al-Ikhlas itu sama dengan 1/3 Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Turmidzi, dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari Abi Hurairah RA, dia berkata: "Aku datang bersama Nabi SAW. Tiba-tiba dia mendengar seseorang membaca "Qul huwaLLAHu ahad". Maka berkatalah beliau SAW: "wajabat وجبت (Wajib)". Lalu akupun bertanya (kepada Rasul SAW): maa wajabat ما وجبت؟ (apa yang wajib)? Rasul menjawab: "Wajib orang itu masuk syurga" (HR. Tirmidzi dia berkata hadist ini Hasan Shohih).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadist lain yang diriwatkan oleh Imam Bukhori, dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari Aisyah RA, dia berkata: "Nabi SAW suatu ketika mengirim patroli kesuatu tempat. Pemimpin patroli itu pada tiap akhir sholat yang dijaharkan (dikeraskan bacaannya) selalu membaca "Qul Huwa Allahu Ahad". Setelah mereka kembali pulang, mereka kabarkan perbuatan pimpinan patroli itu kepada Nabi SAW. Lalu beliau SAW berkata: "Tanyakan kepadanya mengapa dia berbuat begitu?" Lalu merekapun bertanya kepada pemimpin patroli tsb (mengapa selalu menutup sholat dengan membaca Qul Huwa Allahu Ahad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diapun berkata: "Itu adalah sifat dari Tuhan yang bersifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan saya sangat senang membacanya". Mendengar jawaban tsb, Rasulullah SAW pun berkata: "katakanlah kepadanya, bahwa Allahpun senang kepadanya". (HR. Bukhari)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa hal yang dapat kita kutip keutamaan surat Al-Ikhlas. Insya Allah pelajaran topik selanjutnya kita akan latihan menerjemahkan surat ini, dan akan didahului dengan penjelasan tentang mashdar (kata dasar).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8394943457648360594?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8394943457648360594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8394943457648360594' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8394943457648360594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8394943457648360594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-37-latihan-surat-al-ikhlas.html' title='Topik 37: Latihan Surat Al-Ikhlas'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-1758958588095904502</id><published>2007-09-14T07:27:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:55:05.750+07:00</updated><title type='text'>Topik 36: Ramadhon, Shaum, Idul Fitri</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam suasana Ramadhon, dan topik Latihan surat-surat pendek Insya Allah akan kita lanjutkan. Akan tetapi ada yang menarik untuk ditulis pada kesempatan kali ini. Ada 3 hal yang ingin kita bahas (secara bahasa) yaitu: Romadhon, Shaum, dan Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Romadhon رمضان&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Romadhon رمضان di dalam kamus artinya Bulan Romadhon. Akan tetapi jika dilacak ke entry lebih diatas di dalam kamus, kata Romadhon ini akar katanya: romidha - yarmadhu - romdhan ( رمض - يرمض), yang artinya sangat panas, atau sangat terik. Jika dilihat dari sejarahnya, dimana bulan ramadhan ini adalah bulan ke 9 dalam penanggalan kalender Hijriah, maka pada bulan ini menurut beberapa pendapat, dulu di jaman Rasulullah, bulan Ramadhon ini sangat terik sekali. Udara diluar sangat panas. Matahari membakar tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat lain mengatakan bahwa, panas terik (dari akar kata Ramadhon) dengan efek membakar itu, melambangkan bahwa pada bulan Ramadhon ini, waktu untuk pembakaran dosa. Hal ini sesuai dengan keterangan hadist "&lt;em&gt;man shooma ramadhanan imaanan wahtisaaban, ghufiralahu maa taqoddama min dzanbih&lt;/em&gt;" (barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhon dengan keimanan dan perhitungan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tadabburi, sesuatu yang padas membakar itu terkadang membuat sesuatu menjadi lebih baik. Besi dibakar dan dipanaskan, menghasilkan sesuatu yang lebih baik yaitu keris. Dalam proses pemisahan air dan kotoran, terkadang digunakan panas (proses penyulingan). Dan lain-lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kedokteran, puasa itu dapat membakar lemak-lemak yang selama ini menumpuk dalam badan yang berpotensi jadi penyakit. Dengan puasa, nafsu ditahan. Nafsu yang ditahan bisa memberikan efek pembakaran. Akan tetapi yang sukses menahan nafsunya dibulan Romadhon, Insya Allah, akan keluar menjadi orang yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Shoum صوم&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata puasa adalah terjemahan dari kata صام shooma yang artinya menahan, atau melakukan puasa. Kata bendanya menjadi berpuasa disebut الصوم - shoum, dan jamaknya الصيام - shiyam. Orang yang berpuasa disebut shooiman صائم , sedangkan orang-orang yang berpuasa disebut shooimuun صائمون atau shooimiin صائمين (untuk laki-laki) dan shooimaat صائمات(untuk perempuan). Itulah sebabnya, kalau ustadz berdiri di mimbar biasanya memanggil "para shooimin dan shooimat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan akar kata menahan tsb, maka shoum itu menurut ulama adalah menahan dari segala yang membatalkan (yaitu dari segala yang membatalkan ibadah puasa tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Idul Fitri عيد الفطر &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai kita melaksanakan shoum ramadhon selama 29 atau 30 hari, maka datanglah hari raya yang disebut Idul Fitri. Kata 'Iid عيد artinya kembali, sedangkan kata Fitri فطر artinya berbuka (kembali makan). Sebagian berpendapat, kata Idul Fitri artinya kembali dari keadaan menahan dari makan, kepada keadaan yang boleh makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi ada yang memaknai kata Idul Fitri ini dengan Idul Fitrah عيد الفطرة . Kata Fitrah sendiri akar katanya sama dengan Fitri, tetapi makna Fitrah sendiri adalah instink atau kecenderungan atau perangai. Sebenarnya makan (Fitri) adalah bagian dari kecenderungan/instink manusia (Fitrah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memaknai Idul Fitri ini sebagai Idul Fithrah, maka makna perayaan Idul Fitri adalah kembali ke keadaan asli manusia yaitu kembali Fitrah (kembali kepada instink dasarnya). Hal ini sesuai dengan maksud kata Fitrah dalam Ar-Rum:30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maka hadapkan wajahmu kepada Agama ini, dengan hanif; (tetaplah diatas) Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia (dengan fitrah itu).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sebagian pendapat Fitrah (instink) manusia itu terbagi kepada 3 hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Instink untuk membutuhkan agama&lt;br /&gt;2. Instink untuk mencari penghidupan (berusaha)&lt;br /&gt;3. Instink untuk mencari pasangan hidup (nikah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadist juga dikatakan: &lt;br /&gt;كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, bapaknya lah yang menjadikan dia Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi (HR. Muslim)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa hadist diatas mengatakan bahwa setiap manusia itu lahir fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tidak ada pernyataan "orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Islam?". Karena kata الفطرة dalam hadis diatas, maknanya adalah Islam. Fitrah manusia itu adalah Islam. Dengan demikian hadist tsb bermakna: Setiap manusia yang lahir dalam keadaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Insya Allah, dengan mengikuti apa yang telah disyariatkan dalam menjalankan puasa ini disertai dengan keikhlasan, kita bisa kembali kepada Fitrah, atau Idul Fitrah. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam bish-showwab.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-1758958588095904502?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/1758958588095904502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=1758958588095904502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1758958588095904502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/1758958588095904502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-36-ramadhon-shaum-idul-fitri.html' title='Topik 36: Ramadhon, Shaum, Idul Fitri'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4664703635974379</id><published>2007-09-11T09:55:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:55:24.524+07:00</updated><title type='text'>Topik 35: Tarhib dan Targhib Ramadhon</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam ini (11 September 2007), Insya Allah ormas-ormas Islam termasuk Departemen Agama RI, akan melaksanakan ru'yatul hilal. Jika nanti malam hilal terlihat, maka sesuai hadist, Ramadhon akan dimulai besok. Jika tidak maka Ramadhon akan kita mulai tanggal 13 September 2007. Berdasarkan analisis banyak pihak, Ramadhon akan kita laksanakan tanggal 13 September 2007. Hal ini pun sudah saya tulis dalam artikel: &lt;br /&gt;http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyambutan, Pengancaman, dan Pe-cintaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat ini dimana-mana masjid alhamdulillah, acara-acara menyambut Ramadhon semakin marak. Banyak masjid yang mengadakan acara tarhib ramadhon. Ya, Ramadhon adalah tamu agung, yang harus disambut. Telah banyak diceritakan dalam hadist-hadist shohih bahwa shalafus sholih, minimal mempersiapkan Ramadhon jauh-jauh hari sebelum Ramadhon datang. Telah mashyur dikalangan kita doa menyambut Ramadhon sejak dari bulan Rajab dan Sya'ban : "Allahumma baariklana fii Rajaab wa Sa'ban, wa balighnaa Romadhon" (ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhon).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Acara-acara penyambutan ramadhon biasa kita sebut Tarhib Ramadhon. Tapi jangan salah mengucapkan kata Tarhib. Yang benar itu mengucapkan Tarhib dengan "ha pedes" (ح) bukan dengan "ha tebal" (هـ), sebab jika salah artinya bertolak belakang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata Tarhib ترحيب  dengan "ha pedes" adalah kata dasar (masdar) dari kata rahhiba رحب (menyambut). Sehingga arti tarhib (dengan "ha pedes") sendiri karena harus bersifat kata benda, dapat dikatakan sebagai "penyambutan". Tapi bacanya pakai "ha pedes".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata Tarhib ترهيب dengan "ha tebal" adalah kata dasar (masdar) dari kata rahhiba رهب (mengancam). Sehingga arti tarhib (dengan "ha tebal") adalah pengancaman atau ancaman. Tarhib Ramadhon jika dibaca dengan "ha tebal" artinya Ancaman Ramadhon, artinya sesuatu yang membuat orang takut terhadap Ramadhon. Tentulah bukan ini yang dimaksud.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itulah refotnya kalau dari kecil gak dibiasakan dengan pengucapan huruf Arab dengan makhroj yang benar (seperti saya ini hik hik...). Antara "ha pedes" dengan "ha tebal" ternyata merubah arti 180 derjat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata Tarhib yang sangat berdekatan secara lidah orang Indonesia adalah Targhib. Targhib ترغيب adalah kata dasar (masdar) dari kata raghghiba رغب yang artinya mencintai atau menyukai. Sehingga Targhib bila di-Indonesiakan berarti Pen-cintaan atau Penyukaan, yaitu suatu tindakan yang membuat kita suka. Targhib Ramadhon artinya Penyukaan terhadap Ramadhon. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana sholafus sholih ber-Tarhib Ramadhon?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dikisahkan, seorang Tabi'in bernama Ma'la معلى mengisahkan cerita yang kurang lebih intinya sbb: "Dulu para salafus sholih selalu men-dawam-kan (membiasakan) berdoa selama 6 bulan sebelum Ramadhon. Mereka senantiasa berdo'a : Allahumma balighnii ramadhon, Allahumma balighnii ramadhon, Allahumma balighnii ramadhon (ya Allah sampaikan aku ke bulan Ramadhon). Lalu 6 bulan sisanya mereka mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhon". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Subhanallah, jika di tolal para salafus sholih mempersiapkan diri mereka 11 bulan penuh untuk menyambut kehadiran Romadhon. Disamping itu dalam beberapa hadist disebutkan bahwa di bulan Sya'ban mereka memperbanyak membaca Al-Qur'an dan memperbanyak puasa sunnah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semoga ini menjadi motivasi kita untuk lebih meningkatkan penghormatan kita dalam menyambut tamu agung, bulan Ramadhon yang penuh berkah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHON, MOHON MAAF LAHIR BATHIN"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allahu a'lam bish-showwab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4664703635974379?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4664703635974379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4664703635974379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4664703635974379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4664703635974379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-35-tarhib-dan-targhib-ramadhon.html' title='Topik 35: Tarhib dan Targhib Ramadhon'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8025701644976387546</id><published>2007-09-10T09:37:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:55:51.689+07:00</updated><title type='text'>Topik 34: Erosi Makruh dan Sunnah</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika direnungi, masyarakat kita sekarang terkadang telah meng-erosikan makna Makruh dan Sunnah. Kalau tidak boleh meng-klaim masyarakat, setidaknya saya mengakui dalam diri saya sendiri, bahwa selama ini saya meng-erosikan kedua makna kata tsb. Semoga Allah mengampuni saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makruh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata makruh mungkin telah banyak orang yang meng-erosi-kan maknanya. Waktu saya SD, dikatakan bahwa makruh itu artinya sesuatu hal yang jika dikerjakan tidak berdosa, jika ditinggalkan mendapat pahala. Diberi contoh makan sambel jengkol atau pete. Dalam konteks ini, merokok oleh sebagian tokoh Islam dianggap makruh, dan oleh sebagian ulama mutaakhirin (kontemporer), merokok dianggap haram, mengingat penelitian mutakhir yang menjelaskan jenis-jenis racun yang dikandung rokok, berikut dampak-dampak buruk yang ditimbulkannya baik untuk si pengisap maupun untuk lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa kata "makruh" مكروه artinya: yang dibenci. Akar katanya adalah "karuha" كره yang artinya benci. Sebelum belajar bahasa Arab, saya pribadi merasa kata "makruh" itu sesuatu yang ringan-ringan saja ditelinga... Padahal secara bahasa artinya sungguh berat, yaitu sesuatu yang dibenci. Dibenci oleh siapa? Ya dibenci oleh agama ini. Semestinya orang-orang para penikmat rokok (walau mereka sekarang masih "berpegang" pada pendapat bahwa itu perbuatan makruh), sadar bahwa sebenarnya seringan-ringannya pendapat bahwa rokok itu makruh, tetap saja perbuatan itu adalah perbuatan yang dibenci (oleh agama ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran surat Al-Mu'min ayat 14, Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ&lt;br /&gt;-- maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepadaNya, walaupun orang-orang kafir membencinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diayat tsb kata karuha atau kariha yang artinya "membenci" dipakai. "Walau kariha al-kaafirrun" - walau orang-orang kafir membencinya. Terlihat disini, kata karuha atau kariha كره dipakai sebagai bentuk "perlawanan" orang-orang kafir atas perintah beribadat kepada Allah SWT. Terasa berat sekali makna kata karuha/kariha disini. Semestinya kata makruh yang artinya sesuatu yang dibenci, juga kira rasakan dengan "berat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat di kamus arti lain dari karuha - selain benci,  juga berarti perbuatan keji, atau buruk. Artinya makruh itu sama juga dengan melakukan perbuatan keji, atau buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mulai sekarang, sebaiknya kita tidak meng-erosi-kan makna "makruh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunnah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sunnah pun mungkin kita telah banyak erosi-kan. Waktu saya SD, kata sunnah itu disempitkan menjadi sesuatu hal yang jika dikerjakan berpahala, jika ditinggalkan berdosa. Ya itu benar. Itu adalah defisini fiqih. Sunnah kebalikan dari Makruh, secara defisini fiqih. Akibat dari peng-erosi-an tsb, begitu mendengar kata-kata perbuatan sunnah, orang yang mendengarnya yaaa... alakadarnya saja menanggapi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sunnah dalam ilmu hadist disebutkan sebagai sesuatu hal dari Rasulullah SAW yang meliputi perkataan, perbuatan, sifat, dan taqrir (kebolehan) dari Rasulullah SAW. Dalam Al-Quran dikatakan: "laqod kaana lakum fii rasulullahi uswatun hasanan" (sungguh telah ada pada diri Rasulullah contoh teladan yang baik bagi kalian). Artinya semua perbuatan, perkataan, sifat dan taqrir dari Rasulullah itu adalah Sunnah, dan itu adalah contoh yang baik untuk ditiru. Artinya dia bukan hal yang "ringan-ringan" saja. Bahkan para Sahabat RA diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk memegang teguh Sunnah-Sunnah beliau. "Gigitlah Sunnahku dengan gigi gerahammu", demikian Rasulullah perintahkan kepada para Sahabat RA, dengan menggunakan penekanan "dengan gigi gerahammu", ini menggambarkan betapa pentingnya mengerjakan hal-hal yang Sunnah-Sunnah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa kata Sunnah atau Sunnat سنة artinya jalan, tabiat, atau peri kehidupan. Sunnah Rasul artinya jalan yang ditempuh Rasulullah SAW, atau tabiat-tabiat dan peri kehidupan yang ditampilkan Rasulullah SAW. Kata Ahlus-Sunnah, artinya golongan orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah SAW. Sesuai hadist Rasulullah, perkara yang paling minimal untuk kita laksanakan adalah: tidak membenci Sunnah nya. Itulah yang minimal. Kalau tidak bisa atau belum bisa melaksanakan Sunnah, minimal jangan membencinya. Rasulullah SAW bersabda "fa man raghiba 'an sunnatii fa laysa minnii" (barang siapa yang membenci sunnah ku, niscaya dia bukanlah dari golongan ku). Berita paling buruk manalagi bagi seorang muslim, jika seandainya di Yaumil Mahsyar nanti, sewaktu orang-orang berkumpul, lalu kita "diusir" dari Jamaah Rasulullah... "Tidak... engkau bukan jamaah Rasulullah SAW, karena semasa didunia engkau membenci Sunnah nya"... Allahu Akbar... pastilah pada saat itu kesedihan, penyesalan yang luar biasa akan terjadi...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam bish-showwab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- dalam perjalanan Cibubur - Sunter, 10 September 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8025701644976387546?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8025701644976387546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8025701644976387546' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8025701644976387546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8025701644976387546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-34-erosi-makruh-dan-sunnah.html' title='Topik 34: Erosi Makruh dan Sunnah'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4265299169543185369</id><published>2007-09-07T08:02:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:57:16.174+07:00</updated><title type='text'>Topik 33: Mu'jizat</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa mu'jizat معجزة akar katanya adalah عجز - 'ajiza yang artinya lemah dan kata turunannya pertama (KKT-I)nya adalah اعجز - a'jaza artinya melemahkan. Sedangkan kata bentukan dari KKT-I itu, yaitu kata benda pelakunya adalah معجز - mu'jizun atau معجزة - mu'jizat (sesuatu yang melemahkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran disebut mu'jizat bagi manusia karena dia "melemahkan manusia". Salah satu tafsir dari "melemahkan manusia" tidak berarti manusia menjadi lemah, akan tetapi Al-Quran memberitahukan kepada manusia, apa kelemahan-kelemahannya. Salah satu caranya, Al-Quran menantang manusia membuat yang serupa dengan Al-Quran. Dan pasti manusia tidak bisa, karena kelemahan yang terdapat padanya. Di banyak ayat lain, Al-Quran juga mejelaskan bagaimana sifat "lemah" manusia, spt tidak akan mampu menghindari bencana, pasti akan mati, bersifat tergesa-gesa, keluh kesah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu'jizat yang diturunkan kepada Nabi-nabi juga berfungsi untuk "melemahkan" musuh. Karena kata mu'jizat sendiri berasal dari KKT-I (artinya kata kerja yang perlu objek - fi'il muta'addi), maka ada juga pendapat bahwa mu'jizat itu ada, kalau objeknya ada. Salah satu objek mu'jizat Nabi Musa adalah Fir'aun. Sedangkan objek Al-Quran (sebagai mu'jizat) lebih luas lagi yaitu manusia semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai mu'jizat Al-Quran, salah satu "teman virtual saya", seorang yang sudah sepuh berasal dari Madura, Bpk. Ruslan Kailani, mengatakan sbb (saya kutip dari Email dia yang dikirimkan ke saya 29 Agustus 2007):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian ulama berpendapat bahwa mu’jizat Al-Qur’an terletak pada ketepatan dan keindahan bahasanya, dlm struktur yg terjalin rapat (closely-knit unit) dan maknanya yg sangat tinggi/dalam. Ahli bahasa/sastera Arab abad ke-5H/11M, Abd Al-Qahir Al-Jurjani (lahir di kota Jurjan, Persia sekarang) menulis buku yg khusus membicarakan gaya bahasa AQ, menunjukkan kehebatannya yg tak tertandingi, yg telah membuat para penyair/sasterawan di masa Rasulullah Saw terpukau, sedangkah mereka dikenal mempunyai cita rasa sastera yg sangat tinggi. Judul bukunya “Dala’il Al-I’jaz”, sekaligus mendukung tantangan AQ (seperti yg dikutip mas Rafdian), dgn memberikan semacam tolok ukur, standar, bagi mereka yg mungkin meng-klaim bisa membuat ayat yg serupa dgn AQ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jurjani memberikan contoh2 penggunaan kata dan susunan kalimat dari AQ yg mengagumkan, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baqarah:179, “wa lakum fi al-qisasi hayatun”, kata “hayatun” tidak memakai “AL” (definite article), karena yg diselamatkan oleh adanya hukum qisas itu bukan seluruh hidupnya (usianya), melainkan sisanya. Misalnya seseorang yg berpotensi hidup 60 tahun, lalu dibunuh orang pada umur 40, berarti dia kehilangan hidup 20 th. Yg 20 th ini yg diselamatkan oleh hukum qisas (karena pembunuh jadi takut melakukan pembunuhan). Kalau dikatakan “al-hayatun” akan tidak akurat, karena menunjuk pada keseluruhan umurnya (60 th).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huud:44, “wa qila ya ardu ibla’I ma’aki”, setelah itu disebutkan “wa ghida al-ma”. Kata Al-Jurjani secara tepat dan mengagumkan AQ menggunakan bentuk pasif, “maka airpun di-serap”, yg menunjukkan konsistensinya dgn perintahNya kepada bumi agar menyerap airnya, dan bentuk pasif itu menunjukkan dilakukannya (oleh bumi) perintah tsb. Makna dan konsistensi ini tidak akan muncul kalau kalimatnya dlm bentuk aktif  “maka airpun menyerap”. -- Demikian kutipan email Pak Ruslan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam bish-showwab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4265299169543185369?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4265299169543185369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4265299169543185369' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4265299169543185369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4265299169543185369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-33-mujizat-bismillahirrahmanirrah.html' title='Topik 33: Mu&apos;jizat'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-5876389175372181972</id><published>2007-09-03T11:49:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:57:48.261+07:00</updated><title type='text'>Topik 32: ASAL-USUL KURSI</title><content type='html'>Kata "karosi" dalam bahasa Minang artinya "kursi". Misalkan dalam kalimat "karosi tu ampuak bana" (kursi itu empuk banget). Kata "kursi" dan "karosi" dua-duanya diserap ke dalam bahasa Minang dan bahasa Indonesia dari bahasa Arab. Kata "kursi" dalam bahasa Arab maknanya tepat sama dengan "kursi" dalam bahasa Indonesia. Sedangkan jamaknya "kursi" dalam bahasa Arab adalah "karosi". Menarik. Bahasa minang mengambil jamaknya (yaitu "karosi"), sedangkan bahasa Indonesia mengambil tunggalnya ("kursi").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebabnya? Mungkin karena struktur bahasa Indonesia tidak terlalu "peduli" dengan bentuk jamak. Sebagai contoh, "ulama" dalam bahasa Arab artinya adalah orang-orang yang mempunyai ilmu. Sedangkan satu orang yang memiliki ilmu dalam bahasa Arab disebut "alim". Kedua kata tsb yaitu "alim" dan "ulama" dua-duanya diserap ke dalam bahasa Indonesia. Hanya saja, terjadi penyempitan makna pada kata "ulama", dan terjadi pergeseran makna pada kata "alim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu orang yang berilmu (khususnya ilmu agama), sering disebut orang di Indonesia ini dengan istilah "ulama". Padahal di bahasa Arab, kata "ulama" itu dipakai untuk sekumpulan orang yang berilmu. Jadi terjadi penyempitan makna (dari kata untuk banyak orang, menjadi untuk satu orang). Seperti disebutkan: " para ulama sepakat bahwa membunuh itu dosa besar". Kata "para ulama" dalam kalimat diatas maksudnya "beberapa ulama". Kalau mau konsisten dengan kaidah bahasa Arab, semestinya kalimatnya berbunyi "para alim sepakat bahwa membunuh itu dosa besar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "alim" sendiri, yang dalam bahasa Arab adalah bentuk tunggal dari kata "ulama". Di Indonesia kata "alim" ini telah bergeser maknanya. Misal dalam kalimat "dia orangnya alim banget ya…". Maksud "alim" disini adalah "soleh" atau "rajin beribadah". Padahal dalam bahasa Arab, kata "alim" ini artinya "orang yang berilmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi kata serapan dari bahasa Arab, bentukan dari "alim" ini, yaitu "mu’allim" atau kadang hanya dibaca "mualim". Sewaktu saya naik kapal ferry di selat Sunda, biasanya disebutkan, "dalam pelayaran ini kapal ini dikomandani oleh Mualim kapal [sebuah nama disebutkan]". Kata "mu'allim" atau kadang dibaca "mualim" oleh kita, dalam bahasa Arab artinya "orang yang mengajarkan sebuah ilmu" atau "guru". Tampaknya kata "mualim" dalam kasus ini bergeser artinya menjadi "nahkoda kapal".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Indonesia, mungkin terkenal dengan kesabarannya. Sesuatu yang sedikit dianggap banyak. Contohnya, kata "kalimat" dalam bahasa Arab artinya "sebuah kata". Lalu orang kita menyerap kata tersebut dan "membanyakkan" artinya. Jadilah dalam bahasa kita, kata "kalimat" yang di bahasa Arab artinya "satu kata" di Indonesia artinya susunan "banyak kata".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan "seseorang yang punya ilmu" orang kita menyebut "ulama (kumpulan orang berilmu)". Mungkin kita telah menganggap "satu orang yang berilmu" setara dengan "orang-orang yang berilmu". Jadilah kita menyebut "ulama" walau untuk itu hanya untuk satu orang. Dan orang Minang mungkin menganggap: walau baru punya satu kursi, tapi tetap merasa punya "karosi" (banyak kursi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Asal-usul Asli&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "asal-usul" diserap dari bahasa Arab "ushuul" yang artinya pondasi, asal, atau pokok-pokok. Seperti dalam istilah “Ushul Fiqih” yang artinya landasan/dasar-dasar fiqih, atau pokok-pokok fiqih. Dalam bentuk lain (bentuk mufrod atau tunggalnya) kata "ushul" ini menjadi "ashl" yang diserap menjadi "asal". Sedangkan kata "ushuul" diserap menjadi "usul". Oleh orang kita, kedua kata ini diserap dan digandengkan, menjadilah dia “asal-usul”. Mengenai ini mungkin dulu orang-orang kita sewaktu belajar bahasa Arab, cara mereka mengingat adalah dengan mengingat kata tunggal dan jamaknya sekaligus: ashl - ushuul (atau asal-usul). Di kebanyakan tempat pembelajaran Bahasa Arabpun saat ini sepertinya metode ini sering digunakan (yaitu menghafalkan kata tunggal dan digandeng dengan jamaknya sekaligus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "ashl" jika nasab menjadi "ashli" yang oleh kita diserap menjadi "asli". Kadang kita suka berkata : "aslinya rumah ini bersih lho…" ketika mengatakan sebuah rumah yang jorok tidak terurus karena ditinggalkan pemiliknya. Disini makna "asli" mirip dengan kata Arabnya yaitu "ushl" atau "ashl", yaitu asalnya atau pokok dari rumah itu bersih, karena ditinggalkan jadilah dia kotor.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;'Iffah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua kita kadang kreatif. Kata " 'afaf " artinya "pengendalian diri", seperti dalam doa "Allahumma inna nasalukal huda wattuqo...  wal 'afaafa wal ghinaa" yang bermakna: "Ya Allah berilah kami petunjuk, taqwa, pengendalian diri dan kekayaan". Kata " 'afaafa" atau "afaf" yang berarti pengendalian diri diambil jadi nama anak. "Afif" untuk anak laki-laki, "afifah" untuk anak perempuan. Teman saya dari Palembang namanya "apip", ini sama saja dengan "afif". Mungkin orang tuanya dulu berharap dia menjadi orang yang bisa mengendalikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengani doa diatas, saya jadi ingat nasehat orang-orang alim zaman dulu. “Nak... mintalah kekayaan yang banyak ke Allah, tapi jangan lupa dapatkan dulu Afif”. Maksudnya pastilah, bukan “dapatkan dulu suami bernama Afif”, tapi dapatkan dulu kekuatan untuk mengendalikan diri. Dari sini terkandung hikmah yang besar dari doa tsb, mengapa minta “Afaafaa” (pengendalian diri) lebih didahulukan daripada minta harta. Apalah artinya harta banyak, kalau diri tidak bisa dikendalikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata bentukan yang serupa maknanya dangan “afaf” adalah " 'iffah" yang artinya "menjaga kehormatan diri”. Sifat " 'iffah" ini dalam sejarah ditunjukkan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf, sewaktu menolak dengan lembut, tawaran diberikan harta, rumah atau istri dari sahabat Anshor pasca hijrah, untuk membantu perekonomian kaum Muhajirin. Dengan sangat halus dia berkata : "... terima kasih wahai saudaraku atas tawaranmu. Sesungguhnya aku ini pedagang, maka tunjukkanlah aku dimana pasar". Sikap ini mencerminkan sikap yang tidak mentang-mentang, tidak ingin merepotkan orang lain, dan ingin bertumpu pada kekuatan sendiri. Sikap menjaga kehormatan diri ini disebut " 'iffah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa daerah di Indonesia, dialek lokal dicampurkan pada kata " 'iffah" sehingga menjadi "ipah" di Sumatera atau "ipeh" kata orang Betawi. “Ipeeeh…  ini Nya’ Babe cariin  laki si Apip yee…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu  a ’lam bish-showwab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cibubur, 3 September 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-5876389175372181972?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/5876389175372181972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=5876389175372181972' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/5876389175372181972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/5876389175372181972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/09/topik-32-asal-usul-kursi-kata-karosi.html' title='Topik 32: ASAL-USUL KURSI'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-7391850730677426503</id><published>2007-08-22T08:41:00.001+07:00</published><updated>2007-12-10T08:58:25.445+07:00</updated><title type='text'>Topik 31: Latihan Al-Fatihah ayat 7 - Al Maghdhub</title><content type='html'>Bismillahirrahmaanirrahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Kita akan menyudahi pembahasan surat Al-Fatihah. Pada topik 30, ada 3 pembahasan yang perlu dibahas, yaitu an'amta, al-maghdhuub, ad-dhoolliin. An'amta telah dibahas. Berarti topik 31 ini kita akan bahas sisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita akan membahas 2 kata:&lt;br /&gt;al-maghdhuub المَغضُوبِ - orang yang dimurkai&lt;br /&gt;ad-dhoolliin الضَّالِّينَ - orang yang sesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KATA BENTUKAN : ISIM FAA 'IL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu ISIM FAA 'IL اسم الفاعل?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isim Fa'il adalah kata benda bentukan dari sebuah kata kerja. Misalkan dalam bahasa Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kerja: membunuh -- to kill&lt;br /&gt;Pelaku: pembunuh (orang yang membunuh) -- the one who kills (the killer)&lt;br /&gt;Penderita: terbunuh (orang yang dibunuh) -- the one who get killed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, seperti dalam bahasa Indonesia atau Inggris, demikian juga halnya, pola ini bisa diterapkan. Contoh: Pembunuh itu membunuh seekor kucing:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَتلَ القاتلُ القطّةَ- qatala (membunuh) al-qootilu (pembunuh) al qithtoh (seekor kucing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat diatas, terlihat salah satu cara membentuk kata benda pelaku adalah dengan menyisipkan alif di Kata Kerja Dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi: &lt;br /&gt;Kata Kerja Dasar: membunuh قتل - qotala = membunuh. Pembunuh? Gampang sisipkan alif setelah huruf pertama, sehingga menjadi قاتل - qaatilun = pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KATA BENTUKAN: ISIM MAF 'UL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu isim maf'ul اسم المفعول? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isim maf'ul adalah kata benda penderita, yaitu kata yang dibentuk dari sebuah kata kerja. Contohnya membunuh, pelakunya disebut pembunuh, korbannya disebut yang dibunuh. Apa bahasa arabnya orang (sesuatu) yang dibunuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قتل - qotala = membunuh&lt;br /&gt;قاتل - qootilun = pembunuh&lt;br /&gt;مقتول - maqtuulun = (orang/sesuatu) yang dibunuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam contoh kalimat diatas: &lt;br /&gt;Pembunuh membunuh seekor kucing&lt;br /&gt;قَتلَ القاتلُ القطّةَ - qotala al-qootilu al-qiththoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kucing Bisa saya ubah menjadi "sesuatu yang dibunuh":&lt;br /&gt;Pembunuh membunuh sesuatu yang dibuhuh&lt;br /&gt;قَتلَ القاتلُ المقتول - qootala al-qootilu al-maqtuul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OKE,,,, kembali ke LAP TOP,,,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan pola diatas maka kata al-maghdhuub, adalah ISIM MAF'UL (kata benda penderita), dari apa? Dari kata kerja غضب - ghodhoba (murka). Sehingga, didapat pola sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kerja Dasar: غضب - ghodhoba = murka&lt;br /&gt;ISIM FA'IL : غاضب - ghoodhobun = orang yang murka&lt;br /&gt;ISIM MAF'UL: مغضوب - maghdhuubun = orang yang dimurkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kita bahas tentang al-maghdhuub. Karena sudah terlalu panjang, penjelasan Ad-Dhoolin (orang yang sesat) kita bahas pada topik berikutnya, Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-7391850730677426503?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/7391850730677426503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=7391850730677426503' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7391850730677426503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7391850730677426503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/08/topik-31-latihan-al-fatihah-ayat-7-al.html' title='Topik 31: Latihan Al-Fatihah ayat 7 - Al Maghdhub'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-7670892078385896494</id><published>2007-08-21T12:45:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:04:22.328+07:00</updated><title type='text'>Idul Fitri 2007, Akankah Kita Berbeda Lagi?</title><content type='html'>MOHON MAAF KALI INI TOPIK AGAK MELENCENG SEDIKIT. INSYA ALLAH SETELAH INI TOPIK BAHASA ARAB AKAN DILANJUTKAN KEMBALI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah berlebaran pada hari yang berbeda pada tahun 2006. Tahun ini, akankah itu terjadi lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menduga Idul Fitri tahun 2007 ini akan dirayakan pada hari yang berbeda antara Muhammadiyah, dan NU (dan beberapa ormas Islam lainnya). Saya bukanlah ahli astronomi, atau ahli fisika. Akan tetapi dugaan saya tersebut telah “dibuktikan” pada Idul Fitri 2006 dengan menggunakan software astronomi yang dapat diperoleh secara gratis dari Internet. Software tsb dinamakan HomePlanet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2006, secara berkelakar saya sampaikan kepada teman-teman saya jauh-jauh hari sebelum puasa Ramadhon masuk dan menjelang Idul Fitri. Saya sampaikan bahwa “Idul Fitri 2006 ini umat Islam Indonesia akan merayakan lebaran pada hari yang berbeda”. Dan terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini selain mencoba menjelaskan “kenapa terjadi perbedaan hari berlebaran”, sebenarnya lebih saya maksudkan sebagai “tutorial” singkat penggunaan software HomePlanet. Software tersebut dapat didownload secara cuma-cuma di http://www.fourmilab.ch/homeplanet/. Instalasi dan penggunaan software tsb sangatlah mudah. Tidak diperlukan keterampilan atau keahlian khusus dalam penggunaan software itu. Pada bagian akhir tulisan ini dilampirkan Tutorial singkat Instalasi, dan Pengoperasian software ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan kita berlebaran tahun 2007?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja pertanyaan ini saya ajukan diawal, untuk memancing “keingintahuan” pembaca tulisan ini. Jawaban cepatnya sbb:&lt;br /&gt;1. Muhammadiyah  12 Oktober 2007&lt;br /&gt;2. NU dan ormas lain  13 Oktober 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal diatas adalah tanggal perkiraan saya, berdasarkan informasi dari software HomePlanet. Berdasarkan software HomePlanet informasi mengenai masuknya bulan baru adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan baru masuk: 11 September 2007 jam 12:45 UTC&lt;br /&gt;Bulan baru berikutnya masuk: 11 Oktober 2007 jam 5:02 UTC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus pembahasan kita batasi pada 11 Oktober 2007 jam 5:02 UTC atau jam 12:02 WIB, saat dimana bulan lama (Ramadhon) habis dan bulan baru (Syawal) masuk. Sebagaimana diketahui, masuknya bulan baru dalam kalender Hijriah, adalah setelah tenggelamnya matahari atau setelah masuknya malam. Dengan demikian selesai sholat Maghrib tanggal 11 Oktober 2007, sudah dimulai 1 Syawal (dengan asumsi bulan baru masuk jam 12:02 WIB). Dengan demikian, diperkirakan Muhammadiyah akan berlebaran esoknya, yaitu tanggal 12 Oktober 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp9nLQlAZI/AAAAAAAAABE/eIfm4R-Vn7A/s1600-h/gb1.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp9nLQlAZI/AAAAAAAAABE/eIfm4R-Vn7A/s400/gb1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101027639941202322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1. Informasi terbitnya bulan baru pada periode September 2007 – Oktober 2007. Bulan baru masuk pada 05:02 UTC (= 12:02 WIB) 11 October 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp-mbQlAaI/AAAAAAAAABM/Z6-2lv4kvdQ/s1600-h/gb2.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp-mbQlAaI/AAAAAAAAABM/Z6-2lv4kvdQ/s400/gb2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101028726567928226" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2. Posisi bulan pada tanggal 11 Oktober 2007 jam 12:02 WIB (bulan baru ada diatas selat Sunda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan NU? Sebagaimana diketahui NU menggunakan metode Ru’yat (melihat bulan). Bagaimana kondisi bulan pada tanggal 11 Oktober 2007, dapat kita lihat di gambar 2 di halaman sebelum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambar 2 terlihat bahwa pada jam 12:02 WIB tanggal 11 Oktober 2007 posisi bulan (yang baru terbit) berada diatas selat Sunda. Kalau kita berandai-andai melihat bulan pada waktu itu tentu tidak akan terlihat, karena hari sangat terik (jam 12:02 WIB siang). Seperti yang biasa dilakukan, Ru’yat dilaksanakan setelah Maghrib. Oleh karena itu kita bisa bertanya, dimana posisi bulan pada waktu malam datang (setelah sholat Maghrib) pada tanggal 11 Oktober 2007 tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi software HomePlanet, dapat dengan cepat menunjukkan kepada kita posisi bulan saat akan dilakukan Ru’yat pada tanggal 11 Oktober 2007. Dengan meg-klik tombol animasi (gambar 3), posisi bulan saat Maghrib dapat dilihat pada gambar 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp-7rQlAbI/AAAAAAAAABU/FAR7CElfIgg/s1600-h/gb3.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp-7rQlAbI/AAAAAAAAABU/FAR7CElfIgg/s400/gb3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101029091640148402" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 3. Menjalankan Animasi untuk mencari posisi bulan pada waktu Maghrib tanggal 11 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp_QLQlAcI/AAAAAAAAABc/lAGVfTRav7Y/s1600-h/gb4.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp_QLQlAcI/AAAAAAAAABc/lAGVfTRav7Y/s400/gb4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101029443827466690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 4. Posisi bulan pada jam 17:43 (waktu Maghrib di Jakarta) tanggal 11 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat pada gambar 4, jika Ru’yat dilakukan pada 11 Oktober 2007 jam 17:43 WIB, maka kemungkinan besar di daerah Indonesia sudah tidak bisa melihat bulan (bulan tidak bisa di ru’yat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa pada software HomePlanet kita juga bisa mensimulasikan seolah-olah kita sedang berada di bulan lalu kita memandang ke bumi. Perhatikan pada gambar 4, bumi dilihat dari bulan pada 11 Oktober 2007 jam 17:43 WIB, Indonesia sudah tidak terlihat lagi. Yang terlihat paling ujung sebelah kanan adalah India utara atau Afghanistan. Dari tempat-tempat ini lah (India / Afghanistan) kemungkinan bulan masih bisa dilihat dengan ru’yat. Dengan memperhatikan posisi bulan yang sukar di ru’yat pada tanggal 11 Oktober 2007 tsb, maka kemungkinan bilangan bulan digenapkan (istikmal), sehingga ormas Islam yang berpedoman kepada ru’yat ini kemungkinan akan tetap berpuasa pada tanggal 12 Oktober 2007, dan berlebaran pada tanggal 13 Oktober 2007. Allahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan software HomePlanet, tanpa memperhatikan kaidah yang mendetail dalam kriteria penentuan hilal, maka kemungkinan Idul Fitri akan dirayakan pada:&lt;br /&gt;• 12 Oktober 2007 oleh Muhammadiyah &lt;br /&gt;• 13 Oktober 2007 oleh NU dan ormas lain (yang menggunakan ru’yat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penting:&lt;br /&gt;1. Tulisan ini tidak bermaksud sama sekali mendahului keputusan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, keputusan Tim Lajnah Falakiyah PBNU, maupun tim Hisab/Ru’yat Ormas Islam lainnya dalam menentukan Idul Fitri tahun 2007.&lt;br /&gt;2. Maksud tulisan ini hanya sekedar memberikan gambaran bagaimana mudahnya menggunakan software HomePlanet untuk meng-animasi dan memperkirakan letak atau posisi bulan.&lt;br /&gt;3. Jika terdapat kesalahan dalam tulisan ini, penulis mohon saran dan masukannya, dan dikirimkan ke email: ibnurasyid@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 20 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TUTORIAL SINGKAT SOFTWARE HOMEPLANET&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofware HomePlanet adalah software astronomi untuk melihat pergerakan bulan. Software ini dapat di download secara gratis dari Internet. Program ini mensupport system operasi Windows 98 / XP / NT. Berikut langkah singkat untuk mendownload, instalasi, dan pengoperasiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendownload Program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Download program di URL berikut:&lt;br /&gt;           http://www.fourmilab.ch/homeplanet/download/3.3a/hp3full.zip&lt;br /&gt;2. Unzip file hp3full.zip yang telah didownload &lt;br /&gt;3. Folder baru dari hasil unzip akan terbentuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan Program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buka folder dari hasil unzip &lt;br /&gt;2. Cari program file: HomePlanex.exe&lt;br /&gt;3. Jalankan Program tsb&lt;br /&gt;4. Program siap dijalankan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengoperasikan Program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klik atau jalankan program HomePlanet.Exe, akan muncul tampilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqAE7QlAdI/AAAAAAAAABk/3p7JJwk-kuA/s1600-h/gb5.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqAE7QlAdI/AAAAAAAAABk/3p7JJwk-kuA/s400/gb5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101030350065566162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kemudian set waktu untuk penelitian. Contoh, lebaran tahun 2006, Muhammadiyah berlebaran 23 Oktober 2006. Ambil Menu Edit  Set Universal Time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqAu7QlAeI/AAAAAAAAABs/ncuKpN6OHc8/s1600-h/gb6.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqAu7QlAeI/AAAAAAAAABs/ncuKpN6OHc8/s400/gb6.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101031071620071906" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Setelah itu, lihat informasi bulan baru. Ambil menu Display  Sun/Moon Info…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqCObQlAfI/AAAAAAAAAB0/NA9N2i8xr_g/s1600-h/gb7.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqCObQlAfI/AAAAAAAAAB0/NA9N2i8xr_g/s400/gb7.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101032712297578994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bahwa bulan baru jatuh pada 22 Oktober 2006 jam 5:14 UTC atau jam 12:14 WIB. Oleh karena itu pada waktu Maghrib tanggal 22 Oktober 2006 bulan baru telah masuk, sehingga 1 Syawal jatuh besoknya yaitu tanggal 23 Oktober 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk mengetahui posisi bulan pada waktu Maghrib tanggal 22 Oktober 2006, lakukan animasi. Ambil menu Animate (contreng / check), lalu ambil menu Animate  Run . Maka bulan akan bergerak pelan ke arah kiri. Perhatikan matahari juga bergerak (wilayah gelap dan terang bumi bergerak ke kanan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Setelah melakukan langkah no.4 perhatikan posisi bulan pada jam 5:14 UTC (12:14 WIB) dan pada saat Maghrib sekitar jam 9:14 UTC (16:14 UTC)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqCebQlAgI/AAAAAAAAAB8/lRbvS9dueb4/s1600-h/gb8.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqCebQlAgI/AAAAAAAAAB8/lRbvS9dueb4/s400/gb8.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101032987175485954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi bulan pada detik masuknya bulan baru tanggal 22 Oktober 2006 jam 5:14 UTC (12:14 WIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqCxbQlAhI/AAAAAAAAACE/KcxTNIsUvbc/s1600-h/gb9.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqCxbQlAhI/AAAAAAAAACE/KcxTNIsUvbc/s400/gb9.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101033313593000466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat pada sekitar Magrib (18:14 WIB) tanggal 22 Oktober 2006, bulan diatas Afrika Barat, jika ru’yat dilakukan pada jam 18:14 WIB ini maka kemungkinan besar bulan tidak terlihat. Kenyatannya, pada tanggal 22 Oktober 2006 hasil Ru’yat oleh ormas-ormas Islam hasilnya nihil (bulan tidak terlihat). Sehingga tanggal 23 Oktober 2006 digenapkan puasa, dan Idul Fitri jatuh pada tanggal 24 Oktober 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Fitur yang menarik juga adalah melihat Bumi dari Bulan. Ambil menu Display  View Earth From  Moon… akan tampil layar sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqDZ7QlAiI/AAAAAAAAACM/GXUKCPaqfmg/s1600-h/gb10.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RsqDZ7QlAiI/AAAAAAAAACM/GXUKCPaqfmg/s400/gb10.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101034009377702434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terihat bahwa pada jam 18:14 WIB tanggal 22 Oktober 2006 (masuknya bulan baru), maka jika kita berdiri diatas bulan dan memandang ke bumi, kita tidak dapat melihat Indonesia. Dengan demikian diprediksikan, pada saat tsb, Ru’yat akan menghasilkan hasil yang nihil. Kenyatannya, pada tanggal 22 Oktober 2006 hasil Ru’yat oleh ormas-ormas Islam hasilnya nihil (bulan tidak terlihat). Sehingga tanggal 23 Oktober 2006 digenapkan puasa, dan Idul Fitri jatuh pada tanggal 24 Oktober 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : Informasi 1 Syawal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Ru’yat Hisab&lt;br /&gt;2002 6 Desember 5 Desember&lt;br /&gt;2003 25 November 25 November&lt;br /&gt;2004 14 November 14 November&lt;br /&gt;2005 4 November 3 November&lt;br /&gt;2006 24 Oktober 23 Oktober&lt;br /&gt;(Hisab oleh Muhammadiyah, Ru’yat oleh NU dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: berbagai situs di Internet&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-7670892078385896494?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/7670892078385896494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=7670892078385896494' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7670892078385896494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7670892078385896494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html' title='Idul Fitri 2007, Akankah Kita Berbeda Lagi?'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/Rsp9nLQlAZI/AAAAAAAAABE/eIfm4R-Vn7A/s72-c/gb1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8469827152584530276</id><published>2007-08-20T08:13:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:59:19.672+07:00</updated><title type='text'>Topik 30: Latihan Al-Fatihah ayat 7 - KKT 8</title><content type='html'>Bismillahirrahmaanirrahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Kita akan masuki surat Al-Fatihah Ayat 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shiraatha alladziina an'amta 'alayhim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghoiri al-maghdhuubi 'alayhim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ الضَّالِّينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa laa adh-dhoolliin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat 7 diatas terdiri dari 3 potongan kalimat. Pada penutup topik 29, dikatakan kita akan menunda pembahasan shiraath al-mustaqiim. Baiklah kita bahas pada topik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata صراط - shiirath artinya jalan. Jamaknya shuruth صرط . Sedangkan al-mustaqiim المستقيم artinya benar atau lurus. Akar kata al-mustaqiim itu adalah قام - qooma, yang artinya berdiri. Kemudian kata ini mendapatkan tambahan alif sin ta, ingat bahwa tambahan alif sin ta ini menjadikan kata tsb menjadi KKT 8 (Kata Kerja Turunan bentuk ke 8). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar kata قام &lt;br /&gt;KKT-8 استقام istaqooma, artinya berdiri atau menjadi lurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat lagi salah satu aturan dari KKT 8, jika satu kata kerja menjadi KK 8, maka tambahan alif sin ta, dapat diartikan "minta sesuatu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: غفر - ghafara mengampuni&lt;br /&gt;KKT 8: استغفر - istaghfara minta ampun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita terapkan pada kata qooma قام artinya berdiri, maka KKT-8 "bisa" kita asosiasikan dengan "minta berdiri". Nah kok istaqooma artinya berdiri atau menjadi lurus? Bukannya minta berdiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang secara umum (dikebanyakan kasus) tambahan alif sin ta itu (KKT 8) artinya minta sesuatu. Akan tetapi bisa juga arti KKT 8 itu sama dengan arti akar kata nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau dipikir-pikir, "minta berdiri" sangat dengan artinya dengan "berdiri" atau "menjadi lurus" kan? [Badan orang yang berdiri tegak, biasanya lurus kan ya???]. Oh ya perlu diingat disini bahwa KKT 1 s/d 8 kadang-kadang artinya sama dengan arti Kata Kerja Dasar (KKD) nya, atau hanya berbeda sedikit saja, atau bisa berbeda jauh. Dari mana tahunya? Ya tahunya,,, dari kamus. Kita harus rajin-rajin melihat kamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-mustaqiem sendiri, adalah kata bentukan dari KKT 8. Insya Allah selesai topik surat Al-fatihah ini kita akan bahas kata bentukan dari sebuah kata kerja. Kata al-mustaqiem ini merupakan kata bentukan dari استقام istaqooma, yaitu apa yang disebut isim faa'il (kata benda pelaku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita: الصراط المستقيم - ashshiraata al-mustaqiima artinya Jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita masuk ke ayat 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, kata shiraat al-mustaqiim itu diberi penjelasan. Jalan yang lurus yang spt apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shiraatha (jalan) alladziina (yang) an'amta (Engkau telah beri nikmat) 'alayhim (atas mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghoiri (bukan) al-maghdhuubi ((jalan) orang yang dimurkai) 'alayhim (atas mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ الضَّالِّينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa laa (dan tidak (pula)) adh-dhoolliin ((jalan) orang-orang yang sesat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa point disini yang perlu kita bahas agar semakin mengerti yaitu, kata:&lt;br /&gt;انعمت - an 'am ta (Engkau telah beri nikmat)&lt;br /&gt;المغضوب - al maghdhuub (orang yang dimurkai)&lt;br /&gt;الضالين - adh dhoolliin (orang yang sesat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk an'amta Insya Allah dibahas pada topik ini, sedangkan 2 terakhir Insya Allah dibahas ditopik minggu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita lihat kata an'amta انعمت - Engkau telah beri nikmat. Kata ini adalah kata kerja turunan 1 (KKT 1), yaitu انعم - an'ama. Adanya kata تَ diakkhir kata انعم menunjukkan pelaku, yaitu Engkau. Sekaligus peletakan ta ت diakhir tsb, menandakan ini adalah kata kerja lampau (KKL), sehingga diterjemahkan Engkau telah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKT 1 nya adalah انعم an'ama. Apa KKD (kata kerja dasarnya)? Gampang. Buang saja alif diawal (ingat KKT 1 dibentuk dengan menambahkan alif pada KKD). Kalau alif dibuang menjadi:&lt;br /&gt;نعم - na'ama. Di kamus arti na'ama itu adalah senang hidupnya. Diberi contoh:&lt;br /&gt;نعم الرجل - na'ama ar-rajul (laki-laki itu senang hidupnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dilihat bahwa kata "senang" ini jika kita buat KKT1 menjadi "menyenangkan" atau "memberi kesenangan". Dengan demikian kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;انعم - an'ama dapat diartikan: dia telah memberi kesenangan&lt;br /&gt;انعمت - an'amta dapat diartikan: Engkau telah memberi kesenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kata انعمت عليهم - an'amta 'alayhim dapat diartikan: (jalan yang) Engkau telah beri kesenangan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Quran terjemahan biasanya dikatakan : Engkau telah beri nikmat atas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kita akhiri dulu topik 30 ini. Insya Allah akan dilanjutkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8469827152584530276?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8469827152584530276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8469827152584530276' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8469827152584530276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8469827152584530276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/08/topik-30-latihan-al-fatihah-ayat-7-kkt.html' title='Topik 30: Latihan Al-Fatihah ayat 7 - KKT 8'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-4141868613675091762</id><published>2007-08-02T08:17:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T08:59:42.028+07:00</updated><title type='text'>Topik 29: Latihan Al-Fatihah ayat 6 &amp; Mengulang Fi'il Amr</title><content type='html'>Bismillahirrahmaanirrahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Kita akan masuki surat Al-Fatihah Ayat 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اهدِنَــــاالصِّرَاطَ المُستَقِيمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihdinaa ashiraata al-mustaqiema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini terdiri dari 4 kata:&lt;br /&gt;- ihdi : tunjukilah (kata kerja perintah / fi'il amr)&lt;br /&gt;- naa : kami (kata ganti objek / dhomir nashob)&lt;br /&gt;- al-shiroota : jalan&lt;br /&gt;- al-mustaqiema : yang lurus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akan kita kupas satu per satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata اهد - ihdi, adalah kata kerja perintah. Mas... kasih tahu dong, gimana caranya kita tahu itu suatu kata kerja perintah atau bukan. Ada gak cara mudahnya? Hmmm cara mudah belum saya temui, tapi ada ciri-ciri yang biasanya kita temukan, yang mengindikasikan itu kata kerja perintah atau bukan. Apa itu? Yaitu adanya alif yang berharokat kasroh (baris bawah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;اقرأ - iqroo = bacalah! (lihat harokat alif, kasroh)&lt;br /&gt;اجلس - ijlis = duduklah! (lihat harokat alif, kasroh)&lt;br /&gt;استغفر - istaghfir = minta ampunlah ! &lt;br /&gt;dll,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, banyak juga yang tidak sesuai dengan ciri-ciri tsb, spt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اكتب - uktub = tuliskanlah! (harokat alif dhommah)&lt;br /&gt;انزل - anzil = turunkanlah! (harokat alif fathah)&lt;br /&gt;ر - ra = lihatlah ! (tidak ada alif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang diatas tsb, uktuk, anzil, ro, dll, sebenarnya ada rumus-rumusnya. Kala nanti kita ketemu ayat spt itu, Insya Allah rumusnya kita akan bahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke ihdi naa: tunjukilah kami!&lt;br /&gt;Kata اهد - ihdi (fi'il amr) ini berasal dari kata hudaa هدى (KKT) yang artinya menunjuki. KKS nya yahdii يهدى . Sekarang kita bentuk fi'il amr. Ingat lagi pelajaran yang lalu (topik 17 dan 18). Kita praktekkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita latih lagi 6 langkah tsb:&lt;br /&gt;Langkah 1. KKL menunjuki --&gt; هدى hudaa&lt;br /&gt;Langkah 2. KKS menunjuki --&gt; يهدى yahdii&lt;br /&gt;Langkah 3. Buang YA --&gt; هدى hdii&lt;br /&gt;Langkah 4. Harokat akhir matikan --&gt; karena sudah mati, huruf ya dibuang menjadi هد hdi&lt;br /&gt;Langkah 5. Harokat HA sukun --&gt; tambahkan alif --&gt; اهد kemungkinan AHDI, IHDI, atau UHDI&lt;br /&gt;Langkah 6. Karena huruf sebelum huruf terakhir (dari 3 hurufnya, yaitu huruf HA) adalah kasroh, maka yang dipilih IHDI (lihat topik 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah bahwa kata اهد - ihdi adalah kata kerja perintah dari hudaa. IHDI artinya tunjukilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan نا - naa, artinya KAMI (sebagai objek). Dalam bahasa Arab kata ganti yang berfungsi sebagai objek ini disebut dhomir nashob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kita bahas bagian dari ayat 6, yaitu Tujukilah Kami = ihdi naa. Sedangkan al-shiraat al-mustaqiim Insya Allah akan kita bahas pada topik selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-4141868613675091762?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/4141868613675091762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=4141868613675091762' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4141868613675091762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/4141868613675091762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/08/topik-29-latihan-al-fatihah-ayat-6.html' title='Topik 29: Latihan Al-Fatihah ayat 6 &amp; Mengulang Fi&apos;il Amr'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8125849502665818871</id><published>2007-08-01T09:19:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:00:41.933+07:00</updated><title type='text'>Topik 28: Latihan Al-Fatihah ayat 5 &amp; KKT 8</title><content type='html'>Bismillahirrahmaanirrahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Atas ijin Allah SWT kita dapat melajutkan topik Surat Al-Fatihah ini. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada baginda Rasulullah, Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah para pembaca yang dirahmati Allah. Topik 27 kita telah mengakhiri dengan pembahasan ayat 5. Tapi ada bagian yang kita tunda pembahasannya, yaitu membahas wa iyyaka nasta'iin. Insya Allah kita akan membahas kata nasta'iin, pada topik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KKT (Kata Kerja Turunan) bentuk ke 8 (KKT 8)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat-ingat lagi kita sudah pernah membahas KKT 1 dan KKT 2. Nah, Insya Allah sekarang kita membahas KKT 8. Lho lho... Mas Mas... KKT 3 s/d KKT 7 nya kemana? Kok gak dibahas? Nah oke, saya jelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KK - Kata Kerja Asli (KK yang terdiri dari 3 huruf), sebagaimana telah saya jelaskan, dalam bahasa Arab dapat mengalami perubahan. Perubahan ini menyebabkan terbentuk kata kerja baru yang disebut KKT (Kata Kerja Turunan). Yang umum ada 8 bentuk KKT (bentuk KKT sendiri sebenarnya lebih dari 8, ada buku-buku yang menyebutkan sampai 12 macam atau lebih, tapi yang umum 8). Nah kita sudah bahas KKT 1 dan KKT 2. Dari bentuk KKT itu yang sering muncul hanya separonya salah satunya KKT 8. Maka karena dalam surat Al-Fatihah ini kita temukan bentuk KKT 8, maka dari itu dalam topik ini kita loncat saja membahas KKT 8 tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, singkat cerita, KKT 8 itu dibentuk dengan menambahkan ALIF SIN TA kepada KK. Contoh:&lt;br /&gt;غفر - ghofaro : artinya menutupi, atau mengampuni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tambahkan ALIF SIN TA, maka artinya menjadi minta sesuatu. Dengan demikian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إستغفر - istaghfaro (KKL) artinya: minta ampun. Bagaimana bentuk KKSnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk KKSnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يستغفر - yastaghfiru (KKS) artinya: (dia seorang pria) sedang minta ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bentuk perintahnya? Kalau kita menasehati orang: "Hai kamu minta ampunlah!", maka ini sudah kita bahas dulu di topik membentuk fi'il amr 6 langkah mudah (silahkan dilihat-lihat lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk perintahnya: Lihat KKS, buang ya, jika setelah ya dibuang harokat sukun, tambahkan alif. Harokat alif lihat huruf sebelum terakhir, jika fathah, atau kasrah, maka harokat alif kasrah, jika harokat sebelum terakhir dhommah, maka harokat alif dhommah (lihat lagi latihan-latihan sebelumnya membentuk fi'il amr). Jika kita praktekkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- KKS : يستغفر - yastaghfiru&lt;br /&gt;- buang ya, menjadi ستغفر - staghfiru&lt;br /&gt;- harokat sin, sukun maka tambah alif menjadi إستغفر - istaghfir / ustaghfir&lt;br /&gt;- lihat harokat huruf sebelum terakhir, yaitu fa, adalah kasroh, maka menjadi istaghfir : minta ampunlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering berkata: astaghfirullah, astaghfirullah... ini adalah bentuk KKS dengan pelaku saya (ana). Lihat kembali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يستغفر - yastaghfiru : dia minta ampun&lt;br /&gt;أستغفر - astaghfiru : saya minta ampun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan astaghfirullaha: أستغفر الله - astaghfiru Allaha, artinya saya minta ampun (kepada) Allah. Terlihat disini, beda bahasa Arab dengan Indonesia. Dalam bahasa Arab, posisi suatu kata benda itu sudah ditentukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;أستغفر الله - astaghfiru Allaha - maka posisi Allah sebagai Object (sehingga diterjemahkan Aku mohon ampun kepada Allah). Kata "kepada" otomatis ditambahkan untuk memperjelas kedudukan kata Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain: &lt;br /&gt;أذن - adzina: megijinkan&lt;br /&gt;ditambahkan ALIF SIN TA menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إستأذن - ista'dzana : meminta ijin (KKL)&lt;br /&gt;يستأذن - yasta'dzinu : meminta ijin (KKS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kata nasta'iin:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iyyaka na'budu, wa iyyaka nasta'iin. Kata nasta'iin نستعين asal katanya adalah عان atau عون yang artinya menolong. Kalau kita tambahkan ALIF SIN TA menjadi إستعان atau يستعين - yasta'iinu (KKS) yang artinya dia minta tolong. Sedangkan untuk kami minta tolong maka ي tinggal diganti ن sehingga menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نستعين - nasta'iinu : kami senantiasa minta tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penjelasan mengenai KKT 8 ini. Dengan demikian ayat 5:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iyaaka na'budu : kepada Engkau saja kami senantiasa menyambah&lt;br /&gt;wa iyyaka nasta'iin: kepada Engkau saja kami senantiasa minta tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akan kita lanjutkan ke ayat berikutnya dan surat-surat pendek lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8125849502665818871?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8125849502665818871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8125849502665818871' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8125849502665818871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8125849502665818871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/08/topik-28-latihan-al-fatihah-ayat-5-kkt.html' title='Topik 28: Latihan Al-Fatihah ayat 5 &amp; KKT 8'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-5973354883210127803</id><published>2007-08-01T07:51:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:01:09.479+07:00</updated><title type='text'>Topik 27: Latihan Al-Fatihah ayat 5</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada topik 24, kita telah membahas surat Al-Fatihah ayat 4. Dimana pada topik 24 tersebut kita pelajari cara membentuk isim fa'il (kata benda pelaku), dari sebuah kata kerja (fi'il). Baiklah kita lanjutkan dengan ayat 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat diatas terdiri dari 4 bagian: yaitu&lt;br /&gt;iyyaka = kepada Engkau (saja)&lt;br /&gt;na'budu = kami senantiasa menyembah&lt;br /&gt;wa iyyaka = kepada Engkau (saja)&lt;br /&gt;nasta'iin = kami minta tolong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita analisis satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata إياك - iyya ka, terdiri dari dua kata yaitu: iyya dan ka. Iyya adalah kata tugas (harf), dan ka adalah kata ganti orang kedua tunggal laki-laki. Kedua kata ini secara bersama-sama, dalam tatabahasa sering digunakan untuk menjelaskan dhomir munfashil nashob. Munfashil artinya kata ganti (dalam hal ini ka - kamu) yang terpisah kedudukannya sebagai nashob, atau sebagai sesuatu yang dituju. Oh ya sebelum lupa, saya kasih contoh pembagian jenis kata ganti (saya, dia, kamu, dsb) dalam bahasa Arab, ada 3 macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dhomir munfashil rafa' (kedudukannya sebagai subject). Contoh:&lt;br /&gt;Dia membaca - huwa yaqra' هو يقرأ (kata huwa-dia, berkedudukan sebagai subjek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dhomir munfashil nashob (kedudukannya sebagai object). Contoh:&lt;br /&gt;Umar memukul Amir. Jika Amir, kita pakai kata ganti, menjadi:&lt;br /&gt;Umar memukul dia- 'umar dhoraba hu عمر ضربه(kata hu-dia, berkedudukan sebagai objek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dhomir muttashil (kedudukannya sebagai milik). Contoh:&lt;br /&gt;Itu rumah Amir. Jika Amir, kita pakai kata ganti, menjadi:&lt;br /&gt;Itu rumah dia - dzalika baituhu ذلك بيته (kata hu-dia, berkedudukan sebagai milik, artinya milik Amir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kata iyyaka, maka kata iyya ini dalam bahasa kita sering diterjemahkan kepada ... saja. Jadi kalau iyyaka = kepada engkau saja. Kalau iyyanaa إينا= kepada kami saja, iyyaya إيي= kepada aku saja, iyaahu إيه= kepada dia saja, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;na'budu نعبد = kami menyembah. Kata ini adalah kata kerja sedang (KKS), dengan kata-ganti pelaku نحن nahnu = kami. Perhatikan ada huruf nun sebelum عبد. Asal katanya adalah 'a ba da عبد (KKL). Sebagai pengingat, kita ulang-ulang lagi tashrif dari عبد - يعبد sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يعبد - ya'budu = dia (seorang pria) menyembah&lt;br /&gt;أعبد - a'budu = saya menyembah&lt;br /&gt;نعبد - na'budu = kami menyembah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena na'budu ini bentuk KKS, maka lebih bagus kita tambahkan kata senantiasa&lt;br /&gt;نعبد - na'budu = kami senantiasa menyembah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wa iyyaka = dan kepada Engkau saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasta'iin = kami senantiasa minta tolong (dibahas pada topik setelah ini, topik 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ayat ke 5 ini selengkapknya berarti:&lt;br /&gt;kepada Engkau saja kami senantiasa menyembah, dan kepada Engkau saja kami senantiasa minta tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ayat 5 ini telah kita bahas. Sedikit untuk bahan renungan, kita:&lt;br /&gt;Perhatikan dhomir yang dipakai pada ayat 1 s/d 4, kepada Allah, menggunakan dhomir HU (dia). Tetapi pada ayat ke 5 ini, saat kita minta tolong, dhomir untuk Allah, adakah KA (Engkau). Mungkin terdapat rahasia disini, bahwa dalam menyembah Allah dan dalam minta pertolongan kepada Allah kita dianjurkan (bahkan diharuskan) langsung, atau tanpa perantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kedua yang mungkin terdapat dalam ayat 5 ini kemungkinan adalah: perhatikan bahwa pada saat menyembah (dalam sholat) dan minta pertolongan kepada Allah, kata ganti yang dipakan adalah KAMI. Kepada Engkau saja KAMI menyembah, dan kepada Engkau saja KAMI minta tolong. Ini mungkin rahasianya, bahwa kalau bisa sholat dilakukan bersama-sama (berjamaah), demikian juga dalam implementasi ibadah dan permohonan tolong itu, terdapat rahasia hendaklah kaum muslimin ini saling bekerja sama dalam urusan-urusan agama, tidak mengasingkan diri dan bekerja sendiri-sendiri. Allahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan terakhir: kata nasta'ien karena ini ada pengenalan bentuk KKT (Kata Kerja Turunan) bentuk 8, maka kita akan bahas di bab khusus setelah ini. Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-5973354883210127803?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/5973354883210127803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=5973354883210127803' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/5973354883210127803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/5973354883210127803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/08/topik-27-latihan-al-fatihah-ayat-5-seri.html' title='Topik 27: Latihan Al-Fatihah ayat 5'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-2715866293637372281</id><published>2007-07-30T09:11:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:01:57.899+07:00</updated><title type='text'>Topik 26: Surga Tidak Berlari</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita lanjutkan dengan topik latihan Surat Al-Fatihan, ada baiknya kita selingi dengan topik kiriman dari rekan Noor Ihsan sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran, kata surga yang dalam bahasa arabnya 'jannah', disebut sebanyak 65 kali. Dengan kata yang lain, 'jannaat', bentuk plural dari jannah disebut sebanyak&lt;br /&gt;61 kali. Total 126 kali Allah sebut surga di berbagai surat. 32 kali kata surga diikuti kata mengalir sungai di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sekali dalam Yunus : 9, Allah menyebut kata mengalir sungai di bawahnya sebelum kata surga. Jangan sampai kita salah membacanya, maksud saya, usahakan jangan berhenti saat kata tajri, misal '...yudkhilhu jannaatin tajri. min tahtihal anharu khalidiina...'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya akan berubah menjadi '...Dia akan memasukannya ke dalam surga yang berjalan, di bawahnya ada sungai, mereka kekal di dalamnya....'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab, suatu kata yang berasal dari akar yang sama akan memiliki arti dan makna yang dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata islam berasal dari 3 huruf, sin lam dan mim yang memiliki makna asli keselamatan, penyerahan diri. Bentukan kata dari 3 huruf ini akan memiliki arti yang&lt;br /&gt; mirip. Misal, salamah atau keselamatan. Rasul bersabda, Muslim itu adalah orang yang mana muslim lain selamat dari keburukan lisan dan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kata mar'ah (wanita) yang berasal dari ra hamzah alif yang memiliki makna asli melihat. Mar'ah adalah tempat jatuhnya pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kata An-nas (manusia) yang berasal dari kata nun sin alif yang memiliki makna asli lupa. Rasul bersabda manusia tempatnya salah dan lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga kata jannah, berasal dari 3 huruf, jim nun nun yang memiliki makna asli tertutupi atau tersembunyi. Bentukan kata darinya seperti junun (gila), janin, junnah (pelindung), dan jin memiliki arti yang dekat yaitu tertutupi.&lt;br /&gt;Orang gila tertutupi akalnya, janin tertutupi oleh perut, jin tertutup dari pandangan kasat mata manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga pun tertutupi dari manusia, dari matanya, dari akalnya, dari pendengarannya, dari perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasul dalam hadis qudsi dari abi hurairah riwayat Bukhari&lt;br /&gt;: Aku siapkan untuk hambaKu yang shalih apa yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha benar Allah dengan firmanNya&lt;br /&gt;'Falaa ta'lamu nafsun ma ukhfiya lahum min qurrati a'yun'&lt;br /&gt;As-sajdah : 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-2715866293637372281?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/2715866293637372281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=2715866293637372281' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2715866293637372281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2715866293637372281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/07/topik-26-surga-tidak-berlari-seri.html' title='Topik 26: Surga Tidak Berlari'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-2679139414910105152</id><published>2007-07-30T09:03:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:02:26.854+07:00</updated><title type='text'>Topik 25: Mari Berbahasa Nabi</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah surat dari seorang teman (namanya Noor Ihsan Jundulloh), ajakan untuk lebih giat belajar bahasa Arab. Saya kutipkan untuk kita semua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Nabi Muhammad masih hidup di sisi kita, siapakah yang bisa bercakap-cakap dengan beliau tanpa perantara? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya para sahabat, tabi'in, Imam mazhab, dll, dibangkitkan oleh Allah hari ini, siapakah yang akan mudah berbincang-bincang dengan mereka dan mendapat pengajarannya secara langsung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, jawabannya adalah orang yang mengerti Bahasa Arab. Karena, bahasa yang mereka gunakan, sama dengan bahasa yang ada saat ini. Tidak berubah. Khususnya bahasa Arab resmi/fusha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arab sendiri artinya adalah padang pasir, tanah gundul, gersang. Hal yang wajar ketika penamaan yang diberikan pada sesuatu sesuai dengan kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Arab punya sifat isytiqoqiyah (bentukan). Maksudnya, suatu kata terbentuk dari kata lain yang memiliki asal yang sama. 'Asal' di sini bisa dibaca susunan&lt;br /&gt;huruf yang sama. Sehingga, dalam kesehariannya, bahasa Arab lebih siap menghadapi perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, dulu pesawat belum ada. Mobil belum ada. Penamaan kata pesawat, diambil dari kata 'thaa ra' yang artinya terbang. Pesawat sendiri dalam bahasa Arab&lt;br /&gt;disebut thaa i rah, artinya sesuatu yang terbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berbeda jauh dengan burung yang dalam bahasa Arabnya disebut thaa ir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan mobil. Bahasa Arabnya sayyarah. Diambil dari kata saa ra yang memiliki asal kata yang sama dengan sirah, yang artinya perjalanan. Sayyarah pelaku dari kata sirah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh-contoh lain yang bisa kita sebutkan nanti. Beberapa kata dari Bahasa Arab juga sudah menjadi kata dalam Bahasa Indonesia, alhamdulillah. Ketika awal mula mempelajari bahasa Arab seperti ini, seorang teman pernah berkata, 'bahasa kita ini unik ya,'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'unik gimana?' tanya saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'orang Inggris bilang camel, orang Arab bilang jamal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ga beda jauh kan? Lha, di kita jadi onta.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'trus' katanya, 'orang Inggris bilang cat, orang Arab bilang qittun, ga beda jauhkan? Di kita jadi kucing.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'unik kan?' katanya dengan semangat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-2679139414910105152?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/2679139414910105152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=2679139414910105152' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2679139414910105152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2679139414910105152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/07/topik-25-mari-berhabasa-nabi-seri.html' title='Topik 25: Mari Berbahasa Nabi'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-661953909825975456</id><published>2007-07-30T08:05:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:02:51.940+07:00</updated><title type='text'>Topik 24: Latihan Al-Fatihah ayat 4</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, ditengah kesibukan saya, saya teruskan untuk membahas ayat 4. Alhamdulillah juga ada akhi dari Jawa Timur, yang mengatakan mengikuti dari topik 1 sampai 23. Senang rasanya, tulisan saya ada yang membaca. Saya teringat hadist Riwayat Muslim: Rasulullah SAW bersabda, siapa yang berbuat kebaikan, dia akan dapat pahala. Dan jika kebaikan itu dicontoh/dikerjakan orang, dia akan mendapat pahala dari orang itu, tanpa mengurangi pahala buat orang itu. Subhanallah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita lanjutkan ke pelajaran berikutnya ayat 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eitt kok ayat 3 dilewati Mas? Oh iya, sengaja, karena ayat 3 itu bagian dari ayat 1. Arrahmaan Arrahiem. Jadi pembahasannya sama dengan ayat 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ  - maaliki yaumi ad-dien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah kita bahas satu-satu ya... Oke..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata مالك : yang memiliki. Asal katanya ملك - malaka artinya memiliki. Hmmm... Kata ini sepertinya diserap ke bahasa Indonesia ya... Coba lihat kata ملك - malaka, ini adalah kata past tense (KKL), sedangkan KKSnya يملك - yamliku, kalau ya kita buang maka menjadi mlik, di bahasa Indonesia disebut milik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke ملك -malaka, ini adalah kata kerja yang artinya memiliki. Nah, kita disini akan mempelajari membentuk kata-benda pelaku dari sebuah kata kerja. Dalam bahasa Arab ini disebut isim fa'il. Gimana caranya Mas? Insya Allah guampaaang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke caranya:&lt;br /&gt;1. Jika kata kerjanya 3 huruf, maka&lt;br /&gt;2. Tambahkan alif setelah huruf pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dah... gampang kan... Contoh kata: نصر - nashoro (artinya menolong). Orang yang menolong? Guampang... tambahkan saja alif setelah nun, menjadi ناصر - naashirun, atau naashir (orang Indonesia sering menyebut nasir)... eh jadi ingat teman saya waktu SMA, namanya Nasir. Dulu saya suka manggil dia: Nasir, Nasir, darimana aja elo [pakai bahasa minang tentunya...] (sekarang setelah belajar bahasa Arab, jadi ingat dia... Pantesan ya si Nasir itu dulu suka menolong saya). Kalau yang menolong naashir, kalau orang yang ditolong apa dong? Insya Allah guampang juga. Tinggal tambahin mim didepan nun pada نصر dan tambahkan waw sebelum ro. Jadinya منصور - manshuurun (orang yang ditolong). Nah kalau ingat Mansur ini ingat penyanyi zaman saya SMP dulu. Sekarang kita jadi tahu ya... bahwa nasir sama mansur itu 2 orang dalam satu kejadian. Satu penolong (nasir), satu yang ditolong (mansur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh, kembali ke MALIK... kalo gitu kata kerja ملك -malaka, artinya memiliki. Kalau saya buat seseorang yang memiliki berarti saya tinggal tambah alif setelah م yang menjadi مالك - maa li kun (orang/sesuatu yang memiliki). Oh gitu... hmmm... tapi Mas kok bacanya maalikun? Kok gak maalakin, maalukun, maalikan, dll?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm ini sebenarnya ada topik yang membahasnya, sebutlah topik tinggat Advance gitu deh.... Tapi biar gak pusing, gini saya saya kasih ciri-cirinya:&lt;br /&gt;1. Kata kerja 3 huruf, setelah ditambah alif, maka harokatnya adalah:&lt;br /&gt;2. Huruf kedua (setelah alif) adalah kasroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang betul maalikun, bukan maalakun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Lalu kenapa maalikun, bukan maaliku? Nah ini ingat lagi pelajaran awal-awal mengenai isim (kata benda). Aslinya kata benda itu, akhirannya dhommahtain (akhiran un). Sedangkan jika dia mendapatkan tambahan alif lam المالك , maka akhirannya dhommah, sehingga dibaca al-maaliku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, balik lagi ke ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 3 kata disini. Ke 3 nya kata benda (isim). Yaitu: maaliki yaumi addien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata maaliki artinya yang memiliki. Lho, katanya yang betul maalikun. Kok sekarang jadi maaliki. Nah, ada 2 sebab kenapa maalikum menjadi maaliki:&lt;br /&gt;1. Perhatikan, karena huruf kaf berharokat kasroh (mali- ki), maka kita mencurigai ada huruf jar di depannya. Artinya ayat ini merupakan lanjutan ayat sebelumnya yang ada huruf jarnya. Kalau dilihat ayat sebelumnya ada huruf jar Li pada Lillahi rabbil 'aalamin. Inilah yang menyebabkan kata maalikun menjadi maalikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perubahan dari maalikin menjadi maaliki, karena kata ini merupakan kata majemuk (mudhof). Ingat rumus mudhof sbb:&lt;br /&gt;KB1 (tidak pakai tanwin) + KB2 (alif-lam+kasroh)&lt;br /&gt;Contoh: Rasul (milik) Allah = Rasulu Allahi atau dibaca Rasulullah.&lt;br /&gt;رسول الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan dibaca Rasulun Allahi, atau Rasuulun Allaha, dsb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kembali lagi ke ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaliki = yang memiliki&lt;br /&gt;yaumi, berasal dari yaumun artinya hari. Menjadi yaumi, karena dia mudhof-ilah (bagian dari kata majemuk).&lt;br /&gt;Ad-dieen, berasal dari daa-na yang berarti tunduk, sedangkan kata bendanya ad-dien, artinya agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan harokat terakhir juga kasroh, karena dia ini mudhof-ilaih (bagian dari kata majemuk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ayat ke 4 ini jika diterjemahkan:&lt;br /&gt;(2&amp;3:segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang Rahman, yang Rahim), yang memiliki hari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-agama ini menurut ahli tafsir, artinya hari pembalasan. Hari dimana waktu itu manusia akan dibalas semua amal-amalnya. Hari pembalasan ini juga disebut, yaumul-qiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dsb. Masya Allah, bagaimana ya nasib kita nanti dihari ad-dien ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam. Insya Allah kita lanjutkan nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-661953909825975456?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/661953909825975456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=661953909825975456' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/661953909825975456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/661953909825975456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/07/topik-24-latihan-al-fatihah-ayat-4-seri.html' title='Topik 24: Latihan Al-Fatihah ayat 4'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-8604539365467236714</id><published>2007-07-20T08:32:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:04:49.505+07:00</updated><title type='text'>Topik 23: Latihan Al-Fatihah ayat 1 &amp; 2</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, kita perlu memperbanyak latihan dan saat ini mengurangi tempo untuk teori. Dan menurut sebagian orang, lebih baik latihannya dari surat-surat pendek yang biasa dibaca dalam sholat. Agar hafalan kita nambah dus, pengertian kita terhadap surat tsb menjadi lebih baik (karena bisa menerjemahkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke baiklah... Insya Allah kita mulai dengan surat Al-Fatihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم bismi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bi ب : dengan. Ini adalah huruf jar (kata depan). Ingat di topik-topik awal, kata setelah huruf jar adalah kata benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;smi سم : asal katanya dari samaa سما (memberi nama), dan kata bendanya ismun إسم yang artinya nama. Mestinya ب dengan إسم menjadi بإسم bi-ismi, tapi karena huruf jar ب maka hamzahnya lebur, sehingga menjadi بسم bismi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti bismi? Bi = dengan, smi = nama, dengan demikian bismi = dengan nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya ingat lagi sifat huruf jar, yaitu dia menasab-kan (istilah me-nasabkan ini sering dipakai dalam tatabahasa arab, yang artinya membuat harokat huruf akhir menjadi kasroh (baris bawah)). Dengan demikian, yang benar membacanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bismi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan bismu, atau bisma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata selanjutnya: الله . Sehingga بسم الله artinya dengan nama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya perlu dilihat disini harokat terakhir dari Allah, adalah kasroh. Dengan demikian dibaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan bismillahu, atau bismillaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ingat lagi (sudah dibahas ditopik kata majemuk), bahwa kalau 2 kata benda bertemu dan kata benda kedua berharokat kasroh, maka 2 kata itu adalah kata majemuk (dalam bahasa Arab disebut Mudhof).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, jadi bismillahi, artinya dengan nama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita urutkan dari asal-asal katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ب إسم الله bi ismi Allahi, dibaca: bismillahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita baca bismillahu? Dalam bahasa arab jika kata benda berharokat dhommah, maka dia menjadi pelaku. Sehingga kalau kita baca: Allahu, dalam bismillahu, maka artinya akan berobah, dimana Allah menjadi subject dan bismi menjadi prediket. Dengan demikian arti dari bismillahu, adalah Allah untuk nama, atau Allah dengan nama. Inilah fungsi i'rob dalam tatabahasa Arab, karena salah i'rob (harokat akhir) akan merubah arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arrohman, lihat ada alif lam, tandanya ini kata benda. Arrohiim, juga ada alif lam, tandanya ini kata benda. Hal kedua adalah, i'rob (harokat akhir) arrahmaan dan arrohiem adalah kasroh, sehingga ditulis arrahmaani, bukan arrohmaanu, atau arrohmaana. Dan arrahiemi, bukan arrahiemu, atau arrahiema. Apa artinya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan sebelum arrohman ada kata Allah, yang juga kasroh. Ini berarti kata - kata ini adalah kata kata majemuk (mudhof)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tatabahasa arab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ب إسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat diatas hanya terdiri dari 2 pola:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf jar ب + Mudhof إسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arrohmaan berasal dari kata رحم rohima: mengasihi&lt;br /&gt;Arrohiem berasal dari kata yang sama dengan arrohmaan, yaitu رحم : mengasihi, atau memberi ampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi karena ada tambahan alif dan nun pada Arrohmaan, maka artinya berubah, menjadi sifat yang maha, artinya الرحمان artinya Maha Pengasih. Dan kata Arrohiem, karena ada tambahan ي maka artinya berubah menjadi sifat yang extensif dan terus menerus, yang sering diartikan Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kita telah selesaikan latihan menerjemah Surat Al-Fatihah ayat 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita masuk ke ayat 2:&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata الحمد alhamdu. Asal katanya adalah حمد hamida yang artinya memuji. Ada alif-lam berarti dia adalah kata benda. Kata حمد ini mempunyai masdar (kita belum pelajari ini) hamdun, yang artinya pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata lillahi, لله , ini terdiri dari 2 kata, yaitu ل li (yang artinya untuk atau kepunyaan/milik) dan الله Allah. Seharusnya tertulis ل الله tetapi karena alif lebur ke li, maka menjadi ل لله dan karena li lebur kepada lam pada kata Allah, maka menjadi لله lillahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa ل li adalah huruf jar. Sesudah huruf jar, adalah kata benda. Sehingga lillahi artinya untuk Allah, atau kepunyaan Allah. Sehingga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله alhamdu lillahi artinya segala puji milik Allah, atau segala puji untuk Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ada kata (segala)? Al-hamdu sendiri artinya pujian atau puji. Tetapi karena ini dilekatkan kepada Allah, maka maknanya meliputi semua hal pujian. Oleh karena itu Alhamdulillah biasa diterjemahkan segala puji milik Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رب العالمين rabbul 'aalamien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رب  rabbu artinya Tuhan. العالمين berasal dari عالم yang artinya alam (karena ada tambahan ين maka artinya sesuatu yang banyak, atau sangat luas atau sering disebut semesta alam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa rabbu al-'aalamien ini juga kata majemuk (mudhof).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pola kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين  menggunakan pola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subject (الحمد) + keterangan (لله) + keterangan (رب العالمين)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tanda-tanda subject? Berulang kita katakan bahwa tanda Subject adalah adanya i'rob Dhommah. Lihat Alhamdu, bukan al-hamda, atau al-hamdi. Tandanya Al-Hamdu ini adalah Subject.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ayat ke 2 ini: Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah kita akan lanjutkan ayat berikut dan diteruskan dengan latihan surat-surat pendek lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-8604539365467236714?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/8604539365467236714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=8604539365467236714' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8604539365467236714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/8604539365467236714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/07/topik-23-latihan-al-fatihah-seri.html' title='Topik 23: Latihan Al-Fatihah ayat 1 &amp; 2'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-6511564290700265816</id><published>2007-07-10T11:40:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:06:00.144+07:00</updated><title type='text'>Topik 22: KKT I, dan KKT II</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah menyelesaikan bentuk KKT I. Dan dampak dari KKT I itu yaitu lahirnya pola DSK. Kita review sedikit ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKT I, yaitu bentuk Kata Kerja Turunan I. Bentuk ini didapat dengan menambahkah Alif didepan. Contoh yang sering kita bawa adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKD (Kata Kerja Dasar): nazala, artinya turun. KKT I nya adalah anzala, artinya menurunkan. Perhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKD نزل - nazala: turun&lt;br /&gt;KKT I   أنزل - anzala: menurunkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi dari KKT I ini adalah membuat kata yang tidak perlu objek menjadi perlu objek. Ingat kembali, kata "turun" adalah kata kerja tidak perlu objek. "Saya turun". Tapi kata "menurunkan" perlu objek. "Saya menurunkan buku, dari rak dilantai 2". Kata "buku" adalah objek dari kata "menurunkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita flash-back lagi, bentuk KKT I ini dalam bentuk kata kerja lampau (KKL), sedangkan bentuk kata kerja sedang (KKS) nya berpola DSK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;KKT I, bentuk KKL: أنزل - anzala: dia (telah) menurunkan&lt;br /&gt;KKT I, bentuk KKS: ينزل - yunzilu : dia (sedang) menurunkan --&gt; Pola DSK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang fokus kita adalah KKT II, yaitu bentuk Kata Kerja Turunan jenis ke dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKT II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ini adalah bentuk yang secara fungsi hampir sama dengan KKT I, yaitu menjadikan kata kerja yang tidak perlu objek menjadi objek. Contohnya di Al-Quran surat 2 ayat 97, yaitu kata nazzala, yang artinya sama dengan anzala yaitu menurunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kata أنزل - anzala: menurunkan, dalam bentuk KKT I, bisa juga نزّل - nazzala: menurunkan, dalam bentuk KKT II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya sama, sama-sama menurunkan (sesuatu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah telah kita bahas sepintas bentuk KKT II. Ingat KKT II ini dibentuk dengan cukup mudah, yaitu, kata kerja dasar (KKD) 3 huruf, maka huruf kedua di tasydid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akan kita lanjutkan topik ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-6511564290700265816?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/6511564290700265816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=6511564290700265816' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6511564290700265816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/6511564290700265816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/07/topik-22-kkt-i-dan-kkt-ii-seri-belajar.html' title='Topik 22: KKT I, dan KKT II'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-2488634061324710257</id><published>2007-06-22T14:43:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:04:22.874+07:00</updated><title type='text'>Topik 21: MUSLIM dan Pola DSK</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali kita bertemu dengan pola-pola DSK di Al-Quran. Sebut contoh: muslim (orang yang tunduk), mu'min (orang yang beriman), mufsid (orang yang merusak), mundzir (orang yang memberi peringatan). Itu semua yang didepannya diawali oleh huruf Mim, yang merupakan ciri-ciri kata-benda orang (kata benda pelaku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kata kerja sedang (KKS) yang berpola DSK, seperti: yuslim (sedang tunduk), yu'min (sedang beriman), yufsid (sedang merusak), yundzir (sedang memberi peringatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan surat Al-Baqaroh ayat 1 - 12. Semua kata-kata itu Anda temukan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berpola DSK. Apa itu pola DSK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola DSK adalah pola yang harokat huruf pertama Dhommah, huruf kedua Sukun, huruf ketiga Kasroh. Ya, Dhommah, Sukun, Kasroh (DSK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ambil contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RpL6MiGxZrI/AAAAAAAAAA8/BZVByBNi-jE/s1600-h/aslama.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RpL6MiGxZrI/AAAAAAAAAA8/BZVByBNi-jE/s320/aslama.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085402022475294386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disitu terlihat apa yang saya maksud DSK. Lihat, lingkaran-lingkaran kecil warna merah. Lingkaran pertama untuk D (dhommah), lingkaran kedua untuk S (Sukun) lingkaran ketiga untuk K (Kasroh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pentingnya DSK? Ini saya kasih bocorannya ya... hihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama bahwa jika Anda ketemu DSK, misalkan kata: yuslim -Kata Kerja Sedang KKS(dia tunduk), atau muslim ISIM-kata benda (orang yang tunduk), maka jika ketemu DSK seperti ini ingat-ingatlah pesan "guru":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai anak-ku jika kamu menemui pola DSK, maka sebenarnya akar katanya sudah mendapat tambahan Alif"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah Anda sebagai anak yang baik, membaca-baca lagi buku, apa sih maksud "guru". Setelah Anda baca-baca buku pelajaran bahasa Arab, Anda jadi mengerti. Maksud Pak Guru sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh: kata muslim. Terdiri dari 4 huruf kan: mim, sin, lam, mim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar katanya adalah: sin lam mim (sa-li-ma) سلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamus, kata salima itu artinya: selamat, sentosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Anda buru-buru mengambil kesimpulan, ooh kalau begitu kata muslim (ada tambahan mim), artinya orang yang selamat, atau orang yang sentosa (bahagia). Nah ini kesimpulan anda terlalu terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang betul itu, seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dapatkan kata:&lt;br /&gt;مُسْلِمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim. Lihat harokatnya: DSK kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu cari akar katanya: - buang mim di depan, menjadi: sin lam mim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cari di kamus, kata sin-lam-mim. Di kamus anda akan ketemu kata SALIMA artinya selamat, sentosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena muslim itu DSK, maka Anda harus mencari di kata ALIF SIN LAM MIM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah pentingnya pola DSK. Artinya apa? Artinya, untuk tahu arti kata muslim, anda cari di kata &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أسلم aslama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamus anda ketemu kata tsb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أسلم aslama, artinya: menyerah, atau tunduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian orang yang menyerah, atau orang yang tunduk disebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مسلم muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira Anda mengerti gak? Saya ulangi. Kalau ketemu di Al-Quran, suatu kata baik dia kata benda, atau kata kerja yang punya pola DSK, maka jangan Anda kira, maksud kata tsb adalah akar kata 3 huruf nya, tapi akar kata 3 huruf plus Alif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bandingkan:&lt;br /&gt;سلم - salima: dia selamat, atau dia sentosa&lt;br /&gt;أسلم - aslama: dia tunduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda kan... antara selamat, dengan tunduk... Maka kata bentukan dari أسلم - aslama, itu juga merujuk kepada makna : tunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah tunduk: أسلمت - aslamtu&lt;br /&gt;Aku selalu tunduk: أسلم - uslimu&lt;br /&gt;Dia telah tunduk: أسلم - aslama&lt;br /&gt;Dia selalu tunduk: يسلم - yuslimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dst...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kita jelaskan pola DSK, dimana pola ini bermanfaat mana kala Anda, ingin mencari tahu arti kata di kamus. Sebagai penutup, kita beri contoh: kata mufsiduun. Perhatikan kata ini akar katanya: fasada. Tetapi karena kata bentukannya mufsiduun, berpola DSK, maka Anda harus mencari di kamus arti mata mufsiduun itu pada kata أفسد - afsada, bukan di kata فسد . Artinya, kalau ingin tahu apa arti kata mufsiduun, carilah di entri kata afsada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akan kita lanjutkan pada topik berikutnya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-2488634061324710257?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/2488634061324710257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=2488634061324710257' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2488634061324710257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/2488634061324710257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/06/topik-21-muslim-dan-pola-dsk-seri.html' title='Topik 21: MUSLIM dan Pola DSK'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RpL6MiGxZrI/AAAAAAAAAA8/BZVByBNi-jE/s72-c/aslama.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3963536743525379597</id><published>2007-06-15T13:37:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:07:48.703+07:00</updated><title type='text'>Topik 20: FASADA atau AFSADA? NAZALA atau ANZALA?</title><content type='html'>Bismillahirrahmaanirrahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah... topik yang lalu pertanyaan ini sudah dimunculkan. Kita bahas dalam topik ini ya... Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah disinggung sedikit, hampir semua kata kerja dalam bahasa Arab terdiri dari 3 huruf. Beda dong ya sama bahasa Indonesia. Kata kerja "mempersatukan" dalam bahasa kita "asal" katanya (root) adalah satu (4 huruf). Kata "satu" ini mendapat awalan mem-per dan akhiran an. Banyak sekali orang asing yang sangat kesulitan dengan aturan imbuhan (awalan + akhiran) dalam bahasa Indonesia ini. Misalkan dalam tata bahasa Indonesia disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;me-xx-kan : membuat sesuatu menjadi xx&lt;br /&gt;memper-xx-kan : membuat sesuatu menjadi saling ber-xx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, &lt;br /&gt;me-satu-kan atau menyatukan (asimilasi) : membuat sesuatu menjadi satu&lt;br /&gt;memper-satu-kan : membuat sesuatu saling bersatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam bahasa Arab kata kerja juga mendapat imbuhan yang merubah arti. Dalam bahasa Arab proses penambahan imbuhan ini baik berupa awalan, sisipan, atau akhiran akan membentuk kata kerja baru yang disebut Kata Kerja Turunan (KKT). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 12 jenis kata kerja turunan dalam bahasa Arab, akan tetapi yang paling sering digunakan hanya ada 8. Insya Allah kita akan bahas satu persatu nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke biar gak bertele-tele kita akan kasih satu contoh. Kata kerja NAZALA نزل adalah kata kerja dasar (kadang disebut juga kata kerja asal, atau root word).  NAZALA نزل artinya turun. Harap diingat lagi pelajaran-pelajaran sebelumnya yaitu kata kerja asal selalu bentuknya past tense dengan pelaku Dia laki-laki.Kita sudah jelaskan mengenai hal tersebut pada topik KKL (kata kerja lampau). Silahkan baca-baca lagi topik 1 s/d 5. Dengan aturan ini maka NAZALA نزل arti harfiahnya Dia turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya sebelum lupa, salah satu keunikan bahasa Arab adalah bahwa pada suatu kata kerja, pasti melekat siapa pelakunya. Contoh NAZALA artinya turun. Siapa pelakunya? Karena ini kata kerja asal (root) maka pelakunya adalah Dia laki-laki. Bagaimana kalau pelakunya saya, misalkan dalam kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"saya turun". Bahasa arabnya NAZALTU نزلتُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan: saya turun (2 kata) dalam bahasa arab hanya menjadi satu kata NAZALTU (inilah salah satu alasan mengapa terjemahan buku bahasa arab ke bahasa Indonesia menjadi lebih tebal dari buku aslinya).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kembali ke topik utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya mau katakan "dia turun", maka kata turun disini tidak memerlukan objek. Beda kasusnya kalau saya sebut "dia makan", maka kata makan disini butuh objek (penderita). Saya bisa mengatakan "dia makan nasi". Kata nasi disini adalah objeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu kata kerja dapat kita bagi menjadi kata kerja yang perlu objek dan kata kerja yang tidak perlu objek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kalau saya bertanya,bagaimana teknik mengubah kata kerja yang tidak perlu objek menjadi kata kerja yang perlu objek?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengubahan ini dalam bahasa arab disebut proses membentuk Kata Kerja Turunan Pertama atau KKT I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KKT I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata turun atau NAZALA, kalau saya ubah kata turun menjadi menurunkan, maka inilah yang disebut KKT I. Kenapa? Karena kata "turun" adalah kata kerja tidak perlu objek, dan kata "menurunkan" adalah kata kerja yang perlu objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya:&lt;br /&gt;Dia turun :  NAZALA  نزل&lt;br /&gt;Dia menurunkan buku: ANZALA AL-KITAABA  أنزل الكتابَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata turun dalam kalimat pertama tidak perlu objek. Tapi kata kerja pada kalimat kedua memerlukan objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana prosesnya membentuk KKT I? Ternyata cukup sederhana. Kita hanya perlu menambahkan alif didepan kata kerja asal yang 3huruf. Huruf pertama sukunkan, huruh kedua dan ketiga fathahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga:&lt;br /&gt;nazala : dia turun  نزل&lt;br /&gt;anzala :dia menurunkan (sesuatu) أنزل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menurunkan Quran : Allahu anzala al-quraana   الله أنزل القرأن&lt;br /&gt;Sama juga halnya dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karuma : dia mulia  كرم &lt;br /&gt;akrama : dia memuliakan (seseorang)     أكرم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memuliakan ustadznya : akrama ustaazahu   أكر م أستاذه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau contoh lain:&lt;br /&gt;fasada: dia rusak  فسد &lt;br /&gt;afsada: dia merusakkan (sesuatu) أفسد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merusakkan bumi : afsada al-ardha  أفسد الأرض&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah telah kita bahas KKT I. Sebagai info tambahan bentuk kata kerja turunan tipe I (KKT I) ini cukup banyak ditemukan dalam Al-Quran. Untuk lebih mendalami KKT I ini insya Allah dua topik didepan akan mengkaji lebih dalam bentuk KKT I ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3963536743525379597?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3963536743525379597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3963536743525379597' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3963536743525379597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3963536743525379597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/06/topik-20-fasada-atau-afsada-nazala-atau.html' title='Topik 20: FASADA atau AFSADA? NAZALA atau ANZALA?'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-7074351616966244014</id><published>2007-06-11T13:16:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:04:23.165+07:00</updated><title type='text'>Topik 19: Al-Baqaroh 12 &amp; Manfaat Kamus</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah kita sudah sampai pada Al-Baqaroh ayat 11. Terakhir kita "terhenti" di ayat ini kan (lihat topik 16). Cukup panjang kita bahas ayat 11 ini sampai ke Topik 18. Kali ini kita mencoba baranjak maju ke ayat selanjutnya, yaitu ayat 12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita cuplik ayat 12 ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RmzqfRPkGhI/AAAAAAAAAA0/OvFV-68qeeU/s1600-h/albaqarah12.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RmzqfRPkGhI/AAAAAAAAAA0/OvFV-68qeeU/s320/albaqarah12.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5074688703065233938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita coba terjemahkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الا - alaa : ingatlah (dihafalkan saja)&lt;br /&gt;ان - inna : sesungguhnya (akan dibahas dalam bab Harf Inna)&lt;br /&gt;هم - hum : mereka &lt;br /&gt;هم - hum : mereka (sebagai fa'il/pelaku)--&gt; dibaca humu, karena setelahnya ada AL&lt;br /&gt;المفسدون - al mufsiduuna : orang-orang yang berbuat kerusakan (fa'il)&lt;br /&gt;و - wa : dan (terkadang bisa berarti tetapi)&lt;br /&gt;لكن - la kinna : akan tetapi (akan kita bahas dalam bab Harf Inna)&lt;br /&gt;لا - laa : tidak&lt;br /&gt;يشعرون : mereka senantiasa (sedang) menyadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, sesungguhnya mereka(lah) orang-orang yang berbuat kerusakan, akan tetapi tidak(lah) mereka (sedang) menyadari(nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita coba bahas ya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kata kerja (fi'il) dalam ayat ini yaitu : يشعرون - yas'uruuna : mereka sedang menyadari. Sisanya adalah isim dan harf. Isim yang menarik untuk dibahas adalah المفسدون - al mufsiduuna, dalam bentuk ma'rifah (spesifik), jika kita buang alif-lam menjadi مفسدون - mufsiduuna, dalam bentuk nakiroh (umum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita bahas dua topik itu saja ya... Baiklah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata يشعرون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat pelajaran-pelajaran sebelumnya. Kita dihadapkan dengan kata kerja. Bagaimana tahunya dong mas? Sebenarnya sudah diajarkan dalam topik yang lalu, tapi tidak ada salahnya diulang disini. Oke tandanya bahwa dia itu kata kerja:&lt;br /&gt;1. Dia diawali ya diakhiri waw nun.(   يـ ... ون  ) &lt;br /&gt;2. Ingat kembali bila ada pasangan YA, WAW, NUN itu merupakan ciri yang kuat dari fi'il mudhori' (KKS)&lt;br /&gt;3. Arti dari KKS yang ada YA, WAW, NUN itu : mereka sedang ... kata-kerja&lt;br /&gt;4. Jika kita buang YA, WAW, NUN, maka akan lahir kata kerja aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita elaborasi sedikit teknik ini:&lt;br /&gt;Kata يشعرون kalau kita buang YA, WAW, NUN, maka tersisa شعر - sy 'u ru . Tinggal tiga kata: SYIN, 'AIN, RA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu ada yang email ke alamat yahoo saya, menanyakan bagaimana caranya kita tahu harokat suatu huruf. Misal kita dikasih 3 huruf, arab gundul, شعر , nah bagaimana cara membacanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kita bisa dapatkan banyak kemungkinan:&lt;br /&gt;SYA 'A RA&lt;br /&gt;SYA 'A RI&lt;br /&gt;SYA 'A RU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYA 'I RA&lt;br /&gt;SYA 'I RI&lt;br /&gt;SYA 'I RU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dst, banyak sekali kemungkinannya. Akan tetapi yang umum adalah biasanya (mayoritas) kata kerja asli yang terdiri dari tiga huruf itu harokatnya fathah semua, sehingga yang kita gunakan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شعر - sya 'a ra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk kepastian harokat tersebut kita perlu kamus (periksa di kamus). Di kamus akan ada entri berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شعر - يشعر : sya'a ra (KKL) - yas 'u ru (KKS) yang bisa berarti:&lt;br /&gt;1. bersyair&lt;br /&gt;2. menyadari / mengetahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kita pilih yang lebih tepat arti yang no. 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini dapat kita lihat arti pentingnya kamus bahasa Arab:&lt;br /&gt;Jika kita sudah dapat akar kata (3 huruf) seperti SYIN 'AIN RA diatas, maka kita bisa mencari tahu 3 hal:&lt;br /&gt;1. Kita bisa tahu apa KKL (Kata Kerja Lampau / fi'il madhy)&lt;br /&gt;2. Kita bisa tahu apa KKS (Kata Kerja Sedang / fi'il mudhori')&lt;br /&gt;3. Kita bisa tahu harokat untuk KKL dan KKS nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi ke kasus diatas, kata يشعرون dalam Al-Baqaroh 12, jika kita pecah:&lt;br /&gt;شعر - sya 'a ra : dia telah mengetahui&lt;br /&gt;يشعر - yas 'u ru : dia sedang mengetahui&lt;br /&gt;يشعرون - yas 'u ruu na : mereka sedang mengetahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke mudah-mudahan jelas ya pren...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita masuk ke topik selanjutnya yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kata al-mufsiduuna المفسدون&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-mufsiduuna, ini adalah kata benda. Why? Jawabannya telah dijelaskan di topik-topik yang lalu, tapi kita ulangi saja disini ya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adanya huruf alif dan lam, ciri kata benda&lt;br /&gt;2. Jikapun alif lam dibuang maka tinggal مفسدون - mufsiduuna, maka adanya MIM ... WAW NUN, maka ini ciri kata benda orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke sekarang kita coba urai lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata مفسدون - mufsiduuna, apa akar katanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke berikut kita coba teknik mencari akar kata untuk kata al-mufsiduun diatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama adanya MIM ... WAW NUN, berarti ciri dari kata benda orang, yang bisa berarti orang yang ...kata-kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke kalau kita buang MIM, YA, NUN maka akan tersisa huruf FA SIN DAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فسد , sekali lagi, setelah proses pembuangan sebagian huruf kita tidak bisa langsung menentukan harokat masing-masing huruf bisa: fasada, fasadi, fasadu, fasuda, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mana yang harus dipilih? Ini menjadi satu persoalan. Persoalan ke dua adalah, apakah akar kata al-mufsiduuna itu FASADA atau AFSADA? Loh apa lagi nih... bingung... biar gak bingung, Insya Allah temukan jawabannya dalam topik berikut, kita akan bahas mengenai topik DSK (Dhommah, Sukun, Kasroh), yang mana pola ini banyak sekali kita temui dalam al-Quran. Sebagai bocoran saja untuk topik depan, kata kerja asli (yang terdiri dari tiga huruf) dalam bahasa arab mempunyai 12 bentuk turunan. Yang umum adalah 8 bentuk. Bentuk yang sangat sering muncul dalam Al-Quran adalah bentuk turunan I. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kata kerja berikut:&lt;br /&gt;nazala: turun&lt;br /&gt;anzala: menurunkan (bentuk turunan I)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bentuk turunan I ini yang Insya Allah kita akan pelajari. Kita akan mencari tahu apakah kata yang dipakai dalam Al-Baqarah 12 ini (dalam mufsiduun) itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;fasada&lt;br /&gt;afsada (bentuk turunan I).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-7074351616966244014?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/7074351616966244014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=7074351616966244014' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7074351616966244014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7074351616966244014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/06/topik-19-al-baqaroh-12-maanfaat-kamus.html' title='Topik 19: Al-Baqaroh 12 &amp; Manfaat Kamus'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IHoklHbgEQ8/RmzqfRPkGhI/AAAAAAAAAA0/OvFV-68qeeU/s72-c/albaqarah12.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-3761263739464822658</id><published>2007-06-04T08:43:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:08:56.258+07:00</updated><title type='text'>Topik 18: Tolonglah!</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih akan lanjutkan mengenai topik Fi'il Amr (Kata Kerja Perintah). Pada topik sebelumnya telah kita bahas 6 langkah mudah membentuk Fi'il Amr. Masih ingat kan? Gak ingat juga gak apa... Hehe... Topik kali ini akan kita lanjutkan lagi, pendalaman 6 langkah tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan beri 2 contoh: yaitu menolong - nashoro نَصَرَ dan mempelajari/belajar - 'allama علّم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1: نصر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita latih lagi 6 langkah tsb:&lt;br /&gt;Langkah 1. KKL menolong --&gt; NASHARA نصر&lt;br /&gt;Langkah 2. KKS menolong --&gt; YANSHURU ينصُرُ&lt;br /&gt;Langkah 3. Buang YA --&gt; NSHURU نْصُرُ&lt;br /&gt;Langkah 4. Harokat akhir matikan --&gt; NSHUR نصُرْ&lt;br /&gt;Langkah 5. Harokat NUN sukun --&gt; tambahkan alif --&gt; Kemungkinan UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR&lt;br /&gt;Langkah 6. Pilih UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berhenti sejenak disini. Kita dihadapkan dengan 3 pilihan. Dalam topik 18 ini, langkah ke 6 kita pertajam sbb:&lt;br /&gt;6.1 Jika KKL terdiri dari 4 huruf, huruf pertama alif fathah, maka alif tambahan (hasil langkah 5) berharokat Fathah (lihat contoh AFSID : RUSAKLAH, pada topik 17).&lt;br /&gt;6.2 Jika KKL bukan termasuk jenis 6.1, maka harokat Alif tambahan (hasil langkah 5) adalah:&lt;br /&gt;- kasroh jika huruf KKS sebelum terakhir fathah atau kasrah&lt;br /&gt;- dhommah jika huruf KKS sebelum terakhir dhommah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuih... mangkin puyeng aje nih ane... Bang... Tenang... Tenang... Kita akan beri 2 contoh untuk memudahkan (kelihatannya saja rumit, tapi kalau dilatih dengan contoh Insya Allah gak seserem yang dibayangkan)... Oke kembali kita ke topik NASHARO. Kita sudah sampai pada langkah ke 5, dengan memberikan pilihan: UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita terapkan rumus 6.1 dan 6.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1 KKL dari MENOLONG adalah NASHARA نصر . KKL adalah 3 huruf. Sehingga rumus 6.1 ini tidak berlaku, karena rumus ini hanya berlaku untuk KKL 4 huruf, huruf pertama adalah alif berharokat fathah. Kalau demikian lanjut ke 6.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2 KKL bukan termasuk jenis 6.1, maka kita tinggal melihat harokat huruf sebelum akhir dari KKSnya. Okeh... KKS dari NASHARO adalah YANSHURU, huruf terakhir dari ينصرadalah RO, huruf sebelum akhir adalah SHOD. ينصُر. Harokat SHOD apa???? Harokat SHOD dhommah ( ُ ). Jika dhommah, maka alif tambahan (hasil langkah 5) juga berharikat dhommah. Sehingga menjadi انصر UNSHUR (bukan INSHUR, atau ANSHUR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kita ringkas:&lt;br /&gt;نصر - NASHARO : (dia telah) menolong --&gt; KKL&lt;br /&gt;ينصر - YANSHURU : (dia sedang) menolong --&gt; KKS&lt;br /&gt;لا تنصر - LA TANSHUR : (hai kamu) jangan menolong ! --&gt; Perintah larangan&lt;br /&gt;انصر - UNSHUR : (hai kamu) MENOLONGLAH! --&gt; fi'il amer (PERINTAH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana Mas, jelas kan? Hmmm... rada ribet ya... Ya, namanya belajar, musti kudu bersusah-susah dikit. Jurus yang saya berikan ini sudah yang dipermudah loh... Bisa-bisa kalau Mas belajar dengan ustadz lain, rumus yang diberikan lebih susah hehe... Atau malah disuruh gapalin rumus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeh... kita masuk ke contoh 2: 'ALLAMA (mempelajari/belajar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ulangi 6 langkah diatas. &lt;br /&gt;1. KKL : 'ALLAMA علم&lt;br /&gt;2. KKS : YU'ALLIMU يعلم&lt;br /&gt;3. Buang YA: 'ALLIMU علِّمُ&lt;br /&gt;4. Harokat akhir matikan: 'ALLIM علمْ&lt;br /&gt;5. Harokat huruf awal, yaitu harokat 'AIN fathah, berarti rumus 5 tidak berlaku&lt;br /&gt;6. Karena rumus 5 tidak berlaku maka rumus 6 juga tidak berlaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;علّم - 'allama: (dia telah) memperlajari/belajar --&gt; KKL&lt;br /&gt;يعلم - yu'allimu: (dia sedang) belajar --&gt; KKS&lt;br /&gt;لا تعلم - laa tu'allim: (hai kamu) jangan belajar --&gt; Kata kerja perintah larangan&lt;br /&gt;علّم - 'allim (berhenti sampai langkah 4 diatas) : (hai kamu) Belajarlah! --&gt; Fi'il amr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dua contoh telah diberikan untuk mempertajam teknik menentukan fi'il amr. Insya Allah untuk contoh-contoh yang lain akan kita lanjutkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-3761263739464822658?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/3761263739464822658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=3761263739464822658' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3761263739464822658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/3761263739464822658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/06/belajar-bahasa-arab-dari-al-quran-topik.html' title='Topik 18: Tolonglah!'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-7010524356915077744</id><published>2007-05-23T08:47:00.001+07:00</published><updated>2007-12-10T09:10:06.656+07:00</updated><title type='text'>Topik 17: Kata Kerja Perintah</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik 17 ini sangat dekat dengan topik 16. Di dalam buku-buku pelajaran bahasa Arab biasanya topik ini digabung dalam satu bab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeh... mari kita ingat-ingat topik 16. Di topik 16 dijelaskan bentuk kata kerja perintah larangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah jelaskan, apa bahasa Arabnya : JANGAN MERUSAK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah tahu kan? Hmmm belum Mas... Ehmm belum tahu atau lupa? Hehehe... Kalau lupa silahkan baca kembali topik 16. Sekarang... (ta' itungin nih ... 1, 2, 3, ..., 100). Udah? Oke... jawabnya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAA TUFSID لا تفسدْ Mas... Oke anda betul. Sekarang saya kasih soal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bahasa arabnya: MERUSAKLAH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe itu mah gampang. Kalau jangan merusak! = LAA TUFSID!, berarti kalau merusaklah! = TUFSID! Betul gak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm kali ini Anda salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang benar apa Mas? Yang benar itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(hoi kamu) MERUSAKLAH! = AFSID افسدْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh kok susah ya Mas? Sabar... sabar... saya juga pertama pikir susah, sampai saya ketemu cara mudah. Mau tak kasih tahu gak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gini... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus Mudah Membentuk Kata Kerja Perintah (Fi'il amr)&lt;br /&gt;1. Tentukan kata kerja KKL yang mau dijadikan kata kerja perintah.&lt;br /&gt;2. Cari KKS nya&lt;br /&gt;3. Buang huruf YA didepan KKS nya&lt;br /&gt;4. Harokat huruf akhir jadikan sukun (mati)&lt;br /&gt;5. Jika kata awalan berharokat sukun (mati), maka tambahkan alif&lt;br /&gt;6. Harokat alif, umumnya kasroh (baris bawah) atau bisa juga fathah (baris atas), atau dhommah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadaw... buanyak baget langkahnya... Hehehe... tenang-tenang, kelihatannya saja banyak... kalau dah latihan Insya Allah gampang kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih contoh latihan dong Mas. Okeh kita kasih dua contoh. Duduk dan Memuliakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Contoh 1: Duduk&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 1. Tentukan KKL dari duduk. KKL dari duduk adalah JALASA جلس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 2. Tentukan KKSnya. KKS dari JALASA adalah YAJLISU يجلس (ingat rumus YA ANITA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 3. Buang huruf YA pada kata YAJLISU --&gt; JLISU جْلِسُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 4. Harokat huruf akhir jadikan sukun : JLISU menjadi JLIS جْلِسْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 5. Jika harokat huruf awal sukun --&gt; Harokat JIM sukun, maka tambahkah Alif. Berarti JLIS جْلِسْ bisa menjadi AJLIS اجْلِسْ atau IJLIS اجْلِسْ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 6. Yang umum adalah harokat alif kasroh (baris bawah) jika KKL 3 huruf nya tidak diawali alif fathah. Lihat langkah 1 KKL nya diawali JIM ج bukan ALIF أ, maka yang dipilih adalah IJLIS اجْلِسْ . Catatan: Rumus 6 ini akan dipertajam lagi pada pembahasan topik-topik selanjutnya (Insya Allah pada topik fi'il mazid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya:&lt;br /&gt;(dia telah) duduk = JALASA جلس&lt;br /&gt;(dia sedang) duduk = YAJLISU يجلس&lt;br /&gt;(dia sedang) tidak duduk = LAA YAJLISU لا يجلس&lt;br /&gt;(hai kamu) Jangan Duduk = LAA TAJLIS لا تجلسْ&lt;br /&gt;(hai kamu)DUDUKLAH = IJLIS اجْلِسْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Contoh 2: Memuliakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 1. KKL memuliakan --&gt; AKRAMA أكْرم&lt;br /&gt;Langkah 2. KKS memuliakan --&gt; YUKRIMU يكرم&lt;br /&gt;Langkah 3. Buang YA --&gt; KRIMU كْرمُ&lt;br /&gt;Langkah 4. Harokat akhir matikan --&gt; KRIM كْرمْ&lt;br /&gt;Langkah 5. Harokat KAF sukun --&gt; tambahkan alif --&gt; AKRIM أكرم atau IKRIM إكرم&lt;br /&gt;Langkah 6. Pilih AKRIM atau IKRIM. Karena KKL diawali dengan Alif dan 4 huruf, maka yang dipilih AKRIM (Harokat alif Fathah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya:&lt;br /&gt;(dia telah) memuliakan = AKRAMA أكْرم&lt;br /&gt;(dia sedang) memuliakan = YUKRIMU يُكْرم&lt;br /&gt;(dia sedang) tidak memuliakan = LAA YUKRIMU لا يكرم&lt;br /&gt;(hai kamu) jangan memuliakan! = LAA TUKRIM لا تكرم&lt;br /&gt;(hai kamu) Muliakanlah! = AKRIM أكرم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dulu ya... semoga tidak jadi bingung... Tetap semangat... Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan tentang langkah 6: Jika ditambah alif, maka harokat alif biasanya kasroh, atau dhommah. Insya Allah kita akan dalami, rumus baku nya pada lanjutan tulisan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15692642-7010524356915077744?l=arabquran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arabquran.blogspot.com/feeds/7010524356915077744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15692642&amp;postID=7010524356915077744' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7010524356915077744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15692642/posts/default/7010524356915077744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arabquran.blogspot.com/2007/05/belajar-bahasa-arab-dari-al-quran-topik_23.html' title='Topik 17: Kata Kerja Perintah'/><author><name>Rafdian Rasyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05559720088284240335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/-r208s6FMPxI/TeXwZERMgAI/AAAAAAAAAFU/Ih8XPjjmQGM/s220/IMG00092-20110306-2153.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15692642.post-7543331821894870939</id><published>2007-05-22T13:04:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T09:10:35.879+07:00</updated><title type='text'>Topik 16: Kalimat Perintah Larangan</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf minggu kemaren saya tidak dapat posting artikel lanjutan, karena satu dan lain hal. Terakhir sudah sampai ayat berapa ya? Kalau tidak salah ayat 6. Di ayat 6 ini ada ada yang unik yang kita temukan yaitu kata لم - lam. Kedudukan lam ini dalam bahasa Arab, berfungsi unt
