Wednesday, January 09, 2008

Topik 71: Haniifan Musliman

Bismillahirrahmanirrahim

Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita seharusnya masuk ke Latihan ayat 3 surat An-Nashr. Tapi sebelum kita masuk kesitu kita tambahkan sedikit contoh-contoh mengenai isim haal.

Singkat cerita: Kira-kira beberapa tahun yang lalu, anak saya bertutur kepada saya tentang sekolah dan teman-temannya. Salah satu yang dia sebutkan adalah bahwa dia punya teman namanya Hanifan (yang kadang kalau di-absen dilafadzkan oleh gurunya: Haniifan).

Waktu itu nama: Haniifan, agak asing ditelinga saya. Kita biasa mendengar nama: Hanif (lurus). Ada teman saya namanya Muhammad Hanif (Muhammad yang punya sifat Lurus). Tapi, Haniifan? Nah ini baru kali ini saya dengar. Waktu itu saya belum begitu mengerti dengan bahasa Arab.

Dalam hati saya hanya ingat: Hmmm... kata Haniifan, itu mungkin diambil dari doa Iftitah:

وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفاً مسلماً - wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal-ardha haniifan musliman.

Waktu itu saya belum bisa meng-artikan teks bahasa Arab (sekarang masih belum juga sih, tapi alhamdulillah sudah bisa dikit-dikit ngeraba-raba ding...) hehe.

Kala itu saya hanya hafal ejaan (latin)nya. Kalau disuruh nulis Arabnya, weleh saat itu pasti gak bisa deh.

Nah, beberapa waktu yang lalu setelah membaca tentang isim haal, dan ciri-cirinya maka saya sekarang jadi faham, bahwa Haniifan dan Musliman itu adalah isim haal.

Jadi jika diartikan secara letterlijk:

وجهت - wajjahtu : aku menghadapkan
وجهي - wajhiya: wajahku
للذي - lil ladzi: kepada Zat yang
فطر - fathara: telah menciptakan
السماوات - as-samaawaati: banyak langit
و - wa: dan
الأرض- al-ardha: bumi
حنيفاً - haniifan: dalam keadaan lurus
مسلما - musliman: dalam keadaan berserah diri (muslim)

Aku menghadapkan wajahku kepada Zat yang telah menciptakan banyak lagit dan bumi dalam keadaan lurus (lagi) berserah diri.

Nah, terlihat dari Doa Iftitah diatas, bahwa kata Haniifan, adalah isim haal (kata keterangan). Kata Haniifan (dalam keadaan lurus) itu dinisbatkan kepada "Aku". Demikian juga kata Musliman (dalam keadaan berserah diri), juga dinisbatkan kepada "Aku". Artinya kedua kata tersebut menjelaskan kondisi "Aku" sewaktu menghadapkan "wajahku" kepada Allah SWT.

Lihat bahwa ciri-ciri isim haal terpenuhi dimana, yang tampak jelas: dua kata tersebut harokat akhir fathatain (plus ada tambahan alif diakhir), dan juga jika kata itu dibuang maka kalimatnya tetap menjadi kalimat sempurna (ada fi'il+fa'il, atau ada mubtada+khobar).

"Ooo... Nama anak itu bukan Hanif, tapi Haniifan, itu mungkin maksud orang tuanya, agar anaknya itu senantiasa dalam kondisi yang lurus", begitu gumam saya dalam hati. Penekanannya adalah "dalam kondisi", karena itu isim haal. "Hmm... pasti bapaknya jago bahasa Arab", kata saya.

Sebagai penutup kita ambil contoh dalam Al-Quran yaitu kata WAHN (Lemah)

وهن - wahnun atau wahn adalah kata sifat (isim shifat) yang artinya lemah.

Di Al-Quran diperintahkan agar manusia menghormati dan berbuat baik kepada Ibu & Bapak. Ibu kita telah mengandung dalam keadaan "wahnan 'alaa wahnin" - lemah diatas lemah (lemah yang super).

حملته أمه وهنا على وهنِ - hamalat hu ummuhu wahnan 'alaa wahnin

hamalat: Dia (ibu) telah mengandung (manusia)
wahnan : dalam keadaan lemah
'alaa wahnin: diatas lemah

Sekali lagi terlihat bahwa kata wahnan diatas, ada tambahan alif dan harokat akhir fathhatain, maka dapat "dipastikan" ini adalah isim haal (kata keterangan terhadap kondisi si Ibu pada saat hamil).

Demikian telah kita tuntaskan pembahasan mengenai isim haal ini. Insya Allah kita lanjutkan dengan Latihan surat An-Nashr kembali.

2 comments:

Masterchomic said...

terima kasih..helpfull

=D

Raihana Abida said...

thanks ya :)

Topik Sebelumnya

Penting:
Silahkan memperbanyak atau menyebarkan materi-materi dalam situs ini tanpa ijin apapun dari penulis.

Visitors/Hits