Thursday, March 22, 2007

Topik 1: Dzalika Al-Kitabu

Insya Allah saya akan memulai menulis belajar bahasa Arab dari Al-Quran. Dimulai dari Surat Al-Baqaroh. Tiap posting diusahakan tidak terlalu panjang, agar bisa dicerna dan dipahamkan. Frekeuensi posting juga akan diatur.

Sebagai pembuka, mari mulai dengan surat Al-Baqaroh ayat 1 dan 2.

بسم الله الرحمن الرحيم

الم
Alif - lam - mim : Hanya Allah yang tahu artinya.

ذلك الكتاب
dzalika alkitabu : itu (sebuah) kitab

Pembagian Jenis Kata dalam bahasa Arab:
1. Isim (kata benda)
2. Fi'il (kata kerja)
3. Harf (kata tugas)

Bandingkan dengan bahasa Indonesia atau Inggris, pembagian kata cukup banyak, ada kata sifat (adjective), kata benda (noun), kata tunjuk, kata ganti, kata kerja (verb), dsb.

Kok bahasa Arab pembagian kata sedikit sekali: hanya 3?

Ini pertanyaan awal yang sering muncul pada saat orang baru belajar bahasa Arab.

Sebenarnya tidak. Kata dalam bahasa Arab juga banyak jenisnya. Ambil contoh kata dzalika = itu. Dalam bahasa arab kata ini termasuk kata benda (isim).

Lho kok gitu? Bukannya dalam bahasa Indonesia kata "itu" adalah kata ganti tunjuk, bukan kata benda? Kok dalam bahasa arab kata dzalika = itu, termasuk kata benda?

Bukannya dalam bahasa indonesia kata benda itu, misalkan: rumah, mobil, dsb.

Ya, betul. Dalam bahasa Arab, rumah, mobil dsb itu, juga termasuk kata benda, yang disebut kata benda alam (isim alam), karena benda-benda itu wujud ada di alam. Lalu kata dzalika = itu, disebut kata benda tunjuk (isim isyaroh).

Ooo... begitu... Jadi sebenarnya walaupun dalam bahasa Arab kata hanya dibagi 3 jenis (isim, fi'il, dan harf), tapi isim sendiri terbagi-bagi lagi. Ada isim alam, ada isim isyaroh, ada isim maushul dsb. Insya Allah kita akan bahas satu-satu nanti.

Ooo... kalau memang dzalika = itu, yang dalam bahasa Indonesia disebut kata ganti tunjuk, dalam bahasa arab dia termasuk isim isyaroh. Kalau begitu mengapa pengelompokannya dibagi menjadi 3 bagian? Kenapa gak dikelompokkan misalkan 8 bagian atau sama dengan pengelompokan bahasa Ingris?

Nah disini menariknya bahasa Arab. Ternyata pengelompokan jenis kata menjadi 3 saja itu tujuannya adalah bahwa: hukum-hukum yang berlaku bagi 3 jenis kata tersebut dalam satu kelompok sama. Contoh, setiap isim, tidak terpengaruh waktu. Misalkan kata buku waktu kemaren disebut الكتاب(al-kitaabu), sedangkan waktu besok disebut al-kitaabu.

Bentar-bentar... gak ada bedanya dong sama bahasa Inggris atau bahasa Indonesia... Book dalam kalimat Past Tense, tetap Book dalam kalimat future tense. Ok, Anda benar... Maksud saya hanyalah mengatakan bahwa hukum-hukum isim itu dalam satu kelompok tersendiri. Biar tambah jelas. Kata dzalika (itu), dalam bahasa arab termasuk isim (kata benda), maka kata dzalika itu juga tunduk kepada hukum-hukum isim (misalkan tidak terikat waktu).

Ah... itu sih gampang. Bahasa Indonesia juga begitu kan?

Ok... ok, bangaimana kalau saya katakan selain tidak terikat waktu dalam bahasa Arab hukum isim berubah sesuai dengan jenis kelamin subject? Misal saya sebutkan: Itu buku = ذلك كتاب

Kalau saya suruh Anda membuat kalimat: Itu pohon. Pohon bahasa Arabnya adalah syajaratun شجرة . Apakah anda akan bilang spt ini:

ذلك شجرة
dzalika sajaratun = itu(sebuah) pohon.

JAWABAN ANDA SALAH. Kenapa?

Karena dzalika adalah isim yang terikat dengan hukum-hukum isim, yang salah satunya mengatakan bahwa isim berubah mengikuti jenis kelamin subjectnya. Nah kata kitaab (buku) berjenis kelamin laki-laki, maka kita pakai isim isyaroh (kata tunjuk) berjenis laki-laki juga yaitu dzalika. Lalu kata dzalika ini menjadi tilka, untuk subject yang berjenis perempuan. Kata pohon berjenis perempuan, maka yang betul kalimatnya menjadi

تلك شجرة
tilka syajaratun = itu(sebuah) pohon.

Nah, kira-kira anda kebayang kan..., bedanya dengan bahasa Indonesia?

Ringkasnya:
Dalam bahasa Indonesia, kata benda tidak terikat dengan jenis kelamin dari subject yang dibicarakan. Dalam bahasa Arab, tidak demikian. Contohnya kata "itu" dalam bahasa arab termasuk kata benda, maka dia terikat dengan hukum kata benda yang salah satunya menyatakan: kata itu berubah bentuk sesuai dengan jenis kelamin subject yang dibicarakan. Jadi kata "itu" bisa berupa dzalika (untuk subject laki-laki) atau tilka (untuk subject) perempuan.

-- Nantikan topik selanjutnya: Insya Allah minggu depan.

22 comments:

Anonymous said...

"isim berubah mengikuti jenis kelamin subjectnya" <- gimana cara mengetahui/membedakan jenis kelamin benda? misalnya ‘buku’/’pohon’?

Anonymous said...

Alahamdulillah ... Maha Suci Allah ... Saya baru saja niat ingin belajar bhs arab, ternyata Allah telah memberi jalan.

ummu abdirrohman said...

alhamdulillaahilladziy bini'matihi tatimmush shoolihaat...
baarokalloohu fiika...

dkm fahutan said...

assalamu'alaikum

akh, isi blognya di copy ya buat dimasukin di blog kami.
http://dkmfahutan.wordpress.com

terimakasih.

wassalam.

ummu_wafa said...

wah.. al7amdulillah bermanfaat blog antum.. btw gmn cara posting menggunakan huruf arab ya?
shukran

Rafdian Rasyid said...

untuk posting keyboard arabic, jika pakai windows XP, sudah built-in disitu. Tinggal diaktifkan saja arabic keyboard, di control panel, cari di Keyboard. Tapi sebelumnya aktifkan dulu Arabic Font. Di control panel, cari di Regional Setting. Detailnya, bisa cari di google, keyword: aktifkan arabic windows XP. ma'an najaah.

Gandi Wibowo said...

Assalamu 'alaikum
Mas, Saya kopi post Belajar bahasa arabnya ke blog saya http://gandiwibowo.blogspot.com ya...

Terimakasih
Wassalamu 'alaikum

Rafdian Rasyid said...

walaykum salam wr. wb.

Silahkan Mas Ghandi... Saya senang sekali tulisan saya di copy. Semoga MLM pahala dari Allah mengalir ke kita semua... Insya Allah.

Ajo said...

Assalamu'alaikum,

Mas Rafdian, terima kasih atas ilmu yang telah diberikan. Mudah-mudahan Mas Rafdian senantiasa memperoleh kekuatan dari Allah SWT untuk tetap bisa berbagi ilmu seperti ini. Numpang tanya, apa judul kamus Arab-Indonesia yang bagus dan dimana bisa membelinya?

Terima kasih.

Rafdian Rasyid said...

Kamus bahasa Arab, untuk ukuran pelajar yang direkomendasikan adalah:
Terima kasih atas dukungannya. Semoga menambah semangat saya untuk tetap istiqomah.

Kamus Arab-Indonesia, karya Prof. Mahmud Yunus.

Kamusnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis.

Kamus Arab-Indonesia yang paling tebal yang saya tahu: Kamus Al-Munawwir, karya: KH. Munawwir.

Ajo said...

Terima kasih atas infonya...

taria said...

alhamdulillah,dg adanya ini sgt membantu sekali.mau nanya,mahtab artinya?.ada yg blg perpustakaan.kemudian ammah da yg blg tante?.yg ana pelajari dr seorg guru perpustakaan bhs arabnya bukan mahtab.krn sy msh bljar.jgn smpai hanya bs mengucapkan saja krn ikut-ikutan.

taria said...

belajar bahasa mmg perlu teliti dan serius.selain itu kalo udah mulai bs menyenangkan.membantu sekali dalam menghapal hadist dn ayat2.juga untuk belajar tajwid juga harus paham bahasa arab kan ustadz?.krn da hkum2 sperti idzhar kholqi,idzhar wajib.yg berbeda pengucapan klo satu kata atau dua kata.

Istin said...

Assalamu'alaikum,
Ikhwan fillah sekalian, wabil khusus akhi Rafdhian. Menyadari bahwa informasi tentang tempat kursus bahasa Arab sangat minim, mohon bisa informasikan nama dan lembaga penyedia kursus bahasa Arab yang terbuka untuk umum, termasuk masjid dan mushola yang memfasilitasi belajar bahasa Arab, untuk bisa kami publikasikan di website kami yang sedang kami buat.
Disamping itu, kami juga sedang menginventaris metode-metode pembelajaran bahasa Arab yg berkembang di tengah masyarakat, mohon bantuan infonya. Semoga upaya kecil ini bisa ikut menyemarakkan dan lebih mendorong berkembangnya pembelajaran bahasa arab di tengah-tengah kaum muslimin di Indonesia.
Akhirul kalam, terima kasih mas Rafdhian, ana sudah lama kenal dengan blog Anda dan telah banyak mengambil manfaat, Insya Allah akan kami tampilkan link blog ini, termasuk copas sebagian materi.
Wassalam
ahsanulkalam.or.id

JoniTrismanto said...

bismillahirrohmanirrohiim..mas rafdian ,,jazakallahu khoir..ini manfaat banyak....alhamdulillah...selalu ada hmba Allah yang berjihad di JalanNya...ini mirip dengan bahasa spanyol..prancis ..ada penggolongan maskulin feminin...saya sdg di negara yg berbahasa spanyol...ini menarik untuk saling menguatkan cara pembelajaran arab dan spanyol..alhamdulillah selama ini saya otodidak..belajar..dan menghafal.ayat dan hadist..alhamdulillah allah Mempermudah saya untuk melakukannya , menghafal ayat dg panjuang medium dengan membaca ulang 6-9 kali saja..setelñah itu dipraktekaan dalam bacaan surah atau ayat sunnah setelah al fatyihah...jazakillah ya mas yg baik sekali..semoga reunian ini berlanjut ke syurga kelak..(aduh saya hampir mau menagis..jika mengingat Kemaha Rahman an Allah dan kebaikan anda..)subhanalloh wassalamualaikum
yoni wong pati avbdurrahman

Anonymous said...

mengapa lafaz bismillah pada lafaz ismi tidak dicantum huruf alifnya ?

Anonymous said...

Baru nemu blog ini. Tx.Tlg doakan sy ya Ustadz bisa paham bhs Arab. Semoga Allah Swt memberkahi dan membalas amal anda dg rejeki berlipat ganda.

Budi Santoso said...
This comment has been removed by the author.
Budi Santoso said...

Syukron infonya
Bahasa Arab Jasa Translate bahasa arab

sekapai said...

saya dari malaysia..semoga Allah memberkati dan memberikan ganjaran pahala maksima atas apa yang telah anda usahakan...

Anonymous said...

mohon dong ditinjau juga dari sisi irob, dan susunan kalimat ( subject , predicat, object ), juga sorof dan wazan dari kitab.

jadinya ketika ingat ayat ini, ingat pula semua penerpana ilmu nahu soraf terkait dengan ayat ini

Anonymous said...

asslamualaikum
akhi saya baru buat blog pengenya konten rohani, kalau boleh saya minta ijin copy.
email saya hajarsumantri@gmail.com
tenang akhi nanti saya kasih tulisan referensi dari blog akhi

Topik Sebelumnya

Penting:
Silahkan memperbanyak atau menyebarkan materi-materi dalam situs ini tanpa ijin apapun dari penulis.

About Me

My Photo
السلام عليكم Bagi yang telah mempelajari bahasa Arab sedari kecil, nahwu shorof (grammar) bahasa arab tidaklah rumit bagi mereka. Hal berbeda bagi orang dewasa baru belajar bahasa arab, akan terasa sulit sekali. Saya belajar bahasa arab dari Al-Quran pun setelah usia sangat lanjut (too bad; but better late than never). Tulisan dalam blog ini dituliskan sebagai bagian dari proses belajar saya pribadi (menjadi semacam refleksi ataupun dokumentasi). Proses belajar tersebut terus berlanjut sampai sekarang. Doakan semoga saya tetap istiqomah.

Visitors/Hits