Wednesday, December 26, 2007

Topik 68: Mengulang Mudhof Ilaih

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan membahas mengenai surat An-Nashr. Baiklah kita mulai.

إذا جاء نصر الله والفتح - idza jaa-a nasru allahi wa al-fathu

idza: jika
jaa-a: telah datang
nasrullahi: pertolongan Allah (Help of Allah)
wa: dan
al-fathu: kemenangan (victory)

Pembaca yang dirahmati Allah, ada yang perlu kita ulang-ulang disini yaitu bentuk dari Mudhof Ilaih. Sudah kita singgung di beberapa topik yang lalu, akan tetapi kita ulang lagi disini, biar lebih mantafff getoh...

Oke. Perhatikan kalimat diatas. Pertama, kita analisis dulu struktur kalimatnya. Oke, kalimat diatas terdiri dari kata penghubung idza (إذا). Sekarang kalau kita buang kata idza kalimat tersebut akan menjadi:

جاء نصر الله والفتح - jaa-a nasrullahi wa al-fathu

Disini kita bertemu dengan kalimat fi'iliyyah (jumlah fi'liyyah). Eh ngomong2x kita pernah bahas gak ya pembagian kalimat (aqsam al-jumlah) dalam bahasa Arab? Belum atau sudah ya (maaf saya lupa, maklum udah umuran).

Hmm anggaplah belum ya. Oke. Dalam bahasa Arab, kalimat dibagi 2, yaitu:
1. Jumlah Fi'liyyah (kalimat yang dimulai kata kerja)
2. Jumlah Ismiyyah (kalimat yang dimulai dengan kata benda)

Nah kalimat جاء نصر الله والفتح - jaa-a nasrullahi wa al-fathu , ini adalah kalimat fi'liyyah, karena dimulai dengan Kata Kerja, yaitu KKL jaa-a (datang). Siapa yang datang? Ingat setiap fi'il (Kata Kerja) membutuhkan fa'il (pelaku alias subjek). Subjeknya biasanya setelah fi'ilnya.

Kalimat diatas subjeknya adalah نصر الله والفتح - nasrullahi wal fathu. Itulah subjeknya.

Secara umum banyak pola kalimat dalam bahasa Arab, dimana dia dibentuk dari jumlah fi'liyyah. Contohnya:

ضرب زيدٌ - dhoroba zaidun : Zaid telah memukul (jumlah fi'liyyah)

Agak sedikit beda dengan bahasa kita. Kalau kita letterleijk menerjemahkan kalimat diatas, maka mestinya, di terjemahkan "Telah memukul (sesuatu) si Zaid". Bedanya adalah dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat itu diawali dengan Pelaku diikuti kata kerja. Sehingga kalau mengikuti ini kalimat diatas menjadi:

زيدٌ ضرب - Zaidun dhoraba : Zaid telah memukul (jumlah ismiyyah).

Perhatikan bahwa Kalimat diatas telah berubah menjadi jumlah ismiyyah. Dalam bahasa Indonesia kita tidak memiliki "kebebasan" seperti dalam bahasa Arab diatas.

Contohnya:

Zaid menulis --> (betul secara bahasa Indonesia). Dalam bahasa Arab: زيدٌ كتب - Zaidun kataba.

Menulis Zaid --> (salah secara bahasa Indonesia). Sedangkan dalam bahasa Arabnya tetap benar, yaitu كتب زيدٌ - kataba zaidun.

Disitu letak bedanya. Di bahasa Arab, posisi subjek boleh sebelum kata kerja, atau setelahnya.

Oke. Kembali ke topik utama... Kita mau bahas mengenai Mudhof Ilaih.

Perhatikan kata نصرُ اللهِ - nashru Allahi (dibaca cepat nashrullohi). Inilah dia mudhof (kata majemuk). Pas belajar ini saya sendiri juga rada bingung dengan definisi kata majemuk. Oke, tinggalkan yang susah, ambil yang mudah, pakai cara saya saja. Hehe...

Paling gampang belajar mudhof ini kalau kita mengerti struktur bahasa Inggris, tentang kepunyaan.

Misal kita katakan begini.

Umar's book (buku milik si Umar). Bisa kita jadikan dalam bentuk "OF", yaitu:

book of Umar (buku milik si Umar).

Nah bentuk: book of Umar ini lah yang disebut Mudhof, dalam bahasa Arab.

Contoh lain:

Allah's messenger (Rasul milik Allah / Rasul Allah). Bisa kita jadikan dalam bentuk "OF", yaitu:

Messenger of Allah.

Bagaimana bahasa Arab nya : Messenger of Allah?

Oke.

Messenger : رسولٌ - rasuulun
Allah: اللهُ - Allahu

Sehingga messenger of Allah = رسولُ اللهِ - Rasuulullahi.

Hmm... bentar-bentar kok bukan: رسولٌ اللهُ - Rasuulun Allahu (atau Rasuulullahu)?

Nah disini aturannya muncul (weleh aturan lagi... aturan lagi). Tenang, banyak latihan saja. Aturan gak usah dihafalin.

Kata rasuulun disebut mudhof, sedangkan kata Allahu disebut mudhof ilaih. Aturannya, Mudhof itu tidak boleh bertanwin, sehingga rasuulun harus dhommah saja menjadi rasuulu. Trus, mudhof ilaihi itu harus kasroh. Sehingga Allahu menjadi Allahi. Udah deh, cuman 2 itu aturannyanya... gampang kan.

Contoh lain:
baytun : rumah = house بيتٌ
Allahu : Allah

house of Allah (rumah Allah)? --> baitu Allahi (baitullahi) بيتُ اللهِ

Contoh lain:
qolamun : pen = pena قلمٌ
al-ustaadzu : ustadz الأستاذُ

the pen of ustadz (pena ustadz)? --> qolamu al-ustaadzi (qolamul ustaadzi) قلمُ الأستاذِ

Nah dalam surat An-Nashr ini ada contoh lain:
Help of Allah.
Help = nashrun نصرٌ

Sehingga Help of Allah نصرُ اللهِ - nashru Allahi (atau nashrullahi) : pertolongan Allah.
Demikian seterusnya. Kita telah ulang-ulangi topik mengenai mudhof ilah ini, semoga dengan diulang-ulang tambah jelas ya. Insya Allah, kita akan bahas mengenai adverb pada topik setelah ini.

2 comments:

nadhroh_st said...

ada gak penjelasan tentang pembagian kalimat kepada isim,fi'il, dan huruf tapi dalam bahasa arab

ramli said...

hai mas gua mau tanya dimana bisa belajar baca kitab gnndul yang sistematis dan ber kurikulum
trims sebelumnya

Topik Sebelumnya

Penting:
Silahkan memperbanyak atau menyebarkan materi-materi dalam situs ini tanpa ijin apapun dari penulis.

About Me

My Photo
السلام عليكم Bagi yang telah mempelajari bahasa Arab sedari kecil, nahwu shorof (grammar) bahasa arab tidaklah rumit bagi mereka. Hal berbeda bagi orang dewasa baru belajar bahasa arab, akan terasa sulit sekali. Saya belajar bahasa arab dari Al-Quran pun setelah usia sangat lanjut (too bad; but better late than never). Tulisan dalam blog ini dituliskan sebagai bagian dari proses belajar saya pribadi (menjadi semacam refleksi ataupun dokumentasi). Proses belajar tersebut terus berlanjut sampai sekarang. Doakan semoga saya tetap istiqomah.

Visitors/Hits